
Beberapa bulan terlewat tanpa terasa. Dalam 1 minggu ke depan mereka akan melewati Idul Fitri pertama sebagai pasangan suami istri. Seperti hari-hari biasanya, Ratna akan bangun sekitar pukul 3 untuk tahajud sekaligus mempersiapkan makan saur bersama dengan Tama. Biasanya mereka sudah memasak malam sebelumnya jadi ketika mereka akan sahur mereka hanya perlu memanasinya.
Sejak menyebut Ratna dengan sebutan "mikrowife", Tama sengaja membeli sebuah microwave. Tama memang kadang bisa serandom itu akan sesuatu. Alih-alih membelikannya bunga dia malah membeli microwave yang katanya mengingatkan dia pada Ratna. Suka-suka Tama sajalah maunya bagaimana, toh Ratna senang mendapatkan microwave itu. Dia menjadi mudah memanasi sayur dan lauk lainnya.
"Mas, sini sahur dulu," panggil Ratna.
"Hmm..., sebentar," jawab Tama dari dalam kamar.
Selepas sahur Ratna meminta Tama untuk tidak tidur lagi. Dia ingin mengobrol dengan Tama setelah lama mereka tidak memiliki quality time berdua. Ratna memperlihatkan sesuatu pada Tama melalui handphonenya. Tadinya Tama pikir itu chat dari siapa. Dia kan selama ini tidak pernah peduli dengan siapa Ratna mengobrol dan berteman selama dia tidak melewati batas. Dia baru menyadari sesuatu setelah melihat dari siapa chat yang Ratna tunjukkan.
"Dia masih ganggu kamu?" tanya Tama.
"Iya Mas, kadang kalau aku nggak balas chat dia bisa telpon terus. Handphoneku buat kerja jadi nggak bisa nerima panggilan. Tadinya kupikir ganti nomor saja tapi terlalu ribet Mas, nomor ini sudah kupake dari jaman masih SMA dulu. Pernah aku ngeblock nomor dia dianya yang ganti nomor baru buat hubungi aku," keluh Ratna.
"Jadi kamu terpaksa balas biar dia nggak telepon kamu terus? Kalau ganggu banget dilaporin aja gimana?" saran Tama.
"Nggak mengganggu banget-banget cuma ya gitu. Mas Tama suamiku aja nggak pernah nuntut aku intens bales chat. Tapi dia menuntut itu."
"Dia tahu kan sekarang kamu sudah nikah? Dia tahu kan kalau kamu sekarang sudah jadi punya orang? Kok berani banget sih main-main sama istri orang?"
"Tahu. Dia bahkan tahu aku nikahnya sama siapa, dia juga tahu Mas kerjanya apa. Dia bilang dia nggak terima dan menganggap pernikahanku nggak sah, gila Mas dia sampe segitunya ngatain," Tama melihat setitik air mata Ratna menetes. Ekspresi Ratna juga berubah, dia tidak seceria ketika tadi mereka makan.
"Ngechat lagi orangnya," kata Tama melihat ada satu pesan baru masuk ke dalam handphone Ratna.
"Coba jangan dibales, nanti kan dia telepon," kata Ratna.
Beberapa menit kemudian benar datang telepon dari Vino mantan kekasih Ratna. Tama tidak mengetahui pasti dimana dan bagaimana Vino dan dan Ratna bisa pacaran. Dia hanya sebatas tahu kenapa mereka berdua putus. Lagi pula itu masa lalu, buat apa Tama tanya-tanya. Tapi karena sudah masuk dalam level ini Tama terpaksa bertanya pada Ratna tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Cerita pelan-pelan Mas dengerin. Tapi jangan nangis nanti puasamu batal," kata Tama.
"Sebenernya nggak ada yang spesial sih, aku kenalan sama dia waktu ospek. Selama PDKT tuh dia masih baik-baik aja. Orangnya perhatian, penyayang, ya gitulah pokoknya baik sama aku. Tapi setelah jadi pacar posesifnya mulai keluar. Nyebelin juga, masa ada sama pasangannya sendiri ngetes, aneh lah pokoknya. Makin lama aku makin nggak ngerti sama jalan pikirannya juga," kata Ratna.
"Ngetes gimana?"
"Katanya sih dia mau ngetes aku beneran sayang nggak sama dia."
__ADS_1
"Caranya?"
"Caranya dia jalan sama cewek lain, dia deket sama cewek lain. Biar apa sih kaya gitu, menurutku dia nggak punya rasa percaya sama aku. Bahkan dia selalu ngecek isi hp ku Mas setiap minggu. Dipta sama yang lainnya aja sampai ke ganggu padahal posisinya ketika itu aku pengurus inti BEM dan mereka kolega. Aku nggak mau hidupku dikekang kaya gitu makanya aku putusin aja, daripada aku harus nanggapi tingkah ajaibnya dia yang kaya gitu. Lagian waktu itu aku udah kenal Mas Tama yang menurutku lebih baik dari dia," kata Ratna.
"Memangnya apa yang kamu suka dari Mas sih Dek?" tanya Tama.
"Nggak tahu, suka aja. Lagian Mas juga orangnya dewasa. Mas melarangku melakukan sesuatu alasannya juga jelas," kata Ratna.
"Mas itu handphoneku gimana?"
"Kamu hari ini shift malam atau pagi?"
"Malam."
"Lagi posisi stand by atau nggak?"
"Nggak juga. Tapi kan nanti mau ada pertemuan rutin bhayangkari Mas,"
"Dimatiin aja dulu gimana? Biar kamu setidaknya tenang, atau kalau nggak kamu telepon sama Ibu atau sama Sasa biar dia nggak bisa masuk panggilannya," kata Tama diangguki oleh Ratna.
Dalam pertemuan itu sekaligus dibahas acara halal bihalal keluarga besar Brimob Samarinda akan dilaksanakan kapan dan di mana. Ini akan menjadi kali pertamanya sholat Ied tidak bersama keluarga. Ini juga akan menjadi kali pertamanya tidak mudik untuk berkumpul bersama keluarga selama libur lebaran.
Selama koas saja dia masih diberi kesempatan untuk sholat Ied di rumah walau sore harinya dia harus kembali ke Jogja karena pagi berikutnya dia ada shift. Tapi setidaknya dia masih merasakan, sedangkan kali ini dia tidak akan merasakannya. Dia memang tidak berangkat kerja tapi dia juga tidak akan bisa pulang.
Seperti saran dari Tama pagi tadi, selesai pertemuan Ratna kembali ke rumah lalu menyambungkan panggilan ke orang tuanya. Dia terus mengobrol dengan Bapak dan Ibu, kalau bosan ganti dengan Sasa, nanti lagi dia telepon Ela pacar Dipta. Intinya dia tidak pernah membiarkan handphonenya menganggur hanya agar Vino tidak bisa menghubunginya.
"Eh Mbak Ratna, coba tanya ke suamimu kalau lebaran ini Bapak sama Ibu yang ke sana bisa ndak?" tanya Ibu.
"Maksud Ibu? Ibu mau ke Samarinda?"
"Iya tapi nggak pas lebarannya banget, ya seminggu setelah mungkin. Itu pun kalau boleh," kali ini Bapak yang bicara.
"Sebenarnya boleh ada tamu menginap, tapi nanti Bapak sama Ibu lapor ke petugas jaga."
"Bener nggak papa itu?"
__ADS_1
"Bener Bu, banyak juga kok yang saudaranya ke sini dan nginep beberapa hari. Nggak papa kok."
"Yowis nduk besok Bapak kabari lagi. Sudah dulu yo Bapak sama Ibu mau siap-siap buka puasa."
"Nggih Pak, Ratna juga mau masak ini," kata Ratna sebelum teleponnya mati.
Ratna kembali fokus pada pekerjaannya. Dia meletakkan handphonenya begitu saja di atas meja makan lalu dia melangkah ke belakang lebih dulu mengangkat jemuran sebelum mulai memasak. Selama menjadi istri dari Pratama Aji Ratna belum pernah sekalipun mendengar suaminya itu minta yang aneh-aneh tapi ini tiba-tiba siang tadi Tama meminta Ratna memasak ikan bakar untuk makan malam mereka nanti.
Ratna sudah beli beberapa kilo ikan nila yang siap dia olah. Sejak pagi tadi juga sudah dia bumbui. Sekarang tinggal dia goreng lebih dulu baru nanti dibakar ketika mereka sudah siap untuk makan malam. Ratna juga membuat sambal bawang dan sambal terasi, tak lupa juga membeli selada dan mentimun untuk lalapan.
Selesai dengan masakannya dia lebih dulu mandi dan bersiap untuk berangkat kerja. Tepat ketika dia selesai mandi, Tama pulang. Keduanya sholat maghrib dulu baru melangkah ke meja makan untuk makan bersama.
"Mas tumbenan minta ikan bakar," kata Ratna.
"Nggak tahu, pengen aja. Ngebayanginnya kok enak makan pake nasi anget sama sambel," kata Tama.
"Mas tadi Ibu sempat tanya kita beneran nggak bisa pulang pas lebaran gitu, terus aku jawab nggak bisa eh malah Bapak sama Ibu yang mau ke sini katanya," curhat Ratna.
"Beneran mau ke sini? Boleh deh boleh banget. Sama Sasa Nata juga?"
"Belum tahu sih mau gimana. Ya persiapan aja lah aku mau beresin kamar yang depan buat tidur Bapak sama Ibu."
"Kalau butuh bantuan bilang ya," kata Tama.
"Udah selesai semua nih, aku berangkat kerja dulu ya Mas," pamit Ratna setelah dia selesai mencuci piringnya.
"Eit, diminum dulu ini vitaminnya," cegah Tama.
"Makasih Mas, hmm...., pengertian banget sih suami aku, makin sayang deh...," kata Ratna.
"Ada maunya nih pasti," Tama mencubit hidung Ratna gemas.
"Ada dong, anterin yah biar besok malem bisa minta jemput aja. Aku double shift nih," kata Ratna.
"Yaudah yuk, kamu tunggu di luar Mas ambil jaket dulu."
__ADS_1