
Mulai pagi ini keluarga Aditama sibuk. Aditama junior bahkan terpaksa dititipkan pada pengasuh mereka, Uli. Lagi pula Bayu tidak kejatah jaga jadi Uli tidak sendirian mengurus anak majikannya sekaligus anaknya sendiri jadi Ratna tidak perlu merasa bersalah.
Tama sudah berangkat sejak pagi tadi. Sebenarnya Ratna berjanji akan memasak sesuatu untuk Tama buka puasa dan akan menyusulkannya ke markas tapi berhubung dia mendapatkan panggilan mendadak akhirnya Ratna terpaksa membatalkan janjinya dan meminta Tama membeli makan sendiri. Ratna segera pergi ke rumah sakit setelah ditelepon oleh Theo yang membutuhkan bantuannya untuk melakukan operasi darurat pada seorang pasien kanker sesaat sebelum jam kerja Ratna selesai.
Baru Ratna akan meneguk air setelah berkutat dengan isi perut pasien selama 3 jam lamanya, Dipta menghubunginya dan Theo dan memeinta keduanya segera ke UGD untuk menerima pasien TA yang datang borongan. Di sana juga sudah ada Jay dan Ela yang tengah bersiap. Theo langsung melepaskan dasi dan kancing kerahnya agar pergerakannya tidak terganggu.
"Gimana kondisinya?" tanya Ratna yang tengah mengikat rambutnya.
"Ada dua mobil yang adu banteng dengan isi mobil penuh penumpang. Total pasien ada 17. Rumah sakit lain full makanya dibawa ke sini semua. Selain itu ada juga 2 pengendara motor dan seorang pengguna jalan ke imbas dari kecelakaan. Salah satu driver meninggal di tempat dan sisanya luka berat dan ringan. Ratna tangani pasien wanita dan anak-anak. Jay dan Theo fokus ke pasien lainnya, aku harus menangani pasien yang kena benturan keras di bagian dada. Wisnu sama Ratna, Hengki sama aku. Ela back up tim dan siapkan ruang operasi darurat," kata Dipta memberi instruksi.
"Deal."
Tak lama kemudian dua buah ambulance datang. Pasien pertama yang datang adalah pasien yang paling gawat dan langsung ditangani oleh Dipta. Ketika masuk ke dalam UGD, detak jantung pasien sudah lemah makanya Dipta langsung fokus pada yang satu ini tanpa menghiraukan yang lainnya. Jay yang mendapatkan pasien paling banyak begitupun Theo yang membantu sedangkan Ratna terlihat kerepotan dengan rengekan seorang anak-anak dan satu ibu-tibu tidak sabaran.
Sudah lewat tengah malam ketika Ratna selesai dengan pasien terakhirnya. Dia tengah membasuh tangannya yang terkena noda darah juga melepaskan snellinya yang kotor. Ratna mencuci tangannya dengan ogah-ogahan. Sejak jam berbuka puasa tadi dia baru meneguk segelas air putih dan belum ada lagi yang masuk ke dalam saluran pencernaannya selain itu. Ratna bahkan mulai merasa tidak nyaman karena asam lambungnya naik.
"Nih, diminum dulu sekalian nunggu Dipta keluar dari ruang operasi," kata Jay sambil menyodorkan obat padanya.
"Makasih," kata Ratna.
"Theo jangan lupa di kasih. Makan malamnya udah gue beliin jadi segera kumpul ke ruangan ya, gue tunggu," kata Jay.
"Baik banget sih Jay, kenapa juga gue nggak bisa suka sama elo," kata Ratna agak ngelantur.
"Basi lo. Emangnya makan cinta kenyang Rat? Kagak," kata Jay.
"Iya kali ya," jawab Ratna.
"Lo lagi ada apa sih? Lagi mabok ya lo?" tanya Jay sambil mendudukkan diri di sebelah sahabatnya ini.
__ADS_1
"Nggak kok, nggak ada apa-apa. Kecapekan aja kali gue makanya ngelantur. Gue pergi dulu ya, mau ambil obatku ketinggalan di UGD. Habis ini aku nyusul ke ruangan. Bilang ke semuanya, sambel yang nggak dimakan kasih ke gue," kata Ratna.
"Siap Bu Aji. Laksanakan," kata Jay.
Ini nih pengakitnya seorang Adiratna setiap kali suaminya tengah bertugas. Dia selalu kepikiran macam-macam dan kadang random. Mungkin Tama tidak tahu kebiasaannya ini, atau mungkin dia tahu tapi tidak berkomentar apapun. Mau bagaimana lagi, namanya istri ditinggal suaminya bertugas bertaruh nyawa bagaimana mungkin bisa tenang. Ini saja yang hanya tugas berjaga Ratna sudah bingung apalagi kalau Tama sedang bertugas sambil membawa nama gegana.
Tama tidak memberinya kabar selain sebuah foto yang memperlihatkan menu berbuka puasanya. Kolak, 3 buah kurma, serta nasi ayam bakar yang katanya jatah dari kantor. Ratna juga membuka pesan dari Uli yang bertanya kapan akan menjemput anak-anak. Sampai pada pesan terakhir berkata kalau mereka bertiga sudah lelap tertidur setelah lelah bermain pesawat-pesawatan bersama om Bayu.
"Malam ini gue nggak ada shift. Gue boleh balik kan?" tanya Ratna.
"Boleh Rat, sorry ya bikin lo molor kerjaannya. Itu parcel sama amplop di dalem laci lo jangan lupa dibawa balik. Punya yang lain udah diambil dari siang tadi. Cuma tinggal elo yang belum makanya gue bawain ke sini," kata Dipta.
"Makasih Ta, ini makanannya boleh gue bawa balik aja kan?"
"Boleh. Udah sana pulang lo istirahat, besok katanya mau mudik kan lo? Salam buat keluarga di rumah," kali ini Jay yang menjawab.
"Waalaikumsalam, hati-hati ya Ratna," jawab Ela.
Ratna lebih dulu menjemput anak-anak di rumah Uli. Terpaksa dia melakukannya, toh katanya Uli belum tidur karena menunggu Bayu yang ikut dalam kegiatan malam takbir. Begitu sampai di rumah, dia menurunkan anak-anaknya satu per satu dan memastikan ketiganya kembali tertidur sebelum dia melangkah kembali ke mobil untuk mengambil parcel dari rumah sakit beserta tasnya. Ratna semakin stres ketika melihat kopernya masih berserakan akibat dia belum selesai packing.
"Bodo ah, besok pagi aja aku lanjutin," kata Ratna yang begitu saja tidur bahkan tanpa mengganti pakaian.
***
Begitu terbangun, Ratna langsung bersiap. Dia lebih dulu memasukkan baju koko, sarung dan sajadah dalam satu tas besar kemudian dia membangunkan ketiga anaknya. Ketika Aksara asik mandi sambil bermain air, Ratna memandikan si kembar dan tepat pukul 5.45 mereka berempat berangkat ke markas brimob untuk sholat Ied bersama keluarga besar brimob. Ketika sampai di sana Ratna lebih dulu menemui suaminya yang terkantuk sambil duduk di balik meja kerjanya.
"Ayah...," panggil Ratna.
"Kebo tuh orang. Kagetin aja," kata Cece.
__ADS_1
"Kebakaran woy kebakaran," teriak Bang Chandra membuat Tama langsung terkaget dan bangun dengan kondisi bingung.
"Asem," gerutunya begitu tahu dia hanya dikerjai.
"Sana pada siap-siap. Sisanya biar komandan Cakka yang ngatur," kata Cece.
"Thanks ya Ce. Balik dari Bandung gue traktirin karedok buatan istri gue," kata Bang Chandra.
"Nggak kepengen Bang, bosen tiap minggu lihat Abang makannya itu. Mending beliin oleh-oleh apa kek buat anak istriku Bang," kata Cece menawar.
"Balik dari Purworejo gue beliin kue lompong sekerdus deh Ce," kata Tama.
"Edan koe Ji, sing arep mangan sopo?"
"Kata siapa sekerdus buat lo doang. Bagi-bagi lah anak buah gue juga banyak," kata Tama.
Selama sholat Ied ada 2 orang anak buah Tama yang dengan senang hati menemani Aksa dan si kembar bermain. Karena tidak mungkin juga ketiganya ikut sholat Ied jadi Tama dan Ratna meminta bantuan sebentar. Selepas sholat, Ratna yang bersama dengan Lilis dan yang lainnya berjalan mendekati suami masing-masing yang berdiri menunggu di pelataran masjid. Mereka semua berjabat tangan sambil mengucapkan ikrar untuk saling bermaaf-maafan.
Kata Tama namanya manusia hidup itu tidak bisa lepas dari berbuat salah dan dosa, itulah kenapa kita wajib memiliki kesadaran akan kesalahan kita dan keberanian untuk meminta maaf yang disertai dengan kesungguhan untuk bertanggung jawab memperbaikinya. Tama juga bilang, selama kita mau melakukannya hidup kita akan aman, dan damai. Banyak hal yang Tama ajarkan pada istri dan anak-anaknya. Mulai dari hal agama, etika hidup, bahkan pelajaran-pelajaran lain yang belum Ratna tahu sebelumnya.
Mungkin Tama bukanlah sosok suami yang romantis seperti Bang Nanda, atau sosok yang begitu perhatian seperti Bang Chandra. Tama itu tidak romantis, dia juga tidak sering mengucapkan kalimat manis, tapi setiap kali Ratna dan Tama duduk berdua selalu ada satu pelajaran baru yang dia dapatkan dari suaminya. Ada pepatah yang mengatakan dibalik laki-laki sukses ada wanita hebat dibelakangnya dan untuk Adiratna pepatahnya tidak berhenti di situ karena wanita itu bisa menjadi hebat jika berada di tangan yang tepat.
"Mas, mohon maaf ya lahir batin aku minta maaf aku banyak salah sama kamu sama anak-anak," kata Ratna sambil mencium tangan suaminya.
"Sama-sama dek. Mas juga terkadang bikin salah sama kamu, mungkin juga belum bisa jadi suami dan ayah yang baik buat kamu dan anak-anak," kata Tama membalas ucapan Ratna.
"Seperti biasa Mas. Kita mulai lagi dari awal ya, kita belajar lagi biar bisa jadi baik sama-sama," kata Ratna.
"Pasti."
__ADS_1