Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
98. Hari Pertama Kerja


__ADS_3

Ratna hari ini akan mulai masuk kerja. Hari pertamanya setelah melalui cuti panjang pasti akan terasa melelahkan. Bahkan saking takutnya dia meminta Tama menemaninya membeli sepatu flat atau setidaknya yang heelsnya tidak begitu tinggi karena dia baru menyadari jika selama ini sepatu yang dia pakai berhak tinggi semua. Hanya satu wedges dengan heels sekitar 3 cm yang biasa dia pakai ketika hamil tapi itu sudah kekecilan karena diakui atau tidak sekarang Ratna menjadi gemuk.


"Semangat banget Bunda mau lanjut kerja," kata Tama sambil memeluk Ratna dari belakang.


"Ayah, aku lagi masak lho," kata Ratna. Dia tidak protes, hanya meminta suaminya melonggarkan sedikit pelukannya.


"Bunda, mumpung Aksa belum bangun. Morning kissnya dulu dong," kata Tama sambil memanyunkan bibirnya.


Ratna meletakkan telur gorengnya ke atas piring lebih dulu kemudian mematikan kompor. Ratna sedikit mendorong Tama menjauh dari area kompor yang berbahaya kemudian segera meraih dingklik yang selalu dia letakkan di sebelah tabung gas di bawah kompor. Ratna menaikinya membuat tingginya sejajar dengan sang suami. Tanpa basa basi dia melingkarkan kedua tangannya ke leher Tama sedangkan Tama meraih pinggang Ratna untuk dia tarik mendekat.


Baru akan menikmati morning kissnya, suara tangisan Aksa membuyarkan fantasi Tama. Dia dengan terpaksa melepaskan tautannya dan memberi kesempatan pada Ratna mencari tahu apa yang terjadi pada putranya. Tahunya Aksa merengek karena merasakan sesuatu yang basah di bawahnya. Ratna tertawa ketika memandangi Aksa terus menjejak-jekakkan kakinya protes minta diganti popoknya. Berhubung si anak sudah bangun, Ratna sekalian saja memandikannya.


"Mas, tolong siapin air mandinya Aksa dong. Itu di ceret airnya udah panas," teriak Ratna dari dalam kamar.


"Ya," jawab suaminya.


Tama langsung menuju ke kamar mandi untuk menyiapkan air mandi. Dia campurkan air panas dari ceret dengan air dingin. Dengan teliti dia mengecek suhu airnya apakah masih terlalu panas atau sudah cukup baru memanggil Ratna. Tama membantu Ratna memandikan Aksa kemudian setelah selesai dia yang mengeringkan tubuh Aksa sedang Ratna meraih minyak telon dan mengoleskannya ke tubuh Aksa. Ratna tidak memakai bedak bayi terlalu banyak pada Aksara karena takut jika serpihan bedak yang menyatu dengan udara terhirup oleh Aksa dan membuatnya bersin.

__ADS_1


Sambil bernyanyi Ratna memakaikan pakaian pada Aksa kemudian mengangkatnya untuk dia susui. Dia memastikan dulu semua keperluan Aksa sudah tersedia baru dia bersiap untuk mandi. Ketika dia masih berada di dalam kamar mandi, Uli pengasuh Aksa datang. Tama melihat Uli hampir masuk ke dalam kamar namun segera kembali keluar ketika melihatnya tengah menidurkan Aksa. Tama sudah memakai seragamnya dan melihatnya membuat Uli sedikit takut. Jujur saja, dia memang tidak berani berbuat macam-macam. Karena dia bisa mendapat pekerjaan ini setelah ikut dengan keluarga Pak Chandra selama bertahun-tahun, dia tidak akan mau merusaknya.


"Eh kamu sudah datang toh," kata Ratna menyapa Uli yang duduk melipat pakaian Aksa yang memang belum sempat dilipat oleh Ratna semalam.


"Iya Bu, kan Ibu bilang hari ini sudah mulai kerja. Takutnya Ibu sudah harus berangkat saya belum sampai makanya saya datang lebih pagi."


"Kalau kamu tidak keberatan kamu boleh datang lebih pagi, tapi nanti pulangnya tetap nunggu saya atau Bapak ada yang di rumah ya," kata Ratna diangguki oleh Uli.


"Kamu sudah sarapan? Itu saya buat nasi goreng, kalau mau ambil saja. Telur ada di kulkas, kamu bisa goreng sendiri. Saya mau siap-siap dulu," kata Ratna.


30 menit kemudian Ratna dan Tama sudah siap berangkat. Aksa sudah berada di gendongan Uli ketika Tama sedang memakai sepatunya di teras. Ratna juga baru melangkah keluar dengan pakaian yang jauh berbeda dengan yang biasa dia lihat. Majikan barunya itu terlihat cantik dengan rok hitam selutut, kemeja polos berwarna biru langit dan rambut pendek yang terikat separuh berhias make up tipis di wajah berserinya.


Ratna berjalan mendekati putranya yang tampak terus memandangi kedua orang tuanya yang sibuk walaupun masih pagi. Ratna mencium pipi putranya kemudian memakai sepatunya. Begitupun dengan Tama yang berpamitan pada putranya. Motor baru Ratna sudah sampai di garasi sejak dua hari lalu tapi Tama masih ingin mengantar istrinya bekerja. Dia bilang dia tidak mau hari pertama Ratna kembali bekerja yang harusnya menyenangkan dirusak oleh emosi karena kemacetan.


Tama menurunkan Ratna di pelataran rumah sakit. Setelah istrinya cium tangan, Tama membalas dengan mencium keningnya baru Ratna melangkah keluar dari rumah sakit. Ketika Ratna sedang menutup kembali pintu mobil, dari arah depan Tama melihat Dipta dan Ela datang menghampiri. Tama lebih dulu keluar dari mobil untuk menyapa baru beranjak pergi.


"Eciee yang mulai balik kerja," goda Ela sambil bergelayut di lengan kanan Ratna.

__ADS_1


"Mbak Ratna~~~, asikk Mbak Ratna udah balik kerja," kali ini Nita. Dia baru sampai juga dan sama seperti Ela dia melingkarkan kedua tangannya di lengan kiri Ratna sedangkan Jay dan Dipta berjalan mengikuti dari belakang. Di depan lift mereka bertemu dengan Theo yang sedang menunggu. Sama seperti Jay dan Dipta, Theo juga mengucapkan selamat atas kembalinya Ratna. Keenam bersahabat itu bersama-sama masuk ke dalam lift yang ternyata di dalamnya sudah ada Hengki.


"Bu dokter Ratna? Akhirnya Bu dokter Ratna balik kerja lagi. Saya sudah kangen lho Bu sama Ibu," kata Hengki dengan hebohnya.


"Hai Heng, kok kamu makin gembul?" kata Ratna basa basi.


"Ah kaya Ibu nggak tambah bulet aja," jawab Hengki membuat Dipta, dan seisi lift hampir kelepasan tertawa.


"Hengki jujur banget jadi orang," kata Nita.


"Ya gimana Bu Nita, kita kan nggak boleh bohong. Karena kata Pak ustadz bohong itu dosa. D O do S A sa DOSA," kata Hengki dengan gaya khasnya.


"Suka-suka kamu lah," kata Ratna.


Lift sudah sampai di lantai 4 dimana ruang kerja mereka berada. Semua yang ada di dalam lift turun termasuk Nita yang katanya pindah ke depart Bedah Umum. Nita mendapat giliran tahun ini di bedah umum dan akan bekerja membantu Dipta dan Ratna. Apalagi Nita bilang dia ingin belajar lebih banyak lagi agar bisa diikutsertakan dalam project yang akan dirintis suaminya. Dia tidak mau mendapatkannya secara instan.


Ratna, lo jaga poli kan? Aku titip pasienku dong satu. Namanya Clara, operasi usus buntu 2 minggu lalu. Ini jadwal check up pertamanya tapi gue ada operasi darurat. Catatan medisnya nanti minta ke perawat jaga aja," kata Dipta yang baru duduk sudah harus kembali berdiri, dan dengan tergesa bersiap pergi ke IGD.

__ADS_1


__ADS_2