
Bagas langsung menemui Tama. Dia sudah bertekad untuk menerima apapun yang akan dilayangkan oleh sahabatnya itu. Dia merasa bersalah sudah membuat sahabatnya kacau hingga seperti ini. Nesya sempat menahan Bagas untuk tidak masuk, tapi Bagas tetap bersikeras. Dia harus selesaikan sekarang juga. Jika tidak dia tidak jamin apa yang akan terjadi pada Tama dan istrinya karena Bagas kenal senekat apa Zahra.
"Ji, kalo gue bilang mau bantu lo menjarain Zahra lo bakal percaya nggak?" tanya Bagas tiba-tiba.
"Percaya sama lo setelah semua yang lo lakuin? Gue nggak bodoh."
"Nggak peduli lo bakal percaya sama gue atau nggak. Intinya gue cuma mau bilang, Zahra yang udah bikin istri lo sampe kaya gini, dan satu lagi Zahra udah bohongin kita semua. Dia nggak lumpuh,"kata Bagas jelas membuat Tama terdiam.
"Apa?"
Bagas akhirnya menjelaskan dengan detail bagaimana semua ini bisa terjadi. Dengan sisa tenaganya dia memohon izin pada komandan agar ada satu anggota yang menjaga Ratna di rumah sakit. Beruntungnya Pak Slamet memberikan izin dan mengirim seorang polwan untuk menjaga Ratna. Bagas kembali ke rumahnya sedangkan Tama membawa surat perintah penyelidikan datang ke rumah sakit untuk meminta izin melihat rekaman cctv. Sekitar 3 jam lamanya Tama akhirnya menemukan seseorang yang mencurigakan terekam oleh cctv. Tama membawanya sebagai barang bukti kemudian dia pergi ke polres untuk melapor.
Setelah melaporkannya pada pihak polres dan memastikan tim penyidik sudah mulai bergerak, Tama kembali ke markas. Ketika dia sampai di markas, Pak Leo langsung mendekatinya.
"Aji. Kemana saja kau? Ini pihak rumah sakit menelpon katanya istrimu sudah bisa keluar dari ICU. Dia sudah kembali ke bangsalnya," kata Pak Leo pada Aji.
"Alhamdulillah ya Allah, maaf Ndan saya habis dari polres ngurus kasusnya istri saya," kata Aji.
"Kasus?"
"Istri saya sakitnya bukan karena kondisi dia yang memang menurun tapi ada indikasi keracunan suatu obat yang buat dia gagal nafas. Saya awalnya mikir ini malpraktek, nggak tahunya Bagas datang bawa pengakuan. Ya sudah langsung saya selidiki saja."
"Kamu yakin Ji?"
"Insyaallah yakin. Saya siap terima konsekuensinya kalau Bagas memang terbukti bersalah," kata Aji.
"Kalau gitu kamu mau saya mutasi?" tanya Pak Leo.
"Maksudnya?"
"Barusan Dansat Polda DIY telpon saya, katanya kekurangan personel. Mereka kan habis kehilangan 2 perwira yang naik pangkat dan ditarik ke Mabes. Kalau kamu mau saya coba ajukan namamu untuk pindah ke sana," kata Pak Leo.
"Oh jelas tidak menolak Pak. Kalau boleh saya mau mengajukan diri," kata Aji.
"Yasudah, kamu siapkan administrasinya. Saya tunggu."
"Siap komandan," jawab Tama dengan hormat.
Akhirnya, mimpi dan doanya untuk membawa Ratna pulang akhirnya terjawab juga. Dia tidak tega kalau harus melihat Ratna terus-terusan di sini. Karena sudah dipastikan kalau Tama akan pindah setelah menyelesaikan tugas ini, dia lebih dulu memindahkan Ratna ke Jogja. Tama mendekati Ratna dan dengan hati-hati bicara padanya. Kondisinya memang sudah membaik tapi dia masih belum sanggup lepas dari kanula nasalnya. Dia juga masih belum sanggup melakukan banyak hal karena kepalanya masih begitu berat.
__ADS_1
"Dek, coba tebak Mas bawa kabar apa," kata Tama yang dengan senyum datang mendekati istrinya yang masih terbaring di brankar.
"Apa?" jawab Ratna pelan.
"Mas akan dipindahtugaskan ke Jogja. Setelah kasusmu selesai, kita bisa pulang. Kamu masih mau kan pindah ke sana?"
"Alhamdulillah Mas."
"Mas berencana untuk mindahkan kamu duluan ke Jogja. Bagaimana menurutmu Dek?" tanya Tama.
Ratna menggeleng, "Bareng aja Mas, aku nggak mau pisah-pisah."
"Yakin?"
"Yakin. Aku bisa berhenti kerja sekarang tapi aku nggak mau ke sana duluan. Aku maunya kita bareng-bareng dari sini. Aku ke sini sama Mas, ketika aku keluar dari sini pun aku harus sama Mas," kata Ratna membuat Tama tersenyum bangga pada istrinya.
"Yasudah kalau begitu kamu yang sehat ya. Semangat yuk, cepet sehat biar bisa segera ngurus pindahan. Mas nggak bisa janji memang kalau di sana nanti kehidupanmu akan lebih baik dibandingkan di sini, tapi setidaknya kamu dekat sama Bapak dan Ibu. Di sana juga ada teman-temanmu yang Mas yakin akan bisa nemani kamu. Biar kamu nggak sendirian lagi," kata Tama.
"Iya Mas," jawab Ratna.
...***...
"Zahra, mau sampai kapan kamu bersembunyi?" tanya Bagas pada Zahra yang saat ini sudah tidak pernah lagi menggunakan kursi rodanya.
"Aku? Bersembunyi dari apa? Kau sendiri yang bilang kan akan melindungiku. Lakukan tugasmu, kau suamiku kan?" katanya enteng.
"Kau gila. Aku menyesal sudah menikahimu," kata Bagas.
"Menyesal? Kau sendiri yang memohon untuk aku bisa menerimamu dan sekarang kau menyesal?"
"Berhenti Zahra. Hentikan semua ini. Kau sudah terlalu banyak berubah. Tidak seharusnya kamu begini. Aku menyayangimu, aku mencintaimu, itulah kenapa aku tidak mau kau terjerumus terlalu jauh. Aji sudah bukan milikmu. Lepaskan dia."
"Lepaskan? Maksudmu aku harus melepaskan Aji dan menerimamu begitu? Kau sendiri yang bilang kan, menerima seseorang yang tidak kau cintai adalah hal yang menyakitkan? Kau ingin aku merasakan seperti itu?!"
"Aku tidak pernah mengatakan atau bahkan memintamu untuk menerimaku. Aku hanya minta kau melepaskan Aji itu saja. Sulitkah? Dia sudah bahagia bersama istrinya. Sebagai seorang sahabat aku tidak mampu melihat Aji terpuruk begitu dalam melihat istrinya terkapar tidak berdaya begitu."
"Tapi aku tidak akan pernah berhenti. Karena apa? Karena aku mencintai Aji," kata Zahra.
"Maka aku akan dengan sangat terpaksa menghentikanmu. Kuterima segala resikonya," kata Bagas.
__ADS_1
Dia langsung berlari masuk ke dalam kamar dan menyita semua barang milik Zahra. Handphone, passport, bahkan dia melihat ada selembar tiket menuju ke Berlin atas nama Zahra beserta sebuah amplop coklat berisi cek. Dia sita semuanya tanpa sisa. Dia bahkan tidak segan merobek amplop coklat itu beserta isinya.
"Kau mau kabur ke luar negeri? Jangan harap. Minggu depan kau ikut denganku ke persidangan. Dan sebelum itu, akan kutitipkan kau di penjara," kata Bagas.
Malam itu juga Bagas membawa Zahra secara paksa ke penjara polres. Walaupun dia terpaksa mengakui jika dia ikut ambil bagian dalam menyembunyikan tersangka dan membuat dirinya terseret. Tama yang mendengar berita itu dari Nesya langsung berlari meninggalkan Ratna yang baru saja tertidur. Tama melihat sendiri bagaimana kedua orang yang dikenalnya dengan baik itu mendekam dibalik jeruji besi.
"Gas, lo yang...,"
"Sorry Ji, gue ingkar janji. Gue yang nyembunyiin Zahra biar lo nggak bisa nangkep dia," kata Bagas.
"Gue masih sayang sama dia Ji, dan hal itulah yang buat gue jadi bodoh sampe gue tutup mata. Gue harusnya sejak awal tahu kalo Zahra nggak akan mampu berubah, tapi gue masih ngotot percaya dia mampu berubah. Gue yang salah. Andai gue tegas sama diri gue sendiri, dari awal semua ini nggak bakal kejadian," kata Bagas lagi.
"Ji, sebelum gue pergi gue mau ngomong sesuatu sama lo."
"Zahra nggak sendirian. Dia punya backingan yang cukup hebat," kata Bagas.
"Maksud lo?"
"Menurut lo dari mana Zahra bisa punya obat itu? Yang disuntikkan ke istri lo itu bukan obat sembarangan, Ji. Gue juga nemuin beberapa barang bukti lagi di rumah gue. Ini alamatnya, lo bisa bawa tim penyidik ke sana dan periksa semuanya," kata Bagas sembari menyerahkan secarik kertas pada Tama kemudian dia meminta Tama untuk segera pergi dari sana.
Hati Tama tercabik-cabik. Bukan hanya karena melihat kondisi Bagas yang masih memakai seragamnya harus mendekam di dalam penjara, dia juga melihat Zahra sudah duduk tanpa tenaga di pojok ruangan. Tama sudah memiiki keyakinan, jika dia tidak bisa menyelamatkan Zahra, setidaknya dia masih mampu merangkul Bagas untuk kembali tapi nyatanya sahabat karibnya itu memilih untuk menyerah dan melepaskan seragamnya begitu saja.
Persidangan kedua sudah final. Zahra dijatuhi hukuman begitupun dengan Bagas. Tama masih cukup beruntung sahabatnya itu hanya dipecat dari kesatuan namun tidak sampai di penjara. Setidaknya Bagas masih bisa melanjutkan hidupnya. Untuk memperbaiki apa yang sudah dia perbuat. Tama memesankan tiket untuk Bagas kembali ke kota asalnya, dia juga memutuskan untuk sementara waktu memberikan perlindungan pada Bagas hingga setidaknya dia memiliki kekuatan untuk berdiri sendiri.
"Kenapa lo masih baik sama gue?"
"Permintaan istri gue Gas. Lagian lo dulu sahabat gue. Sampai sekarang pun gue masih akan anggap lo sahabat gue. Jadi jangan pernah sungkan minta tolong sama gue," kata Tama.
"Sebenernya gue heran sama lo Ji. Lo bisa nemu malaikat sebaik dia dari mana sih? Lo nggak pantes buat dia tau nggak," goda Bagas.
"Dia cuma ada satu di dunia dan itu buat gue. Pratama Aji. Jangan coba-coba lo rebut dia dari gue. Gue lobangin tuh kepala," kata Aji.
"Tapi Ji gue beneran pengen bilang makasih sama istri lo. Ada satu hari dimana dia datengin gue dan bilang sama gue. Gue itu laki-laki. Nggak pantes diperalat dan diperbudak perempuan. Gue juga salut sama dia. Dia punya rekam medisnya Zahra yang lama. Dia tahu sejak kapan Zahra dinyatakan sembuh dan nggak lumpuh. Tapi dia nggak langsung bawa itu ke elo. Dia malah bawa ke gue. Dia bahkan bilang selamat ke gue, dia bilang Zahra nggak lumpuh, jadi gue nggak perlu sedih," kata Bagas membuat Tama teringat senyum Ratna yang hilang beberapa minggu ini.
"Dah lah jadi melow gini. Gue pergi dulu Ji. Jagain baik-baik istri lo. Dan maaf buat apa yang udah gue sama Zahra lakuin ke elo dan istri. Gue nggak akan pernah minta lebih dari sekedar permintaan maaf," kata Bagas.
"Gue udah maafin Lo. Kalau istri gue bisa selapang itu dateng ke elo, gue bakal malu-maluin dia kalau gue nggak maafin elo. Berkabar terus ya Gas. Oh ya, lo dapet salam dari Cece. Katanya lo ditunggu buat main ke tempat dia," kata Aji yang kemudian melepaskan kepergian Bagas sahabatnya.
Tama memang kecewa tidak bisa mempertahankan Bagas dan Zahra yang merupakan sahabat-sahabatnya. Jika Ratna memiliki Dipta, Jay, Theo, dan Radea, Tama juga memiliki Bagas, Zahra, dan Cece. Mereka adalah empat sekawannya Akpol ketika itu. Tapi karena banyak kejadian tidak menyenangkan keempat-empatnya terpecah. Saat ini, mereka memiliki kesempatan untuk memperbaikinya lagi. Mereka sudah memperbaikinya, tapi untuk bersama kembali, agaknya akan sulit untuk diwujudkan. Setelah semua yang terjadi, mereka sadar jika mereka harus bisa melangkah ke jalannya masing-masing. Agar ketika mereka bertemu di persimpangan nanti, mereka senantiasa dalam kondisi baik.
__ADS_1