
Sudah beberapa hari Tama dan Ratna saling diam. Ratna bahkan begitu terlihat menghindari Tama. Setiap pagi Ratna akan bangun lebih dulu, menyiapkan semua keperluan Tama lalu pergi. Ratna sebenarnya juga tidak begitu berniat menghindari suaminya begitu. Tapi dia juga belum memiliki waktu untuk bicara dengan Tama. Pekerjaannya sedang banyak-banyaknya. Mendekati akhir semester dia mulai banyak berkonsultasi agar dia segera bisa lulus dari pendidikan dokter spesialis.
“Dek, kalau masih capek nggak usah berangkat aja ya? Istirahat di rumah,” kata Tama pagi itu sebelum keduanya bersiap untuk berangkat ke TMP mengantar Bintara baru untuk berziarah di sana.
“Nggak papa kok,” kata Ratna.
“Ya tapi mukanya jangan ditekuk terus gitu dong. Maaf tempo hari Mas bikin kamu marah, tapi ayolah dek jangan marah kelamaan. Suasana rumah jadi nggak enak gini,” kata Tama.
“Aku nggak marah kok. Kata siapa aku marah.”
“Dek…, jelas banget kamu marah itu. Hey Ratna, kamu sudah berapa hari coba nggak ngomong sama Mas? Kalau bukan marah apa namanya?”
“Ya lagian Mas yang nyebelin. Emangnya salah aku minta maaf? Mas sendiri yang selalu bilang maaf dan terima kasih. Giliran aku minta maaf malah dimarahin. Lagian aku juga sebenarnya nggak salah. Buat apa juga aku minta maaf. Aku cuma nggak pengen suasana nggak enak kaya gini bisa terjadi. Makanya aku minta maaf tapi Mas malah marah.”
Tama terdiam mendengarkan penuturan Ratna. Untuk saat ini Tama akui dia salah. Dia yang terlalu menekan Ratna menjadi seperti yang dia inginkan. Dia mulai lupa pada janjinya untuk tidak menuntut apapun pada Ratna. Tama lupa, jika dia sudah pernah berjanji pada kedua orang tua Ratna jika dia akan menjaga putri mereka dengan sebaik-baiknya. Tama juga mulai lupa bagaimana Papa dulu mengajarkan padanya untuk jangan pernah membuat seorang wanita menangis.
“Maaf Mas salah,” kata Tama.
“Nggak usah minta maaf. Mas bilang jangan minta maaf kan. Yaudah jangan minta maaf walaupun lagi berbuat salah. Biarin aja, toh aku juga bakal lupa kok,” kata Ratna.
__ADS_1
Tama berdiri mendekati Ratna, dia mencoba meraih kedua tangan Ratna hanya agar istrinya itu bisa sedikit lebih tenang dan tidak terus terbakar emosi seperti ini terlalu lama.
“Dek Ratna, istriku…, maafin Mas ya. Mas salah, Mas nggak seharusnya bilang gitu ke kamu. Mas harusnya tahu kalau kamu begitu sebenarnya karena kamu bermaksud baik. Mas terlalu buta dengan diri Mas sendiri yang nggak mau bikin kamu terbeban makanya...,” kata Tama.
“Dengan aku menikah sama kamu pun aku sudah kebeban Mas,” kata Ratna membuat Tama kaget. Ternyata benar firasatnya selama ini.
“Tapi apakah salah jika aku menerima beban itu untuk menjemput bahagiaku? Aku sudah menerima kamu sebagai suamiku itu artinya aku harus menuruti kata-katamu karena begitulah peraturannya. Kamu sudah cukup baik dengan tidak menuntut apapun tapi setidaknya kasih aku kesempatan buat belajar jadi pendamping yang layak untuk kamu dan untuk pangkatmu itu,” kata Ratna.
“Menjadi Brimob adalah impian dan cita-citamu. Di sanalah jiwamu berada, tapi aku nggak. Buat adaptasi dengan dunia baru yang jelas berbeda jauh begini saja sudah berat. Tapi Mas Tama nggak pernah kasih aku kesempatan untuk benar-benar belajar. Cara Mas agar aku tidak terluka memang baik, tapi semakin kamu menjagaku begitu protektifnya semakin aku merasa rapuh. Semakin aku merasa nggak berguna dan semakin aku merasa kecil. Dampaknya ya itu tadi, se-sepele aku bangun kesiangan dan nggak sempat bikinin kamu sarapan aja bisa aku pikirin sampe nggak bisa tidur Mas.”
“Aku pernah bikin kesalahan besar sampai kita kehilangan anak kita, itu aja udah cukup bikin aku hancur Mas. Aku merasa gagal jadi istri yang baik buat kamu.”
Tama semakin terdiam mendengar semua keluh kesah Ratna. Dia tidak lagi berkutik dan hanya mampu diam di tempat bahkan ketika saat ini Ratna sudah berjalan menjauh darinya. Tama baru menyadari satu hal. Ternyata yang selama ini menghancurkan mental Ratna tidak lain dan tidak bukan adalah dirinya sendiri. Pratama Aji yang selalu mengklaim jika dialah satu-satunya yang akan mencintai Ratna tanpa syarat apapun kondisinya.
“Mas juga manusia Ratna, bagaimana mungkin Mas menuntutmu untuk sempurna padahal Mas nggak bisa menjanjikan untuk menjadi sempurna,” kata Tama mencoba untuk mengatakan pada Ratna jika dia menyesal.
“Mas itu sempurna buat aku. Kalau Mas bukan yang terbaik buat aku buat apa aku memilih Mas yang bahkan belum ku kenal lama. Mas inget nggak sih kita itu nikah tanpa melalui proses untuk mengenal satu sama lain. Pacaran kita itu nggak lama dan itupun kita nggak pernah ketemu karena pekerjaan. Kalau aku nggak percaya sama Mas buat apa aku menerima lamaran Mas Tama?” kata Ratna masih berusaha untuk tegar.
“Jadi sekarang kita harus bagaimana? Kita mulai lagi semuanya dari awal. Mau?”
__ADS_1
“Jelas. Aku nggak mau kita terjebak di dalam perasaan masing-masing terus-terusan kaya gini.”
“Ok, mulai sekarang kita perbaiki semuanya. Mas akan bilang nggak suka kalau memang nggak suka dan kamu boleh marahin Mas kalau Mas bikin salah. Masalah yang sudah-sudah kita jadikan pembelajaran, dan setelah ini semoga kita bisa lebih baik lagi.”
“Pernikahan kita baru jalan 5 tahun Mas, perjalanan kita masih akan sangat panjang. Kalau diibaratkan seorang anak usia kita itu bahkan belum merasakan bangku sekolah. Kita masih harus masuk SD, SMP, SMA, Kuliah. Kalau kita masih terus sama pandangan kita yang sebelumnya, rumah tangga kita akan semakin oleng,” kata Ratna kali ini sudah lebih tenang.
Tama tersenyum melihat bagaimana Ratna akhirnya memainkan kuku ibu jarinya lagi. Ternyata, kebiasaan-kebiasaan anehnya ini malah menjadi daya tarik tersendiri yang selalu Tama rindukan. Setiap kali dia melihat ibu jarinya, dia akan selalu ingat bagaimana Ratna bisa begitu larut pada pikirannya sendiri setiap kali dia sedang memainkan ibu jari suaminya. Juga bagaimana wanita hebat di hadapannya ini akan tertidur pulas karena memainkan ujung celana Tama yang selalu memeluknya setiap malam.
“Ratna percayalah aku sedang jatuh cinta lagi sekarang,” kata Tama.
“Hmm?”
“Aku jatuh cinta lagi sama kamu. Untuk yang kesekian kalinya. Makasih ya sudah memilih Mas untuk menjadi imam keluargamu,” kata Tama lagi.
“Sama-sama. Terima kasih juga sudah memperbolehkan aku mengabdikan diri untukmu,” jawab Ratna.
“Sama-sama sayangku.”
Satu masalah mereka akhirnya selesai. Hubungan Tama dan Ratna bahkan semakin baik lagi setelahnya. Kalau Pak Leo dan Bu Rosa selalu bilang, melihat Tama yang sedang bersama istrinya adalah pemandangan yang setara cantiknya semburat sinar pagi di balik cakrawala. Bukan hanya Pak Leo saja, Nesya yang tadinya tidak memiliki keinginan untuk menikah tiba-tiba jadi ingin sekali memiliki suami ketika melihat bagaimana Ratna bisa begitu bahagia tersenyum ketika sedang bersama suaminya. Dari bahasa tubuh keduanya terpancar kebahagiaan dan energi positif yang membuat mood sekitarnya menjadi baik.
__ADS_1
Tama dan Ratna bukan tipikal pasangan yang selalu bersama kemanapun mereka pergi. Terkadang Tama akan lebih fokus pada pekerjaannya sedangkan Ratna sibuk sendiri bersama ibu-ibu bhayangkari. Tapi dari sorot matanya, cara keduanya saling bicara, dan dari bagaimana Tama dan Ratna saling menghormati satu sama lain membuat orang-orang disekitarnya yakin dan percaya bahwa Tama dan Ratna adalah dua insan yang dipersatukan Tuhan untuk bersama-sama mengarungi hidup yang bahagia.
Tama itu terkenal begitu tegas, dingin, dan tanpa ampun dalam mendidik junior-juniornya, tapi wajah menakutkan itu akan hilang tersapu angin jika sedang bersama istrinya. Tidak heran bawahan Tama banyak yang berusaha terlihat baik dihadapan Ratna agar setidaknya mereka dibantu oleh Bu Ratna. Mereka juga bilang hanya Bu Ratna yang bisa menjinakkan Pak Aji.