
Proses pindah tugas Tama tidak mengalami kendala, bahkan Ratna suah lebih dulu mendapatkan tempat kerjanya yang baru. Semalam dia dikabari oleh Dipta jika di rumah sakit tempat sahabat Ratna selama kuliah itu sedang membuka lowongan dokter bedah. Ratna bahkan kembali ke Jawa lebih dahulu untuk mengurus beberapa administrasi di sana. Lagi-lagi Tama ditinggalkan seorang diri di sini. Tidur bersama BonBon dalam kesendirian gelapnya malam. Sejak tadi Tama masih belum sanggup memejamkan matanya padahal jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Dia hanya bisa scroll instagram dan bolak-balik membuka tutup akun milik Ratna.
"Cantiknya istriku," gumam Tama melihat photo profile Ratna yang terlihat cantik tersenyum ke arah kamera berbalut sneli putih bersih di tubuhnya.
"Udah tidur belum ya sayangku?" tanya Tama pada dirinya sendiri kemudian dia berakhir mengirim pesan pada Ratna.
Tak terduga ternyata Ratna membalas pesannya. Dia bilang juga tidak bisa tidur di rumah. Padahal dia kan pulang ke rumah orang tuanya. Tama memutuskan untuk video call dengan istrinya dan langsung saja diangkat.
"Bunda niat ya menggoda," kata Tama yang melihat pakaian istrinya cukup terbuka.
"Aku nggak godain kamu ya. Aku pake baju lengkap tuh," kata Ratna dengan sedikit berbisik karena dia takut membangunkan kedua orang tuanya yang sudah terlelap.
"Lengkap tapi kancing kebuka. Dek, kalau aku pengen main sama siapa nggak ada kamu. Tutup dulu itu," keluh Tama.
"Napsuan banget sih," cibir Ratna yang mulai menutup kancing pakaiannya. Padahal hanya terbuka satu buah paling atas sisanya masih terkancing rapi.
"Biarin sih napsu ke istri sendiri. Kalo aku napsunya ke BonBon nanti kamu marah."
"Ya Allah Mas ngenes banget kaya istrimu udah nggak sanggup aja mainnya malah sama BonBon. Sabar ya mas cuma 3 hari kok. Tapi masa aku baliknya pas weekend sih Mas, tiketnya mahal," kata Ratna.
"Nggak papa, mentok-mentok cuma naik 150 ribu. Balik ke sini nggak usah bawa apa-apa ya. kopermu tinggal aja Dek," kata Tama.
"Nggih Mas."
"Dek tidur yuk. Udah malam lho."
"Temenin toh," minta Ratna.
__ADS_1
"Iya ini tak temenin. Yuk tidur yuk. Kutemenin sampai kamu tidur."
Tama dan Ratna terus mengobrol hingga akhirnya Ratna tidak lagi konek dengan apa yang dibicarakan oleh Tama. Ratna juga sudah mulai ngelindur dan bergumam tidak tentu arah. Tama menghentikan ucapannya. Dia memilih mengamati Ratna yang mulai memejamkan mata dengan mulut yang terus bicara. Sedetik dua detik akhirnya Ratna tertidur juga. Handphone sudah terlepas dari genggaman Ratna dan terjatuh tepat di sebelah tubuh Ratna yang sudah tertidur.
"Selamat tidur bhayangkariku," kata Tama sebelum menutup telponnya.
...***...
Ratna memadatkan semua kegiatannya. Mulai pagi ini dia sudah pergi bahkan sebelum matahari memunculkan dirinya. Ratna berangkat menggunakan motor lamanya Sasa. Seorang diri dia pergi ke Jogja. Lumayan untuk nostalgia ketika dulu dia masih mahasiswa dan sering pulang pergi dengan motornya sendiri. ya si Vega itu saksi bisu perjuangannya menjadi seorang dokter dari pertama kali menginjakkan kaki di fakultas kedokteran tercinta hingga dia saat ini sudah berhasil menjadi seorang dokter spesialis.
Ratna meminta bantuan Theo hari ini beruntungnya Theo sudah bisa bangkit dari kesedihannya. Walaupun masih terbersit satu kesedihan besar di raut wajahnya tapi setidaknya dia masih kuat menghadapi hari esok. Bukan hanya demi dia tapi juga demi Tio anak semata wayangnya.
"Kamu naik aja ke lantai 3. Aku tunggu di depan lift nih," kata Theo.
Ratna dengan mudah bisa menemukan Theo yang berdiri sambil menatap dinding kaca yang membuat pemandangannya tembus ke luar. Theo mengantar Ratna ke bagian HRD, menemaninya tes wawancara, pengecekan berkas dan lain sebagainya.
Ratna sebenarnya merasa gusar. Dia bukan satu-satunya yang mendaftar untuk mengisi kekosongan itu. Ada beberapa yang lain yang kemampuannya tidak kalah mumpuni jika dibandingkan Ratna yang masih menjadi dokter madya tahun pertama. Walaupun agak nakal juga dia karena Ratna mengandalkan Jay sebagai anak dari pemegang saham terbesar rumah sakit ini. Tapi mau bagaimana lagi, cari kerja itu sulit. Toh bukan dia yang memohon pada sahabatnya, dia hanya ditawari.
Selepas maghrib Ratna sudah sampai di rumah kedua orang tuanya lagi. Besok dan lusa dia masih harus mengurus surat domisili, dan melunasi uang sewa kontrakan yang akan ditempati oleh Tama dan Ratna sementara rumah mereka direnovasi. Ratna masih harus kembali lagi ke Jogja, jadi ketika dia sampai di rumah dia hanya makan malam dan berkumpul dengan keluarganya sebentar lalu langsung masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Ratna langsung tertidur begitu kepalanya menyentuh bantal. Dia bahkan sudah tidak mengangkat telpon dari suaminya yang sebenarnya ingin bertanya di mana Ratna menyimpan seragam hitamnya.
"Duh Pratama Aji kalau ditinggal istri auto kacau. Ini seragam belum kecuci lha besok udah harus dipake, gimana ini," kata Tama yang terus mengutuk dirinya sendiri.
"Dah lah cuci kering langsung setrika. Bodo amat ah," final Tama.
Mau bagaimana lagi, dari pada dia menggunakan pakaian yang tidak dicuci, turun wibawa dia dihadapan anak buah. Mana Tama harus melatih bintara baru yang masuk kemarin.
"Nggak papa lah, cuma dipakai apel terus ganti baju olahraga."
__ADS_1
Tama merasa puas dengan ide cemerlangnya yang berhasil mengeringkan seragam itu. Walaupun sekarang dia mencium sedikit bau gosong, dia buru-buru meraih pengharum ruangan di sudut meja rias Ratna kemudian menyemprotkannya ke seluruh ruangan.
"Ok perfect."
Tama menggantung pakaiannya di dalam lemari kemudian dia melangkah naik ke atas tempat tidurnya. Dia lebih dulu mengecek apakah Ratna membalas pesannya atau barang kali telpon tapi ternyata tidak sama sekali. Ah sudahlah mungkin dia sudah lelah setelah menyelesaikan semua urusannya hari ini. Tama tiba-tiba ingat, dia belum mencoret tanggal hari ini. Dia kemudian melangkah keluar untuk mencoret tanggalan yang digantung di dinding dekat dengan kulkas.
"Uhuy, 2 minggu lagi," kata Tama melihat sudah separuh jalan dia mencoret tanggal demi tanggal setiap harinya.
Tama memang sudah mulai lepas tanggung jawab tapi dia masih tidak tega jika Nesya harus mengerjakan semuanya seorang diri. Toh SK pindah tugasnya baru akan turun minggu depan jadi tidak masalah jika dia masih ikut campur dalam urusan kantornya yang ada di sini.
...***...
Hari ini Tama akan menjemput Ratna di bandara. Sudah semangat dia sejak pagi. Dia bahkan sudah pergi sejak pagi buta karena Ratna akan mendarat sekitar pukul 5 pagi jadi Tama sudah berangkat bahkan sebelum subuh. Tama sudah tidak sabar akan bertemu lagi dengan istrinya. Ketika tama melihat istrinya keluar dari bandara dia langsung merentangkan tangannya. Tadinya Ratna masih menerima baik perlakuannya. Dia ikut merentangkan tangan kemudian berlari ke arah Tama. Baru Tama akan menerima pelukan dari Ratna, tiba-tiba istrinya berhenti melangkah karena melihat kondisi seragam Tama.
"Mas seragammu kok warnanya memudar?" tanya Ratna.
"Hah? nggak kok."
"Ngaku hayo kamu nyetrikanya pake setrikaan panas ya?"
"Nggak kok. Aku nyetrikanya persis kaya kamu kalo setrika," kata Tama.
"Bohong. Ngaku aja, aku tahu kok," kata Ratna.
"Anu, itu Bun..., aku tuh lupa nyuci seragamnya, tapi kan mau dipakai jadi aku cuci, masuk pengering, langsung kusetrika," aku Tama.
"Pinternya perwiraku," kata Ratna sambil geleng-geleng kepala melihat Tama hanya bisa nyengir.
__ADS_1