Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
76. Istri Yang Cemburu


__ADS_3

"Apa-apaan sih?! Heh sopan sedikit ya anda siapa berani menampar dr. Ratna?" kali ini emosi Theo mulai tidak terkendali.


"Sayang jangan...," cegah Vino menahan tangan wanita tadi agar tidak menyakiti Ratna lebih jauh.


"Oh kamu belain cewek murahan ini? Kamu nggak mikirin perasaan aku Mas? Aku ini lagi bawa anak kamu lho. Kamu tuh harusnya belain istrimu malah kamu belain cewek keganjenan kaya dia," katanya pada Vino membuat mereka menjadi pusat perhatian sekarang.


"Yang belain Ratna tuh siapa, udah dong sayang malu dilihat orang," kata Vino masih berusaha menekan emosi istrinya.


"Kurang ajar ya lo. Pelet apaan sih yang lo pake sampe suami gue nurut banget sama kata-kata lo?! Ngomong dong. Jangan pura-pura jadi korban lo dasar ular," wanita itu tidak hentinya mengutuk sambil terus mendorong tubuh Ratna.


Ratna tidak berkutik. Perutnya juga tiba-tiba terasa kaku membuatnya tidak mampu melakukan banyak hal. Jay dan Theo berusaha menahan wanita itu agar berhenti menyakiti Ratna hingga terjadi keributan. Pada akhirnya wanita itu berhenti, setelah tangannya tidak sengaja mengantam perutnya sendiri. Ratna akhirnya mampu bernafas, dan sebelum pergi dia masih sempat melayangkan tatapan begitu marah pada Vino.


"Mohon maaf Ibu, saya adalah wanita terhormat. Benar, saya pernah menjalin hubungan dengan laki-laki itu tapi itupun sudah berakhir jauh sebelum saya menikah dengan suami saya. Jika saja suami anda itu masih menyimpan nama saya dalam hatinya itu sudah di luar kendali saya. Saya tegaskan, saya bahkan sudah muak dengan Alvino suami anda. Saya tidak ada urusan dengannya," kata Ratna kemudian segera berjalan menjauh tidak peduli pada keributan yang tercipta karena wanita itu mulai meraung kesakitan dan Vino mencoba mencari bantuan.


Setelah berbelok di ujung lorong, Ratna langsung menjatuhkan tubuhnya. Perutnya masih terasa kaku dan kepalanya pusing tidak karuan. Ratna bahkan sampai kehilangan kesadaran dan harus dibawa ke IGD oleh Theo dan Jay.


...***...


Tama sedang briefing ketika handphonenya terus berdering tidak santai. Setelah meminta izin pada komandan, Tama keluar dari ruangan sebentar untuk mengangkat telpon yang ternyata dari salah satu sahabat istrinya.


"Jay, ada apa?" tanya Tama.


"Bang, Ratna pingsan. Sekarang dia di IGD. Bang Tama ada waktu nggak? Bisa jenguk ke rumah sakit sebentar?" kata Jay langsung pada intinya.


Tama meminta Jay untuk sementara menemani Ratna karena dia tidak bisa segera ke rumah sakit sekarang. Tama hanya memastikan situasinya kemudian dengan menegapkan bahunya dia berusaha baik-baik saja dan masuk kembali ke dalam ruang rapat seperti tidak terjadi apapun. Tama hanya meminta tolong pada komandan untuk mempercepat koordinasi agar dia bisa segera pergi.


Istri Vino sedang ditangani, sedangkan Ratna sudah dinyatakan baik-baik saja dan hanya perlu beristirahat sesaat. Vino berjalan mendekati brankar Ratna namun ditahan oleh Jay yang sudah naik pitam dan tidak berkeinginan menahan emosinya. Setelah memastikan ada Theo bersama Ratna, dia menyeret Vino keluar dari IGD dan membawa laki-laki itu ke tempat yang tidak banyak dilewati oleh orang.


"Lo gila ya?! Kalau sampai ada apa-apa sama bayinya Ratna lo mau tanggung jawab, huh?!" bentak Jay melempar Vino ke lantai.

__ADS_1


"Ratna hamil?" kaget Vino.


"Kalau sampai Ratna dan bayinya kenapa-napa lo siap nerima murkanya Bang Tama? Anak ini sudah diusahakan mati-matian sama Ratna dan suaminya. Terus lo dateng-dateng bikin kacau semuanya, mau lo apa?!"


"Sorry Jay, gue nggak tahu. Gue cuma mau nyapa," kata Vino.


"Lo nyapa tapi istri lo nampar Ratna. Gue ingetin sama lo soal peringatan gue dulu. Berani lo nyakiti Ratna lagi jangan harap lo pulang dalam kondisi selamat. Lo harus segera lupain Ratna, atau setidaknya didik istri lo dengan bener. Biar tingkahnya nggak liar kaya gitu. Ini rumah sakit, bukan hutan."


Jay meninggalkan Vino yang masih kesakitan setelah menerima pukulan dan dibanting ke tanah olehnya tadi. Jay tidak peduli pada laki-laki itu. Kalau boleh jujur memang Jay dulu pernah menyukai Ratna, dan dia dengan lapangnya menyerahkan Ratna untuk Vino itulah kenapa kemarahan Jay bisa berlipat ganda dibanding Theo dan Dipta. Karena Jay pernah mengorbankan sesuatu namun berbuah penyesalan.


Beberapa waktu kemudian Tama datang. Di sebelah brankar Ratna, ada brankar istri Vino yang masih terus merengek pada suaminya seperti seorang anak kecil. Tama melihat Vino dan istrinya, dia juga tahu jika Vino menunduk untuk menyapanya tapi kemarahan terlanjur menyelimutinya. Tama hanya melayangkan tatapan siap membunuh pada Vino sambil terus berjalan mendekati istrinya yang saat ini sedang ditemani oleh Nita dan Jay.


"Bang...," sapa Jay.


"Makasih ya sudah nemani Ratna, aku sudah di sini. Kalian berdua boleh balik lanjutin pekerjaan. Nita juga, makasih ya. Maaf merepotkan," kata Tama begitu ramah pada mereka berdua.


Setelah Jay dan Nita meninggalkan tempat, Ratna menitikkan air matanya. Tepat ketika Tama mengelus kepalanya dan mencium keningnya, "Bunda apa yang dirasain?"


"Istirahat dulu ya. Bunda sudah makan kan?"


"Nggak banyak. Mas pindahin aku dong, aku nggak betah di sini," keluh Ratna.


Memang sih, bagaimana dia akan betah kalau seharusnya dia bisa tenang istirahat dia malah harus mendengar rengekan dan sumpah serapah dari mulut istri Vino yang ada di brankar sebelah. Walaupun tirai ditutup, tapi tidak mampu mengahalau suaranya. Ratna juga bahkan bisa mendengar suara Vino yang membuatnya mual-mual tidak karuan.


"Lho? Bu dokter Ratna kok tiduran di situ Bu? Eh ada Bapak juga, selama sore Pak," Hengki yang bicara. Dia baru saja selesai menangani pasien sepertinya.


"Selamat sore," sapa Tama.


"Bu dokter Ratna kenapa? Adek bayi kenapa? Nggak kenapa-napa kan? Siapa yang berani bikin adek bayi sakit? Wah belum tau kalau bodyguard Bu dokter Ratna mengerikan semua. Bu dokter Ratna jangan sakit dong Bu, nanti saya sedih," katanya agak dramatis.

__ADS_1


"Memangnya kalau saya sakit kamu sedih kenapa? Bukannya malah senang to soalnya nggak ada yang nagih laporanmu," kata Ratna masih berusaha bercanda.


"Ya iya sih, eh tapi kan kalau Ibu sakit nggak ada yang mau dengerin curhatan saya. Nanti saya curhat ke siapa Bu, masa iya saya curhat ke kadaver yang kemarin kita pakai buat praktek. Nggak cool dong yang ada horor malah," kata Hengki dengan gayanya.


Tama bisa melihat Ratna tersenyum walau kecil. Dia kemudian meminta tolong pada Hengki untuk menghibur Ratna sedikit sembari dia menyelesaikan urusan administrasi dan meminta izin pada dokter jaga untuk membawa Ratna pulang.


"Bu, saya boleh pegang adek bayi nggak?" tanya Hengki.


"Nggak," tolak Tama yang berdiri di belakang Hengki membuatnya ciut.


"Astagfirullah ampun pak polisi jangan tembak saya. Saya masih mau hidup," katanya sambil melindungi kepalanya dengan kedua tangan. Ratna tertawa begitupun Tama yang gemas melihat Hengki ketakutan padahal Tama tidak melakukan apapun.


"Jangan keseringan ngekor istri saya. Nanti kalau anak saya jadi mirip kamu tak tembak lho," ancam Tama dengan nada bercanda.


"Piye sih mau kon ngancani saiki kon ngalih. Polisi kok plin plan. Huu...," ledek Hengki walaupun dengan suara yang kecil tapi Tama dan Ratna masih mampu mendengarnya dengan baik.


"Heh, ngomong opo mau?" tanya Tama.


"Nggak Pak, Bapak ganteng, muach...," kata Hengki sebelum kabur meninggalkan Tama dan Ratna yang masih syok dengan ap yang Hengki lakukan barusan.


Tama membantu Ratna merapikan rambut dan pakaiannya yang agak berantakan. Dengan telatennya dia juga membantu Ratna untuk bangun dari posisi tiduran dan membantu menopang tubuh Ratna ketika istrinya sedang mengikat rambutnya ke belakang.


"Jangan kenceng kenceng Bun. Nanti tambah pusing," kata Tama diangguki oleh Ratna.


Baru Tama akan membantu Ratna untuk turun dari brankar, Vino mendekati mereka berdua. Ratna langsung membuang muka sedangkan Tama kembali melayangkan tatapan dingin.


"Saya ingin minta maaf," kata Vino.


"Jangan dekati istri saya lagi kalau masih mau hidup."

__ADS_1


Tama tidak menunggu respon Vino. Dia lanjut membantu Ratna memakai sepatunya dan memapah Ratna keluar dari IGD. Dengan perlahan dia juga membantu Ratna duduk di kursi samping kemudi baru dia duduk di tempatnya. Tama tidak lupa memasang sabuk pengaman pada Ratna dan dirinya baru menjalankan mobil keluar dari area rumah sakit.


__ADS_2