
Tama sudah emosi. Jadi ketimbang dia terus marah-marah tidak jelas di kantor, dia memilih untuk pulang. Sampai di rumah dia tidak lalu segera masuk ke dalam. Lebih dulu Tama menarik nafas dalam sebanyak 3 kali. Baru setelah dia memastikan dirinya tenang kembali dia melangkah masuk.
Di dalam rumah dia melihat Sasa yang tengah mengomeli kakak perempuannya di meja makan sambil kedua tangannya terus bergerak. Memotong-motong wortel, kubis, brokoli, dan beberapa sosis juga bakso. Di kompor yang menyala Tama melihat Sasa membuat kaldu dengan menggunakan ayam sedang di sebelahnya ada Ibu yang tengah menggoreng bakwan.
“Eh Mas Tama sudah pulang, sampai nggak sadar,” kata Ratna.
“Assalamualaikum…,” kata Tama sambil tersenyum pada Ratna.
“Waalaikumsa…,” Tidak selesai Ratna menjawab sapaan Tama dia sudah keburu terdiam kaget. Tama memeluknya, dan terus menciumi kening Ratna sambil berbisik sesuatu yang tidak begitu jelas kenapa.
Ratna melihat gelagat Tama yang kelewat aneh itu langsung menarik laki-lakinya masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya.
“Mas kenapa?” tanya Ratna.
Tama belum menjawab. Dia lebih memilih untuk duduk di pinggiran tempat tidur dan mulai membuka sepatu juga seragamnya. Dia bahkan melemparkan baret birunya begitu saja. Ratna memungutnya, lalu meletakkannya di atas meja tempat dimana simbol kebanggaan Tama itu biasanya diletakkan.
“Mas sudah mau cerita atau belum? Ratna nggak akan maksa kalau memang belum,” kata Ratna yang kini berdiri di hadapan Tama yang hanya mampu duduk sambil menunduk.
“Dek…, kenapa kamu bisa setegar ini sih?” tanya Tama pada Ratna.
Ratna mengerti situasinya sekarang. Dia tidak lagi memaksa, Ratna kini mulai berjongkok lalu akhirnya dia duduk dibawah bersandar pada bed dan menjadikan paha Tama sebagai bantalan kepalanya.
“Aku nggak setegar yang Mas bayangin. Aku juga sering nangis kok,” kata Ratna.
Tama menyusul, dia kini ikut duduk di bawah lalu beralih memberikan bahu dan lengannya untuk dipeluk oleh Ratna, “Apalagi kalau sakitnya datang. Ratna pasti bakal nangis lagi. Sakit Mas rasanya, belum lama kita ngerasain bahagia tapi sudah harus kehilangan.”
“Maaf ya karena kerjaan Mas bikin kamu jadi nggak tenang gini hidupnya.”
“Nggak perlu minta maaf Mas, lagian Ratna juga salah karena nggak ngikutin saran Mas buat tetap di rumah aja.”
“Kamu pasti punya alasan, Ratna. Mas nggak akan menyalahkan kamu. Kamu bilang dapat panggilan darurat kan? Sudah tugasmu menyelamatkan mereka yang sakit dan terluka. Kamu bahkan sudah disumpah,” kata Tama.
“Dengan beban pekerjaan kita yang seperti ini memang buat punya anak itu bakal berat banget rasanya. Tapi aku janji aku nggak akan nyerah. Apapun akan aku lakukan buat bahagiain Mas,” kata Ratna.
“Nggak sekarang Ratna, Mas nggak akan minta kalau memang itu melukai kamu. Baby Ji pergi karena kita dirasa belum siap jadi orang tua. Jangan memaksa. Suatu saat nanti ketika kita sudah benar-benar siap dia pasti akan datang lagi kok,” kata Tama.
“Mas…, makasih ya…,” kata Ratna sambil tersenyum menatap Tama.
__ADS_1
“Buat?”
“Segalanya. Buat seribu pengertian yang Mas kasih ke Ratna. Buat jutaan maaf ya Mas kasih ke Ratna. Ratna sayang sama Mas,” kata Ratna.
Tama tidak membalas dengan senyuman. Selalu begini jika salah satu dari mereka menyatakan perasaan. Dengan menautkan belah bibir keduanya setidaknya perasaan itu mampu tersalurkan. Keduanya jelas mengerti jika di dunia ini sudah tidak ada lagi kata-kata yang sanggup mendeskripsikan seberapa besar perasaan sayang keduanya.
Tama tidak menarik tengkuk Ratna seperti biasanya, dia lebih memilih untuk mendorong Ratna hingga kepalanya sempurna bersandar pada pinggiran kasur yang empuk. Tangan kanannya berusaha menahan diri untuk tidak menjarah perut Ratna mengingat di sana masih ada luka yang bahkan belum kering sempurna. Sebagai gantinya, Tama menggunakan tangan kanannya itu untuk menopang punggung Ratna agar tidak terkena kayu dipan.
Tama dan Ratna sudah tidak lagi dengan posisi duduk berdampingan karena kini badan Tama sudah sempurna menguncinya agar tidak dapat bergerak. Hanya area kepala dan leher saja yang masih diberi kebebasan untuk terus berusaha menyempurnakan posisi mereka agar dapat menikmati sentuhan halus nan manis itu secara maksimal. Kedua tangan Ratna juga sudah melingkari tubuh Tama agar dia bisa sedekat mungkin dengan suaminya itu.
Beberapa menit mereka mampu menikmatinya tanpa gangguan, Tama baru akan memulainya lagi ketika tanpa permisi Sasa membuka pintu dan menatap lurus Tama dan Ratna yang saling mendorong jauh sembari membetulkan posisi duduknya dengan kikuk.
“Sorry…,” Sasa langsung menutup kembali pintu kamar kedua kakaknya itu dan berlari ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya dengan air sebanyak yang dia bisa.
“Adisa Kampret.” keluh Tama.
Ratna tertawa, lucu juga jika Tama merajuk begini, “Udah ah, lanjut nanti malem aja. keluar dulu yuk makan. Mas juga kan belum mandi,” ajak Ratna.
“Dek, kamu sudah berapa lama nggak mandi?” tanya Tama.
“Yaudah yuk Mas mandiin,” kata Tama langsung bangkit sambil menggendong Ratna bridal style dan langsung dia bawa ke kamar mandi melewati Ibu dan Sasa yang mematung di area dapur melihat kelakuan Tama.
“Heh astaga Tama. Ya Allah ada Ibu sama Sasa malu ih, Mas Tama. Astaga Bu anakmu mau diperkosa om om ni Bu, ahh Mas Tama nggak mau…,” Ratna terus merengek minta diturunkan, namun Tama tidak menggubris.
“Bodo.”
“Mas Tamaa~”
“Udah diem itu nanti lukanya kena air.”
“Ahh Mas pelan-pelan ih…,”
“Ratna nurut deh bentar itu nanti lukanya kena dibilangin.”
“Aduh Mas ih sakit leher Ratna juga luka.”
“Iya ini pelan nih. Duh kapan selesainya kalau kaya gini. Diem dulu Ratna. Jangan berontak deh nggak bakal diapa-apain.”
__ADS_1
“Mas udah ahh dingin.”
Ibu dan Sasa lebih memilih untuk segera keluar dari dari area dapur dan duduk di ruang tengah mengeraskan volume televisi agar suara laknat kedua kakaknya tidak terdengar oleh telinga polosnya.
“Ngopo koe?” tanya Ibu.
“Rapopo. Kae lho Bu, telinga Sasa nggak jadi polos lagi ini,” kata Sasa.
“Ora papa, habis ini katanya kamu juga mau nikah to? Ben ra kaget.”
30 menit kemudian Ratna dan Tama sudah duduk tenang di meja makan. Ratna masih menggunakan bathrobe dan kepalanya masih basah berselimut handuk. Sebenarnya Ratna senang-senang saja sih dia jadi bisa merasakan lagi kesegaran selepas mandi keramas tapi ya tidak begini juga caranya. Ratna jadi terpaksa mengganti perban di perutnya dengan yang baru padahal tadi belum lama dia ganti.
“Ngapain makan cuma diaduk-aduk gitu?” tanya Tama pada Ratna yang duduk di sebelahnya.
“Mbuh.” Tadinya dia masih bersandar pada tembok jadi tubuhnya masih menghadap ke arah Tama namun sekarang Ratna memutar arah duduknya menghadap ke tembok.
Tama bukannya merasa bersalah dia malah tertawa, tangan kirinya terangkat untuk menggoyang-goyangkan kepala Ratna penuh cinta.
“Mbak kok yo betah punya suami modelan begini? Mukanya lo udah persis om om pedo,” kata Sasa masih kemusuhan.
“Jelas ora.”
“Om om pedo enak kalo ngomong. Tunanganmu ki mukanya lebih boros,” kata Tama.
“Loh muka Gandhi bukan boros om, itu tuh namanya wajah penuh dengan perjuangan. La om jare polisi kok putih. Ra pantes.”
“Oalah malah ngece. Ya biar putih to namanya perawatan.”
“Perawatan seko ngendi, suruh mandi wae susah,” gumam Ratna.
“Dek kok kamu nggak belain Mas sih?”
“Dibilang aku tuh mutung kok. Udah sana ah jauh jauh jangan ngajak aku ngomong,” kata Ratna.
“Yaudah sana mutung. Tapi kalau nanti malem masih mutung jatah jajan weekend melayang ya,” kata Tama.
Ratna tidak menjawab, dia hanya membetulkan posisi duduknya seperti semula dan mulai memakan sayur sop di mangkuknya yang masih sisa separuh. Bahkan Ratna sempat tambah hingga habis 2 mangkuk. Setelah itu juga Ratna masih mengambil satu cup ice cream dari dalam freezer dan melahapnya hingga habis tak bersisa.
__ADS_1