
Tinggal beberapa bab lagi menuju ending nih, makasih ya yang masih selalu setia baca Tama dan Ratna author terhura ðŸ˜ðŸ˜
...🌱Ji🌱...
Sebulan kemudian pengeboman kembali terjadi. Kali ini ledakan menggema dari arah kantor administrasi bandar udara Jogja. Ransel terduga berisi bom ditemukan di salah satu tempat sampah di lobby kantor. Jelas bukan hanya polisi yang kocar-kacir. TNI akhirnya juga ikut turun tangan menanganinya. Kali ini korbannya cukup banyak. Ada 3 orang dengan luka bakar berat dan beberapa yang luka ringan dilarikan langsung ke rumah sakit milik TNI-AU. Ketika Cece bersama timnya sampai di lokasi, tim dari TNI sudah lebih dulu menyisir lokasi dan menemukan adanya 2 ransel lain yang tidak meledak.
Seperti sebelumnya, bom langsung dijinakkan. Namun demikian kondisi siaga tidak diturunkan levelnya. Banyak penerbangan ditunda dan bahkan beberapa pesawat yang siap landing dengan sangat terpaksa dialihkan ke YIA. Ratna sudah mendengar beritanya. Langkahnya terhenti begitu saja ketika mendengar suara Cece yang sedang diwawancarai oleh wartawan terdengar dari televisi yang terdapat di lobby rumah sakit.
"Kenapa Na?" tanya Ela.
"Mbak kenal sama Bapak polisi itu?" Nita ikut bertanya.
"Jelas. Dia ada di satu divisi yang sama dengan suamiku, jawab Ratna.
"Ya Allah, padahal baru beberapa waktu lalu ada kejadian dan ini sudah kejadian lagi? Jogja bahkan kembali dinyatakan waspada. Ada polisi dimana-mana, pengecekan kendaraan, pengamanan tempat publik, semoga saja kondisinya segera membaik," kata Ela.
"Aamiin...," jawab Nita.
Ratna hanya diam. Dia curiga saja jika aksi pengeboman ini ada kaitannya dengan kasus yang sedang diselidiki oleh suaminya. Tama mungkin tidak menceritakan detailnya, tapi Ratna tahu jika suaminya sedang menyelidiki sebuah kelompok separatis yang base-nya ada di Jogja.
...***...
__ADS_1
Tama sempat pulang hari itu tapi dia pulang ke rumahnya dengan sebuah mobil patroli. Dia memarkirnya di depan rumah pak RW yang berjarak beberapa rumah dari kediamannya sendiri. Ketika dia pulang tadi, dia melihat tim gabungan kepolisian melakukan razia kendaraan di perempatan kentungan. Ratna juga tidak lolos dari pemeriksaan. Selain diperiksa surat-suratnya dia juga diperiksa isi jok motornya.
Ratna paham situasi sedang tidak kondusif jadi wajar jika polisi sampai melakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Pak Kapolda bahkan sampai meminta bantuan pada polres-polres disekitar Jogja untuk segera melapor apabila menemukan orang yang mencurigakan.
Beberapa waktu kemudian suaminya datang ke rumahnya. Dia melepaskan rompi anti peluru dan senjatanya di sofa depan agar tidak dimainkan oleh Aksa. Di belakangnya juga ada Bayu yang mengikuti. Begitu masuk dia langsung menggendong Aksa, menciuminya kemudian memeluk pula istrinya.
"Kali ini Ayah bukan izin untuk bertugas keluar wilayah Bunda, tapi di wilayah sendiri. Ayah menyempatkan untuk mampir karena Ayah harus tetap izin sama kamu," kata Tama pada Ratna.
Tak jauh dari mereka berdiri, Bayu juga sama memeluk istrinya. Dia bukan hanya mencium Uli tapi juga terus mengelus perut Uli yang mulai terlihat besar, "abang harus tugas. Kamu baik-baik sama Bu Aji di sini ya," kata Bayu.
"Iya Bang, Abang hati-hati ya. Cepat selesaikan tugasmu bang, biar kita bertiga bisa kumpul lagi sama-sama," kata Uli.
Ratna mendengarnya tersenyum. Dia belum sempat menjawab kata-kata Tama suaminya.
Ratna dan Uli menemani suami mereka memakai lagi perlengkapannya. Begitu suaminya itu siap Ratna kembali bicara, "ini tugasmu. Selesaikan dengan segera, ini perintah."
Tama tersenyum. Baik Tama maupun Bayu keduanya sama berdiri di hadapan istri masing-masing, memberi jarak antara kemudian dengan sikap sempurna keduanya hormat persis seperti mereka selalu hormat kepada komandan. Ratna membalasnya dengan tersenyum, tapi Uli sempat menangis ketika menjawab penghormatan itu. Begitu tangan Ratna dan Uli turun, Tama dan Bayu balik kanan dan kembali masuk ke dalam mobil patroli. Ratna mengangkat Aksa ke dalam gendongannya kemudian mengajak putranya untuk melambaikan tangan dan hormat pada Ayah yang akan berangkat bertugas.
"Jaga diri baik-baik Mas, aku akan menunggumu," batin Ratna.
...***...
__ADS_1
Kasus pengeboman tidak hanya berhenti sampai di situ, kali ini ransel yang dicurigai berisi bom itu terletak di sebuah mobil berwarna hitam. Mobil itu sedang terparkir di pinggir jalan dekat dengan sebuah minimarket. Si pemilik mobil sendiri yang mendapati tas mencurigakan itu ada di sana. Beliau segera melangkah menjauh dan meminta orang-orang disekitarnya ikut menjauh juga. Namun belum sampai si pemilik melangkah, bom itu sudah meledak.
Sang pemilik mobil menjadi korban dengan luka paling parah dan akhirnya meninggal dunia bahkan sebelum sampai di rumah sakit. Seisi Mapolda dibuat kaget begitu mengetahui siapa yang menjadi pemilik mobil itu. Beliaulah yang dikenal bernama Mahendra. Komandan Satbrimobda yang menjadi suri tauladan untuk seluruh anggotanya. Orang yang dikenal santun, baik hati, memiliki jiwa kekeluargaan yang tinggi, dan ramah. Selama beliau menduduki kursi kepemimpinan, belum pernah ada keluhan tentang beliau. Bahkan sejak masih pendidikan dulu, beliau sudah menjadi contoh untuk teman seangkatan dan junior-juniornya.
Seketika rumah dinas yang ditempati oleh komandan Hendra ramai dengan para pelayat. Bukan hanya para anggota kepolisian yang datang tetapi juga ibu-ibu bhayangkari ikut hadir dan membantu mempersiapkan semua keperluan untuk upacara pemakaman. Bu Hendra, atau yang akrab dipanggil Mbak Sanas oleh Ibu-ibu bhayangkari ini terlihat begitu tegar menerima para pelayat yang hadir bersama dengan putrinya.
"Keke, Abangmu sudah kamu beri kabar kan?" tanya Mbak Sanas pada anak bungsunya.
"Sudah Ma, Abang sedang berusaha minta izin dan akan segera pulang."
Semalaman itu seluruh tetangga juga anak buah Komandan Hendra banyak yang berjaga di rumah. Polisi yang datang terus berganti karena mereka harus tetap melaksanakan pengamanan di seluruh lokasi. Bahkan status waspada kini kembali dinaikkan menjadi siaga. Seluruh masyarakat yang tidak memiliki kepentingan dipaksa untuk tetap berada di rumah setelah pukul 10. Seluruh area publik juga harus clear dan steril sejak jam 9 dan polisi akan terus melakukan patroli selama 24 jam penuh.
Upacara pemakaman Komandan Hendra dipimpin oleh pak Kapolda sendiri sedang yang membawa petinya adalah Bang Rendi, Bang Novan, Bang Chandra, Bang Nanda, Bang Cece, dan Tama. Upacara pemakaman berlangsung begitu khusyuk. Setelah upacara kepolisian selesai dan pemuka agama memimpin doa peti jenazah perlahan-lahan diturunkan ke liang lahat. Para perwira yang menjadi kesayangan Komandan Hendra semasa hidup itu mulai menitikkan air mata. Mereka teringat betapa menyenangkannya hari yang mereka lalui bersama komandannya itu.
Selesai sudah upacara pemakaman. Mereka semua kembali ke rumah duka untuk membasuh kaki dan tangan mereka. Isak tangis kembali memenuhi rumah duka. Keke sempat pingsan ketika di pemakaman tadi dan dipaksa pulang bersama Abangnya. Begitu para anggota sampai kembali di rumah duka, Mbak Sanas yang begitu tegar langsung membawakan air minum untuk mereka. Mbak Sanas bahkan tampil di depan dan sekali lagi mengucapkan permintaan maaf barang kali suaminya pernah memiliki salah pada anggota-anggotanya.
"Mbak Sanas, jangan begini dong. Kami yang nggak sanggup lihatnya. Kalau Mbak mau menangis ya nangis saja Mbak jangan ditahan," kata Bu Novan yang merupakan sahabat Mbak Sanas.
Mbak Sanas menggeleng, "aku memang nggak mau nangis. Dari awal menikah aku sudah siapkan diriku untuk menghadapi hari ini. Dia adalah seorang abdi negara yang setia pada negaranya sampai nafas terakhirnya. Aku justru bangga pada suamiku. Tugasnya di sini sudah usai, sekarang tinggal aku selesaikan tugasku menuntaskan anak-anak dan menunggu waktu untuk menyusulnya di Surga," kata Mbak Sanas.
Ratna yang pertama kali meneteskan air matanya. Dia yang paling tidak tahan dengan kondisi semacam ini. Ketika dia harus melihat sendiri bagaimana bhayangkari-bhayangkari hebat ini harus menderita luka berupa kehilangan suami. Dia paling lemah. Benar memang Mbak Sanas bilang, tapi bukannya sekuat apapun hati kita bertekad, jika hari itu datang akan runtuh juga tembok pertahanan itu? Tapi Mbak Sanas bisa begitu hebat menjaga temboknya tetap kokoh. Demi anak-anak katanya.
__ADS_1
Benar, lebih dari seorang istri mereka adalah seorang ibu. Jika saja suaminya itu pergi biarlah dia pergi dengan tenang agar dapat menikmati surga-Nya sebagai imbalan atas bhaktinya semasa hidup. Mulai dari titik itulah perjuangan seorang bhayangkari akan diuji dengan sebenar-benarnya. Bagaimana mereka harus bisa bertahan demi anak-anak, demi generasi penerus bangsa. Sebagai insan yang akan meneruskan bhakti kedua orang tuanya.