Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
74. Dua Residen Baru


__ADS_3

Setelah bedrest sekitar 5 hari, Ratna mulai bisa kembali beraktivitas. Dia meminta izin pada suaminya agar dia diperbolehkan kembali bekerja. Awalnya Tama melarang, tapi Ibu bilang Ratna emosinya jadi tidak terkendali ketika berada di rumah. Dia sangat sensitif dan mudah marah hanya karena hal kecil. Tadinya Bapak dan Ibu berniat untuk pulang saja tapi ternyata malah Ratna marah dan seharian tidak mau bicara pada siapapun termasuk pada suaminya.


"Dek..., Bunda..., sudah dong marahnya," kata Tama dengan sabarnya berusaha meredakan emosi sang istri.


"Sudah makan belum?" tanya Tama digelengi oleh Ratna.


"Makan dulu ya, mau makan apa, hmm?" Ratna lagi-lagi menggeleng.


"Ini yang marah Adek atau Bundanya?" tanya Tama.


Ratna tidak menjawab dia hanya memeluk Tama dan diam tanpa berucap satu katapun. Tama akhirnya tertawa. Dia sudah tahu alasan kenapa Ratna bisa begitu sensitif. Dia hanya merindukan Tama. Emosinya itu adalah bentuk protes karena suaminya tidak pernah ada di rumah padahal saat ini dia sedang sangat membutuhkan Tama di sebelahnya.


"Hmm tau nih, Adek kangen sama Ayah ya?" goda Tama. Ratna mengangguk kecil kemudian kembali mengeratkan pelukannya.


"Bunda udah ah, makan dulu yuk Ayah suapin ya," kata Tama.


"Pengen Bakmi Jawa," kata Ratna setelah melepaskan pelukannya.


"Boleh, mau makan di sana apa di rumah?"


"Makan sana ayo sambil jalan-jalan. Suntuk tahu di rumah terus," rengek Ratna.


"Yaudah ayo. Siap-siap gih aku bilang Bapak Ibu dulu biar siap-siap juga," kata Tama.


Demi memenuhi keinginan Ratna, mereka pergi membeli bakmi jawa di daerah lempuyangan. Tadinya Ibu ingin menegur Ratna yang dipandang terlalu manja pada suaminya, beruntung belum sampai Ibu angkat bicara Tama sudah mendahului. Tama sebenarnya tidak begitu setuju pada Ibu yang selalu berusaha menghilangkan sifat manjanya Ratna. Karena untuk Tama sifat manja ini adalah salah satu daya tarik Ratna. Dia tidak rela jika Ratnanya yang manja harus hilang. Cukup Ratna menjadi dewasa di luar sana, tapi ketika bersama dengan Tama dia ingin Ratna memperlihatkan semua sifat aslinya. Toh Tama suka.


"Mau tukeran nggak? Mumpung belum kuminum," kata Tama sambil mengangkat gelas teh hangatnya. Begitu Ratna menggeleng, Tama menenggaknya sampai tersisa setengah baru melanjutkan makannya. Ratna hanya makan beberapa suap saja, tidak sampai separuh dia habiskan. Untung Tama hanya pesan sepiring untuk berdua jadi dia tidak perlu berjuang keras menghabiskan makannya. Begitu Ratna meletakkan sendoknya, tangannya dengan enteng meraih gelas teh milik Tama kemudian meminumnya tanpa dosa.


"Tadi katanya nggak mau," kata Tama yang tanpa protes mengambil alih gelas teh milik Ratna.

__ADS_1


Ada satu kebiasaan Ratna yang sedikit aneh saat ini. Dia memang tidak lagi memainkan kuku ibu jari Tama, tapi apapun yang sudah ada "bau"nya Tama pasti akan dia pakai. Seperti jaket, selimut, sarung bantal, makan juga kalau merusuh Tama dia malah lahap kalau diambilkan sendiri jangankan habis, paling mentok hanya 3 suap saja bisa masuk, padahal setelah itu dia muntahkan lagi.


"Ayah, pengen balik kerja boleh ya?" tanya Ratna sebelum Tama bersiap untuk tidur.


"Emang sudah baikan?" tanya Tama.


"Sudah. Aku suntuk di rumah terus."


"Dokter bilang apa?"


"Katanya aku boleh kerja lagi tapi sementara nggak boleh tugas di IGD. Sama operasi yang durasinya diatas 3 jam aku nggak boleh terlalu sering," kata Ratna.


"Yasudah kalau doktermu sudah kasih izin Mas juga kasih izin. Tapi janji ya jangan kecapekan," kata Tama.


"Yes. Beres ayah. Janji deh Bunda nggak akan capek-capek. Kasihan Aditama soalnya," kata Ratna sambil mengelus perutnya.


Tama ikut duduk di hadapan Ratna kemudian mengelus perut Ratna yang masih datar, "Sehat-sehat ya anak ayah," kata Tama sambil menciumi perut Ratna. Puas mencium perut Ratna, Tama meletakkan kepalanya di pangkuan Ratna dan melanjutkan obrolan dengan posisi seperti itu.


Ratna sudah kembali bekerja, dia mendapatkan keringanan dari dokter kepala. Karena dia sementara waktu tidak bisa bertugas di IGD, maka pekerjaannya dialihkan ke poli dan rawat jalan saja. Ratna juga akhirnya mendapatkan tugas baru untuk membantu tugas para residen baru yang akan masuk mulai hari ini. Anggap saja Ratna sebagai asisten profesor karena beliau pasti akan sangat sibuk jadi Ratna harus bisa menjadi perpanjangan tangan. Ada dua orang residen yang masuk ke departemen bedah umum tahun ini. Keduanya laki-laki, yang satu namanya Wisnu yang satu lagi namanya Hengki.


"Coba perkenalkan diri dulu," kata Ratna.


"Nama saya Wisnu. Alasan masuk ke Bedah Umum karena ingin banyak belajar soal bedah transplantasi," kata yang agak kurus tapi tinggi.


"Kalau saya Hengki. Hengki Hermawan. Saya masuk Bedah Umum karena penasaran," kata si wajah bulat lucu yang jelas membuat seisi ruangan heran dengan jawabannya.


"Kamu penasaran sama apanya?"


"Soalnya kalau di film tuh dokter bedah kelihatan keren. Makanya saya pengen jadi dokter bedah," katanya semakin membuat heran.

__ADS_1


"Terserah deh saya nggak peduli sama alasan kalian. Yang saya peduli cuma seberapa besar effort kalian untuk belajar dan untuk tahu. Ingat ya, dalam ilmu bedah semuanya harus dilakukan dengan sempurna tanpa satupun kesalahan," kata Ratna.


"Tapi Bu Dokter, kan manusia nggak ada yang sempurna," kata Hengki sambil mengangkat tangan.


Beruntung Ratna sedang hamil, kalau tidak mungkin Hengki sudah disemprot oleh Ratna. Sebenarnya tidak salah kalimatnya barusan, hanya saja penggunaannya tidak tepat tempatnya makanya jadi terdengar menyebalkan. Untung Dipta paham dan dia akhirnya meladeni semua pertanyaan kekanakan Hengki. Kenapa juga pakai diladeni segala, biarlah yang penting bukan Ratna yang meladeni.


"Terus saya ngekor aja gitu kemana-mana? Nanti saya nggak dikira stalker kan?" tanya Hengki lagi.


"Ya Allah Hengki, kamu beneran mau belajar jadi dokter bedah tidak? Protes saja dari tadi," kata Dipta mulai kehabisan kesabaran.


"Jadi dong Pak Dokter, kan saya pengen kelihatan keren kaya Pak Dokter sama Bu Dokter," kata Hengki lagi.


"Nih, jurnal punya saya. Kalian berdua baca-baca saja dulu sementara sambil nunggu tugas dari profesor," kata Ratna kemudian memberikan dua buah ordner yang penuh terisi jurnal.


"Kalau ada yang ingin ditanyakan silahkan. Tapi ingat ya, pertanyaannya yang ilmiah dan berkaitan dengan bedah umum. Jangan soal tempe bacem kalian tanyakan, ok?" kata Ratna kemudian membiarkan dua residen baru itu membaca-baca dan membolak-balikkan jurnal kesehatan yang pernah dibuatnya entah hasil karya sendiri atau dalam tim.


Ratna bertahan dengan dua residen itu sampai mendekati waktu makan siang. Ratna masih fokus hingga tiba-tiba dia dengar suara bisik-bisik di belakangnya.


"Shtt..., Nu, ngelih ra?" tanya Hengki.


"Hmm, lumayan."


"Piye carane ijin ro Bu Dokter? Galak ngono wonge," kata Hengki lagi kali ini dia berbisik lebih pelan tapi Ratna tetap bisa mendengarnya.


"Kalau mau makan siang ya sana makan saja. Atau mau ikut saya makan di kantin pegawai? Yuk saya traktir," kata Ratna pada akhirnya.


"Waduh Bu, kok udah main traktir-traktir aja," kata Hengki.


"Ya kamu mau nggak?"

__ADS_1


"Nggak nolak sih," katanya sambil nyengir kuda.


Ratna geleng-geleng dibuatnya. Mau marahpun dia tidak sanggup laki-laki itu terlihat begitu polos dan tanpa dosa. Ditambah kacamata bulat dan pipi tembem membuatnya terlihat menggemaskan. Potongan rambut mangkok juga menambah kadar keimutan seorang Hengki Hermawan jadi Ratna hanya bisa meremas ujung snelinya setiap kali pertanyaan random keluar dari mulut Hengki.


__ADS_2