Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
46. Perseteruan Semakin Panas


__ADS_3

Sekitar pukul 12 Tama menemani Ratna ke rumah sakit. Dia memang diberi cuti sehari ini oleh Pak Leo makanya dia bisa se santai ini. Tama mengantar Ratna sampai ke pintu masuk UGD, kemudian dia berjalan mencari tempat untuk memarkir mobilnya. Tama sengaja menemani Ratna sampai dia selesai mengerjakan pekerjaannya dan jika dia beruntung dia bisa saja bertemu dengan Bima, Rati, atau Petra dan menanyakan apa yang terjadi pada istrinya seminggu ini.


Lobby rumah sakit terhubung dengan lorong menuju ke poli. Dia bisa melihat hiruk pikuk orang yang keluar masuk ke poli. Dia juga bisa melihat hectic-nya kondisi UGD yang baru saja kedatangan sebuah ambulance. Karena bosan hanya scrolling handphonenya yang sebenarnya tidak ada apa-apanya, Tama memutuskan untuk pergi ke kantin rumah sakit. Beberapa kali dia diajak Ratna untuk makan di sana, dan menurut Tama masakan kantin sangat enak walaupun hanya sekedar nasi sayur dengan lauk tempe atau tahu bacem.


Tama memesan segelas es teh, kemudian tangan kirinya meraih satu tempe goreng yang sengaja di sajikan diatas meja. Lagi-lagi bosan melanda. Jika bukan karena Teh Rizka yang sedang pamer Reza yang mulai bisa bernyanyi melalui instalive Tama sudah tidak tahu akan apa. Masa iya dia harus main Solitaire atau Zuma juga di handphonenya. Dia sudah muak dengan permainan legend itu. Di kantor hanya bisa main itu masa di sini juga.


Sudah sekitar 2 jam setengah berlalu, Tama memutuskan untuk kembali ke lobby. Mungkin saja kan Ratna sudah selesai dengan pekerjaannya. Baru saja Tama berjalan untuk mencari tempat duduk, dengan naasnya dia malah harus bertemu dengan seseorang yang paling dia hindari di dunia ini. Gadis itu berambut panjang yang terikat kebelakang, poninya tertahan jepit rambut yang Tama sendiri merasa familiar. Dia duduk di atas kursi roda dengan memangku tas berukuran kecil. Menyebalkannya lagi, tidak ada tempat untuk Tama menghindar saat ini karena gadis itu sudah terlanjur melihatnya dan kini mulai mendorong kursi rodanya mendekati Tama.


"Aji?" panggilnya.


"Hi, kau masih ingat aku?" tanya Zahra.


"Bagaimana aku bisa lupa," gumam Tama yang saat ini berdiri tepat di hadapan Zahra yang tersenyum begitu manis.


"Ji...," Zahra mencoba meraih tangan Aji yang hanya mampu diam tanpa melakukan apapun bahkan memberi respon saja tidak.


"Aji aku kangen sama kamu...," kata Zahra lagi. Kali ini wajah manis itu mulai murung dan hampir menangis.


"Mas...!" Teriak Ratna memanggil suaminya.


Tama langsung melepaskan tangan Zahra kemudian berjalan mendekati Ratna yang sudah mendahuluinya. Ratna menjauh. Semakin Tama mencoba meraih tangannya, Ratna semakin keras menghempaskannya. Ratna berjalan sampai ke pinggir jalan dan berniat untuk segera mencegat taksi yang melintas untuk membawanya pulang. Rasanya sudah cukup dia merasakan beban hatinya. Untuk kali ini dia tidak sanggup. Dia tidak sekuat biasanya. Dia sedang rapuh dan semakin dipatahkan karena melihat apa yang Tama lakukan tadi.


"Ratna tunggu dulu," cegah Tama.


"Lepasin."


"Ratna jangan gegabah."


"Lepasin Mas!"

__ADS_1


"Nggak akan."


Tama langsung membawa paksa Ratna kembali. Tama terus menggenggam tangan Ratna dan menariknya untuk masuk ke dalam mobil kemudian Tama segera masuk ke sisi lainnya lalu mengunci pintu. Setelah itu Tama memasang sabuk pengaman Ratna yang masih tidak mau disentuh oleh Tama.


"Diem di situ. Kalau mau marah di rumah nggak di sini," kata Tama sebelum benar-benar menjalankan mobilnya kembali ke rumah.


Begitu sampai di rumah, Ratna langsung masuk ke dalam dan mengunci diri di dalam kamar. Tama bisa mendengar Ratna menangis di dalam tapi untuk kali ini tidak ada yang bisa Tama lakukan. Jelas dia membuat kesalahan. Dia memang sudah mengira jika beban masa lalunya akan menjadi perkara tapi dia tidak pernah membayangkan akan jadi seperti ini.


Tama duduk lemas di sofa mendengarkan tangisan Ratna yang terdengar begitu tersiksa. Bayangkan seberapa remuk Ratna sekarang, ketika Tama tidak berada di sisinya, kepercayaannya pada sang suami diuji dengan datangnya gadis dari masa lalunya. Padahal beban hati karena kehilangan seorang sahabat dengan begitu tiba-tiba belum Ratna rasakan meringan. Dalam telinga Ratna saat ini kembali lagi terputar bagaimana suami Zahra menceritakan begitu tidak beranggung jawabnya Tama telah meninggalkan Zahra begitu saja setelah merenggut masa depan gadis itu.


Sehari setelah Ratna kembali dari melayat, Ratna bertemu dengan suami Zahra. Dengan penuh emosi dan dendam dia ceritakan semuanya. Mulai dari bagaimana Tama yang merupakan sahabatnya itu tiba-tiba berubah hingga dengan kejamnya Tama membiarkan Zahra jatuh dari ketinggian dan membuatnya lumpuh. Padahal gadis itu begitu menyukai dan begitu mempercayai Tama. Sebenarnya dalam hati Ratna terus berusaha untuk mengelak. Tama yang dia kenal bukanlah Tama yang diceritakan oleh Rangga. Tapi setelah melihat bagaimana Zahra menatap Tama, dan bagaimana Tama terdiam melihat Zahra dengan kondisinya membuat kepercayaan Ratna patah begitu saja.


Tama saat ini sudah tidak mendengar tangisan Ratna. Dia memberanikan diri untuk melangkah masuk dan menemukan Ratna duduk sambil menelungkupkan kepalanya di pinggiran tempat tidur. Tama dengan perlahan mengangkat tubuh Ratna yang kembali demam tinggi. Dengan sangat pelan Tama menidurkan Ratna, meletakkan bantal di kepalanya, menyelimuti tubuh Ratna kemudian menyeka keringat dan bekas air mata istrinya. Masih tanpa tenaga Tama berjalan mengambil handuk kecil kemudian membasahinya dengan air dan dia letakkan di dahi Ratna berharap suhunya akan segera turun. Tama juga mengecek suhu tubuh Ratna dengan termometer.


"39,4. Ratna...," panggil Tama mencoba membangunkan Ratna karena melihat suhu tubuhnya begitu tinggi membuatnya panik.


"Adiratna? Sayang?" Tama terus memanggil Ratna hingga dengan perlahan Ratna akhirnya membuka matanya.


Pagi harinya, Ratna yang pertama bangun. Dia melihat bagaimana Tama tidur dengan posisi duduk menyender pada pinggiran bed disebelahnya. Ratna kembali menangis. Dalam batinnya semakin keras peperangan itu berlanjut. Tama itu baik. Dia sangat baik. Ratna tidak percaya Tama akan melakukan hal sekejam itu, tapi ada satu titik di dalam hatinya yang terus meronta. Tama perlahan terbangun dan langsung melihat Ratna memandang dirinya dengan tatapan setengah kosong. Tama kembali mengecek suhu tubuh Ratna yang masih sama seperti semalam. Niat awal dia akan membawa Ratna ke rumah sakit, tapi Ratna tidak mau melepaskan genggaman tangannya. Tanpa satu katapun. Ratna hanya diam, tapi tidak mau melepaskan tangan itu.


"Sehat dulu. Baru kita omongin. Mas nggak akan mengelak apapun yang akan kamu katakan," kata Tama dengan nada lembut.


"Aku nggak mau kehilangan kamu Mas," gumam Ratna membuat pertahanan Tama semakin remuk.


"Seberapa hancur kamu sekarang Ratna? Apa yang terjadi sama kamu seminggu ini? Kamu kenapa?" batin Tama.


Tama hanya mampu mencium kening Ratna dengan dalam. Berusaha mengatakan padanya jika cintanya pada Ratna tidak akan pernah berkurang apapun yang terjadi. Apapun kondisinya. Tama hanya ingin Ratna tahu, jika Tama masih memegang teguh janjinya pada Bapak 5 tahun lalu. Janji untuk membahagiakan putri sulungnya, janji untuk menjaga Ratna putrinya sebaik yang bisa dia lakukan.


"Sehat ya sayang," kata Tama kali ini sambil terus mengusap kepala Ratna agar dia bisa merasa nyaman dan meringankan sakit di kepalanya.

__ADS_1


Tama berhasil membawa Ratna ke klinik sebelum dia berangkat ke kantor. Selama sehari itu Tama terus melamun, bahkan apapun candaan yang berusaha dilontarkan Nesya dan Pak Leo untuk mencairkan suasana tidak satupun yang digubris. Tama bahkan sempat memarahi Nesya. Dia bilang candaannya keterlaluan. Tama bahkan tidak pergi makan siang seperti yang lainnya. Dia hanya melamun tetap pada meja kerjanya. Bagas di samping melihat Tama dengan kondisi itu tersenyum senang. Dia merasa menang melihat Tama langsung hancur hanya karena satu gertakan kecil.


"Ternyata benar, istrimu adalah kelemahan terbesarmu," kata Bagas yang langsung membuat Tama naik pitam. Tama berjalan mendekati Bagas dan langsung menarik kerah seragamnya begitu saja.


"Lo apain istri gue huh?!" tanya Tama langsung melayangkan emosinya.


"Belum seberapa dibanding lo yang udah ngancurin hidup Zahra," jawab Bagas dengan santai tanpa rasa takut.


Untung saja, belum sampai Tama melayangkan pukulannya, Pak Leo masuk ke ruangan dan langsung memisahkan keduanya. Sebenarnya Pak Leo tahu ada sesuatu antara Tama dan Bagas. Walaupun tidak secara langsung, tapi Pak Leo mengerti garis besarnya. Teman angkatan Tama dan Bagas yang memberitahu jika Tama dan Bagas berseteru karena seseorang. Bagas selalu menyalahkan Tama sedangkan Tama yang tidak melakukan kesalahan tidak terima atas tuduhan yang dia terima. Bahkan Pak Leo tahu jika Tama pernah diskors karena perseteruan itu.


"Aji, dengarkan jika atasanmu sedang bicara!" kata Pak Leo membuat perhatian Tama kembali padanya.


"Kamu pulang saja. Temani istrimu. Kalau besok kamu masuk kantor masih dengan kondisi seperti ini lagi. Saya hukum kamu," kata Pak Leo.


"Bang. Udah. Sebelum Pak Leo makin marah," bisik Nesya.


Tama sudah meninggalkan ruangan, kini tinggal Bagas yang dihadap langsung oleh Pak Leo.


"Saya dengar kamu melakukan sesuatu pada istrinya Aji. Benar?" tanya Pak Leo.


Bagas tidak menjawab.


"Hey kamu itu masuk ke mari dengan catatan. Mau cari masalah terus kamu iya? Mau pangkat perwiramu itu dicabut? Kalau masalahmu dengan Aji ya selesaikan dengan Aji. Yang gentle kalian. Saya kasih arena kalau kalian mau berkelahi. Kamu itu laki-laki bukan? Hey IPTU Bagas jawab."


"Siap Pak. Iya saya laki-laki."


"Kamu mengaku laki-laki tapi yang kamu lakukan kaya banci. Kamu itu polisi hey sadar. Kamu itu teladan untuk masyarakat banyak. Sudah kamu terima suap sekarang berani menggoyahkan tim saya. Kamu anak baru sudah belagu. Lari lapangan 100 kali. Push up, sit up, squat jump masing-masing 300 kali. Nesya, bilang juga sama abangmu itu. Dia juga harus selesaikan hukuman yang sama. Dia hutang sama saya," kata Pak Leo.


"Siap. Laksanakan," jawab Nesya.

__ADS_1


"Ada ada saja kalian ini," kata Pak Leo yang kemudian pergi.


__ADS_2