
Hari ini Ratna sidang. Dia telah berhasil menyelesaikan tugas akhirnya dan saat ini dia tengah mempertanggungjawabkannya. Jika biasanya Ratna yang sibuk menyiapkan keperluan Tama, sekarang dibalik. Tama yang sibuk menyiapkan keperluan Ratna. Selesai sholat subuh dia langsung melangkah ke dapur dan meraih penggorengan untuk menggoreng telur. Tama memecahkan 2 butir telur langsung ke atas penggorengan kemudian menaburinya dengan sedikit garam dan merica bubuk. Setelah selesai menggoreng, air yang tadi dia panaskan sudah mendidih dan langsung Tama pakai untuk membuat 2 gelas teh hangat.
"Oh cie yang masak sarapan sendiri," goda Ratna yang baru melangkah dari dalam kamar mandi.
"Sekali-kali buat nyemangati istriku yang mau sidang. Semangat ya Mas nggak bisa nemenin tapi Mas yakin kamu pasti bisa," kata Tama pada Ratna.
"Sini aku yang selesain. Mas mandi sana, anterin aku dulu dong," minta Ratna.
"Dengan senang hati Ny. Adiratna Aji," jawab Tama kemudian menyerahkan pekerjaannya pada Ratna begitu saja.
Tama mengantar Ratna lebih dulu ke kampusnya, Sejak tadi matahari tampak malu-malu menampakkan diri dan sekarang malah turun hujan. Untung mereka jadi pakai si Brian, kalau tidak kertas-kertas yang Ratna bawa bisa basah semua. Ratna terus memeriksa lembar demi lembar penelitiannya bahkan ketika mobil terus berjalan dan Tama melihatnya membuat dia semakin tahu seberapa keras istrinya ini berusaha mendapatkan gelar itu.
"Dek, nggak pusing? Nanti matamu sakit lho," tegur Tama.
"Bentar ada yang harus aku cek dulu," kata Ratna tanpa menoleh pada Tama.
"Dek Ratna, kamu akan baik-baik aja. Nggak ada yang perlu kamu cek lagi. Persiapanmu sudah matang. Kamu juga belajar presentasi sudah sejak minggu lalu. Aku yakin istriku tersayang ini pasti akan lulus dengan nilai yang memuaskan," kata Tama sambil mengelus kepala Ratna dengan sebelah tangannya yang bebas dari stir.
"Mas bilang gitu bukan karena Mas suamiku kan? Karena aku bener-bener bagus kan?"
"Iya sayang..., nggak percayaan banget. Mas ini juga lulusan S2. Udah duluan lulus nih, percaya sama Mas semuanya akan baik-baik aja. Nanti hasilnya apa Mas dikasih tahu ya," kata Tama.
"Pasti."
Begitu sampai di pelataran kampus, Ratna langsung pamit. Dia mencium tangan Tama dan meminta restu darinya baru melangkah turun dari mobil dan berlari memasuki kampus. Tama memastikan Ratna masuk ke dalam baru dia kembali menjalankan mobilnya untuk menuju markas. Hari ini banyak yang harus dia lakukan. Minggu ini dia akan mulai melakukan seleksi pada para pendaftar. Tama bertanggung jawab untuk melakukan tes ketahanan fisik.
Tidak butuh waktu lama untuk Tama sampai di kantornya. Sudah tersedia satu map berisi daftar nama yang akan dia tes hari ini sekaligus juga lembar penilaiannya. Tama membacanya sekilas, mengambil topi dan mengalungkan peluitnya kemudian berjalan menuju ke lapangan setelah melapor pada Pak Slamet lebih dulu. Pak Slamet adalah komandan sekarang. Beliau yang akhirnya mengambil alih semua pekerjaan Pak Somat untuk mengatur dan mengurus Markas seisinya.
"Oh iya Aji, sebelum saya lupa. Per hari ini Nesya yang akan jadi asistenmu. Dan untuk personil yang akan mengisi kekosongan di divisi kalian sudah sampai dan sudah melapor pagi tadi. Kita akan memperkenalkannya nanti saat apel sore. Jangan lupa ajari dia apapun yang perlu dia kerjakan," kata Pak Slamet.
"Baik Pak."
Selesai mendapatkan perintah, Tama langsung melaksanakannya. Dia langsung menuju ke lapangan dengan beberapa bintara senior yang tergabung ke dalam timnya. Setelah membuka tes dengan sepatah dua patah kata, Tama langsung memberikan perintah pada para penguji untuk melaksanakan tugas. Mulai dari tes lari, push up, sit up, dan tes fisik lainnya dilaksanakan dibawah pengawasan Tama secara langsung.
"Cukup. Arya, biar pada Ishoma dulu. Kita lanjut nanti jam 1 siang," kata Tama pada Arya yang berdiri di hadapannya.
"Yudh, stop stop. Ishoma dulu sudah adzan," kali ini Tama berteriak pada Yudha yang ada di sisi lain lapangan.
Tama lebih dulu meninggalkan lapangan karena dia tahu kalau dia tetap di sana, anak-anak itu tidak akan bisa santai. Terlihat sekali wajah-wajah ketakutan mereka ketika melihat Tama yang mengawasi mereka sejak pagi tadi. Tama berjalan menuju mushola untuk melaksanakan sholat dhuhur. Begitu selesai sholat, Tama buru-buru meraih handphonenya dan langsung menghubungi Ratna yang saat ini seharusnya sudah selesai sidang.
"Mas Tama...!!!" teriak Ratna dari seberang membuat Tama sedikit menjauhkan handphonenya dari telinga karena kaget dengan suara keras yang tiba-tiba itu.
__ADS_1
"Waalaikumsalam," tegur Tama dengan nada yang lembut.
"Oh iya Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, gimana dek sidangmu berhasil?"
"Sukses besar Mas. Wah parah parah aku nggak nyangka aku akan dapat ujian kaya gitu dari penguji Mas, ahh aku seneng banget pengen teriak pengen peluk kamu sekarang," kata Ratna lagi yang Tama yakin istrinya itu mengatakannya sambil jingkrak-jingkrak kegirangan.
"Nanti aja peluknya ya, sekarang sholat dulu gih. Udah sholat belum?"
"Kan lagi nggak sholat aku."
"Oiya lupa. Yaudah makan siang ya dek yang banyak. Kan satu bebanmu sudah keangkat toh. Terus habis ini kalau kamu mau belanja apapun yang kamu mau ya belanja aja. Uangnya Mas transfer sekarang," kata Tama.
"Nggak ah, belanjanya nanti aja sama Mas. Sekalian makan malam berdua ya. Pengen donat kentang juga, pengen cimol juga, pengen gurita bakar juga, pengen bakso mercon, pengen ceker angkringan depan rumah sakit, ahh aku pengen semuanya," Ratna masih dengan nada exitednya.
"Hus, Bunda perutmu meledak yang ada. Beli semua tapi nggak dalam satu waktu. Kan hari-hari masih banyak. Kamu jajan tiap hari boleh asal...," Tama sengaja menggantung kalimatnya karena dia tahu Ratna sanggup meneruskannya.
"Tetap jaga kesehatan. Minum air cukup, tidur teratur, dan makan makanan yang bergizi," tuh kan Ratna bisa menyelesaikan kalimat Tama dengan mudah.
"Duh pinternya bu dokter kesayanganku. Sudah dulu ya Dek, Mas mau lanjut kerja dulu. Nanti sore minta dijemput jam berapa?"
"Ok."
Tama kemudian mematikan panggilan lalu melanjutkan jalannya untuk masuk ke dalam ruang kerjanya. Ketika dia masuk, hanya ada Nesya di dalam sedangkan yang lain entah ke mana. Tiba-tiba Tama jadi sadar sesuatu, ketika gadis itu memanggilnya dan mengajaknya makan siang, dia sadar jika meja kerja yang letaknya persis di sebelah meja kerja Nesya itu seperti tidak berpenghuni padahal Pak Slamet pagi tadi bilang orang yang akan mengisi meja itu sudah datang dan sudah melapor. Tapi jangankan menemukan dimana orangnya, dia bahkan tidak melihat adanya tanda-tanda kehidupan di meja itu. Mejanya masih begitu rapi, bersih, tidak ada tas atau jaket di sana.
"Sya, personil baru yang Pak Slamet bilang mana?" tanya Tama.
"Nggak tahu, aku juga belum lihat dari pagi tadi. Kemana ya?"
"Namanya siapa? Terus pindahan dari mana?"
"Katanya sih namanya Pak Bagas, pangkat IPTU, pindahan dari Polda Banjar. Dulu beliau lulusan AKPOL juga kaya Bang Aji, mungkin aja Bang Aji kenal karena kalau lihat pangkatnya berarti selisih usianya nggak jauh," kata Nesya.
Mendengar nama itu membuat Tama membeku. Jelas dia tahu nama itu. Tama tahu dengan sangat baik. Bagaskara Rangga, teman seangkatan Tama sekaligus teman satu kamarnya di tahun kedua.
"Bang Aji...?"
"Ya?"
"Kok ngalamun sih, miring tuh gelasnya," kata Nesya melihat Tama terdiam.
__ADS_1
Tama buru-buru membetulkan posisi gelas di tangan kirinya kemudian kembali ke meja kerjanya untuk mulai makan siang. Tiba-tiba saja napsu makannya hilang seketika. Entahlah dia merasakan sesuatu yang begitu mengganggunya. Dia juga ingat beberapa kejadian yang membuatnya dan Bagas bertengkar hingga lost kontak dulu.
Tama segera menyelesaikan makan siangnya agar dia tidak terlambat kembali ke lapangan. Baru beberapa langkah, belum sampai dia berbelok di lorong akhirnya dia bertemu dengan pemilik meja kosong itu. Tama akhirnya bertemu kembali dengan sahabat lamanya. Dengan Bagaskara yang begitu melihat Tama dia langsung memalingkan wajah seakan tidak mengenal siapa laki-laki yang setengah mati ingin menyapa itu.
***
Tidak sampai sore Ratna berada di kampus. Nyatanya rumah sakit tempatnya bekerja memang lebih menyayanginya. Ratna mendapatkan panggilan untuk membantu Rati menjalankan sebuah prosedur operasi karena asisten dia tiba-tiba sakit sedangkan Rati tidak mungkin meminta bantuan pada para senior. Untung Ratna tidak lupa memberi kabar pada Tama. Kalau dia sampai lupa kan kasihan, ini sudah malam. Waktu Isya saja sudah terlewat. Batal sudah acara jalan-jalan yang sudah mereka rencanakan siang tadi.
Ratna hanya bisa menghela nafas, padahal dia sudah membayangkan akan bersenang-senang dengan suaminya malam ini. Sudah rencananya batal, hujan pula. Memang benar sepertinya Ratna tidak ditakdirkan untuk hidup foya-foya. Padahal dia kan hanya ingin donat bertabur gula yang biasa dijual di taman dekat Sungai Mahakam. Harganya tidak seberapa, kalau dibandingkan dengan makan siangnya setiap hari jelas lebih mahal makan siangnya.
Ditengah keluhannya tentang datangnya hujan di waktu yang tidak tepat itu Ratna mengulurkan tangannya membuat telapak tangannya langsung dihujani rintik-rintik air yang mulai jatuh semakin deras. Ratna merasakan damai sesaat mengingat kenangan-kenangan manis yang biasa Tama dan Ratna lakukan ketika hujan tiba. Kenangan tentang film horor, tentang segelas coklat panas, sepiring bakwan atau kenangan tentang lembut dan hangatnya dekapan Tama.
"Oh?"
Ratna baru menyadari, ternyata di sebelahnya juga ada seorang perempuan yang melakukan hal yang sama dengannya. Bedanya, jika Ratna bisa berdiri tegak, maka perempuan ini tidak. Dia hanya duduk di kursi rodanya tapi Ratna bisa melihat senyumnya sangat manis, tulus, dia cantik.
"Selamat malam...," sapa perempuan itu. Sungguh, suaranya lembut sekali.
"Eh i..., iya selamat malam," kata Ratna menyapa balik.
"Anda baru pulang dari besuk? Apakah sedang menunggu jemputan atau mencari taksi?" tanyanya.
"Ya, saya sedang menunggu jemputan. Suami saya bilang akan menjemput," kata Ratna lagi.
"Zahra...!!!"
Tiba-tiba dari arah samping, lebih tepatnya dari arah kiri mereka ada seorang laki-laki yang berteriak sambil berlari kecil menghampiri Ratna dan perempuan yang duduk di kursi roda ini. Laki-laki itu memakai seragam yang sama seperti suaminya. Seragam coklat dan juga menenteng baret yang berwarna sama, baret biru. Ratna tidak berpikiran macam-macam. Dia hanya berpikiran mungkin laki-laki ini mengenal suaminya.
"Maaf anda siapa?" tanyanya pada Ratna.
"Oh benar juga, saya juga belum tahu nama anda. Nama saya Zahra. Azzahra Mawara," kata perempuan ini sambil mengulurkan tangan pada Ratna.
"Nama saya Ratna. Adiratna," jawab Ratna dengan senyuman.
"Sayang, masuk yuk. Hujannya mulai deras, nanti kamu sakit," kata laki-laki ini fokus pada si perempuan.
"Maaf ya mbak Ratna, mungkin kita bisa bertemu lagi lain kali. Dah...," pamitnya melambaikan tangan pada Ratna sedangkan laki-laki yang sepertinya adalah suaminya ini mulai mendorong kursi rodanya untuk kembali masuk ke dalam rumah sakit.
Ratna terus memandangi keduanya dari tempat dia berdiri. Indah sekali bisa melihat ada laki-laki yang masih begitu setia merawat istrinya yang sakit begitu. Perempuan bernama Zahra itu sangat beruntung. Sudah suaminya tampan, penyayang, dia juga setia. Semoga saja Zahra bisa semangat menjalani pengobatannya.
Lamunan Ratna kemudian buyar, ketika seorang laki-laki yang tidak kalah baiknya kini menepuk-nepuk pundaknya. Jelas, siapa lagi kalau bukan Pratama Aji suaminya. Dia memang baik sih, setia, penyayang, tapi dia agak menyebalkan. Kalau sudah isengnya kambuh apa saja bisa dia jadikan bahan candaan. Kalau belum sampai Ratna merajuk mana mau dia berhenti. Dan satu lagi yang membuatnya heran pada laki-laki ini. Katanya dia lulusan S2 ilmu hukum, seorang perwira polisi yang disegani banyak orang tapi dengan polosnya dia membiarkan pintu mobil terbuka lebar dibawah guyuran hujan begitu. Seketika hati Ratna yang berbunga-bunga tadi langsung hilang. Bunganya langsung layu karena kelakuan bodoh Tama.
__ADS_1