Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
121. Ini Bukanlah Akhir


__ADS_3

Hai semuanya kita sudah sampai di penghujung cerita Tama dan Ratna nih hua ku sedih cerita ini udah End 😭😭


Makasih banget buat pembaca setia semuanya aku sayang kalian ❤️


...🌱Ji🌱...


Ratna sejak terbangun dari tidur panjangnya hanya diam tidak membuka suara sama sekali. Tama masih setia ada di sana, Lilis juga sesekali masih datang menjenguk dan menemani Ibu. Kesibukan Gandhi dan Nata memaksa Sasa dan Sania ikut kembali ke kota dinas mereka masing-masing jadi hanya ada Bapak dan Ibu saja yang ada di sini menemani Ratna yang memang tidak bisa ditinggal sama sekali.


Tama setelah tertangkapnya Sindyana sebagai pelaku utama dari sekian banyak kasus yang diusut oleh polisi tidak membuat dia bisa bersantai. Justru pekerjaannya jadi menumpuk teramat banyak. Dia masih ikut membantu menuntaskan semua yang barang kali masih tertinggal. Minggu ini saja dia sudah 3 kali melakukan penggerebegan.


Beberapa ibu-ibu bahayangkari juga ikut menemani Ratna yang dengan terpaksa harus menjalani terapi mental. Kehilangan Aksara dan ibu mertuanya dalam aatu waktu yang bersamaan membuat hati Ratna terguncang begitu keras dan berakhir dengan luka batin yang teramat dalam membunuh dirinya secara perlahan.


Hari ini, Lilis yang sedang menemani Ratna. Dia seperti biasanya akan membawa Ratna berkeliling di taman rumah sakit bersama Vero yang kebetulan ketika itu sedang senggang. Kedua orang itu membelikan makan siang untuk Ratna juga donat topping coklat kesukaannya.


Selain tidak bicara, Ratna juga tidak mau makan sama sekali, bahkan untuk minumpun dia hanya akan meneguknya sesekali setelah dipaksa. Bahkan dengan donat ini saja Ratna masih menolak. Dia yang dikenal tidak pernah bisa menolak kenikmatan kue bulat berlubang ini bahkan sekarang dia tidak membuka mulutnya sama sekali.


Selepas berjalan-jalan, Ratna kembali ke kamar rawatnya, sudah seminggu ini Tama suaminya menolak menemui Ratna. Laki-laki itu terus menyibukkan diri dan hanya mau menemui Ratna ketika wanitanya itu sudah terlelap dalam tidurnya dan akan pergi sebelum dia terbangun. Tapi hari ini, Bang Chandra dan Cece memaksanya untuk datang menemui Ratna.


Mereka berhasil melakukannya, Bang Chandra, dan Cece berhasil membawa Tama ke rumah sakit dan bertemu dengan Ratna. Awalnya mereka hanya saling diam, tapi tiba-tiba Ratna mulai meracau tidak tentu arah membuat Bang Chandra dan Cece paham apa yang terjadi.


"Aku mau pisah Mas," kata Ratna dengan tatapan kosong dan air mata yang tidak berhenti mengalir sejak kedatangan Tama beberapa menit lalu.


"Dek Ratna...," Tama mencoba meraih tangan Ratna tapi wanita itu dengan cepat menyembunyikan tangannya.


"Aku mau pisah sama, Mas. Ngapain Mas ke sini lagi sih?!" teriak Ratna membuat Tama ikut menangis pada akhirnya.

__ADS_1


"Ratna maafin Mas, tapi jangan pernah bicara begitu. Kamu mau membunuh Mas, hmm? Mas sayang sama kamu Ratna," kata Tama.


"Terus kenapa Mas?! Apa gunanya rasa sayang kamu itu Maa. Apa gunanya?! Buat apa kamu sayang sama aku kalau pada akhirnya anak-anak kita yang dikorbankan, buat apa...?!" Ratna terus saja berteriak histeris.


Kali ini Tama memaksa, dia memeluk Ratna dan mendekapnya di dalam dadanya. Tidak peduli sebanyak apa pukulan Ratna lontarkan pada Tama, tidak peduli sekeras apa dia memberontak, Tama tetap memeluknya. Dia tetap berusaha mendekap dan menciumi ujung kepala Ratna berniat ingin menenangkan istrinya yang memang sudah remuk luar dan dalam ini.


"Aku cuma minta satu hal Mas, aku cuma minta untuk tetap kuat bersanding sama kamu apapun yang terjadi. Aku juga sayang sama kamu. Tapi apa gunanya kita saling mencintai dan terus bersama kalau pada akhirnya semua orang yang kita cintai harus pergi. Aku sudah nggak mau lagi menyakiti orang orang yang sayang sama kita, aku nggak mau karena keegoisanku mereka semua pergi Mas, aku nggak mau," kali ini Ratna sudah tidak meninggikan suaranya. Dia hanya bergumam dengan setengah menangis dia mengatakan apa yang menjadi beban hatinya membuat Tama ikut remuk rasanya.


"Tapi kenapa harus kamu yang berkorban Ratna, semua ini terjadi karena Mas. Karena dosa masa lalu yang tidak Mas tebus pada akhirnya malah menghancurkanmu. Mas yang selalu mendeklarasikan diri sebagai laki-laki yang paling mencintaimu malah Mas sendiri yang akhirnya membunuhmu secara perlahan seperti ini?" kata Tama. Dia ikut menangis bersama istrinya yang masih terisak.


Beberapa waktu mereka berdua sama menangis. Tama tidak pernah melepaskan pelukannya barang sekejap. Dia terus mendekap istrinya dan terus berusaha menguatkan wanita hebat yang selalu menemani langkahnya ini.


"Mas..., maafin Ratna...," isaknya.


"Jangan minta maaf sayang kamu nggak salah apa-apa, Mas yang salah, Mas yang harusnya bersujud memohon ampun dari kamu. Mas sudah terlalu banyak salah sama kamu Ratna," kata Tama.


Ratna sudah kembali tertidur sekarang, dia sudah tenang dan kembali terlelap. Dia masih ada dalam pelukan suaminya. Hampir tiga jam lamanya Tama berdiri dan terus memeluk Ratna. Dia membiarkan istrinya itu tidur bersandar padanya. Kedua tangan Tama juga terus memeluknya penuh kasih sayang. Sesekali Tama akan menciumi ujung kepala Ratna juga menepuk bahunya agar istrinya itu bisa nyaman di dalam tidurnya.


"Tama, turunkan Ratna. Dia sudah tidur. Apa kamu nggak lelah kaya begitu terus?" kata Ibu.


"Nggak Bu, Tama nggak papa," jawab Tama menenangkan ibu mertuanya.


"Bapak yang kenapa-napa. Turunkan saja, biar Ratna juga bisa tidur dengan posisi yang lebih nyaman. Badannya bisa sakit semua kalau dia tidur tetap dalam posisi duduk begitu," bujuk Bapak.


Tama mengiyakan. Dia kemudian dengan perlahan menidurkan Ratna dibantu Ibu yang membetulkan posisi kaki Ratna. Dengan perlahan Tama merebahkan istrinya, tangan bedarnya terus menopang kepala Ratna hingga sempurna menyentuh bantal dan Ratna akhirnya bisa tidur dengan nyaman sekarang.

__ADS_1


"Tama, itu di luar ada kawan-kawanmu. Kamu temui dulu sana, Ratna biar sama Ibu dulu," kata Ibu.


Tama dengan gontai, masih dengan bekas air mata di kedua pelupuk matanya melangkah keluar menemui Bang Chandra dan Cece yang berdiri dengan rasa bersalahnya di depan pintu.


"Kalian puas? Kalian sekarang tahu kan alasan aku tidak menemui istriku sendiri? Tidak peduli sebesar apa kerinduanku padanya, aku tidak mampu menatapnya yang terus meratap semacam itu, Aku nggak sanggup Ce aku nggak sekuat itu lihat dia hancur," Tama terus bicara sambil memukul-mukul dadanya sendiri. Sesak sekali rasanya sampai dia tidak mampu bernafas dengan tenang dan akhirnya ambruk begitu saja masih dengan tangisannya.


"Aku ngerti kamu terluka Aji, tapi seberat apapun cobaan hadir kamu tetaplah suaminya Ratna. Kalau kalian berdua tidak berusaha mengobati luka itu bersama mau sampai kapan kalian seperti ini terus?" kata Bang Chandra.


"Ini nggak bener Ji, selain elo siapa lagi yang bisa menyembuhkan dia? Cuma lo satu-satunya orang yang mampu membuat dia bicara, lo juga satu-satunya orang yang mampu membuat dia menangis. Gue lebih miris lihat dia diem aja dengan tatapan mata yang kosong dibanding lihat dia nangis kejer kaya tadi. Gue sahabat lo dari SMA Ji, gue kenal lo luar dalam. Bukan ini sosok Aji sahabat gue. Pratama Aji yang gue kenal itu laki-laki yang kuat, nggak peduli sebesar apa badai berusaha merobohkan dia. Aji akan tetap berdiri tegap menghadangnya demi keluarganya. Bangkit Aji. Kita butuh elo. Ratna butuh Elo!" kata Cece sambil mencengkeram kedua bahu sahabat karibnya.


"Tama, Ratna nyariin kamu," panggil Ibu dari dalam ruang inap Ratna.


Tama kembali mendapatkan sorot matanya. Dia seperti mendapatkan lagi semangat hidupnya langsung berjalan masuk ke dalam kamar dan memeluk Ratna yang Ibu bilang mencari dirinya. Tama langsung menghujani Ratna dengan kasih sayang sebanyak yang dia mampu. Dia eratkan pelukannya pada tubuh ringkih Adiratna yang balik memeluknya tanpa tenaga.


"Mas jangan pergi, aku takut," kata Ratna.


"Mas nggak akan kemana-mana Ratna, Mas ada di sini sama kamu," kata Tama.


"Mas janji akan selalu ada sama Ratna kan? Jangan buru-buru nyusul Aksa Mas, Ratna nggak mau sendirian," kata Ratna.


Tama melepaskan pelukannya, kemudian kedua tangannya menangkup pipi tirus Ratna, "Mas pasti akan menyusul Aksa, tapi nanti. Kita susul Aksa bareng-bareng. Kita bukan hanya akan nyusul Aksa, kita akan ketemu lagi sama kak Putri, sama Mama juga nanti. Kita akan kembali bersama di surga. Mas juga akan kenalkan kamu ke Papa. Kita akan bareng-bareng lagi Ratna, bahagia hingga akhir waktu. Mas janji, ketika waktunya tiba nanti Mas akan bawa kamu kembali bergabung bersama anak-anak," kata Tama.


Ratna akhirnya mampu tersenyum, dia kembali menampakkan senyumannya walau hanya seutas senyum kecil namun mampu meredakan badai besar di dalam hati Tama. Tama kembali memeluk Ratna yang kembali mulai memejamkan matanya kembali terlelap berharap mimpi buruknya tidak akan kembali datang.


"Biarkan Mas menanggung semua bebanmu Ratna, andai kata Mas akan masuk neraka suatu saat nanti Mas rela, asalkan kamu dan anak-anak bahagia di surga," batin Tama.

__ADS_1


...°•END•°...


__ADS_2