Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
33. Keinginan


__ADS_3

Tama dan Ratna baru sampai di rumah setelah perjalanan dari kampung halaman mereka di Jawa. Hari sudah mulai malam ketika Tama dan Ratna sampai. Ratna bahkan belum sempat melepas hoodienya, dia buru-buru masuk ke kamar mandi setelah itu melangkah ke dapur untuk memasak air panas untuk keduanya mandi.


Tama sedang melemaskan kakinya duduk di sofa ketika sebuah panggilan masuk. Tama berpikir beberapa waktu sebelum akhirnya mengangkat panggilan itu. Panggilan masuk dari salah satu bintara bawahannya, Arya namanya. Anak baru pindahan dari Sumedang 3 bulan lalu.


“Malam komandan, maaf ganggu tapi saya butuh bantuan banget nih,” katanya bahkan sebelum Tama sempat mengucapkan salam.


“Kenapa?” tanya Tama.


“Pak, istri saya mau lahiran. Saya boleh minta bantuan istri Bapak tidak? Sudah gawat banget, saya bingung harus bagaimana. Mau dibawa ke rumah sakit takut bayinya lahir di jalan,” kata Arya didengar langsung oleh Ratna yang kini mulai mengemasi beberapa peralatan yang mungkin dia butuhkan.


“Ok, saya ke sana sekarang.”


Tama dan Ratna langsung pergi menuju ke rumah Arya. Letaknya tidak jauh, dan berhubung dua motor mereka sudah lama tidak dipakai terlalu lama untuk manasin motor dulu akhirnya Tama dan Ratna memilih untuk jalan saja ke sana.


Begitu sampai di rumah Arya, sudah ada beberapa tetangga yang ikut panik dan tidak tahu harus bagaimana. Ratna melangkah masuk ke dalam kamar dan langsung memeriksa kondisi istrinya Arya sedangkan Tama di luar menunggu bersama yang lainnya.


“Jangan panik ya, diatur nafasnya pelan-pelan. Bayinya sehat kok, posisinya juga sudah tepat,” kata Ratna sebelum melangkah ke luar kamar untuk lebih dulu menenangkan Arya.


“Ini Mas Arya ya? Istrinya baik-baik saja kok. Setelah ini saya yang bantu ya. Mas Arya sekarang siapin air hangat saja buat mandikan adik bayi nanti,” kata Ratna dengan nada yang tenang namun tegas.


Tama baru pertama kali ini melihat secara langsung bagaimana Ratna ketika bekerja. Jujur dia jatuh hati, mendengar Ratna mengatakan kondisi pasiennya dan menenangkan keluarga pasien membuatnya tahu jika Ratna adalah dokter yang baik. Bahkan ketika Tama mendengar suara Ratna yang membantu istri Arya di sela-sela rintihan itu membuat Tama tanpa sadar melamunkan dirinya sendiri. Jika suatu saat nanti Ratna yang ada di posisi itu, dia berjanji akan selalu mendukung Ratna. Apapun yang terjadi dia akan selalu ada di sampingnya.


Tidak sampai setengah jam bayi mungil berjenis kelamin perempuan itu menangis. Setelah berjuang bersama ibunya dia akhirnya lahir dengan selamat. Ratna dengan perlahan membantu membersihkan jalur nafas bayi itu lalu memanggil si ayah untuk memotong tali pusatnya.


Ratna meletakkan bayi itu di dada ibunya yang sudah menangis. Dia juga bisa melihat jika pasangan orang tua baru itu kini menangis. Arya bahkan tidak segan mencium istrinya di hadapan Ratna. Dia terlihat begitu bahagia melihat istrinya berhasil dalam berjuang.


Selesai memandikan si bayi Ratna menyerahkannya pada sang ayah lalu dia melangkah keluar dari kamar untuk mencuci tangannya juga memberikan sedikit privasi untuk keluarga kecil itu. Ratna berjalan ke teras untuk mengatakan pada tetangga yang datang juga pada Tama tentang kondisi bayi dan ibunya.


“Mas, bantu aku panggil ambulance bisa? Aku lupa bawa handphone,” kata Ratna.


Tama kemudian menelpon ambulance sesuai dengan perintah Ratna. Dia biarkan Ratna yang bicara karena memang Ratna yang tahu situasinya. Tak lama kemudian ambulance dari rumah sakit datang dan membawa pasien. Ratna memberikan instruksi pada petugas baru dia melepas kepergian ambulance itu.


Arya mendekati Ratna dan berterima kasih padanya. Arya bahkan menawarkan bantuan untuk mencucikan pakaian Ratna yang sudah kotor karena darah.


“Sudah ini biar saya sendiri saja yang cuci tidak apa-apa. Lebih baik sekarang Mas Arya siap-siap buat nyusul istri ke rumah sakit. Sama sekalian saya pamit ya, kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk minta bantuan,” kata Ratna.

__ADS_1


Arya sekali lagi berterima kasih pada Tama dan Ratna. Keduanya kini sudah berjalan kembali ke rumah. Tama berinisiatif membawakan tas Ratna.


“Kenapa kamu nolak waktu Arya bilang mau cuciin hoodie mu, dek?” tanya Tama.


“Mas lupa apa gimana, aku kan cuma pake tanktop Mas. Kalau aku iyain terus kubuka hoodie ku jadi tontonan orang dong,” kata Ratna sedikit berbisik.


“Oh iya Mas lupa,” kata Tama sambil tertawa.


“Lagian hoodie ini kesayangan. Mending aku cuci sendiri dan kupastikan sendiri dia baik baik aja. Aku takut dia rusak,” kata Ratna sambil mengelus-elus ujung lengan hoodienya.


“Yang kesayangan tuh hoodie nya atau yang ngasih hayo,” goda Tama.


“Emang siapa yang kasih? Orang ini Ratna beli sendiri,” kata Ratna.


Tama mandengus, “Suka-sukamu lah Dek,” kata Tama kemudian berjalan meninggalkan Ratna di belakang.


Ratna mengejar Tama, dia takut tertinggal. Kan suasananya sudah sepi dan Ratna masih parno berat gara-gara percakapannya dengan Bapak dan Pakde kemarin. Sesampainya mereka di rumah, Ratna langsung melepaskan hoodienya dan merendamnya dalam air sabun. Sembari menunggu, Ratna lebih dulu mandi. Selesai dia mandi dia melangkah lagi ke tempat cuci untuk membersihkan hoodienya.


Dia kucek hoodienya dengan agak kuat, dia juga menyikat beberapa tempat yang nodanya cukup membandel.


Tama kemudian berjalan mendekati Ratna, kemudian ikut berjongkok di sampingnya mengamati lebih dekat apa yang tengah dilakukan oleh mikrowifenya itu.


“Kenapa nggak dicuci di mesin cuci dek?” tanya Tama tidak mendapatkan respon berarti dari Ratna yang tetap fokus pada cuciannya.


“Mau dibantuin nggak?” tanya Tama.


“Boleh. Mas yang peres ya,” kata Ratna.


“Kenapa nggak pakai mesin cuci? Kan ada pengeringnya.”


“Mas Tama lupa lagi ya? Kan aku sudah bilang pengeringnya rusak,” kata Ratna sudah dengan wajah cemberutnya.


“Astaghfirullah maaf sayang Mas lupa, besok deh Mas perbaiki dulu ya. Kamu nggak ngingetin juga sih,” kata Tama.


“Mau ngingetinnya kapan orang aku sendiri aja suka lupa,” kekeh Ratna.

__ADS_1


Selesai mencuci hoodienya Ratna dan Tama melangkah masuk kembali. keduanya duduk di sofa menikmati coklat panas yang tadi Ratna buatkan. Malam sudah semakin larut, bahkan mendekati dini hari namun keduanya masih betah ngobrol di sofa sambil cuddle.


“Dek…, Mas kok jadi pengen ya?” tanya Tama.


“Pengen apa?”


“Pengen jadi ayah beneran,” kata Tama.


“Waktu tadi Mas denger Arya adzan di telinga putrinya Mas jadi ngebayangin. Kalau Mas yang adzan di telinga anak kita nanti. Mas pengen gendong anak sendiri, pengen main-main sama anak, pengen jadi orang tua pokoknya,” kata Tama.


“Tuh kan kubilang juga apa,” kata Ratna.


“Buat yuk,” kata Tama.


“Sekarang banget?”


“Iya. Udah ngebet banget nih.”


“Dih ini mah namanya bukan pengen punya anak tapi pengen bikin anak.”


“Ya habis bikinnya enak sih. Ya dek, satu ronde aja,” kata Tama sudah dengan wajah yang menggoda Ratna habis-habisan.


“Nggak percaya, satu rondenya Mas tuh bisa sampe pagi soalnya,” kata Ratna masih berusaha bernegosiasi.


“Janji habis ini Mas beliin BH baru deh,” kata Tama mencoba membujuk sekali lagi.


“Nggak ada,” Ratna kemudian melangkah meninggalkan Tama yang mulai merengek di sofa. Ratna melangkah ke dalam kamar, menutup pintunya kemudian entah melakukan apa di dalam. Yang Tama tahu hanya Ratna tiba-tiba membuka pintu kembali.


“Dari pada beliin aku BH mending beliin aku es buah besok,” kata Ratna.


“Hmm? Maksudnya?”


“Ora mudeng yo uwis. Aku tidur aja,” kata Ratna.


“Eits paham aku maksud kamu apa. Iya besok Mas beliin es buah, kalau perlu sekalian se gerobaknya Mas beli,” kata Tama yang kini sudah menyusul Ratna untuk masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


__ADS_2