
Tidak ingin terlarut dalam kesedihan, Tama tanpa pikir panjang langsung membuktikan perkataannya. Kali ini Ratna tidak hanya pasrah menerima. Dia bahkan bisa lebih berani bergerak sebelum Tama. Di sela-sela permaiannya, Tama sempat menyeringai, ternyata keinginan Ratna lebih besar dibanding dirinya itulah kenapa Ratna bisa begitu agresif malam ini. Ratna bahkan tidak segan menekan tengkuk Tama agar bisa lebih dekat lagi dengan dirinya.
"Ngebet banget apa Dek?" tanya Tama.
"Banget."
"Capek tahu," keluh Tama.
"Yaudah deh," Ratna menyerah. Dia juga kasihan pada Tama yang sudah berkeringat begitu banyak persis seperti orang baru selesai menggarap sawah satu hektare.
Ratna tertawa, tapi tidak kunjung melepaskan tautannya. Dia masih asik memeluk tubuh Tama dan menyesap sebanyak mungkin aroma tubuh yang menjadi favoritnya itu. Tama juga begitu, tidak ada niat untuknya memakai lagi pakaiannya. Dia hanya menaikkan selimut agar tubuhnya dan Ratna tidak jadi kedinginan pagi nanti.
"Hujan Dek, lanjut nggak?" tanya Tama nakal.
"Tadi katanya capek."
"Bodo ah, besok Mas nggak ada kerjaan kok. Cuma duduk diam di balik meja garap laporan," kata Tama.
"Tapi besok aku jaga Poli," kata Ratna sambil mendongakkan kepalanya sedikit agar bisa bertemu tatap dengan suaminya.
"Pakai foundy aja ya. Janji deh Mas nggak liar biar bekasnya nggak begitu kelihatan," kata Tama membujuk Ratna.
Keduanya kembali tenggelam dalam lautan kebahagiaan yang hanya bisa dirasakan oleh keduanya. Tama mulai menindih tubuh Ratna dan melanjutkan kegiatannya yang tadi sempat terhenti karena kelelahan. Walaupun tidak seagresif tadi, tapi Ratna masih bisa dibuat puas dengan perlakuan manis suaminya. Hingga tanpa sadar keduanya terlelap tidur masih dalam keadaan saling menindih.
...***...
Ratna bangun pertama kali merasakan pegal di seluruh tubuhnya. Wajar saja, semalaman Tama tidur diatas tubuhnya, menyenderkan kepala di dadanya makanya tubuhnya bisa begitu remuk pagi ini. Kedua kakinya juga sakit ketika dipakai berjalan. Ratna segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Dia bersihkan dari ujung kepala hingga ujung kaki kemudian masuk kembali ke dalam kamar. Berjalan mendekati cermin dan mengecek kondisi lehernya yang sudah banyak noda kemerahan. Perlahan Ratna rasakan ada dua tangan kekar melingkari pinggangnya, tangan Tama yang kini memeluknya dan menyesap aroma sabun mandi beraroma anggur kesukaannya.
__ADS_1
"Mas, cepetan mandi gih," kata Ratna.
"Bentar Dek, Mas masih pengen peluk kamu."
"Nah kan sekarang malah Mas yang manja," kata Ratna.
Tama memutar posisi tubuh Ratna, kemudian menangkup kedua pipi Ratna yang mulai tirus. Tadinya dia hanya akan mengecup bibir Ratna tapi karena istrinya malah memejamkan mata dan memiringkan kepala, Tama jadi melakukan lebih. Seakan apa yang sudah mereka lakukan semalam belum cukup. Tangan Tama bahkan sempat menarik tali bathrobe Ratna dan membukanya membuatnya mampu menyentuh lembut kulit istrinya.
"Mas, udah ah. Mandi sana. Udah jam berapa ini, nanti aku telat," kata Ratna sebelum suaminya hilang kendali.
"Iya iya," kata Tama kemudian menyerah. Dia meraih kaosnya sebelum keluar dari kamar lalu segera masuk ke dalam kamar mandi menenteng handuk kering yang selalu digantung di jemuran.
Ratna kini duduk di depan meja rias, membuka gulungan handuk di rambutnya kemudian mulai menyalakan hari dryer. Ratna masih fokus mengeringkan rambutnya, hingga tiba-tiba dia teringat pada kejadian semalam dan membuatnya senyum-senyum sendiri. Karena dia sudah kelewat hebring, Ratna meraih handphonenya dan langsung memutar lagu kesukaannya dan Tama.
"'Terlalu Sayang', aku banget nih lagu," gumam Ratna yang mulai melanjutkan lagi kegiatannya.
"Nggak usah kebelakang-belakang Mas, aku pakai kemeja kerah tinggi kok," kata Ratna.
"Yaudah nih, dilanjut sendiri," kata Tama yang lebih memilih meraih seragamnya di gantungan kemudian memakainya.
Hari ini Tama terlihat tampan dengan seragam two tonenya. Asli sih ini adalah seragam yang menurut Ratna paling dia suka dari sekian banyak seragam suaminya. Soalnya kalau pakai seragam ini Tama jadi terlihat seperti polisi beneran katanya. Padahal kalau tanya Tama paling suka seragam yang mana dia akan menjawab seragam loreng. Karena yang memiliki dan berhak memakai seragam itu di dalam badan kepolisian hanya anggota brimob saja. lainnya tidak. Sedang kalau hitam, Densus juga punya seragam hitam.
"Bu, aku berangkat dulu ya assalamualaikum," pamit Ratna pada ibunya.
"Waalaikumsalam. Tiati," jawab Ibunya.
Tama juga ikut cium tangan pada ibu mertuanya baru ikut berangkat bersama Ratna yang sudah lebih dulu duduk di dalam mobil. Setelah menurunkan Ratna di rumah sakit, dia langsung menuju ke kantor untuk mengikuti apel lagi lanjut menyelesaikan semua pekerjaannya. Cece menepati janjinya untuk membantu Tama menyelesaikan laporan latgab hari ini dan sebagai ucapan terima kasih Tama mentraktirnya di kantin ketika jam makan siang.
__ADS_1
Ketika berada di kantin, Tama dan Cece bertemu dengan Rendi yang juga sedang makan siang. Tama dan Cece memutuskan untuk bergabung bersamanya dan makan siang bersama. Rendi awalnya masih biasa saja, tapi tiba-tiba mata tajamnya menangkap ada noda kemerahan di leher Tama yang tidak tertutup seragam.
"Tutupin nih. Jangan sampai ada junior yang lihat," kata Rendi pada Tama.
"Ya maaf Bang, nggak sadar soalnya," kata Tama.
"Yang diperhatiin bekas di leher istri doang di leher sendiri nggak diperhatiin," kata Rendi sambil geleng-geleng.
"Niat pamer kali Bang. Marahin aja udah, hukum aja hukum," kompor Cece.
"Dari pada hukum Aji, aku lebih pengen ngehukum kamu Ce," kata Rendi pada Cece.
"Kenapa Bang? Emangnya aku ngapain?"
"Kaos yang kamu pakai warna apa? Sadar nggak ha?" kata Rendi yang sudah memasuki mode Provost.
"Kalian berdua. Ambil perlengkapan terus lari sana. 15 kali."
"Ya Allah Bang, tenanan iki?" tanya Aji.
"Bener lah. Kalian ini komandan nggak bisa kasih contoh yang bener. Ayo cepetan. Aku sendiri yang awasi," kata Rendi.
Tama dan Cece tidak berkutik. Keduanya langsung mengambil ransel dan senjata masing-masing lalu lari keliling lapangan sesuai perintah Rendi. Malu? Jelas. Seorang perwira dihukum dihadapan para bintara dan tamtama yang sedang latihan bagaimana tidak malu. Apalagi sebenarnya kesalahan mereka tidak seberapa. Baru sekitar 5 kali putaran, Rendi menghentikan hukuman mereka dan meminta keduanya push up. Rendi terus menggertak, tapi tiba-tiba dengan hebohnya semua anggota gegana datang dan satu orang membawa kue ulang tahun berukuran besar untuk orang yang sedang dihukum bersama Tama.
"Oalah semprul. Jadi ini akal-akalanmu tok buat kasih surprise ke Cece to Bang. Lha kok aku ikut kena hukum. Kampret," kata Tama.
"Sorry Ji. Soalnya kalau dia sendiri yang kena hukuman kan nggak asik. Nggak papa lah, berkorban sedikit. Kamu dan Cece itu kan sudah tidak terpisahkan dari kalian SMA. Dan yang namanya teman itu harus sama rata sama rasa. Nyatanya sekarang kamu juga kecipratan senengnya to," kata Rendi masih sambil tertawa terbahak-bahak,
__ADS_1
"Asem tenan Bang," gerutu Tama tapi setelah itu dia juga ikut tertawa dan ikut mencolek krim ke wajah Cece bersama dengan anggota-anggota mereka.