Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
47. Masih marah


__ADS_3

Dengan wajah lesu Tama melangkah ke klinik menemui Ratna. Tama mendapat pesan dari Nesya kalau Pak Leo memberinya hukuman. Tapi buat Tama hukuman itu rasanya belum cukup untuk menghapus kesalahan dia pada Ratna. Tama membuka pintu ruangan Ratna dengan perlahan kemudian mendekati bed tempat Ratna masih tertidur. Pagi tadi ketika dia meninggalkannya Ratna belum memakai selang oksigen, tapi saat ini Tama melihat Ratna menggunakan selang oksigen di hidungnya. Tama perlahan mengelus kepala Ratna kemudian mencium keningnya baru duduk dan hanya diam memandang Ratna yang tidur tidak begitu nyaman.


Tama duduk di sana menemani Ratna hanya untuk beberapa saat. Dia memilih untuk kembali ke markas dan menjalankan hukumannya saat ini juga. Tama lebih dulu mencari Pak Leo dan meminta maaf baru dia mengambil perlengkapannya dan mulai berlari keliling lapangan tempat apel dan upacara biasa digelar. Sampai malam Tama terus menyiksa dirinya, terus berlari mengelilingi lapangan. Beruntung Pak Leo melihat Tama yang sudah kelelahan dengan pakaian yang basah karena peluh.


"Ji, sudah. Jangan siksa dirimu seperti itu. Istrimu siapa yang akan menjaga kalau kamu sampai kenapa-napa?" kata Pak Leo.


Tama tidak mendengar kata-kata Pak Leo, dia melanjutkan larinya hingga Pak Leo menahan tubuhnya dan menghentikannya, "Aji sudah. Sini ikut saya kamu."


Pak Leo berhasil menyeret dan membawa Tama ke ruang konseling. Di sana Tama mengatakan semua yang telah terjadi kepada Pak Leo termasuk awal perseteruan antara Bagas dan Tama.


"Saya berani sumpah Pak, saya tidak bersalah. Saya ambil hukuman itu dengan suka rela hanya untuk menghindari hal-hal semacam ini terjadi," kata Tama.


"Saya tidak bisa percaya kamu 100% karena saya belum dengar dari pihak Bagas seperti apa. Tapi kalau sampai Ratna istrimu sejatuh ini, Bapak juga yakin ada yang tidak beres," kata Pak Leo.


"Ratna itu baru kehilangan sahabat dekatnya Pak, beberapa hari lalu kan dia pulang ke Jawa kalau mungkin Bapak dengar cerita dari Bu Rosa. Dia masih syok begitu, Bagas dan Zahra datang. Saya memang tidak tahu benar apa yang sudah dia lakukan padanya tapi kalau melihat dari bagaimana Ratna selalu menghindari mata saya, saya yakin Bagas mengatakan sesuatu tentang kecelakaan di Akpol waktu itu," kata Tama kali ini dengan suara yang lebih pelan dibandingkan sebelumnya.


"Jadi kau akan bagaimana sekarang? Saya tidak bisa diam saja, Saya tidak suka kamu bawa masalah pribadimu ke kantor. Aji, karirmu selama 10 tahun terakhir di kepolisian itu sudah bagus. Jangan karena satu masalah saya terpaksa menurunkan pangkatmu. Kamu juga sedang berjuang untuk rekruitmen itu. Kalau sampai kamu gagal, komandan pasti sedih. Kamu itu anak emasnya Komandan Slamet," kata Pak Leo menasehati.


"Pak, saya mohon izin untuk menyelesaikan masalah ini dengan istri saya," kata Tama.


"Silahkan. Kamu harus selesaikan ini sekarang biar besok kamu bisa fokus lagi. Karena kita harus mempersiapkan penyambutan untuk Bintara baru. Kamu saya beri tugas untuk membuat formasi pesonil untuk mereka," perintah Pak Leo.


"Lho bukannya mereka baru berangkat pelatihan?"


"Ya nggak ada salahnya kita persiapkan segalanya."


"Baik Pak, kalau begitu nanti saya rekap dulu datanya baru saya berikan ke Bapak," kata Tama.


"Yasudah sana pulang. Temui istrimu, kasihan dia sendirian," kata Pak Leo yang mulai lega mendengar tutur suara Tama yang sudah kembali seperti biasanya.


Tama kembali ke klinik untuk menjemput Ratna. Untung Ratna masih mau memberinya kabar kalau dokter bilang Ratna tidak perlu sampai menginap. Dia sudah baikan dan bisa beristirahat saja di rumah. Tama membawa mobilnya, kemudian mencari tempat parkir yang kira-kira mudah dijangkau. Ketika sampai di bangsal, Tama bisa melihat Ratna tengah rebahan sambil memainkan handphonenya untuk menghilangkan bosan. Tama seperti biasa ketika dia pulang, dia mendekati Ratna kemudian mencium keningnya. Ratna tidak menolak, artinya kondisi hati Ratna sudah lebih baik dibandingkan kemarin, semoga.


"Dek, kita pulang sekarang?" tanya Tama.


"Tapi makan dulu, aku laper," kata Ratna masih dengan suara serak.


"Mau makan apa?"

__ADS_1


"Nggak tau."


Tama mendengus. Ratna kalau sedang marah pasti akan jawab begitu kalau ditanya mau makan apa, "Makan bakso mau nggak?" tanya Tama.


"Nggak."


"Ayam geprek?"


"Nggak juga."


"Terus mau makan apa sayang?"


"Nggak tau," kata Ratna lagi.


"Dek, jangan gitu terus ah. Mas bingung harus gimana," kata Tama.


"Lagian Mas nyebelin sih," kata Ratna sambil menjauhkan tangan Tama.


"Iya iya Mas nyebelin. Tapi marahnya nanti dulu habis makan. Dek, kamu lagi sakit lho kalau kamu nggak makan gimana kamu mau sehat? Mas nggak minta kamu sehat buat orang lain. Sehatlah buat dirimu sendiri," kata Tama membuat Ratna semakin sebal.


"Ratna...," bujuk Tama lagi.


"Kamu lebih percaya sama Mas atau sama Bagas? Yang suamimu siapa?" tanya Tama pada akhirnya. Dia sudah tidak berniat untuk menahannya lagi. Ok permasalahan ini sudah tidak bisa ditunda dan harus selesai sekarang juga bagaimanapun caranya.


"Maksud Mas apa sih? Ada istrinya ngambek tuh ditanyain dulu kek kenapa. Nggak ujug-ujug nuduh kaya gitu," jawab Ratna tidak kalah ketus.


"Dek, jujur sama Mas. Kamu dibilangin apa sama Bagas sampai kamu kaya gini?" kali ini Tama mulai menuntut jawaban.


"Siapa Bagas?" tanya Ratna balik.


"Suaminya Zahra, Dek. Kamu jadi ragu sama Mas karena dia ngomong sesuatu sama kamu kan? Dia ngomong soal masalahnya Mas selama di Akpol ya?"


"Tunggu. Mas, suaminya Zahra yang lumpuh itu kan? Dia ngenalin suaminya Rangga Mas namanya," kata Ratna yang menemukan kejanggalan.


"Rangga?"


"Iya."

__ADS_1


"Dia cerita apa sama kamu. Ngomong yuk, Mas nggak mau kamu marah-marah terus Mas nggak suka," kata Tama yang mulai duduk dihadapan Ratna.


"Dia bilang Mas itu jahat. Mas sudah menghancurkan hidupnya Zahra. Mas yang bikin Zahra lumpuh dan nggak bisa melanjutkan mimpinya untuk jadi seorang polisi."


"Sudah kuduga," gumam Tama.


"Dek..., kamu masih percaya sama Mas?" tanya Tama pada Ratna sebelum dia melanjutkan ceritanya. Setelah Ratna mengangguk, baru Tama melanjutkan ceritanya.


"Kejadian sebenarnya tuh nggak gitu Dek kalau kamu mau percaya. Bener sih memang Zahra itu suka sama Mas, tapi kan ketika itu Mas masih sama Sindy. Mas nggak pernah ngelirik Zahra sama sekali. Di satu sisi, Bagas sahabatnya Mas suka sama Zahra. Mas hanya bantu Bagas untuk mengungkapkan perasaannya ke Zahra, itu aja. Terus soal Zahra bisa lumpuh, dia jatuh dari wall climb saat kita sedang latihan. Mas bertanggung jawab untuk masalah itu bukan karena Mas yang sengaja melakukannya, tapi karena Mas nggak mau masalah itu lebih besar lagi. Mas ada di atas ketika Zahra jatuh dan Mas disalahkan karena orang mengira Mas yang sabotase talinya."


"Yang Mas bilang ini benar?"


"Dek, kamu paling tahu Mas lagi bohong atau nggak. Menurutmu Mas sekarang lagi bohong nggak?" tanya Tama sambil menatap tepat dikedua manik mata Ratna.


"Nggak."


"Dek, Mas mau minta bantuanmu kali ini. Tolong percaya sama Mas. Mas akan meluruskan semuanya sekarang," kata Tama.


"Masalah itu dihadapi, bukan dihindari. Selesaikan masalahmu Mas, aku akan bantu kamu sebisaku."


"Mas...," kata Ratna lagi.


"Kenapa?"


"Maafin aku...," jawab Ratna sambil menangis.


"Sudah ya. Mas nggak marah kok, Sekarang kita pulang ya, kita istirahat di rumah. Mas akan bayar ketidakhadiran Mas di sebelahmu seminggu kemarin."


"Gimana caranya?"


"Gimanapun cara yang kamu mau," jawab Tama sambil tersenyum miring.


"Mas..., aku lagi sakit ih. Cuddle aja ya," bisik Ratna.


"As you wish, my queen."


Tama akhirnya bisa menggenggam lagi tangan Ratna. Dia berhasil mendapatkan lagi perhatian Ratna dan berhasil menyelesaikan satu masalahnya dengan sang istri. Sekarang Tama hanya tinggal menyelesaikannya dengan Bagas, dengan sahabat lamanya. Seperti kata Ratna yang mengutip kata-katanya di masa lalu. Masalah itu dihadapi, jadi Tama sekarang akan menghadapinya apapun yang akan dia temui nanti masalah dengan Zahra dan dengan Bagas sahabatnya harus selesai.

__ADS_1


__ADS_2