
"Lapor komandan, komisaris polisi Pratama Aji Saputra siap ditugaskan di detasemen gegana per tanggal 1 November," kata Tama tegas ketika melapor pada komandan Den Gegana, Kombespol Jenovanto.
Setelah menerima laporan dari salah satu anak buahnya itu Ndan Novan mendekati Tama kemudian merengkuh Tama penuh dengan rasa bangga. Ndan Novan sudah dengar detail ceritanya dari Cece yang merupakan komandan satuan Jibom. Tama langsung pindah ruang kerja. Dia sudah tidak lagi di ruang kasubsi melainkan di markas gegana yang letaknya ada di gedung belakang markas brimob. Meja kerja Tama berada persis di sebelah meja kerja Cece karena bagaimanapun juga Ndan Novan tidak mau menekan psikis personilnya dan membuat mereka terganggu dalam tugas. Jadi Ndan Novan menempatkan Tama satu ruangan dengan Cece sahabatnya agar setidaknya mereka bisa berbagi cerita.
"Jadi sudah sampai mana penyelidikannya?" tanya Tama langsung pada Cece begitu keduanya sudah duduk di ruangan.
"Sabar bos. Resmob sedang jalan. Kita tunggu saja kabarnya," kata Cece diangguki oleh Tama.
"Lo hebat Ji, gue respect sama lo," kata Cece.
"Demi Ratna dan Aksa Ce, satu-satunya motivasi gue ya mereka berdua," kata Tama berusaha memaksakan senyumnya.
"Sekarang mending lo santai dulu. Ikut gue mau nggak? Ngerokok sambil ngopi di kantin," ajak Cece sambil merangkul bahu sahabatnya.
"Gila nih orang nggak sembuh sembuh penyakitnya lo. Mentang-mentang bekas preman," kata Tama menepis tangan Cece.
"Anjir lo bawa-bawa masa kejayaan gue. Long gone Ji, gue udah bukan preman sekarang, tapi tukang nangkepi preman. Lumayan kan, jaman gue masih di sabhara nggak ada preman lolos dari kejaran gue," kata Cece membanggakan diri.
"Yaiyalah lo dulu tukang kabur dari kejaran polisi, pasti udah ngerti trik-tiknya," kata Tama.
"Yang penting gue nggak sampe bacok-bacok orang. Tawuran juga kagak. Alim gue jadi preman juga, cuma suka nongki sambil taruhan bola doang," jawab Cece.
"Punya dosa apa gue punya temen kaya elo Ce," kata Tama geleng-geleng karena sikap sahabatnya yang memang bandel sejak dulu.
"Gini gini gue bisa jadi komandan karena pengalaman gue juga. Isi rutan separuhnya dari gue ada kali."
"Serah lo Ce, jadi ngantin kagak? Kebetulan bini gue nggak masak jadi gue belum sarapan. Bayarin yak, lo kan banyak duit," kata Tama sudah berdiri dan bersiap jalan menuju ke kantin.
"Woo jan*uk. Lagian duit lo bakar apa gimana bisa-bisanya bilang kaga punya duit lo," tanya Cece sambil berjalan mengikuti langkah Tama.
__ADS_1
"Pengen beli mobil baru gue," pamer Tama.
"Kenapa sama mobil yang sekarang? Kekecilan? Lo sih ngada-ngada badan macem tiang listrik makenya Brio," kata Cece.
"Ya kan niat awal beliin bini gue Ce, taunya dia nggak mau pake yaudah gue pengen jual si Brian terus gue beliin yang baru. Mumpung belum 5 tahun jadi harganya nggak bakal jatuh banget," jawab Tama hanya diangguki oleh Cece.
Cece akui memang sahabat lamanya ini sejak dulu punya sifat dasar yang selalu menempatkan kepentingan orang tersayangnya di atas kepentingannya sendiri. Kalau dulu Sindy yang selalu dapat perhatian itu, tapi karena permainan takdir posisi gadis itu tergantikan dengan kehadiran seorang malaikat bernama Adiratna, atau si bantet Cece memanggilnya.
Cece bersyukur karena selama kenal dengan Ratna tidak pernah Tama mengeluh lagi soal hubungannya. Tidak pernah dia dengar kabar pertengkaran Tama dengan istrinya dan dia berharap kabar itu tidak akan pernah dia dengar sampai kapanpun. Karena Cece tahu sebanyak apa luka yang Tama terima bahkan sejak Pratama Aji bukan siapa-siapa. Jadi untuk yang satu ini setidaknya dia ingin sahabatnya bisa bahagia dengan keluarga kecilnya.
...***...
"Operasinya sudah selesai, tolong tutup lukanya ya. Saya mau menemui kelarga pasien, nanti kalau pasien sudah di ICU tolong kabari," kata Ratna pada asistennya.
Ratna baru menyelesaikan operasi pasien kanker yang kemarin di transfer padanya. Ratna melangkah keluar dari ruang operasi, dia melepas masker dan gaun operasinya kemudian membuangnya ke dalam tempat sampah yang ada di pojok ruangan. Ratna segera menuju ke depan ruang operasi untuk memberi kabar pada keluarga pasien. Dia menemui suami pasien di sana. Ratna menjelaskan semuanya dengan detail kemudian berlalu pergi. Dia harus kembali ke ICU setelah ini untuk melakukan pemeriksaan pasca operasi.
"Bagaimana perkembangan pasien?" tanya Ratna pada asistennya yang sedang mengecek semua alat kesehatan yang membantu dokter mengetahui kondisi pasien.
"Tetap kabari aku kalau ada apa-apa ya. Nanti setelah efek obat biusnya habis kita cek lagi kesadarannya," kata Ratna.
Ratna keluar dari kamar pasien dan menemukan Nita sedang keluar dari kamar yang berbeda. Dia melihat Nita meletakkan catatan medis pasien ke dalam rak yang dekat dengan meja petugas jaga. Dia sepertinya baru selesai shift berturut-turut, terlihat dari raut wajah mengantuknya yang ketara jelas.
"Nita, pasien siapa?" tanya Ratna.
"Pasien dr. Dipta," jawab Nita.
"Masih gawat nggak? Makan yuk," ajak Ratna.
"Yuk ah, aku juga belum makan seharian," jawab Nita.
__ADS_1
"Aku titip pasien sebentar ya, kalau ada apa-apa kabari aja," kata Nita pada rekan kerjanya kemudian berjalan keluar bersama Ratna.
Nita dan Ratna memesan lunch set dan segelas jus kemudian membawanya ke meja yang berjajar di sebelah kanan dapur. Ratna lebih dulu menenggak jusnya baru memulai acara makan siangnya. Tak lama kemudian Jay, Theo dan Tio berjalan mendekati mereka dan membawa makan siang juga.
"Mama Ratna~" panggil si kecil Tio yang kemudian duduk di sebelah Ratna.
Anak itu sebentar lagi menginjak usia yang ketujuh. Dia bilang dia mau Mama Ratna jadi Mamanya betulan sebagai kado ulang tahun dari Papa. Tapi jelas tidak akan mungkin terjadi. Ratna memiliki Tama dan dia tidak akan pernah meninggalkan suaminya itu apapun yang terjadi.
Tio sudah sering meminta Ratna menjadi Mamanya betulan sejak beberapa minggu lalu waktu Tio dirawat karena tifus. Ratna terbilang sering menjenguknya, tapi bukan hanya dia yang menjenguk. Nita dan Ela juga sering datang mengunjunginya. Tapi Tio kan lihat sendiri kalau Tante Ela dan Tante Nita punya suami karena memang bekerja di tempat yang sama, sedangkan Ratna mau berapa kalipun Theo menjelaskan putra tunggalnya ini tidak percaya. Dia tidak percaya kalau suami Ratna adalah seorang polisi. Dia malah menuduh Papanya bohong.
"Lo emang harus cari istri baru sih Te," kata Jay sedikit berbisik pada Theo yang duduk di hadapannya.
"Gue nggak mau," jawab Theo acuh tak acuh.
"Pa, jangan bahas ini di sini. Kasihan Tio," bisik Nita pada suaminya sebelum dia membuka mulutnya lagi.
Selepas makan siang mereka yang terlambat itu, Ratna mengajak Theo untuk bicara empat mata. Tio sudah dijemput oleh neneknya beberapa waktu lalu jadi sekarang hanya tersisa Ratna dan Theo saja di taman depan rumah sakit.
"Te, kamu beneran nggak mau nikah lagi?" tanya Ratna.
"Nggak Rat, gue nggak mau. Cuma Radea istri gue satu-satunya," jawab Theo.
"Tapi Tio butuh sosok ibu. Kalau kamu nggak menikah lagi dia akan menganggap aku ibunya dan akan terus minta aku nikah sama kamu. Aku sudah punya suami Te, aku juga punya anak. Kasihan mereka berdua," kata Ratna.
"Gue juga nggak akan minta lo nikah sama gue Rat. Gue cukup sadar diri buat nggak minta ke elo jadi Mamanya Tio. Tapi gue bener-bener nggak mau menduakan Radea. Gue udah janji sama dia kalau dia yang akan jadi satu-satunya," kata Theo lagi.
"Radea udah lama nggak ada Te. Dia juga pasti sedih kalau lihat Tio terus-terusan nyari Mamanya. Dia juga nggak akan tenang kalau tahu suaminya terus-terusan sedih karena dia," kata Ratna.
"Iya tahu, tapi berat Ratna."
__ADS_1
"Jangan dipaksa, tapi aku harap cepat atau lambat kamu akan pahami saranku," kata Ratna kemudian meninggalkan Theo seorang diri.