
Hari pertama Ratna untuk masuk kerja. Karena semalam mereka sampai di rumah sudah terlalu malam dan lupa beli gas, akhirnya Ratna hanya bisa sarapan nasi uduk yang dia beli dekat dengan kontrakan. Not bad dari pada tidak sama sekali. Setelah memastikan Tama bangun dan menepati janjinya untuk membantu Ratna membersihkan rumah, dia berangkat. Tama mengantar Ratna sampai ke pintu depan rumah sakit dan di sana sudah ada Dipta yang menunggu kedatangannya.
Ratna menemui Dipta yang sudah menunggu di pintu masuk karena dia juga yang meminta Ratna untuk bergabung di rumah sakit rintisan keluarga Jay ini. Tama juga tahu karena dia memintanya lewat Tama juga. Itulah alasan kenapa Tama tidak pernah melarang Ratna tetap dekat dengan sahabatnya. Karena Dipta, Theo, dan Jay selalu izin padanya setiap kali Ratna akan mereka pinjam. Mereka juga selalu melaporkan semuanya. Tama bahkan lebih ke arah memanfaatkan. Setidaknya Ratna aman bersama sahabatnya ketika Tama sedang tidak bisa membantu.
“Mas jemput nanti jam berapa Dek?” tanya Tama pada Ratna.
“Belum tahu. Nanti deh aku kabari,” jawab Ratna.
“Bang. Dikasih izin kan istrinya kerja di sini sama saya?” tanya Dipta.
“Diizinkan. Tapi jangan diapa-apain. Dia istri saya,” kata Tama sambil tertawa.
“Santai Bang. Saya sudah punya anak istri, galak lagi. Nggak ada yang doyan juga sama bentukan bantet kaya Ratna. Cuma Bang Tama doang yang mau,” kata Dipta.
Tama kemudian pamit lalu Ratna berjalan bersama dengan Dipta untuk masuk. Beruntung dia satu ruangan dengan teman-temannya jadi dia tidak begitu canggung. Paling hanya berkenalan dengan satu atau dua orang baru. Ratna fokus dulu mempelajari standar operasional rumah sakit. Dia juga belum diberikan izin menangani pasien seorang diri oleh dokter kepala. Agenda kerja Ratna hari ini adalah untuk mengekor Dipta yang ditugasi untuk mengospek Ratna.
Dipta langsung membawa Ratna ke kantor bagian HRD untuk mengambil ID dan menyelesaikan semua keperluan kepegawaian. Dipta mengenalkan semua yang perlu Ratna tahu. Mulai dari struktur organisasi rumah sakit, prosedur penanganan, para perawat, hingga letak-letak setiap ruangan. Dipta juga mengajak Ratna ke cafetaria khusus pegawai di lantai atas.
"Kalau di sini para dokter biasa pakai fasilitas khusus. Bukan hanya karena pelayanannya cepat, pembayarannya juga masuk dalam tunjangan kerja. Kalau kita sedang bertugas di ICU atau sedang persiapan operasi yang membuat kita tidak mungkin keluar, mereka juga dengan senang hati mengantarnya. Cuma kelemahannya hanya ada dua set menu ditambah satu menu vegetarian setiap harinya. Tidak bisa request juga seperti di kantin bawah."
"Tapi lumayan membantu sih. Lagian menunya juga lumayan kalau kulihat," kata Ratna.
__ADS_1
"Jelas lumayan. Sistemnya tidak mengikat, fasilitas pegawai diperhatikan dengan baik jadi kita yang kerja di sini bisa maksimal melayani pasien. Banyak testimoni juga, katanya rumah sakit ini termasuk rumah sakit swasta yang biayanya murah. Dibawah rata-rata rumah sakit swasta pada umumnya katanya.
"Gimana, keren kan rumah sakitku?" tanya Jay yang tiba-tiba muncul bersama Theo dari arah belakang.
"Nyombong lagi lo," jawab Theo sambil mengetok kepala sahabat karibnya itu.
"Ratna...!!!" Teriak Ela yang langsung berlari memeluk Ratna.
"Mama, kalem. Masih di rumah sakit," kata Dipta pada istrinya karena saat ini mereka menjadi pusat perhatian.
Alasan kenapa mereka bisa menjadi pusat perhatian ya karena Ratna yang merupakan pegawai baru sudah langsung akrab dengan circle mematikannya Wijaya Medica. Rumor dengan cepat menyebar. Dulu ketika masih koas mereka juga melakukannya di sini dan mereka cukup terkenal ketika itu karena kemampuannya yang begitu cepat beradaptasi dan menyerap semua ilmu baru. Dulu bahkan ada rumor yang mengatakan jika Ratna akan menjadi the next nyonya besar rumah sakit ini karena kedekatannya dengan Jay si anak pemilik rumah sakit. Tapi setelah koas, Ratna tiba-tiba menghilang dan sekarang kembali lagi kemari dengan status barunya sebagai dokter spesialis.
"Eh Ratna kebetulan banget. Besok malam kan peringatan 100 harian Radea, kamu ajak suamimu datang ya," kata Theo.
"Kamu belum pegang pasien langsung ya Na? Ikut aku menuhi panggilan IGD mau nggak?" ajak Dipta.
"Yaudah ayo. Guys gue duluan," kata pamit Ratna pada yang lainnya.
Ratna sudah menyelesaikan semuanya ketika dia mendengar adzan maghrib. Dia lebih dulu bertanya apakah suaminya bisa menjemputnya sekarang atau tidak. Kalau tidak dia ingin sholat dulu di Mushola rumah sakit. Karena belum lama mereka sampai di Jogja, jadi Tama masih senang mengajak Ratna jalan-jalan ke sana kemari. Tama dan Ratna ingat pada satu angkringan yang letaknya tidak jauh dari alun-alun utara. Dulu Ratna suka sekali sama nasi pecel di sana makanya dia mengajak Tama untuk makan malam di sana.
Maklum, rumah mereka belum sempat direnovasi karena pindahan mereka cukup mendadak. Jadi untuk sementara mereka cari rumah kontrakan padahal semua peralatan rumah tangga mereka diturunkan di rumah mereka. Terpaksa lah mereka kalau mau apa-apa beli. Tama bilang setidaknya untuk dua bulan ini. Tama fokus dulu memperbaiki genteng, dan temboknya. Dia juga harus membongkar interiornya sebagai langkah awal mewujudkan rumah impian mereka. Untung mereka mengikuti saran Ratna untuk tetap menabung biaya membeli rumah walaupun selama di Samarinda mereka ada rumah dinas.
__ADS_1
...***...
"Gimana tempat barunya Bunda?" tanya Tama.
"Alhamdulillah enak Mas. Ada teman-teman juga. Baik banget mereka ngajari aku banyak hal."
"Oh iya Mas Tama, besok malam ada pekerjaan nggak? Theo ngundang kita ke rumahnya. Besok mau ada doa bersama 100 harian kematian Radea katanya," ajak Ratna.
"Boleh. Sekalian Mas juga mau kenalan lebih akrab sama teman-temanmu. Biar tahu yang kerja sama kamu tuh orangnya seperti apa. Jadi Mas tenang ngelepasnya," kata Tama.
"Protektif amat Pak?"
"Ya gimana, Mas masih kebayang-bayang kamu 2 kali hampir hilang nyawa lo Dek. Mas juga nggak jamin di sini kamu akan baik-baik saja. Apalagi posisinya dekat dengan masa lalu kita," kata Tama.
"Tapi setidaknya Mas baik banget sudah kasih kesempatan ke aku untuk bisa menjadi wanita yang lebih kuat dari pada sebelumnya. Aku nggak papa deh nggak jadi ambil subspesialis. Aku mau jadi istri yang berbakti sama suami aja. Mau mengabdi buat kamu dan buat anak-anak," kata Ratna.
"Kamu bilang tadi kamu cek kesehatan. Bagaimana hasilnya?"
"Belum tahu. Tapi tadi aku sudah sempat tanya ke dokter obsgyn di rumah sakit. Kalau mau mulai program lagi sudah diperbolehkan karena kondisi badanku sudah pulih," kata Ratna.
"Alhamdulillah kalau begitu. Tunggu Mas ya, Mas mau nata hati dulu baru kita mulai lagi. Setuju?"
__ADS_1
"Setuju. Setidaknya sebulan dua bulanan Mas. Nanti setelah pekerjaan kita sudah tertata, rumah sudah jadi, biayanya juga sudah cukup," kata Ratna lagi membuat Tama begitu saja mengangguk menyetujui.