Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
73. Morning Sickness


__ADS_3

"Dek, Mas lupa bilang sama kamu. Hari ini di 0 km mau ada kampanye, lanjut sampai ke Gejayan. Akan ada arak-arakan juga, kalau bisa kamu nggak usah keluar dari area rumah sakit ya. Mas tugas, jadi maaf kalau Mas nggak bisa cepet balas pesanmu," kata Tama melalui telpon.


Ratna bisa mendengar deru suara sirine yang terus terdengar. Mungkin saat ini Tama sudah dalam perjalanan menuju ke lokasi, "Iya Mas, hati-hati. Nanti biar aku yang bilang sama Ibu juga," kata Ratna.


Selesai mendapat kabar dari suaminya, Ratna langsung mengabari Ibu, agar Ibu tidak kaget andai saja tiba-tiba kondisi di sekitar rumah menjadi ramai.


"Iya Bu. Nggak usah kemana-mana dulu ya, di dalam rumah saja. Aku pulang nunggu Mas jemput soalnya, nggak boleh pulang sendirian," kata Ratna.


"Ya hati-hati lho Nduk," jawab Bapak yang ikut dalam panggilan.


"Nggih Pak."


Ratna kemudian melanjutkan pekerjaannya. Beberapa jam kemudian, riuh suara arak-arakan motor yang diawali dengan sirine mobil patwal terdengar. Ratna sedang berada di pelataran rumah sakit untuk makan siang bersama Ela dan kedua putrinya. Walaupun tidak secara langsung lewat di hadapan Ratna, tapi suaranya cukup memekakan karena tidak sedikit yang menggeber-geberkan gas membuat suara bising. Indi saja sampai takut dan memeluk erat Mamanya ketika mendengar suaranya.


"Semoga semuanya berjalan lancar," kata Ratna.


"Aamiin.... Suamimu tugas ya Rat?"


"Iya, Brimob turun 2 tim untuk pengamanan lokasi. Semoga saja nggak berakhir rusuh," kata Ratna.


Kondisi di lapangan sempat keos karena satu dan lain hal, tapi karena tanggapan cepat dari pihak kepolisian, kerusuhan dapat segera dikondisikan. Sudah hampir jam 8 malam ketika Tama kembali ke markas bersama anggota timnya. Dan sudah jam 9 lebih ketika Tama sampai di rumah sakit untuk menjemput Ratna. Ratna yang terlalu lama menunggu akhirnya sampai tertidur dalam posisi duduk di kursinya. Tama bahkan sampai harus menuju ke ruang kerja Ratna untuk menemui istrinya.


"Maaf ya, Mas telat banget jemputnya," kata Tama setelah Ratna perlahan bangun.


"Nggak papa, Ratna paham kok. Yang penting kondisinya sudah aman," kata Ratna.


"Insyaallah. Pulang yuk sudah malam," ajak Tama.


Baru Ratna akan berdiri, tiba-tiba kepalanya pusing dan pandangan matanya menggelap membuatnya terjatuh kalau bukan karena Tama meraih tubuhnya dan menyangganya dengan segera. Tama perlahan mendudukkan kembali istrinya sedangkan Theo yang kebetulan ada di sana ikut kaget melihat Ratna. Theo bergegas mengambilkan air minum untuk Ratna. Tama terlihat begitu khawatir karena wajah Ratna yang tiba-tiba pucat. Theo juga akhirnya memeriksa dirinya, tapi belum sampai Theo menyentuhnya Ratna sudah menepis tangan Theo.

__ADS_1


"Aku nggak papa," kata Ratna.


"Kurang darah itu kamu sampai begitu. Bang, belikan tambah darah gih. Sama suruh makan," kata Theo.


"Ratna kamu belum makan?"


"Udah ya, tadi makan sama Ela sore," kata Ratna.


"Ya pantes kamu sakit. Makan itu sehari tiga kali, pagi, siang, malem, yuk pelan-pelan bangun kita cari makan dulu baru pulang," ajak Tama.


Tama mengajak Ratna pergi mencari makan, karena sepertinya Ratna tidak berselera Tama berinisiatif mengajaknya membeli semangkuk bakso di tempat biasanya. Tapi bukannya makan Ratna malah mual-mual. Begitu sampai di rumah dia juga sudah demam. Untung masih ada Ibu, jadi pekerjaan rumah ada yang membantu. Selesai mandi Ratna langsung tarik selimut dan tidak peduli lagi pada sekitar. Pagi berikutnya, Ratna pikir dirinya akan membaik, tapi nyatanya mual-mualnya jadi semakin parah. Ratna berlari ke kamar mandi dan langsung memuntahkan semua isi perutnya.


Tama dengan setengah sadar menyusul Ratna ke kamar mandi. Satu tangannya membantu Ratna menopang badan sedangkan tangan satunya lagi memijat tengkuk Ratna agar dia bisa rileks. Selesai berkumur dan membasuh mulutnya yang terasa pahit, Ratna mencoba untuk berdiri tapi tidak sampai dia berhasil menegakkan badannya dia sudah kehilangan kesadaran.


"Astagfirullah Dek..., Dek Ratna bangun...," kata Tama mencoba mengembalikan kesadaran Ratna.


"Kenapa Dek?" tanya Tama.


"Mas perutku kok sakit," keluh Ratna.


"Ketahan nggak?"


"Mas...," rintih Ratna lagi.


Tama langsung bangkit berdiri, mengganti pakaiannya lalu meraih jaket dan langsung membawa Ratna ke rumah sakit. Di rumah sakit, Ratna langsung dilarikan ke IGD dan ditangani oleh dokter yang jaga. Ada sekitar 10 menit Ratna diperiksa, Tama diminta untuk mendekat dan ikut melihat apa yang ada di dalam perut Ratna.


"Usianya sudah masuk minggu ke-6. Alhamdulillah janinnya sehat, ukurannya sesuai dengan usianya juga," kata dokter.


"Tapi kok istri saya sampai pingsan? Tadi ngeluh sakit perut juga kenapa ya?"

__ADS_1


"Bu Ratna cuma morning sickness biasa kok Pak, pingsan dan sakit perutnya mungkin disebabkan karena udara dingin atau karena mual. Saking kosongnya perut tapi muntah terus makanya sakit. Saya resepkan obat sama multivitamin ya, nanti tolong ditebus. Setelah ini saya bantu laporkan pada dr. Dipta agar dr. Ratna sementara bisa istirahat dulu. Nanti setelah infusnya habis silahkan boleh pulang dan bedrest dulu sampai kondisinya membaik," jelas dokter.


"Iya Dok, terima kasih," kata Tama sudah tersenyum sumringah.


Berita kehamilan Ratna dengan cepat menyebar ke departemen bedah membuat semuanya heboh. Selama Ratna di IGD, semua rekan kerja Ratna yang baru datang menyempatkan diri untuk menjenguk. Akhirnya Ratna tidak bisa istirahat dan memaksa Tama untuk mengajaknya pulang walaupun infus di tangannya belum habis. Sampai di rumah Ratna langsung masuk ke dalam kamarnya dan kembali tidur. Tama lebih dulu memastikan Ratna baik-baik saja baru dia bersiap untuk berangkat kerja.


"Dek, dipaksa makan dikit-dikit ya biar cepet sehat," kata Tama.


"Iya nanti, nggak sekarang. Aku pengen tidur dulu kepalaku pusing banget," kata Ratna.


"Nanti kalau kepingin makan apa chat aja ya, Mas beliin pulangnya."


"Mas, hari ini ada tugas keluar nggak? Kampanyenya masih?"


"Kampanyenya masih selama 1 minggu, tapi beda paslon. Mas hari ini nggak tugas. Karena tugasnya diambil alih sama timnya Bang Chandra. Mas standby di kantor ngatur personil," kata Tama.


Ratna mengangguk kemudian mencium tangan Tama dan langsung memejamkan matanya. Sebelum pergi, Tama lebih dulu mencium kening Ratna lalu membetulkan selimutnya. Sampai di kantor, Tama disambut oleh komandan yang turun tangan langsung mengatur personil bersama para ajudannya.


"Ndan, maaf terlambat. Habis ngantar istri ke rumah sakit," kata Tama.


"Santai saja. Tadi Rendi sudah bilang sama saya. Gimana istri sakit apa?" tanya Komandan Hendra.


"Nggak sakit ternyata Ndan, cuma lagi morning sickness. Alhamdulillah istri saya positif jalan 6 minggu," jawab Tama disambut senyum dan ucapan selamat dari komandan Hendra dan komandan Novan juga dari semua personil yang mendengar.


Setelah selesai mendapatkan ucapan selamat, Tama langsung berubah mode. Senyumnya langsung hilang ketika dia sudah melaksanakan tugasnya. Dia juga tidak segan menegur jika ada bawahannya yang tidak sigap. Tama bertugas menyiapkan tim bantuan beserta semua perlengkapannya andai saja terjadi sesuatu yang tidak diinginkan seperti kemarin.


"Gimana Ndan, water cannon apa mau dikeluarkan juga?" tanya Chandra pada komandannya.


"Jangan keluar kalau tidak ada aba-aba. Dari Samapta juga sudah ada kok. Yang penting disiapkan saja, jadi begitu dibutuhkan bisa langsung jalan," jawab Komandan yang langsung dilaksanakan oleh bawahannya.

__ADS_1


__ADS_2