
Ratna akhirnya tertidur dalam pelukan Tama, melihat dapur berantakan dan tumpukan pakaian kotor akhirnya membuat Tama berinisiatif. Dia perlahan melepaskan pelukannya, kemudian membetulkan posisi Ratna tanpa memindahkannya. Dia takut jika Ratna akan terbangun.
“Aku sampai lupa mengagumi wajah cantikmu ketika tidur…, bodoh banget aku,” kata Tama memandangi wajah Ratna yang tampak tidak begitu tenang dalam tidurnya.
Tama meraih selimut tipis di dalam kamar untuk menyelimuti tubuh Ratna kemudian dia lebih dulu mencuci pakaian. Dia memasukkan semua pakaian kotor tentu saja setelah memisahkan yang putih, hitam dan berwarna terang. Dia tidak mau pakaian istrinya ada yang rusak lagi karena ulahnya. Setelah memastikan pakaiannya terendam air sabun dia meninggalkan mesin cucinya dan membiarkan mesin itu membantunya.
“Cuci benar-benar. Yang punya baju galak soalnya,” kata Tama pada mesin cuci Ratna yang sudah mulai terlihat usang. Dia jadi ingat Ratna pernah mengeluh pengeringnya rusak dan dia belum sempat memanggilkan tukang service untuk memperbaikinya.
Tama kemudian beralih ke dapur dan membereskan kekacauan yang mereka buat tadi. Tama lebih dulu mengamankan semua bahan makanan ke tempatnya masing-masing lalu dengan perlahan dia membersihkan dulu piring bekas mereka sarapan di wastafel baru dia memasukkan loyang, pengocok, dan lain sebagainya yang dia tidak tahu apa namanya itu ke dalam wastafel dan dia cuci satu per satu. Dia pastikan semuanya bersih dan sudah tertata rapi di rak piring di sebelah wastafel baru dia mengelap seluruh meja dapur dan pantry.
“Selesai."
"Sekarang giliranmu, nurut sama Ayah. Kalau bandel tak buang beneran kamu nanti,” kata Tama pada sapu yang Ratna gantung di pojok ruang dapur dekat dengan kulkas.
Alasan Tama bicara begitu karena terakhir kali Tama menggunakannya sapu itu terlepas dari gagangnya. Dia sampai ditertawakan begitu keras oleh Ratna, “Tenaga brimobnya nggak usah dibawa pulang dong,” katanya sambil tertawa begitu puas. Walaupun setelah itu Ratna langsung meraih paku dan palu untuk memperbaikinya tapi Tama tetap saja malu.
Selesai menyapu dia meraih pel, tapi sebelum mulai mengepel dia lebih dulu membilas pakaian yang ada di dalam mesin cuci. Tama mengepel dengan perlahan sampai ke sudut lantai. Dia merangkak kesana kemari untuk membersihkan seluruh lantai rumahnya mulai dari ruang depan, ruang keluarga, kamar hingga dapur.
“Auw pinggangku…,” keluh Tama setelah selesai mengepel.
“Hah…, ternyata benar kata Mama. Pekerjaanku di kantor nggak ada apa-apanya kalau dibandingkan kerjaan di rumah,” kata Tama kali ini sambil memandang Ratna yang tengah bergerak membalikkan badannya ke arah berlawanan masih dalam posisi tertidur. Satu lagi dan Tama akan selesai, menjemur pakaian.
Tama akhirnya selesai, dia memilih untuk duduk diam di tempat sambil memperhatikan rumah yang sudah lumayan bersih itu, dia merasa perabotan di rumahnya sudah banyak yang rusak namun masih saya Ratna pakai. Dia hanya membetulkannya kemudian memakainya kembali. Jam di dinding sudah mulai mendekati angka 4, Tama dengan perlahan membangunkan Ratna yang masih nyaman di sofa.
“Dek…, bangun yuk udah sore,” kata Tama pelan, sangat pelan.
Ratna mulai menggeliat bangun karena terusik. Dia kemudian duduk dan melamun membuat Tama gemas bukan main. Ratna terlihat melihat ke sekeliling dan menemukan keanehan di sana, “Kok udah bersih?” tanya Ratna.
“Tadi kamu tidurnya sambil jalan-jalan sih. Sambil nyuci sambil cuci piring juga,” kata Tama.
“Bohong. Mas Tama ya yang bersih-bersih? Duh maaf Mas aku malah tidur, harusnya kan tadi Mas bangunin aku aja biar aku yang beresin rumah,” kata Ratna.
“Nggak papa Dek, sekali-kali kok nggak setiap hari. Dek ikut Mas yuk,” kata Tama.
__ADS_1
“Kemana?”
“Beli mobil,” kata Tama.
“Huh? Beneran?”
“Iya beneran.”
“Serius?”
“Duarius.”
“Udah sana siap-siap,” kata Tama membuat Ratna langsung bangkit dari tempatnya dan berjalan masuk ke dalam kamar untuk mengganti baju dan merapikan dirinya.
Tidak sampai 5 menit Ratna dan Tama sudah berangkat. Mereka sampai di dealer tepat sebelum dealernya tutup, untuk masih dilayani. Setelah sekitar 10 menit mendengar penjelasan dari SPG yang bertugas dan berkeliling melihat-lihat, mereka akhirnya memutuskan untuk membeli Honda Brio berwarna merah. Tama kini sedang menandatangani kontrak jual belinya sedangkan Ratna di sampingnya tidak bisa berhenti tersenyum.
“Terima kasih Pak, besok ketika pengiriman akan saya kabari lagi ya Pak,” kata si SPG.
“Siap, terima kasih.”
“Dah sekarang kamu beli semua peralatan rumah yang kamu butuhin,” kata Tama setelah mereka berdua masuk ke sebuah toko perabot.
“Mas royal banget tiba-tiba,” kata Ratna.
“Udah lama kita nggak royal Dek, prihatin terus hidupnya. Mas makin prihatin lihat kamu prihatin,” kata Tama.
“Ya tapi perabot di rumah masih layak pakai semua, emang mau beli apa?”
“Alat pel dan sapu itu jelas. Sama mesin cuci juga kalau perlu,” kata Tama langsung berhadiah cubitan dari Ratna.
“Ya tahu kamu lagi pengen manjain aku tapi ya nggak gitu juga. Ngawur ah,” kata Ratna.
Tama hanya bisa nyengir. Dasar Tama yang tidak pernah perhitungan pada istri. Niat hati menyenangkan Ratna bisa berakhir bencana memang kalau yang namanya Pratama Aji dibiarkan belanja sendirian.
__ADS_1
Ratna dan Tama akhirnya selesai belanja ketika jam makan malam sudah datang. Ratna sudah mengeluh lapar dari tadi dan Tama sudah tidak tega melihat istrinya cemberut begitu. Lagipula dia juga lapar kan tadi siang tidak makan. Hanya makan pie susu yang dibuat Ratna apa kenyangnya.
“Mas bikin ayam geprek yuk,” kata Ratna.
“Tadi katanya udah laper. Beli ajalah biar cepet,” jawab Tama.
“Ya beli ayamnya aja, sambelnya bikin sendiri. Aku juga ogah bikin dari awal, udah nggak punya tenaga.”
“Siap. Laksanakan komandan,” kata Tama sambil melajukan motornya menuju rumah makan ayam terdekat.
Malam itu Ratna mandi dengan wajah tersenyum yang tidak pernah luntur sedikitpun. Walaupun dia sendiri heran kenapa Tama tiba-tiba jadi seheboh itu membeli banyak barang untuknya padahal tidak sedang ulang tahun. Dia juga sedang tidak naik gaji. Ya Sudahlah anggap saja rejeki untuknya.
Jika Tama bersyukur bisa memiliki Ratna, maka Ratna akan lebih bersyukur lagi bisa diberi kesempatan menjadi milik suaminya. Tama itu baik, perhatian, tidak pernah menuntut macam-macam, dan dari sekian banyak kebaikan hati Tama ada satu yang begitu Ratna sukai. Tama dan Ratna itu selisih usianya lumayan besar, tapi Tama tidak pernah memaksanya untuk masuk dalam dunianya Tama. Justru Tama yang mengendurkan egonya dan ikut masuk ke dalam dunia Ratna.
Cara dia menegur jika Ratna sudah mulai kelewatan atau berbuat salah juga baik. Tama itu pekerjaannya membutuhkan ketegasan, kedisiplinan dan patuh yang tinggi tapi Tama tidak pernah sengaja membawanya ke rumah. Dia tidak pernah berlaku semena-mena pada Ratna. Tama memang tegas tapi dia tidak pernah memakai nada tinggi pada Ratna. Bahkan ketika mereka cekcok sekalipun.
“Mas Tama…,” panggil Ratna pada Tama yang sedang sibuk dengan laptopnya.
“Hmm?”
“Kerja ya?” tanya Ratna sambil meletakkan segelas teh hangat di samping kanan laptop Tama.
“Iya…, kalau kamu sudah ngantuk tidur duluan aja nggak papa,” kata Tama kali ini sambil meregangkan tubuhnya yang mulai lelah.
“Hebat banget suamiku hari ini. Mau aku kasih hadiah ah,” kata Ratna sambil memijat bahu Tama.
“Udah kamu tidur aja istirahat sana…,” kata Tama berusaha melepas tangan Ratna.
“Nggak mau, mau manja ke suami,” kata Ratna malah melingkarkan tangannya ke leher Tama.
“Ratna…,”
“Aku juga ada kerjaan. Aku temenin ya, habis itu kita tidur bareng. Tapi kasih izin aku mijitin kamu dong…,” kata Ratna dengan nada manjanya.
__ADS_1
“Yaudah terserah kamu. Tapi kalau capek berhenti ya,” kata Tama langsung diangguki oleh Ratna.