
Perjalanan menuju ke Balikpapan tidak membutuhkan waktu yang banyak. Tama lebih dulu mengecek jadwal keberangkatannya apakah sudah sesuai dengan tiketnya atau belum ke agen perjalanan tempat dia membeli tiket sekaligus juga melunasinya. Kemudian Tama dan Ratna pergi berjalan-jalan sebentar keliling kota. Ratna ingin mampir ke pantai dekat dengan pelabuhan katanya sambil lihat sunset. Karena mereka diminta standby ke pelabuhan mulai pukul 9 malam jadi mereka masih bisa agak santai. Sesuai janji Tama pada istrinya. Perjalanan ini akan jadi honeymoon tipis-tipis. Lumayan kan sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.
"Bagus banget tempatnya Mas," kata Ratna.
"Kamu sih nggak percaya sama Mas. Di sini juga ada pantai yang bagus-bagus Dek," kata Tama.
"Tapi tetep beda Mas. Yang aku cari kan bukan pantainya tapi suasananya. Pokoknya Mas janji ya kita mau ke Parangkusumo setelah sampai jogja nanti," tagih Ratna.
"Iya iya, mau ke Parangkusumo, mau kemana lagi terserah. Semua tempat wisata di Jogja kita datengin kalo perlu," lata Tama.
"Kemaruk."
"Ya kan hari ada banyak, kita bisa rencanakan satu per satu nggak yang semuanya sekaligus," kata Tama pada Ratna.
"Kalau weekend ada waktu kita agendakan buat jalan-jalan ya Mas, setidaknya kita bisa menghabiskan waktu berdua," kata Ratna.
"Pasti. Mas mau memperbaiki diri. Mas merasa apa yang terjadi sama kamu selama ini karena Mas yang nggak cukup baik jagain kamu," kata Tama membuat Ratna yang duduk disampingnya menoleh. Dia bisa melihat raut sedih itu dari wajah suaminya yang beberapa waktu lalu masih sumringah.
"Tapi aku juga nggak sebaik itu, kenapa Mas harus menyiksa diri untuk terus menjadi lebih baik lagi?" tanya Ratna yang mulai melingkarkan tangannya pada lengan sang suami kemudian meletakkan kepalanya pada bahu tegap itu.
"Karena Mas adalah imammu, karena Mas adalah kepala keluargamu, Mas jugalah surgamu. Kalau Mas nggak terus berusaha memperbaiki diri, Mas akan merasa malu kalau Mas nggak bisa kasih surga terbaik untuk kamu," kata Tama.
"Kalau begitu kita perbaiki diri bareng-bareng mau kan Mas? Aku nggak mau lagi sedih setiap Mas harus pergi dinas keluar. Aku juga nggak akan sedih kalau Mas nggak pulang berhari-hari karena tugas," kata Ratna.
"Bukan gitu sayang. Kamu nangis kamu cemas kalau Mas nggak dirumah itu artinya kamu masih sayang sama Mas. Cukup kamu tahan aja, kamu cukup senyum dan doakan Mas akan selalu baik-baik saja mengemban tugas jadi Mas bisa pulang dengan selamat dan menyapa kamu lagi. Biarkan Mas berangkat dengan kenangan tentang senyum kamu, buat semangat Mas. Biar Mas selalu ingat akan ada kamu yang menunggu Mas di rumah," kata Tama membuat Ratna mengangguk.
Sunset sudah berlalu sejak beberapa waktu lalu. Kini pantai sudah mulai gelap jadi Tama dan Ratna memutuskan untuk keluar dari bibir pantai dan berjalan untuk mencari makan malam. Selesai makan malam, Tama dan Ratna lebih dulu pergi mencari minimarket untuk membeli snack persediaan untuk di kapal nanti.
"Dek, di kapal nanti kan ada cafetaria. Jangan beli kebanyakan ya," kata Tama.
__ADS_1
"Nggak mau beli snack kebanyakan. Maunya beli stok coklat," kekeh Ratna.
"Mas beliin kopi dong. Sini keranjangnya biar Mas yang pegang. Ambil air putih dulu Dek. 2 hari 1 malam. Paling nggak beli 2 atau 3 botol besar aja sekalian. Nanti Mas yang bawain," kata Tama.
"Selain kopi mau apa lagi Mas?" tanya Ratna yang sudah memasukkan 3 botol air mineral berukuran 1.5 liter. Tama memilih sendiri apa yang mau dibelinya. Dia juga meraih 2 botol air lemon untuk Ratna yang saat ini sedang sibuk memilih mau beli keripik kentang, keripik singkong, atau keripik jagung. Setelah beberapa waktu, Tama yang akhirnya memilih. Dia mengambil keripik kentang yang dikemas dalam tube berukuran besar, 2 coklat bar, dan oreo vanilla.
"Banyak amat. Katanya jangan banyak-banyak," protes Ratna.
"Kamu sih lama. Mau ada tambahan lagi nggak? Kalau nggak Mas mau bayar dulu," kata Tama yang tidak peduli Ratna berusaha merajuk. Tama meninggalkan Ratna yang masih berdiri di tempatnya. Tama lebih dulu mengantri sedangkan Ratna menyusul setelah meraih beberapa bungkus permen berbentuk cacing, 2 cup mie instan, dan 1 bungkus permen mint. Dia langsung memasukkan semuanya ke dalam keranjang belanja yang Tama bawa kemudian diam berdiri di sebelah suaminya.
"Marah nih?" tanya Tama karena Ratna menjatuhkan semuanya dengan tidak santai tadi.
"Nggak."
"PMS po Dek?" bisik Tama.
"Hadeuh malah marah. Katanya mau honeymoon juga. Udahan ngambeknya. Habis ini beli donat dulu apa, mumpung masih ada waktu. Nanti dibawa naik," kata Tama membuat wajah Ratna kembali berbinar.
"Bener?"
"Iya bener. Mas lihat ada toko roti tadi kita lewat," kata Tama.
Ratna kemudian meraih lagi mie instan yang diambilnya tadi, snack, coklat juga mengurangi apa yang mereka beli. Ratna mempertahankan coklat bar, permen mint, dan keripik kentangnya sedangkan makanan ringan lainnya dia kembalikan ke raknya masing-masing. Tama hanya bisa tertawa kecil kemudian menaikkan keranjangnya ke atas meja kasir agar dihitung.
Tama menepati janjinya untuk membelikan Ratna donat. Setelah itu mereka baru menuju ke Pelabuhan. Tama melihat Ratna sedikit memucat ketika Brian mulai berjalan ke arah dermaga mendekati kapal yang akan membawa mereka menyeberang. Kapal itu memang sangat besar jadi wajar saja Ratna merasa takut dan kecil. Tama sudah pernah merasakannya, makanya dia bisa sedikit lebih santai. Dia menggenggam tangan Ratna yang terasa dingin. Dengan ibu jari dia mengelus punggung tangan Ratna karena tidak banyak juga yang bisa dia lakukan.
"Ngantuk Dek?" tanya Tama.
"Nggak tau deg-degan aja rasanya," jawab Ratna.
__ADS_1
"Tahan sebentar ya, habis ini kita masuk kapal baru kamu kalau mau istirahat tidur," kata Tama diangguki oleh Ratna.
Coba deh kamu lihat kesekeliling. Dibawa santai, bismillah semua akan baik-baik aja," kata Tama sekali lagi menenangkan istrinya.
Tama dan Ratna sedang menunggu antrian untuk masuk ke dalam kapal. Berhubung mereka memiliki tiket VIP, jadi mereka didahulukan dan diutamakan. Tidak butuh waktu berjam-jam hingga Tama akhirnya bisa memasukkan Brian dalam lambung kapal dan memarkirnya di tempat yang sudah disediakan. Ratna mulai membereskan barang bawaannya dibantu oleh Tama. Tama membawa backpack berisi perlengkapan mereka, juga tas snack dan air minum sedangkan Ratna menenteng tasnya juga tas laptop karena berbahaya jika ditinggalkan di dalam mobil. Tama lebih dulu mengambil kunci kamarnya lalu segera menuju ke kamar agar Ratna bisa segera istirahat. Dia juga sudah lelah sebenarnya. Dia harus bisa menjaga staminanya karena perjalanan mereka baru saja dimulai sekarang.
...***...
"Waw, keren banget Mas. Ini beneran ada di kapal atau kita lagi di hotel sih?" kata Ratna yang kagum dengan interior kapal.
Tama tersenyum, setelah meletakkan tas dan bawaannya di sofa, dia menyusul Ratna yang sedang berusaha menatap keluar melalui jendela padahal yang dia lihat hanya hitam saja karena memang sudah malam.
"Mas, kita baru akan berangkat besok pagi tapi kenapa kita sudah disuruh masuk dari malam sih?" tanya Ratna.
"Karena proses untuk bongkar muat akan butuh waktu berjam-jam. Tadi saja sebelum bisa masuk ada sekitar 1 jam kita nunggu, kan? Di belakang kita masih mengantri banyak Dek, dari yang mobil-mobil kecil sampai truk dan bus penumpang," kata Tama menjelaskan pada istrinya yang belum punya pengalaman sama sekali dengan transportasi laut.
"Mas mau jalan-jalan boleh nggak sih?" tanya Ratna.
"Boleh, yuk kalau mau jalan-jalan keliling kapal. Sekalian lihat pemandangan luar dari dek biar kamu nggak suntuk," ajak Tama.
Tama mengajak Ratna berkeliling, menuju ke lobby, ke cafetaria, ke minimarket, mengenal semua fasilitas yang ada di dalamnya kemudian mereka melangkah ke arah dek yang memperlihatkan langsung proses bongkar muat di bawah sana.
"Tuh lihat antriannya. Beruntung kita bisa lebih dulu masuk, jadi kamu nggak harus emosi karena suasananya pasti ribet banget di bawah," kata Tama menunjuk antrian kendaraan yang akan memasuki kapal.
"Segitu banyak diangkut semua? Nanti kalau kapalnya berat terus nggak bisa mengapung gimana Mas?"
"Nggak akan sayang. Kan kapalnya sudah melalui uji kelayakan yang prosesnya panjang banget. Di setiap sudut juga banyak jaket keselamatan. Semuanya sudah diperhitungkan dengan baik. Kamu nggak usah khawatir. Cukup nikmati saja indah ciptaan Tuhan," kata Tama.
Tama dan Ratna menikmati waktu mereka berdua dengan tenang sambil mengamati hiruk pikuk kegiatan di dermaga juga di kondisi malam kota Balikpapan dari atas kapal. Rasa berat semakin terasa, mengingat semua momen kebersamaan mereka di sini, yang tidak akan mampu diulang lagi. Tapi setidaknya Ratna bahagia, hari yang dia nantikan akhirnya datang lagi. Pada akhirnya dia bisa kembali ke tanah kelahirannya, kembali pada suasana kampung halamannya dan bergabung kembali dengan sahabat dan keluarganya.
__ADS_1