Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
52. Kehadiran Kembali


__ADS_3

Sekitar 2 bulan berlalu sejak masalah itu menerpa rumah tangga Tama dan Ratna. Tapi Tama dan Ratna bahkan tidak gentar menghadapinya. Selain Tama yang begitu hebat, Ratna dibelakangnya juga sudah memberikan dukungan yang begitu besar kepada suaminya. Ratna yang terus memojokkan Zahra hingga akhirnya gadis itu menampakkan wajah aslinya dihadapan Bagas. Sekarang hanya tinggal bagaimana Tama menyadarkan sahabat karibnya itu agar dia bisa kembali menjadi Bagas yang dulu pernah Tama kenal.


Hari ini Ratna berkunjung ke markas untuk mengikuti olahraga pagi bersama dengan anggota Brimob dan istri. Walaupun Ratna tidak akan bisa ikut karena Tama melarangnya, tapi setidaknya Tama masih mengizinkan Ratna untuk mengikuti latihan tembak. Tentu saja Tama turun tangan sendiri menemaninya, padahal Nesya instrukturnya tapi yang namanya Pratama Aji protektif sekali pada istrinya, apalagi tempo hari mereka baru saja mendapatkan kabar tentang kehadiran baby Ji kembali.


"Protektif sekali kamu Bang," kata Nesya ketika melihat Tama berjalan masuk ke dalam lapangan tembak membuat beberapa bawahannya yang menemani istri mereka latihan langsung hormat menyapanya.


"Sya, kalau kamu bisa usir ajalah komandanmu satu itu. Bikin sepet di mata," kata Ratna.


"Sepet-sepet gini yang sering kamu tangisin Bun kalau nggak pulang. Sok-sokan lagi," kata Tama sambil mencubit pipi istrinya.


"Berisik!" kata Ratna sambil memukul tangan Tama agar segera melepaskannya.


"Aw Bun, sakit," keluh Tama.


"Bang. Malu lah dilihat bawahan. Hilang sudah abang punya karisma nanti," tegur Nesya.


Latihannya tidak lama, namanya juga hanya ala kadarnya. Yang penting bisa saja, tidak perlu ahli seperti sang suami. Ratna kemudian kembali berkumpul di lapangan bersama dengan ibu-ibu yang lain. Terutama Bu Rosa. Setelah Ratna menemui Bu Rosa yang hanya bisa duduk di bawah pohon karena kondisi perutnya yang sudah teramat besar, Tama melepaskan Ratna kemudian dia kembali masuk ke dalam kantor untuk persiapan apel menutup olahraga pagi bersama komandan.


"Kenapa mukamu kusut begitu dek Ratna?" tanya Bu Rosa.


"Itu lho Bu. Mas Tama protektif banget. Heran saya," keluh Ratna yang sudah seperti curhat pada kakaknya sendiri.


"Ya biarlah suamimu itu protektif. Kan demi si kecil juga."


"Nah itu dia. Demi si kecil nggak demi bundanya," kata Ratna dengan nada bercanda.


"Cemburu kamu?"


"Haha nggak lah Bu, buat anak apa sih yang nggak. Jangankan hanya membagi dua kasih sayang suami. Nyawa saya saja siap saya serahkan," jelas Ratna sambil mengelus perutnya yang masih datar.


"Baik-baik ya Ratna. Jangan kecapekan, jangan sampai sakit, kan katanya kamu juga ada masalah pernafasan. Kalau bisa kurangi jam terbangmu buat istirahat di rumah," saran bu Rosa.


"Tanpa diminta Bu," kata Ratna dengan tersenyum.


...***...


Selesai dengan hari olahraga, Ratna kembali ke rumahnya. Siang nanti dia akan ada operasi jadi dia harus segera bersiap, mandi kemudian mengganti pakaiannya. Untung masih sempat mandi, kadang dia masih harus menggunakan seragam ngejreng itu sampai ke rumah sakit dan menjadi pusat perhatian karena pakaiannya full pink. Bangga sih, seragam itu bukan sembarang orang bisa pakai tapi kalau dipakainya di moment yang tidak tepat ya malu juga dia jadi pusat perhatian.


"Selamat siang dok, ini dokumen pasien dan hasil pemeriksaan tadi. Apakah bisa kita pindahkan pasien sekarang?" tanya asistennya sembari menyerahkan lembar catatan medis pasien.


"Tunggu sebentar. Biar aku cek dulu kondisi pasien. Aku akan dampingi sampai masuk ke kamar operasi. Kamu tunggu dulu di kamar pasien, nanti aku susul setelah ganti," kata Ratna yang langsung sibuk mengganti pakaiannya dengan baju OK dan snelli yang tergantung di dalam loker.


"Baik dok."


Kalau sudah mode kerja begini, Adiratna yang manja dan kekanakan akan menghilang tergantikan dengan ketegasan dan disiplin yang tinggi. Sama seperti suaminya yang dikenal sebagai instruktur galak, Ratna juga terkenal karena tegas dan tanpa ampun pada kesalahan sekecil apapun itu. Apalagi Ratna cukup lama bertugas di UGD makanya kebiasaan cepat dan tepat dalam bertindak itu terus terbawa sampai sekarang.

__ADS_1


"Selamat siang Bu," sapa Ratna pada pasien yang akan dia tangani.


Hari ini hanya kasus usus buntu biasa, tidak sulit walaupun memang prosedur operasi itu tidak ada yang mudah. Tapi dengan pengalaman yang Ratna pegang, dia tidak perlu banyak effort untuk operasi yang satu ini.


"Siang bu dokter."


"Bagaimana Ibu ada keluhan tidak hari ini?" tanya Ratna dengan ramah.


"Tidak ada. Selain deg degan tidak ada lagi. Haduh saya ini sudah tua, kalau bukan demi anak-anak mana mau saya menghabiskan biaya banyak untuk berobat gini," curhat si pasien.


"Ibu tidak perlu khawatir. Setelah ini dijamin Ibu akan sehat. Nggak akan sakit perut lagi," kata Ratna sambil mengecek kembali tekanan darah pasien.


Selesai memastikan pasiennya baik-baik saja, Ratna memberikan sedikit penjelasan lebih lanjut kepada pasien dan pada wali pasien kemudian mulai mendorongnya menuju ke kamar operasi. Ketika pasiennya sedang dipersiapkan oleh tim kerjanya di dalam, Ratna melipir dulu untuk minum obat mual resep dari dokternya baru dia kembali ke ruang operasi untuk menangani pasien.


Sekitar 1 jam kemudian, Ratna selesai dengan pekerjaannya. Dia menyerahkan pasien kembali pada asisten utamanya sedangkan dia yang sudah kelewat lelah memilih duduk di ruang istirahat lebih dulu.


"Adek capek ya ikut kerja sama Bunda?" tanya Ratna pada perutnya.


"Yang kuat ya sayang, kamu harus bisa bertahan. Demi Ayah sama Bunda," katanya lagi.


Kehamilan Ratna kali ini memang berbeda dengan kehamilan normal. Selain karena kondisi rahimnya yang sejak awal sudah lemah, perkembangan janin dalam perutnya juga didiagnosa tidak sesuai dengan usianya. Selain itu mual dan pusing juga amat sangat mengganggu Ratna. Dokter memang sudah meresepkan obat untuknya, tapi tetap saja tidak banyak membantu. Semua tetap dikembalikan pada bagaimana Ratna kuat bertahan dan seberapa kuat keinginan si janin untuk bertahan diperut ibunya.


"Assalamualaikum Mas...?" kata Ratna menelpon suaminya.


"Waalaikumsalam dek, capek ya, kok lemes gitu?" tanya Tama.


"Sekarang?"


"Kalau bisa sekarang," jawab Ratna.


"Waduh. Bentar ya, Ayah izin dulu. Ditahan bentar ya," kata Tama.


"Iya, jangan ngebut," kata Ratna kemudian mematikan panggilannya.


Bagaimana dia tidak lemas kalau dia saja tidak bisa makan apapun. Padahal di kehamilan pertamanya mual yang dideritanya tidak mengganggu napsu makan Ratna, tapi untuk yang satu ini dia bahkan tidak memiliki tenaga untuk makan.


Tama menjemput Ratna satu jam kemudian. Dia sudah memapah Ratna bahkan dari ruang kerja Ratna. Dia bilang perutnya kram dan rasanya tidak nyaman. Dia ingin segera pulang untuk tidur dan istirahat. Tama merebahkan kursi yang diduduki Ratna, dan dengan ekstra hati-hati dia membawa Ratna pulang ke rumah. Ketika sampai di rumah, Ratna sudah tidak sanggup berdiri membuat Tama harus menggendongnya masuk ke dalam rumah. Ratna mulai mengeluh perutnya sakit bahkan ketika sudah berusaha ditenangkan dengan minum air hangat.


"Mas si adek kenapa ya?" tanya Ratna.


"Nggak ada apa-apa. Adek sehat, insyaallah."


"Aku bisa kuat kan ya?"


"Pasti bisa. Ada Mas di sini nemenin kamu," kata Tama sambil terus mengelus kepala istrinya

__ADS_1


"Bunda istirahat di rumah ya. Kalau ada apa-apa telpon. Ayah balik ke kantor," pamit Tama.


"Hati-hati Mas," kata Ratna ketika Tama mencium keningnya.


...***...


Tama langsung kembali ke kantor. Dia tidak berbohong ketika bilang dia sedang sibuk. Pekerjaannya teramat menumpuk. Untung dia tidak diterima dalam rekruitmen densus yang dia ikuti beberapa bulan lalu jadi pekerjaannya tidak akan bertambah banyak dan dia juga tidak perlu khawatir akan dipindahtugaskan. Hanya saja, pekerjaannya sebagai instruktur, dan sekaligus juga sebagai komandan kompi maka dia harus bisa menata anggotanya dan mengawasi mereka semua.


Beberapa waktu lalu ada satu dua anggotanya yang berbuat kesalahan dan Tama berkali-kali dipanggil oleh atasan. Jika dia tidak segera menyelesaikan permasalahan ini, dia bisa saja diturunkan pangkatnya dan menerima hukuman atas kesalahannya sebagai seorang Danki.


"Sya, dua personil yang bermasalah itu mana? Sudah kau panggil?"


"Sudah Bang. Tapi ya begitu," kata Nesya.


"Begitu bagaimana?"


"Pacarnya malah nyolot. Malah saya dimarahi balik," kata Nesya.


"Itu tuh sebenarnya pokok permasalahannya dimana sih Sya? Asli aku belum dengar apa-apa," kata Tama.


"Sebenarnya yang bikin masalah itu bukan personil Abang, tapi pacarnya. Jadi ada satu cewek yang bikin video gitu di medsos yang intinya mengeluh kenapa dia diperlakukan tidak hormat sampe jelek-jelekin atasan juga."


"Nggak hormat gimana?" tanya Tama.


"Nggak dikasih izin masuk kesatrian. Terus juga diperiksa semua isi tas dan lain sebagainya persis protokol lah pokoknya, nggak ada unsur mempermalukan Bang. Saya jamin, anggota yang piket nggak bikin kesalahan," kata Nesya.


"Duh baru pacar. Belum jadi istri, sudah buat masalah," kata Tama yang frustasi.


"Panggil orangnya berempat sama pacarnya sekalian. Suruh menghadap saya besok," perintah Tama langsung dilaksanakan oleh Nesya.


Lelah? Jelas. Sudah beban pikirannya soal kondisi Bagas yang semakin hari semakin gila belum selesai, istrinya di rumah sedang sakit, ini ada lagi masalah konyol yang tidak seharusnya ada malah datang menambah pekerjaannya. Tama bahkan sampai membanting pintu ketika keluar dari ruangannya. Untung ruangannya kosong, kalau tidak Tama mungkin sudah dimarahi sekarang. Dengan keras Tama membasuh wajahnya. Dia bahkan mengguyur kepalanya dengan air saking frustasinya.


Tadinya Tama berniat untuk tetap disana dulu selama beberapa saat, tapi ketika dia melihat Bagas berjalan masuk ke dalam kamar mandi, Tama langsung pergi dari sana. Dia tidak ingin emosinya yang sudah sulit dikendalikan itu akan membuat masalah yang baru nanti.


"Kudengar istrimu sedang hamil," kata Bagas membuat langkah Tama terhenti.


"Mau apa kau?"


"Kau tahu kan, aku tidak akan tinggal diam?"


"Gas, sampai kamu berani menyentuh Adiratna, kupastikan seragam itu lepas dari tubuhmu," ancam Tama.


"Tidak peduli. Selama Zahra bahagia, akan kulakukan apapun," katanya.


"Kau gila. Jika kau masih mau kembali menjadi Bagas yang dulu kukenal, dengan senang hati aku akan menerimanya tapi jika sampai kau melakukan sesuatu lagi jangan salahkan aku jika bukan hanya kau yang hancur tapi gadis kesayanganmu itu juga."

__ADS_1


"Kau...!!!" emosi Bagas langsung naik ketika Tama menyebut Zahra.


"Kita berdiri membela istri masing-masing. Hanya antara kita berdua. Kita lihat, apakah kemampuanmu itu memang mampu mengalahkanku atau tidak," kata Tama sebelum pergi meninggalkan Bagas yang langsung emosi karena merasa terpojok.


__ADS_2