Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
107. Memberi Kesempatan


__ADS_3

Beberapa waktu lalu mereka mulai memasuki tol. Tama memerintahkan Bayu untuk berhenti begitu mendekati rest area. Setidaknya mereka bisa keluar dari mobil dan berjalan-jalan sebentar meluruskan kaki baru mulai perjalanan lagi. Aksa tertidur dalam pangkuan Tama ketika mereka memasuki rest area. Tama menggendongnya keluar, bersama dengan Ratna dia melangkah menuju ke salah satu warungnya dan memesan teh hangat. Ratna di sebelahnya juga sedang makan.


Di hadapan Tama dan Ratna ada Uli dan Bayu. Uli sempat tertidur tadi dan sekarang masih setengah sadar dan masih berusaha mengenali dia sudah sampai di mana.


"Silahkan Mas pesanannya."


"Makasih Pak," jawab Bayu kemudian membawa satu gelas teh hangat ke hadapan Uli.


"Mbak Uli pusing atau mabuk?" tanya Bayu dengan lembut.


"Nggak Bang, cuma masih bingung saja karena ketiduran," jawab Uli.


"Nih diminum teh hangatnya biar enakan," kata Bayu lagi.


Ratna dan Tama memperhatikan keduanya. Walau masih terlihat malu-malu, tapi Tama dan Ratna bisa tahu jika keduanya sama-sama memiliki keinginan untuk bisa saling mengenal. Aksa terbangun, dan bisa menjadi alasan bagi Tama untuk berjalan menjauh. Sedangkan Ratna mengikuti karena di belakangnya ada yang merokok dan Ratna tidak pernah bisa toleran dengan asap rokok. Saat ini hanya tinggal Bayu dan Uli yang masih duduk berdua sambil mengobrol.


"Ayah..., kayanya Uli sama Bayu cocok," kata Ratna.


"Alhamdulillah kalau begitu. Biarkan saja mereka berdua melewati prosesnya. Bantuan kita cukup sampai di sini saja," kata Tama diangguki oleh Ratna.


...***...


Sore harinya mobil merah itu mulai memasuki area perumahan. Tidak sulit untuk menemukan rumah Teh Rizka yang letaknya ada di gang kedua sejak masuk dari gerbang perumahan. Alasan kenapa mereka menuju ke rumah teh Rizka adalah, karena sejak beberapa bulan lalu Ibu Teh Rizka meninggal dunia dan Teteh meminta Mama ikut tinggal bersamanya. Makanya rumah yang di Cipete Mama kontrakkan, lumayan kan kalau dikontrakkan jadi terurus karena Mama jujur saja belum rela melepaskannya karena rumah ini akan dia wariskan kepada Tama. Siapa tahu Tama ditarik ke Mabes dan bekerja di Depok.


"Asalamualaikum," sapa Tama.


"Waalaikumsalam wahhh ganteng cucu nenek sudah sampai, apa kabar sayangku," kata Mama langsung meminta Aksa dari gendongan Ayahnya. Jelas Aksa mengeratkan kedua tangannya pada Tama. Orang-orang rumah sini kan asing semua untuknya. Walaupun nenek selalu menggendongnya ketika bayi dulu, tapi sepertinya dia sudah lupa.


"Cuma Aksa tok. Jagoan Mama paling ganteng nih lho pulang," kata Tama protes.

__ADS_1


"Udah bukan umur Tam kamu manja kaya gitu. Malu atuh," kata Teh Rizka yang ikut keluar.


"Hai Eja..., whats up bro," sapa Tama pada keponakannya.


"Hai Ompol. Dek Aksa halo...," sapanya tapi Aksa masih saja belum mau turun.


"Ini siapa Ratna?" tanya Mama melihat ada dua orang agak asing di belakang mereka.


"Ini Uli pengasuh Aksa, kalau ini Bayu. Mas minta tolong sama dia buat nyupir," kata Ratna.


"Ohh...."


"Yuk masuk semuanya, sini coba mana Aksa sama tante mau nggak? Kita lihat ikan yuk di belakang sama A' Reza mau ya," ajak Teh Rizka.


Perlahan Aksa mau, dia kemudian beralih ke dalam gendongan Teh Rizka. Ratna melihat Teh Rizka membawa Aksa ke arah kolam ikan dekat dapur. Sedang Tama dan Ratna mulai sibuk ini itu, Tama juga ikut dengan Mama mengekor sampai ke dapur Bayu dan Uli hanya duduk diam dengan kikuk di ruang tamu.


"Nak Bayu dan Nak Uli santai saja di sini, anggap rumah sendiri. Jangan sungkan ya," kata Mama.


Dalam waktu singkat Aksa bisa akrab dengan kakak sepupunya itu. Dia sudah bisa tertawa ketika kak Reza mengeluarkan koleksi mainan lamanya dari dalam kamar. Teh Rizka juga mengeluarkan dua buah boneka besar yang berbentuk harimau dan dinosaurus hijau. Aksa melihat harimau itu langsung merangkak cepat mendekatinya dan memeluknya. dia mulai memanjat bonekanya dan minta duduk di atasnya. Bayu duduk di dekat kedua anak itu. Dia mengawasi Aksa dan Reza yang sedang bermain berdua. Bukan hanya Bayu, tapi juga Uli yang sesekali akan menyuapkan pisang ke dalam mulut Aksa.


Ratna, Mama dan Teh Rizka sedang menyiapkan makan malam ketika Tama dan Bang Zaki duduk di teras ditemani segelas kopi dan singkong keju yang dibeli Bang Zaki sepulangnya dari kantor tadi.


"Na besok jadiin yuk ngajak anak-anak main," kata Teh Rizka.


"Boleh Teh, emang mau ngajak ke mana sih?"


"Di dekat sini ada taman bermain terbuka, Teteh suka ngajak Reza ke sana. Lumayan kan buat main-main," kata Teh Rizka.


"Boleh. Nanti aku bilang Mas Tama dulu," kata Ratna.

__ADS_1


"Eh Ratna, itu si Bayu sama Uli pacaran ya? Atau malah sudah nikah?" tanya Mama dengan suara sedikit berbisik.


"Baru PDKT Ma, nggak tahu kalau besok," kata Ratna.


"Cocok tapi mereka lho. Mama lihat waktu mereka berdua main sama anak-anak kaya akrab gitu. Nggak salah kamu milih pengasuh," kata Mama.


"Alhamdulillah kalau cocok. Pokoknya Ratna sudah nggak mau ganti-ganti lah. Langka orang telaten kaya Uli jaman sekarang Ma," kata Ratna diangguki oleh Teh Rizka dan Mama.


Ratna berjalan mendekati suaminya yang sedang duduk di teras depan. Niatnya dia ingin bertanya soal rencana mereka besok bagaimana. Sekalian juga menanyakan apakah Uli dan Bayu akan diajak sekalian atau biar mereka jalan-jalan saja berdua.


"Coba aja kamu tanyain mau ikut apa mau jalan berdua. Kan kita mau ke taman bermain anak juga," kata Tama.


Ratna kemudian mendekati Uli dan Bayu. Dia memberitahu rencana Tama dan Ratna besok lalu bertanya apakah kedua orang itu mau ikut atau bagaimana.


"Kalau saya nggak ikut yang jaga Dek Aksa siapa Bu," kata Uli.


"Kan ada aku, ada Mama juga. Kalau kalian berdua mau jalan-jalan berdua silahkan. Sebelum berangkat kan aku juga sudah bilang, kalian berdua boleh kalau mau pergi sendiri," kata Ratna.


"Kalau kalian mau pakai motor Mama tuh nganggur. Kan kalau motoran berdua enak," kata Mama yang ikut nimbrung.


"Duh malah dipinjami motor segala jadi nggak enak Bu, nggak usah. Saya jaga di rumah saja," kata Bayu.


"Bay, kalau kamu manut sama aku kalian berdua mending jalan-jalan sendiri, keliling Jaoarta. Kapan lagi kalian punya kesempatan kaya gini?" kata Tama ikut bicara juga.


"Beneran nggak papa Ndan?" tanya Bayu malu-malu.


"Dikira saya bercanda?"


"Nggak."

__ADS_1


"Nah itu tahu. Nih buat isi bensin, sisanya bisa kalian berdua pakai buat jajan," kata Tama memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan.


"Makasih Ndan, saya izin besok bawa Uli jalan-jalan keliling Jakarta ya," kata Bayu diangguki oleh Tama. Uli juga ikut mengucap terima kasih karena majikannya ini sudah kelewat baik padanya.


__ADS_2