
2 minggu setelah kepulangan mereka dari Jakarta, sebuah undangan mendarat di tangan Tama. Bayu Zidan ajudannya itu berjalan mendekatinya, duduk di hadapannya sembari menyerahkan sesuatu padanya. Permintaan izin menikah sekaligus juga meminta Tama ikut menghadiri acara lamarannya.
Bayu benar-benar gerak cepat dalam hubungannya. Padahal baru berapa minggu mereka kenal dan sekarang sudah main melamar saja. Bayu bilang kedua orang tuanya setuju dengan Uli, dan kedua orang tua Uli juga suka pada Bayu. Walaupun memang agak berat melihat pekerjaan Bayu yang menantang bahaya dan tidak jarang bertaruh nyawa tapi kedua orang tua Uli bilang jika anaknya sudah mau buat apa mereka melarang.
Tama membawa undangan itu pulang dan menemukan Uli sedang bermain dengan Aksa. Ratna sepertinya belum pulang, dia bilang selepas makan siang tadi dia ada operasi. Mungkin dia akan pulang menjelang maghrib.
"Li, kok tadi Bayu nemui saya katanya kamu mau dilamar ya?" tanya Tama.
"Iya Pak, alhamdulillah saya mau di lamar," kata Uli dengan raut wajah yang malu-malu.
"Sudah yakin cocok sama Bayu?"
"Insyaallah Pak, orangnya asik kok. Selain humoris dia juga bertanggung jawab. Saya suka caranya memperhatikan saya. Tidak berlebihan tapi juga tidak merenggangkan hubungan," kata Uli dengan penuh keyakinan.
...***...
Tama dan Ratna hari ini akan menghadiri undangan pernikahan Bayu dan Uli. Mereka tidak mengadakan acara yang besar. Hanya akad nikah dan resepsi kecil-kecilan yang dihadiri oleh kebanyakan teman-teman Bayu dan Uli juga rekan kerja Bayu di brimob. Tama yang diberi kesempatan untuk mengalungkan karangan bunga pada mempelai laki-lakinya sedangkan Ratna menyerahkan bucket mawar merah pada Uli.
Keduanya mengucapkan selamat pada Bayu dan Uli yang sekarang sudah resmi menjadi suami istri. Sejak kenalan, lamaran, hingga menikah hanya butuh waktu 3 bulan. Selama itulah Tama dan Ratna juga selalu hadir dalam menepis setiap keraguan yang hadir dalam diri Bayu dan Uli yang akan melangkah ke jenjang yang lebih serius. Sekarang setiap pagi dan sore akan ada yang mengantar jemput Uli ke rumah komandannya itu.
"Ratna sukses besar ya nyomblangin Uli," kata Lilis yang juga hadir sebagai penerima tamu.
"Emang kamu udah pernah nyoba ngomblangin dia?"
"Udah. Sama salah satu anggota di batalyon Bang Chandra, cuma anaknya belum mau diajak serius sedangkan Uli nggak mau main-main. Namanya jodoh Rat, mau di sini kamu jungkir balik kaya apa kalau bukan buat kamu yang nggak akan kamu dapat," kata Lilis diangguki oleh Ratna.
"Ndah...," panggil Aksara yang terus berpegangan pada Bundanya.
"Kenapa sayang?"
Aksa hanya merentangkan tangannya tanda dia minta digendong. Setelah dia naik ke gendongan Bundanya, dia mencoba membuka baju Bunda karena dia memang sedang lapar, "Ndah mamamam," katanya lagi.
"Nggak di sini ah malu Aksa banyak orang, nih mik dot aja ya," kata Ratna.
Dia menyerahkan botol susu Aksa dengan segera sebelum anak itu merengek protes. Aksa langsung menggenggam botol susunya kemudian Ratna membetulkan posisinya agar dia bisa lebih nyaman untuk minum. Tidak lama kemudian Aksa tertidur masih dalam pangkuan Ratna. Padahal posisinya tamu sedang membludak. Tama yang peka meminta Aksa dari ibunya dan dia terus menggendong putranya yang lelap tertidur sambil terus menerima tamu.
__ADS_1
Selepas resepsi, Ratna membangunkan Aksa. Dia mendudukkan putranya di salah satu kursi bersama dengan Bang Miftah dan Bang Faisal yang sudah lebih dulu memegang piring masing-masing. Kalau Aksa dia masih menunggu Bunda Ratna memnyuapinya. Dia mungkin sudah mampu makan sendiri, tapi jelas akan sangat berantakan dan lama karena dia belum lihai menggenggam sendok.
"Tante Uli~" panggil anak-anak pada Uli yang baru selesai ganti baju.
"Halo Abang," kata Uli sambil mengajak keduanya tos.
"Tante Uli cantik," kata Miftah.
"Makasih, Bang Miftah juga ganteng," kata Uli.
"Eh Uli, cantik banget kamu hari ini," puji Ratna yang baru datang membawa sepiring nasi.
"Makasih Bu, itu untuk nyuapin Aksa? Boleh saya yang suapin nggak Bu?" tanya Uli.
"Kasih Na, biar dia ketularan cepat punya baby juga," kata Lilis mengompori.
"Jangan ah Bu, masa habis nikah langsung punya baby. Masih pengen pacaran. Saya sama Mas Bayu kan belum pernah ngerasain pacaran," kata Uli.
"Kencan aja cuma sekali di Jakarta," goda Ratna.
...***...
Seluruh prosesi pernikahan sudah usai. Tama dan Ratna ikut berpamitan ketika keluarga Bang Chandra juga undur diri. Kedua keluarga itu berpisah di pengkolan. Tama berbelok ke kanan, Bang Chandra terus lurus. Di sampingnya Ratna terlihat tertidur, dia sepertinya kelelahan bukan hanya karena harus menerima tamu yang hadir tapi juga menjaga Aksa yang sempat rewel siang tadi. Aksa di pangkuannya terus mengucapkan kata-kata yang tidak jelas sembari mengamati lampu-lampu jalan yang mulai menyala.
"Yah," kata Aksa langsung buang muka ketika ada sebuah badut berdiri tepat di samping kaca.
"Kenapa Aksa takut?"
"Tut."
"Nggak papa Sa, kan itu di dalamnya orang juga. Kaya yang Aksa lihat di kebun binatang terus di ulang tahun kak Indi kan juga ada badut bentuk kelinci," jawab Tama mencoba meyakinkan Aksa agar dia tidak takut dan malah membangunkan Bunda.
"Yahh," Aksa mulai menangis membuat Ratna terbangun. Dia menyadari apa yang membuat Aksa takut lalu langsung mendekapnya.
"Aksa beneran takut?" tanya Tama.
__ADS_1
"Ya kalau bentukan ngeri kaya gitu jangankan Aksa, aku aja takut Ayah ada-ada aja," kata Ratna.
"Udah ah nangisnya, udah ijo nih Ayah jalan ya," kata Tama mencoba menenangkan Aksa.
Sesampainya di rumah, Ratna sudah tidak sanggup menggendong Aksa. Dia meminta Tama membawanya masuk sedangkan Ratna langsung melangkah ke kamar dan melepaskan jilbab dan pakaiannya. Ratna memakai pakaian yang jelas membuatnya pengap. Berbeda dengan Tama yang kulitnya masih sanggup bernafas lega karena hanya pakai kemeja dan jas. Begitu Ratna berganti pakaian dan keluar dari kamar mandi, dia langsung meneguk sebanyak mungkin air.
"Bunda...," panggil Tama yang sedang melepaskan jas dan dasinya.
"Hmm?"
"Bunda nggak papa? Kalau capek banget langsung tidur aja. Aksa biar sama Ayah," jawab Tama.
"Capek sih nggak begitu tapi kepala pening. Sehari tadi aku minum nggak habis sebotol tanggung. Minum manis terus pula," keluh Ratna.
"Bunda gitu deh, ngingetin Ayah minum, jagain Aksa, tapi jaga diri sendiri dikesampingkan. Sana istirahat. Mau minum obat nggak? Kamu belum makan lho Bun," kata Tama.
"Nggak deh, aku mau langsung tidur aja. Maaf ya Ayah aku beneran udah nggak kuat. Kepalaku berat banget."
"Iya udah nggak papa sana tidur," kata Tama.
"Ayah malam ini tidur sama Aksa ya, jangan sama Bunda. Ayah kan juga kecapekan nanti kalau aku ternyata beneran sakit Ayah ketularan," kata Ratna lagi.
"Iya sayang, Ayah bisa jaga diri kok. Kamu istirahat aja yang tenang pikirannya jangan dibuat tegang nanti tambah pusing," kata Tama menenangkan istrinya. Sementara dia tinggalkan Aksa bermain di depan tv sedang dia mengantar Ratna dulu masuk ke dalam kamar. Dia pastikan istrinya tidur dengan nyaman, tidak lupa mencium keningnya kemudian melangkah keluar. Tama hanya menyisakan cahaya dari lampu tidur kecil yang terpasang di atas meja kerjanya sedangkan lampu utama dia matikan agar Ratna bisa tertidur dengan nyenyak.
"Ndah," cari Aksa yang sudah berdiri di dekat pintu kamar kedua orang tuanya.
"Shtt, Bunda lagi nggak enak badan. Aksa sama Ayah dulu ya," ajak Tama.
"Ndah? Atit?"
"Iya, Bunda sakit."
"Ndah," Aksa bukannya menurut dia malah merengek minta berada di dekat Bunda. Lagian siapa sih anak yang tidak takut jika orang tuanya sakit. Aksa juga demikian. Tama masih bertahan dengan mengenakan kemeja biru yang sudah seharian dia pakai tapi berhubung Aksa masih rewel dia jadi harus mengalahkan keinginannya untuk bisa segera mandi. Dia baru bisa membersihkan tubuhnya setelah Aksa tertidur. Tama dengan perlahan meletakkan Aksa di tempatnya biasa tidur, menyelimutinya kemudian mematikan lampu.
Malam itu Tama tidak tidur bersama Aksa, juga tidak bersama Ratna. Dia malah tidur di sofa dengan kondisi laptop masih menyala dan banyak berkas tergeletak di atas meja. Tidak jauh darinya juga ada satu gelas bekas kopi dan mangkuk mie instan yang tidak dicuci. Bahkan Tama masih setia dengan kemeja dan celana kain. Entah kenapa, tapi mungkin jarena usia yang sudah tidak lagi muda membuat Tama dan Ratna jadi mudah kelelahan apalagi kalau sehabis menjalani kehiatan yang diluar rutinitas mereka sehari-hari.
__ADS_1