
Sepulang dari pemakaman Ratna terus meracau. Dia bahkan berhalusinasi membuatnya kembali histeris. Dia bilang dia mendengar tangisan Aksara. Dia mendengar anak itu meraung kesakitan. Jujur Tama merasakan hal yang sama, dia juga mendengar tangisan itu. Tapi ketika melihat istrinya begini kacau membuatnya seakan gila. Tidak mampu lagi tangisannya dia tahan. Deru air matanya bahkan sama derasnya dengan sang istri.
"Mbak Ratna? Mbak Ratna nafas Mbak...!" kata Sasa yang pertama kali menyadari jika nafas kakak perempuannya melemah dalam pelukan sang suami.
"Mas Dipta! Mas Theo! Siapapun bantu Mbak Ratna, please. Mbak Ratna nggak nafas," kata Sasa panik memanggil teman-teman kakaknya yang sedang duduk di depan membantu menata tempat untuk tahlilan.
Theo dan Dipta langsung berlari masuk dan meminta semua yang ada di kamar sedikit memberi ruang. Ketika kedua dokter itu masuk, dia melihat Tama berusaha menyadarkan istrinya yang tetap histeris walaupun nafasnya pendek dan menderu cepat. Dia tidak berani melepaskan pelukannya karena takut jika Ratna akan semakin ketakutan jika jauh darinya.
Dipta mencoba mencari denyut nadi Ratna yang begitu cepat. Theo baru saja masuk kembali setelah mengambil tabung oksigen dan selangnya di luar. Dia segera membantu Dipta memasang oksigen di hidung Ratna walaupun dia terus memberontak. Tama menekan kedua tangan Ratna sedangkan Dipta dan Theo memasangnya.
"Bang, Ratna dibawa ke rumah sakit saja ya. Detak jantungnya terlalu cepat. Bahaya kalau dia terus kaya gini," kata Dipta.
"Abang ikut saja ke rumah sakit. Yang di rumah biar aku yang urus. Sasa sama Nata juga, temani Bang Tama ya," kata Gandhi.
Tama mencoba mengangkat tubuh Ratna, berbeda dari biasanya. Rasanya hari ini berat sekali. Tidak peduli sebesar apa tenaga dia kerahkan dia tidak mampu mengangkat istrinya. Theo melihatnya kemudian menggantikan Tama menggendong Ratna masuk ke dalam mobil Dipta yang sudah siap di depan pintu. Dipta yang membawa mobilnya ditemani oleh Theo sedangkan di belakang mobil ini persis mengikuti Sasa yang berboncengan dengan Nata.
...***...
Di rumah, giliran Ibu yang lemas. Beliau tidak mampu berdiri melihat kondisi putri sulungnya seperti itu. Kehilangan putra yang sudah lama diidam-idamkan setelah mengalami kepahitan yang begitu panjang. Bapak yang bertugas menenangkan Ibu, sedangkan Gandhi dan Sani ada juga di sana menemani.
Rekan-rekan Tama masih banyak di sana termasuk Bayu dan Tri yang selama ini menjadi orang kepercayaan Tama. Lilis dan Ela membantu menata hidangan untuk para pelayat sebagai rasa terima kasih telah membantu keluarga yang sedang berduka. Lilis dan Ela sedang membuat teh di belakang juga ikut menangis. Lilis apa lagi. Rasanya seperti dia sendiri yang kehilangan.
Selesai dengan kegiatannya Lilis langsung mendekati suaminya dan menangis dalam pelukannya. Hatinya campur aduk tidak karuan. Dia pernah begitu dekat dengan Ratna, dia pernah berseteru hebat dengannya dan dengan kelapangan dada berbaikan dan kembali bersahabat. Setiap yang dirasakan Ratna baik dia katakan atau tidak Lilis seakan bisa membacanya. Dia selalu mampu merasakan suasana hati sahabatnya itu.
__ADS_1
"Udah dong, Mama jangan ikut-ikutan nangis ya. Gimana? Mama mau sama Ratna saja di rumah sakit, hmm?" kata Bang Chandra menenangkan istrinya.
"Inginku begitu Pa, aku mau ada sama Ratna," kata Lilis.
"Kalau begitu kita pamit ya, Abang antar kamu ketemu sama sahabatmu. Jujur Abang juga sama khawatirnya pada Aji. Ayo, kita pamit dulu sama keluarga," ajak Bang Chandra.
Bang Chandra dan Lilis menuju ke rumah sakit. Mereka berdua langsung mencari tahu di mana Ratna sekarang, apa masih di ICU atau sudah dipindahkan ke bangsal. Bang Chandra dan Lilis sekalian juga menanyakan kondisinya seperti apa.
"Mbak Ratna sudah tenang, alhamdulillah. Tapi masih halusinasi, pandangannya juga masih kosong," kata Sasa.
"Dek Sasa sama Dek Nata kalau mau kembali ke rumah silahkan, Aji dan Ratna biar kami berdua yang menemani. Selesaikan dulu urusan di rumah, kami akan terus di sini. Jadi Adek berdua tidak perlu buru-buru," kata Bang Chandra.
"Nggak papa Sa, kamu kenal sama Mbak Lilis kan? Mbak Lilis akan jaga Mbak Ratna, janji."
"Beneran Mbak?" tanya Sasa masih ragu.
"Makasih ya Mbak, makasih banget sudah ada buat Mbak Ratna di saat seperti ini. Maaf juga, maaf Sasa sering jelek-jelekin Mbak dulu. Maaf banget Mbak," kata Sasa.
"Cup. Jangan nangis. Suasananya sudah sedih jangan kamu tambah-tambahi lagi. Masa lalu ya sudah biar berlalu. Sana kalian berdua pulang, hati-hati ya," kata Lilis memeluk adiknya Ratna.
Sepulangnya Sasa dan Nata, Lilis masuk ke dalam sedangkan Bang Chandra lebih dulu keluar untuk membeli makan malam. Dia tahu kalau pasutri itu sudah tidak makan apapun sejak kemarin. Bang Chandra hanya membeli makanan yang kira-kira akan menggugah selera sahabatnya juga beberapa roti dan susu. Dia juga tidak lupa memberi kabar pada orang rumah kalau dia dan istrinya tidak akan pulang ke rumah malam ini jadi anak-anak tidak perlu bingung kenapa Papa Mamanya belum juga pulang.
"Hey, istrimu sakit jangan kamu ikutan sakit. Itu badanmu sudah mulai demam. Ini dimakan dulu, sini biar Ratna ditemani Lilis dulu," bujuk Bang Chandra.
__ADS_1
"Bang Aji makan dulu, mumpung Ratna sudah tidur. Biar aku yang duduk di sebelahnya," kata Lilis. Tama masih menggeleng membuat Bang Chandra menghela nafas.
"Jangan paksa aku nyeret kamu ya Ji. Aku tahu kamu lagi sedih tapi kalau kamu ngeyel kaya gini terus sakit siapa yang akan melindungi istrimu? Kamu pernah bilang sama aku kalau kamu akan melindungi istrimu. Kalau kamu memang masih mau menepati janjimu itu ya makanlah barang sedikit. Isi tenagamu," kata Bang Chandra.
Bang Chandra meraih lengan Tama kemudian membantunya untuk berdiri. Dia dan Tama kemudian duduk untuk makan. Bang Chandra juga membantu membukakan bungkusannya sehingga Tama tidak kesulitan. Dia melihat sendiri jika Tama untuk menggenggam sendok saja hampir tidak mampu. Bang Chandra kembali membantunya. Dia membantu Tama memotong telurnya, kemudian menyendok sesuap nasi. Dia bantu Tama menggenggam sendoknya dan tetap membantu hingga makanan itu masuk ke dalam mulut sahabatnya.
Dia boleh saja seorang perwira. Dikenal tegas dan berani dalam setiap tugasnya. Dia juga diteladani oleh banyak anak buahnya sebagai seorang instruktur yang begitu humanis namun disiplin. Banyak yang ditiru darinya, entah caranya berbicara, caranya memberikan perintah, dan bahkan cara dia menghargai istri dan putranya. Sebagai seorang perwira kepolisian dia dikenal begitu.
Sedangkan sebagai pemimpin keluarga Bang Chandra yakin jika Tama adalah sosok kepala keluarga yang begitu hangat, bersahabat dan satu yang dia sendiri juga berusaha menirunya adalah bagaimana Tama selalu menahan emosinya. Sepenat apapun Tama tidak pernah emosinya dia bawa sampai ke rumah. Apalagi sampai membentak istrinya.
Banyak yang bilang kalau Ratna adalah kelemahan terbesar Tama, tapi bagi Bang Chandra dan Lilis, Ratna bukanlah kelemahan. Dia justru merupakan semangat dan motivasi hidupnya. Beberapa kali Bang Chandra bertugas bersamanya, dia selalu menyebut istrinya sebagai penyemangatnya.
"Aku nggak boleh terluka Bang. Aku sudah janji sama istriku," Bang Chandra ingat betul kalimat itu. Tama mungkin adalah juniornya, tapi bagi dirinya Tama adalah salah satu tokoh yang patut dijadikan contoh.
Bahkan detik ini pun dia masih memegang janjinya itu. Walau beberapa kali mual dan tidak berselera, dia tetap memaksakan makanan itu masuk ke dalam tubuhnya. Dia bahkan tidak segan-segan menelan satu butir paracetamol agar tubuhnya tidak melemah. Bang Chandra bahkan berani bertaruh, walau mungkin kedua kaki dan tangan Tama sudah tidak menyatu dengan badannya, dia masih akan tetap tersenyum dan berusaha baik-baik saja di hadapan istrinya.
Karena efek samping dari paracetamol yang diminumnya, Tama akhirnya terlelap masih dalam posisi duduk di sebelah istrinya. Bang Chandra meraih selimut dari bed sebelah kemudian dia selimuti tubuh sahabatnya kemudian dia duduk di sebelah istrinya yang juga sudah mulai mengantuk.
"Bang Aji sama Ratna hebat banget ya Pa," kata Lilis.
"Cinta mereka berdua memang ada di level yang berbeda sama kita-kita. Abang mungkin nggak bisa mencintai kamu sebesar Aji mencintai istrinya, tapi Abang akan mencintaimu sebanyak yang Abang bisa," kata Bang Chandra.
"Bentuk dan rasa cinta setiap pasangan itu berbeda-beda Bang. Ada pasangan yang saling mencintai lewat perdebatan, ada yang saling mencintai karena kekompakan, dan ada juga yang saling mencintai karena pernah saling membenci. Menurutku cinta itu universal tergantung bagaimana kita mendefinisikannya. Kisah yang mengiringi rasa cinta itulah yang membuat cinta menjadi indah. Karena dengan saling mencintai kita bisa belajar banyak hal," kata Lilis.
__ADS_1
"Ma, kamu nggak mau jadiin kisah mereka berdua jadi novel barumu, kan?" tanya Bang Chandra pada istrinya. Dia hafal dengan kebiasaan istrinya ini. Kalau Lilis Malati sudah bicara dengan kata-kata indah begini, artinya di kepala dia sedang penuh dengan ide untuk dia torehkan dalam tulisan.
"Kalau aku dapat restu aku akan buat kisah mereka Bang. Tama dan Ratna. Kisah cinta yang sederhana tapi berdampak begitu luar biasa," kata Lilis dengan mata kembali berkaca-kaca.