Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
84. Berat


__ADS_3

Tama baru selesai mencuci ketika Ratna mengeluhkan sesuatu. HPL-nya sudah lewat 2 hari lalu tapi Ratna tidak kunjung memperlihatkan kemajuan. Mereka terus bolak-balik ke rumah sakit hanya untuk mengecek apakah benar baik-baik saja atau ada sesuatu yang harus segera ditangani.


"Namanya perkiraan itu bisa maju bisa mundur. Nggak papa kok, belum lewat seminggu. Nanti kalau sudah lewat seminggu tidak ada perkembangan apa-apa baru di caesar," kata dokter.


Dokter memang sudah menjelaskan demikian tapi yang namanya Adiratna kan orangnya panikan. Apalagi setelah hamil dia jadi mudah panik dan sensitif. Dan lucunya, bukan hanya ketika Tama merasakan sesuatu Ratna ikut merasakan juga. Hal itu berlaku kebalikannya. Jika ada sesuatu pada Ratna dia juga ikut merasakan hanya saja Tama tidak secara terus terang bicara pada Ratna tentang hal itu. Dia tidak mau menjadi beban untuk Ratna. Dia mau Ratna benar-benar melakukan semua yang dia mau agar setidaknya dia tidak stres.


"Mas, duduk sih istirahat. Capek aku lihat kamu gerak terus," keluh Ratna yang bicara saja sudah ngos-ngosan.


"Bentar Dek. Habis jemur pakaian Mas janji bakal istirahat," kata Tama.


"Ratna belum mau makan lho Tam kalau kamu nggak makan juga. Sini biar Mama yang lanjutin kamu fokus aja sama istrimu. Kasihan Ratna itu lho," kata Mama.


"Iya Ma, ya maaf to aku juga deg-degan banget takut ada apa-apa."


"Percaya saja sama Ratna. Dia pasti bisa kok."


"Ratna memang kuat, aku percaya. Tapi aku yang nggak kuat. Padahal dia bilang dia butuh aku. Gimana Ma?" tanya Tama kebingungan.


"Kamu pasti bisa. Kuat nggak kuat kamu harus tetep ada di samping dia," jawab Mama.


"Ma, dulu waktu aku lahir apa Papa ada di samping Mama?"


"Ya. Papa selalu semangati Mama. Makanya kamu juga harus gitu," kata Mama.


Tama melangkah masuk ketika merasakan sesuatu di punggungnya. Ketika dia akan mengangkat ember jemuran yang sudah kosong, tiba-tiba pinggangnya sakit dan membuat dia harus memeganginya hanya untuk bertahan dari rasa sakitnya. Ketika Tama sampai di ruang tengah, dia melihat Ratna sedang berjalan mondar-mandir dengan gelisah sambil menyangga pinggangnya dengan sebelah tangan.


"Bunda," panggil Tama.


"Bun, pinggangmu sakit? Ayah ikut ngerasain nih," tanya Tama lagi karena tidak kunjung mendapatkan respon.


"Oiya? Maaf," kata Ratna dengan tidak bertenaga.


"Nggak papa. Aku justru seneng bisa ikut ngerasain sama kamu. Sesuai janjiku, kita berjuang bareng ya. Aku sudah nggak bisa bantu banyak jadi biarkan sakit yang ikut aku rasain ini bisa setidaknya menghapus rasa bersalahku," kata Tama sambil memeluk Ratna.


"Jangan bilang gitu ih jadi pengen nangis aku," kata Ratna berusaha menenggelamkan kepalanya dalam pelukan Tama.

__ADS_1


"Lho kok nangis Bunda gimana. Udah ah jangan nangis. Mau jalan-jalan nggak? Yuk jalan-jalan sama ayah. Adek mau ke mana? Aksa mau minta makan apa?" tanya Tama mengelus perut Ratna.


"Nggak mood ah," kata Ratna.


"Nggak papa. Dokter bilang apa? Kamu jangan sampai stres kan. Mas akan hilangkan stresmu dengan cara apapun. Jco yuk beli donat mau nggak?"


"Maunya beli boba."


"Yaudah ayo siap-siap. Pake dulu jaketnya," kata Tama.


Ratna kemudian masuk ke dalam kamarnya untuk meraih jaket dan mengganti bajunya. Tidak enak juga dilihatnya dia pergi menggunakan daster begini jadi Ratna mengganti pakaiannya. Setelah membelikan boba seperti yang diinginkan Ratna, Tama mengajaknya berjalan-jalan. Tama sebenarnya ingin mengajaknya untuk ke kaki gunung, tapi Ratna takut jadilah mereka hanya memutari Monjali hingga beberapa kali.


"Ayah, capek," keluh Ratna setelah 2 kali berputar.


"Duduk dulu situ."


"Aku kok laper lagi?" katanya.


"Lagi? Yaudah mau jajan apa? Banyak tuh di sana. Kamu bilang aja nanti aku beliin kamu tunggu sini."


"Nggak mau. Maunya ke sana milih sendiri," kata Ratna.


"Udah nggak," kata Ratna sambil berusaha berdiri dibantu Tama.


Ratna sedang mengantri siomay ketika dia merasakan denyutan dari dalam perutnya. Ratna langsung meraih tangan Tama dan menggenggamnya erat. Selama beberapa saat Tama dan Ratna bertahan di sana. Ratna kembali baik-baik saja setelah beberapa saat istirahat.


"Lahap banget makannya," kata Tama melihat Ratna begitu lahap memakan siomaynya seperti lupa dengan apa yang barusan dia rasakan.


"Bunda barusan kontraksi?" tanya Tama.


"Iya kayanya tapi baru sekali," jawab Ratna.


"Habis ini mau mampir rumah sakit nggak?"


"Mau. Tapi nanti. Masih betah di sini," kata Ratna.

__ADS_1


"Lho?"


"Nggak papa kok. Masih aman. Baru sekali, belum tentu berlanjut. Ya..., di sini dulu lah paling nggak sampai lampunya dinyalain," pinta Ratna.


"Sampe lampunya dinyalain itu paling nggak 4 5 jam lagi Dek. Nggak selama itu juga lah di sini," kata Tama tidak setuju.


"Ya tapi nggak sekarang lah aku masih mau di sini," kata Ratna sedikit meninggikan suaranya.


"Iya iya di sini dulu udah jangan marah-marah. Dah, Mas manut aja apa mau kamu semua Mas turutin," kata Tama.


"Beneran ya?"


"Iya beneran. Kapan Mas pernah bohong sama kamu?"


"Nggak pernah."


Ratna masih asik berkeliling hingga menjelang sore dia mulai melemah. Tenaganya berangsur-angsur habis membuat Tama memaksa membawanya ke rumah sakit segera. Begitu sampai di sana, Ratna tidak diperbolehkan pulang lagi. Beruntung semua keperluan mereka sudah bawa sejak pagi tadi. Tama baru selesai memberi kabar pada Mama kemudian kembali masuk ke dalam menemani Ratna yang sama sekali tidak bisa ditinggal.


Ratna mengalami panic attack yang membuat jalur napasnya menyempit dan tidak mampu melepaskan diri dari selang oksigennya. Tangannya juga terus menggenggam erat tangan Tama yang setia menemani di sebelahnya. Sesekali Tama akan merasakan sakit ketika kontraksi Ratna datang dan istrinya itu mengernyit menahan sakit.


"Diikutin aja sakitnya jangan dilawan. Nanti kamu kecapekan," kata Tama sambil terus mengelus kepala Ratna.


"Aku takut. Gimana nanti kalau aku nyerah?" Setetes air mata Ratna mengalir kembali.


"Kamu pasti bisa. Kamu pasti kuat. Aksara aja kuat, apalagi Bundanya. Ayah di sini sama Bunda sama Aksa. Kita berjuang bareng-bareng ya," bujuk Tama berusaha menenangkan Ratna.


"Bayinya sehat kok, posisinya juga tepat. Hanya saja tekanan darah bundanya masih tinggi, demamnya juga tidak kunjung turun. Malam ini pasti akan berat, saran saya Ibu jangan ditinggal sendirian ya Pak, ditemani. Kalau ada apa-apa Bapak bisa langsung panggil saya," kata seorang perawat yang baru memeriksa kondisi Ratna.


"Baik sus, terima kasih," jawab Tama.


Sejujurnya Tama sudah tidak sanggup. Ketika dia melihat Ratna terus merasakan kesakitan tubuhnya juga terasa seperti ikut remuk. Bukan hanya Ratna yang merasakan takut, tapi bayang-bayang kepergian Ratna juga sering menghantuinya. Setidaknya sekarang sudah ada Mama. Ibu juga bilang akan berangkat ke jogja besok pagi-pagi sekali.


"Tam, kalau kamu saja panik gimana kamu mau tenangin istrimu? Yang tenang dong. Semuanya pasti akan baik-baik aja. Namanya lahiran mana ada yang nggak sakit. Caesar saja pasti sakit rasanya. Ini perjuangan awal kamu sama Ratna buat jadi orang tua. Percaya sama Mama, setelah kalian berdua dengar tangisan bayi kalian nanti hilang semua beban di badan," kata Mama berusaha menyemangati.


"Iya Ma," kata Tama dengan suara yang begitu kecil.

__ADS_1


"Kamu polisi Tama. Jawab yang tegas."


"Siap Ma, iya," kali ini Tama menjawab dengan lebih tegas persis seperti setiap kali dia menjawab komandannya. Rasanya ada satu titik keberanian yang mulai membesar di dalam hatinya. Dia akhirnya sanggup menemani Ratna dengan lebih tenang.


__ADS_2