
Sekitar 36 jam mereka berlayar, kini kapal yang membawa Tama dan Ratna mulai berlabuh. Hari sudah mulai gelap ketika Tama mendapatkan giliran untuk menurunkan Brian dari kapal. Tama dan Ratna yang tadinya berencana untuk santai merubah total rencananya. Tama dan Ratna terpaksa mencari penginapan karena Ratna tidak akan mampu melanjutkan perjalanan akibat mabuk laut parah. Tama juga sudah lelah, karena dia terlalu fokus pada Ratna dia jadi ikutan masuk angin sekarang.
"Masih pusing banget nggak?" tanya Tama.
"Masih. Terus Mas ikut-ikutan pusing juga masa," rengek Ratna.
"Nggak papa. Mas sudah minum obat, kamu juga sudah minum obat. Kita sekarang tidur istirahat besok kita lanjut perjalanan lagi," kata Tama yang disetujui oleh Ratna.
"Mas...."
"Hmm?"
"Back hug." kata Ratna dengan puppy eyes andalannya.
"Yaudah kamu muter," kata Tama.
Ratna langsung berputar memposisikan punggungnya menempel pada badan Tama. Tadinya tangan Tama akan dia selipkan di tengkuk Ratna, tapi dicegah oleh Ratna yang lagi-lagi beralasan tangannya akan kebas besok paginya.
...***...
Pagi berikutnya Tama dan Ratna melanjutkan perjalanan mereka menuju ke Jogja. Kali ini Ratna yang menyetir, dia memberi kesempatan pada Tama untuk istirahat di sampingnya. Ratna menjalankan mobil dengan kecepatan sedang, kalau terlalu pelan dia tidak sabar, kalau terlalu kencang Tama akan marah. Sekitar 5 jam perjalanan akhirnya mereka sampai juga di Jogja dan Ratna langsung membawa Tama ke rumah kontrakan yang mereka sewa. Ini kali pertamanya Tama melihat rumah yang akan dia tempati. Rumahnya sederhana, terdiri dari 2 kamar, 1 kamar mandi, ruang tengah yang bergabung dengan ruang tamu juga dapur di sisi samping. Rumah itu bercat warna oranye di luarnya dan warna krem didalamnya.
Ketika mereka sampai, kebetulan pemilik kontrakan sedang mengganti lampu karena Ratna memang sudah memberi kabar kalau hari ini mereka akan mulai menempati rumah. Tama berkenalan dengan Pak Yoga yang ternyata kenalan Pak Broto juga. Rumah Pak Yoga hanya berjarak beberapa ratus meter dari sana, jadi kalau Tama dan Ratna butuh bantuan mereka bisa segera menghubungi Pak Yoga katanya. Setelah memastikan rumah sudah siap dihuni, Pak Yoga pamit pada Tama dan Ratna. Semua urusan pembayaran memang sudah diselesaikan oleh Ratna ketika dia ke Jogja beberapa waktu lalu makanya sekarang mereka bisa langsung menempati tanpa ribet lagi.
Selepas kepergian Pak Yoga, Tama dan Ratna mulai berkeliling rumah lebih dahulu sebelum akhirnya lelah dan memilih duduk santai di sofa berwarna abu-abu yang ternyata bisa direbahkan. Tama dan Ratna asik telponan dengan Ibu dan Mama melalui video call. Setelah itu mereka juga memberi kabar pada sahabat-sahabat Ratna. Tama juga tidak lupa memberi kabar pada Cece yang katanya minggu lalu baru diangkat menjadi komandan satuan jibom.
Saking tidak sabarnya bisa bertemu lagi dengan Tama, Cece bahkan langsung mengajak Tama untuk ketemuan di salah satu cafe yang dulu sering jadi tempat nongkrong Tama dan Cece ketika mereka masih bujang. Sayangnya, ternyata jadwal Tama dan Ratna sudah padat. Sore ini mereka akan sowan ke rumah Pak Broto untuk membahas soal renovasi rumah Papa di Pandega. Mereka juga masih harus beres-beres rumah yang jadi berantakan karena Tama tadi langsung mengeluarkan isi perut Brian.
"Dek, kamu sadar nggak kalau kakimu bengkak?" tanya Tama melihat kedua kaki Ratna yang dia naikkan keatas pangkuannya membesar.
"Yah, pantesan kakiku kaya mati rasa kaku banget."
"Gede banget lho ini," kata Tama sambil memijat kecil jari-jari Ratna.
"Mas dibelakang tadi ada ember kan? Ngerendam kaki yuk pakai air garam, mau nggak?" tanya Ratna.
"Memang garamnya ada?"
"Tinggal beli, warung deket."
"Yaudah kamu rebus air gih. Mas ke warung dulu beli garam. Tapi yang kaya gimana garamnya? Garam dapur biasa?"
"Iya yang biasa, kalau ada yang masih balokan aja," pinta Ratna.
"Ok."
Air di kompor sudah mulai mendidih ketika Ratna menata tempat. Dua kursi Ratna tata berhadapan dengan satu ember ditengah-tengahnya. Ratna lebih dulu mengisinya dengan air dingin baru dia tambahkan air panasnya. Setelah suhunya tepat, dia menggerus garam yang tadi Tama beli lalu dia masukkan ke dalam ember.
"Sini Mas," ajak Ratna.
Tama kemudian mengikuti Ratna yang sudah lebih dulu memasukkan kakinya ke dalam ember. Tama dan Ratna tertawa ketika melihat di dalam ember kaki Ratna yang jauh lebih kecil dari Tama kini sama gemuknya dengan kaki Tama. Tama dan Ratna tidak hanya diam, sembari mengobrol mereka bergantian juga memijat tangan. Ratna memijat tangan Tama lalu gantian Tama yang memijat kaki Ratna.
__ADS_1
"Dek," panggil Tama.
"Apa?"
"Habis ini tidur dulu mau nggak? Beres-beresnya nanti aja ya habis tidur," ajak Tama.
"Nanti sore kan mau ke tempat Pak Broto Mas. Lagian kalau itu nggak segera diberesin terus gimana," kata Ratna.
"Beresin besok aja kalau nggak. Mas masih free 4 hari Dek. Masih cukup waktunya," kata Tama.
"Yaudah iya deh," akhirny Ratna menurut. Dia mana bisa menolak maunya Tama.
Sekitar 30 menit sudah mereka merendam kaki, walaupun kaki Ratna belum kempes tapi sudah lumayan, tidak sekaku tadi. Tama membantu Ratna membuang air bekas mereka pakai ke dalam kamar mandi sedangkan Ratna mengembalikan kursi yang tadi dipakainya ke tempat semula. Tadinya Ratna ingin mandi, tapi dia terlalu lelah dan malas untuk membuka baju, jadinya Ratna langsung merebahkan diri di samping suaminya yang sudah lebih dulu tiduran.
"Mas capek," keluh Ratna pada Tama yang masih tetap sibuk dengan handphonenya walaupun Ratna sudah ada di sampingnya.
Ratna sedang mode manja saat ini, makanya dia bisa cemburu dengan handphone Tama. Ratna sudah merapatkan tubuhnya, terus menusuk-nusuk pipi suaminya. Dia bahkan sengaja menaikkan kepalanya ke dada Tama, tapi bukannya meletakkan si handphone, Tama hanya mencium ujung kepala Ratna kemudian mengelus kepalanya dengan tangannya yang bebas.
"Mas chattingan sama siapa sih? Cemburu nih aku," kata Ratna akhirnya.
"Kenapa sih Dek, mau cemburu sama Dipta? Ya silahkan."
"Dipta?"
"Nih, dia lagi minta izin ke aku kata dia kamu mau diajak kerja sama dia sama Theo. Jay juga," kata Tama memperlihatkan isi chatnya dengan Dipta.
Dipta Mahesa
Istri komandan diterima kerja ditempatku Theo sama Jay.
Dia ditempatkan di Bedah Umum.
Kalau Bang Tama kasih izin dia boleh ya Bang kerja di sini?
Santai aja Bang, nggak akan ku nakali kok.
Jay juga request ruang kerja Ratna disamain sama kita bertiga aja biar dia nggak diganggu sama orang
Dia aman Bang, please ya kasih izin
Maaf Bang, lupa bilang. Dia nggak cewek sendiri kok di ruangan. Ada Ela istri saya juga.
^^^P. Aji^^^
^^^Ya silahkan^^^
^^^Lagian ngapain sih pake izin segala kaya sama siapa^^^
Dipta Mahesa
Maaf Ndan, takut salah.
__ADS_1
Abis Bang Tama galak kata Ratna
^^^P. Aji^^^
^^^Gue bukan komandan lo.^^^
^^^Lagian lebih galakan Ratna dari pada gue^^^
Dipta Mahesa
Iya sih
Ok deh Bang Tama matur thank you 😘
"Iyuhh, kenapa pake emot kiss segala elah. Cemburu beneran nih aku," komentar Ratna ketika melihat pesan terakhir Dipta pada suaminya.
Tama memang sengaja mengakrabkan diri pada ketiga sahabat Ratna, tujuannya bermacam-macam. Selain untuk mengontrol Ratna, dia juga bisa saja meminta bantuan pada dokter-dokter muda itu kalau Tama sedang tidak berada di samping Ratna. Selama itu berarti perlindungan yang lebih besar untuk istrinya dia tidak keberatan asal tidak melebihi batas saja.
"Dipta cerewet amat tapi bukannya Ela juga cerewet nggak sih?" kata Tama yang akhirnya meletakkan handphonenya juga.
"Banget. Pecah sih kalau udah mereka gelut mah. Jangankan aku, Jay sama Theo aja milih melipir pergi kalau Dipta sama Ela udah bareng. Rusuh."
"Teman kerja Mas di sini juga ada yang begitu," kata Tama menceritakan tentang koleganya yang sebenarnya akrab dengannya tapi sayang terpisah karena tugas Tama ketika itu.
"Siapa?"
"Inget nggak Mas pernah cerita soal yang namanya Chandrasengkala? Dia sama istrinya juga doyan banget adu mulut. Setahu Mas istrinya Bang Chandra sepantaran sama kamu. Soalnya kita sering godain Bang Chandra nikah sama bocah. Eh taunya Mas juga nikahnya sama bocah," kata Tama.
"Ih ngatain," kata Ratna yang langsung menjauh lalu memunggungi Ratna.
"Nggak sayang. Hey jangan marah dong. Kamu gemesin kalau lagi marah. Mas nggak kuat nahannya, mau tak gigit?" kata Tama.
"Napsuan."
"Ya bodo. Sama istri sendiri. Kalo Mas napsunya ke Bon Bon nanti kamu marah," kata Tama semakin menggoda istrinya.
"Pengen jual mahal ah. Masa bayarannya cuma donat toping coklat kacang doang. Kali ini aku mau yang lebih mahal."
"Apaan?"
"Gurita bakar di alkid," kata Ratna.
"Cuma itu doang?"
"Nggak doang lah. Rugi amat punya suami perwira duit banyak kok nggak diporotin. Beliin tempura sama sempol juga ya," kata Ratna langsung melingkarkan tangannya ke leher Tama.
"Ya Allah Dek, minta tuh mbok yang agak berkelas gitu lho. Beliin Supreme kek, apa Gucci, Prada, Dior atau apalah malah minta sempol. Umurmu tuh berapa sayangku," Tama semakin gemas pada Ratna yang permintaannya kadang tidak berbeda jauh dengan anak-anak.
"Nggak mau ah. Mas, aku tuh punya prinsip beli barang nggak usah bagus-bagus. Ntar nggak rusak-rusak terus sayang mau dibuang atau ganti baru. Nah kalau beli yang standar kan bisa baru terus. Mas nggak tau kan aku dianggap royal sama ibu-ibu bhayangkari karena sering banget ganti tas sama sepatu setiap kali kumpulan," kata Ratna dengan bangganya.
"Suka-suka kamu Dek. Mas tetep suka kok," kata Tama sambil menciumi pipi Ratna.
__ADS_1