Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
45. Sakit


__ADS_3

Begitu semua urusan Tama selesai, dia segera mengusahakan untuk pulang. Tama memang sudah mendapatkan kabar kalau Ratna sudah berada di rumah tapi Tama tetap khawatir pada istrinya. Sayang saja Tama yang ingin segera sampai di rumah malah harus menerima kenyataan jika dia baru bisa kembali malam harinya. Itu artinya dia baru akan sampai di sana begitu pagi menjelang besok.


Mau bagaimana lagi, Tama di sini juga terikat. Dia tidak bisa seenaknya sendiri. Jika dia sampai minus satu point saja bisa dicoret namanya dari daftar. Padahal untuk mengikuti rekruitmen ini saja sulitnya bukan main. Latihannya selama bertahun-tahun, track recordnya yang tanpa noda, juga kemampuannya yang mumpuni akan sia-sia semuanya. Walaupun sebenarnya bukan menjadi cita-citanya masuk ke dalam tim elit ini hanya saja 1000:1 orang yang bisa mendapatkan kesempatannya dan Ratna pernah bilang, setiap kali ada kesempatan untuk hal baik kita harus berani mengambil langkah. Siapa tahu kesempatan itu yang bisa memperbaiki nasib.


Ah, lagi-lagi dipikirannya hanya ada Ratna dan Ratna. Ayolah, Tama hanya minta satu hal saat ini, segera pertemukan dia dengan Adiratna istrinya. Tama sudah tidak tenang sama sekali. Batinnya sudah tidak tenang, dia cemas, bahkan Tama mulai ceroboh.


"Pak, saya langsung pulang ya. Maaf, nanti saya kabari lagi," pamit Tama pada Pak Leo yang menyambutnya di markas.


"Duh duh Perwiraku satu itu, mau sampe kapan dia sama istrinya lengket macam pengantin baru terus," kata Pak Leo geleng-geleng.


"Bukannya bagus malah Pak? Artinya hubungan Bang Aji sama Mbak Ratna harmonis," kata Nesya.


"Ya tapi...., ah sudahlah. Sana kalau kamu mau pulang. Kamu juga sudah lembur semalaman. Hey Nesya, kamu harusnya cuti, santailah kamu di rumah sambil skincare-an biar cantik, katanya mau nikah kok malah sibuk kerja," kata Pak Leo.


"Gimana sih Pak, kan kemarin Pak Leo yang minta saya bantuin kerjaan Bang Aji," jawab Nesya.


"Yasudah setelah ini kau ajukan surat cuti, saya tunggu," kata Pak Leo.


"Siap. Laksanakan."


***


Ratna sebenarnya tahu Tama akan pulang hari ini tapi dari awal Tama sudah tidak mengharapkan Ratna akan menjemputnya. Apalagi ini masih jam berapa, terlalu pagi untuk Ratna pergi. Ketika sampai di pintu depan, Tama menemukan pintunya tidak terkunci, tapi korden dan jendela belum ada yang terbuka. Tama begitu saja masuk, dan mencari keberadaan Ratna yang ternyata masih tidur di atas kasurnya.


"Astaga Ratna...," kata Tama dengan perlahan mendekati Ratna.


Semakin dia mendekat, semakin dia yakin jika Ratna tidak baik-baik saja. Keringat dingin, wajah pucat, dan suhu tubuhnya tinggi. Bahkan bantal yang Ratna pakai basah karena keringat. Tidak lama Ratna akhirnya bangun juga. Dia menemukan Tama sudah berada di hadapannya. Bukannya memeluk suaminya, Ratna malah berusaha untuk bangkit berdiri. Padahal belum sampai dia sempurna berdiri, tubuhnya sudah oleng dan kembali terjatuh.

__ADS_1


"Ratna, kamu mau ke mana?" tanya Tama ketika Ratna berusaha untuk berdiri lagi.


"Bentar Mas," tepis Ratna.


Dia mulai berjalan pelan, berjalan sambil berpegangan pada apapun yang ada di dekatnya, meja, dinding, kursi, apapun yang bisa membantunya menopang diri. Ratna berusaha kuat sampai ke area dapur dan langsung meraih panci yang biasa dia pakai untuk merebus air. Tama yang tahu maksudnya langsung mencegah Ratna melakukan lebih banyak lagi. Tanpa pikir panjang Tama langsung menggendongnya dan mendudukkan Ratna di sofa ruang tengah kemudian dia berlutut dihadapan Ratna. Kedua tangannya menahan Ratna untuk kembali berdiri.


"Sayang, sudah duduk dulu. Jangan maksa, kamu lagi sakit," kata Tama.


"Aku nggak sakit...," tolak Ratna.


"Dek, nurut kalau dibilangin sama suami. Kamu duduk di sini istirahat, ya. Mas bisa ngurusin diri Mas sendiri kok. Mas mandi dulu sebentar, setelah itu kita omongin semua beban di hatimu," kata Tama akhirnya didengar oleh Ratna yang mulai merebahkan diri di sofa, membetulkan posisinya kemudian membiarkan suaminya pergi mandi.


"Jangan cium dulu, nanti Mas ketularan," cegah Ratna ketika Tama berusaha mencium keningnya seperti yang biasa dia lakukan.


Tama mandi cukup lama kali ini. Rasanya bukan hanya pikiran Ratna yang mengganjal, tapi pikirannya juga. Seperti ada yang sudah terjadi tapi dia tidak tahu. Tingkah Ratna sejak dia pulang agak berbeda. Tama bahkan dengan mudah menyadari jika Ratna terus memalingkan pandangannya dari Tama. Padahal biasanya ketika Tama baru kembali dari pekerjaannya, Ratna akan langsung memeluknya dan setidaknya menghadiahkan kecupan atas kerja kerasnya. Tapi untuk kali ini rasanya ada yang lebih dari hanya sekedar sakit.


"Istrinya kenapa kok tumben Bang Aji yang belanja?" tanya Bu Rosa.


"Sakit Bu, dari saya pulang masih belum bisa bangun," kata Tama.


"Sakit apa?"


"Demam. Kayanya kebanyakan pikiran dan kecapekan juga. Sahabatnya ada yang baru saja meninggal kemarin," jelas Tama.


"Oh kalau gitu mau ibu bantu masakin sesuatu apa gimana?" tawar Bu Rosa.


"Nggak usah Bu, nggak papa. Saya cuma mau bikin ini bening bayam saja sama goreng tempe," kata Tama.

__ADS_1


"Memangnya bisa?"


"Bisa Bu, sudah sering lihat Dek Ratna masak juga," kata Tama.


Dia buru-buru membayarnya kemudian segera masuk kembali ke dalam rumah. Ratna masih tertidur, walaupun tidak begitu nyenyak tapi Tama tidak ingin mengganggunya. Tama lebih memilih untuk melangkah ke dapur untuk mencuci sayuran yang baru dia beli tadi kemudian segera memasaknya berbekal resep dari youtube dan pengalamannya ketika melihat Ratna memasak. Setelah dirasa cukup, dia kembali memanaskan air untuk membuat dua gelas teh hangat. Terakhir dia mempersiapkan tepung untuk menggoreng tempe. Selesai sudah, walaupun tempenya agak gosong tapi setidaknya sayur buatannya tidak terlalu buruk. Tama kemudian melangkah mendekat ke sofa untuk membangunkan Ratna.


"Dek, makan dulu yuk. Mas suapin dikit-dikit ya," kata Tama.


"Mas beli atau Mas masak? Kok nggak bilang sih Mas kan aku bisa masakin," kata Ratna.


"Shtt..., mana ada suami berani nyuruh-nyuruh istrinya padahal lagi sakit gini," jawab Tama.


"Ada..., banyak."


"Pikiran kamu lagi ruwet banget ya? Sudah mood cerita belum?" tanya Tama.


"Nggak mood ngapa-ngapain."


"Tapi setidaknya makan ya, biar bisa minum obat. Setelah itu terserah kamu mau gimana," kata Tama.


"Aku ada jadwal operasi jam 1," kata Ratna.


"Mas anter nanti. Sekarang kamu makan dulu terus minum obat biar enakan. Yuk, sini Mas bantu," kata Tama sambil membantu Ratna untuk membetulkan posisinya.


Sedikit demi sedikit Tama bisa menyuapi Ratna. Setidaknya perutnya tidak kosong. Setelah habis beberapa suap, dia sudah mendorong sendoknya dan menolak buka mulut. Tama tidak memaksanya, dia meletakkan mangkuknya kemudian beralih mengangkat gelas berisi teh hangat tadi untuk membantu Ratna minum. Tama juga membantu Ratna untuk meminum obat kemudian menggendongnya kembali masuk ke kamar agar dia bisa istirahat tanpa terganggu Tama yang berencana untuk bersih-bersih.


"Mas jangan bersih-bersih."

__ADS_1


"Nggak sayang, Mas cuma mau cuci piring. Habis itu nyusul kamu buat tidur. Mas juga ngantuk," kata Tama sebelum meninggalkan Ratna agar dia bisa beristirahat tanpa gangguan.


__ADS_2