Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
Short Story 4. Rencana Mudik


__ADS_3

Buka puasa hari ini Ratna memasak cukup heboh. Selain terong goreng tepung yang disiram dengan saus teriyaki Ratna juga membuat pangsit dengan chili oil. Untuk makannya anak-anak dia membuat pasta carbonara dengan campuran ayam cincang.


"Waw, Bunda masak enak nih," kata Tama.


"Lagi pengen makan enak," kata Ratna.


"Perasaan masakanmu enak terus Bun," puji Tama.


"Ayah bohong. Kemarin Bunda masak keasinan," curhat Aksa.


"Haha, maaf ya Sa Bunda kan puasa jadi Bunda nggak bisa cicipin," kata Ratna.


"Bunda pengen kawin lagi po? Kok masak keasinan," bisik Tama.


"Hus!"


"Maksudku malam nanti sama ayah kita berdua...," jelas Tama sambil membuat kode dengan tangannya. Dia menyatukan kedua jari telunjuknya membuat Ratna paham apa yang dimaksud oleh suaminya.


Ratna menghela nafasnya. Permintaan suaminya yang satu ini adalah satu-satunya permintaan yang tidak akan bisa Ratna tolak. Mau secapek apa mau se-badmood apa kalau Tama sudah bilang "pengen" ya mau tidak mau, karena kalau ditolak kasihan dia kalang kabut seharian penuh, "ya nanti," jawab Ratna pasrah.


Sembari menunggu waktu berbuka, Ratna lebih dulu menyuapi ketiga anaknya makan. Karena Ratna sedang mengenalkan jenis makanan baru pada si kembar jadi dia agak ekstra mengawasinya. Takutnya si kembar tersedak karena menelan spageti yang panjang.


"Nda, batalin dulu puasamu," kata Tama sambil menyodorkan segelas air putih pada Ratna yang tetap fokus pada si kembar walaupun dia sudah mendengar adzan maghrib.


"Ayah mandi dulu terus sholat sekalian gantian sama Bunda jagain anak-anak," kata Ratna.


"Ya," jawab Tama.


30 menit kemudian Tama melangkah keluar dari dalam kamarnya. Masih dengan sarung yang rapi dia menggantikan Ratna untuk duduk di hadapan si kembar mengajari mereka cara makan mie. Sesekali Tama mengajak keduanya mengobrol walaupun responnya hanya itu-itu saja.


"Ayah, abis," kata Aksa sambil menunjukkan piring berbentuk ikannya yang sudah kosong.


"Pinter anak ayah. Ditaruh wastafel piringnya ya," kata Tama sambil mengacunginya jempol.


"Mau lagi," kata Aksa.


Tama mengambilkan lagi untuk Aksa tapi hanya sedikit, "lagi," katanya protes.

__ADS_1


"Kekenyangan lho nanti Sa," kata Ayah.


"Nggak. Aksa suka Yah, mau lagi. Dikit lagi," katanya.


Tama menuruti. Dia mengambilkan sedikit lagi sesuai permintaan dan meminta Aksa untuk makan dengan rapi. Aksa kan sudah mulai besar jadi dia sudah mulai diajari cara makan yang rapi agar tidak tercecer kemana-mana. Dia juga sesekali dikenalkan pada pekerjaan rumah seperti mencuci piringnya setelah makan, meletakkan barang pada tempatnya atau meletakkan pakaian kotornya di keranjang yang sudah Ratna letakkan di dekat mesin cuci.


Sekarang giliran Tama dan Ratna yang makan. Ratna makan sambil video call dengan Sasa dan Adrian. Mereka juga menyambungkan panggilan pada Bapak dan Nata si pengantin baru.


"Nduk, Le, lebaran pada pulang nggak?" tanya Bapak.


"Insyaallah Pak, tapi sholat Ied-nya di rumah Bapak Ibukku kayaknya," kata Gandhi.


"Nata pulang Pak, tapi hari ketiga balik Jogja," jawab Nata.


"Kalau Mbak Ratna?"


"Belum bisa janji. Mas tugas malam takbirnya. Nanti Ratna kabari deh kalau ada libur Ratna usahakan pulang walau cuma sebentar," kata Ratna.


Keluarga besar pak Yatna akan berkumpul tahun ini, jelas Tama jadi memikirkan banyak hal. Kedua putri Pak Yatna terikat pada abdi sang suami, sedangkan si bungsu juga menyusul jadi seorang perwira TNI. Bisa berkumpul begini adalah momen yang sangat-sangat langka. Tama sudah tidak memiliki keluarga kecuali Teh Rizka dan suami. Itupun mereka sudah pindah dan tidak lagi tinggal di Jaksel. Tama tahu seberapa besar keinginan Ratna untuk bisa berkumpul lagi dengan keluarganya. Itulah kenapa Tama langsung melirik agenda kerjanya di handphone dan mengutak atik timingnya agar mereka bisa pulang.


"Mas lagi apa sih?" tanya Ratna.


"Lagi cari waktu. Mas lagi mengusahakan gimana caranya kita bisa pulang di hari pertama walaupun nggak sholat Ied di rumah tapi setidaknya kamu bisa ketemu sama Sasa sama Nata," kata Tama tanpa menoleh pada Ratna.


"Tapi Mas bilang Mas nggak libur," kata Ratna.


"Mas kan nggak libur di malam takbirnya. Belum tahu Mas bisa ambil cuti atau nggak. Sudah 2 tahun Mas nggak pakai cuti kerja Mas sama sekali. Waktu kamu lahiran aja pas Mas nggak tugas makanya nggak mengajukan cuti," kata Tama.


"Kalau gitu coba Mas tanya ke Ndan Novan boleh atau nggak gitu," kata Ratna.


"Kalau nggak salah sih Ndan Novan memang mau kasih keringanan untuk yang merayakan idul fitri, cuma tetap harus siap kalau sewaktu-waktu dibutuhkan," katanya.


"Lha terus kalau ada yang mudik keluar pulau gimana Mas?"


"Anak-anak bintara sama tamtama kan kebanyakan domisili sini, paling perwira-perwiranya ini yang jauh-jauh. Ndan Hendra antara ke Batam atau ke Banyumas, Ndan Novan harusnya mudik ke Kalimantan, tapi katanya tahun ini nggak mudik karena orang tua beliau mau ke sini, Bang Nanda jadi mau ke Bali, Bang Chandra entah ke Bandung entah ke Tasik masih galau katanya, aku paling deket ini cuma ke Purworejo, Bang Rendi sama Cece tinggal karena natalan kemarin sudah mengajukan cuti. Itupun bisa setelah selesai sholat Ied Dek, karena kita masih harus tetap berjaga," kata Tama.


"Ohh, Lilis juga cerita sih dia exited banget katanya mau sholat Ied di Bandung. Dia udah heboh pamer mau diajak jalan-jalan keliling Bandung, padahal dia juga orang Jabar," kata Ratna.

__ADS_1


"Dek, coba kamu omongin ke Dipta kalau kamu ambil cuti di hari pertama kedua ketiga boleh nggak gitu, atau di hari kedua ketiga," kata Tama.


"Coba deh besok Mas, agak ribet juga soalnya departku. Dokter spesialis senior pada minta cuti semua, kan kasihan kalau anak baru semua yang jaga," kata Ratna.


"Cepet kabari ya Dek, biar Mas bisa ngajukan cuti juga," kata Tama diangguki oleh Ratna.


"Sekarang mending Mas matiin handphonenya terus fokus aja ke aku," kata Ratna dengan nada manja.


"Kamu kenapa? Kok tumben manja gini?"


"Ih, tadi kan Mas yang..., tau ah udah terlanjur males," kata Ratna langsung menarik selimutnya.


"Halah mutungan kamu Dek sekarang," kata Tama.


"Ya bodo. Mas sekarang nyebelin soalnya, kerja mulu. Kalau di rumah anak-anak mulu, akunya kapan?" protes Ratna.


"Duh duh kalau istri cemburu ke anak gini Mas yang repot Dek. Yowis maumu apa?" tanya Tama yang mulai tidak tahan karena gemas.


"Terserah," kata Ratna.


"Nah sekarang tak balik, kamu kalau di rumah juga anak terus. Sama Mas kapan? Ada yang kangen sama kamu lho ini Dek," kata Tama mulai menggoda Ratna.


"Kok sekali-kali aku pengen bikin suamiku kapok gitu biar nggak nyebelin," jawab Ratna sambil menaikkan tangannya ke atas kepala.


"Berani kamu bikin Mas kapok, tak buat kamu nggak bisa jalan paginya," kata Tama lebih provokatif.


"Ya nggak papa sih, kan aku kerja juga cuma duduk. Operasi juga berdiri nggak jalan-jalan," kata Ratna.


"Beneran?"


"Nggak Mas. Ngawur kamu. Masalahnya bukan ada di nggak bisa jalannya Mas, tapi di kissmarknya itu lho. Temen-temenku tuh titen (teliti) banget perkara gituan. Bisa dibully seminggu penuh aku nanti," kata Ratna.


"Nggak usah peduli kata orang. Yang penting kita seneng kan Na," kata Tama mulai memeluk Ratna dan menciumi pipi dan tengkuk istrinya.


"Tapi inget lho, bagi-bagi sama anak. Istrimu ini bukan cuma hak milikmu aja," kata Ratna.


"I promise queen," kata Tama sebelum dia memulai.

__ADS_1


__ADS_2