Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
51. Emosi


__ADS_3

Tama membawa istrinya pulang. Begitu sampai di rumah Ratna melemparkan tasnya sembarang, melepaskan sepatunya dan segera membuka kemejanya. Tama menyusulnya dan berusaha menenangkan istrinya yang sepertinya sangat emosi.


"Hey, hey, hey, sayang, kamu kenapa? Istigfar Adiratna istigfar," kata Tama menenangkan Ratna dan membawanya untuk duduk dengan tenang.


"Astagfirullah Mas..., aku tuh sebenarnya salah apa sih? Aku tuh punya dosa apa sampai harus ngalami ini semua?" kata Ratna sambil memukul dadanya yang terasa semakin sesak setelah dia menangis.


"Shtt jangan bilang gitu dong, Ratna sudah jangan dipukul sakit. Bunda, kamu ketemu Zahra lagi? Atau kamu malah ketemu Bagas, hmm? Cerita sama Mas," kata Tama yang kini duduk bersimpuh dihadapan Ratna dengan kedua tangannya yang terus menahan kedua tangan Ratna.


"Mas Bagas itu ternyata bukan suaminya Zahra Mas, selama ini dia cuma dimanfaatkan hanya demi Zahra bisa dapetin kamu," kata Ratna.


"Astagfirullah hal azim.... Maksudnya gimana Dek?" kali ini Tama yang tidak habis pikir.


"Mas Bagas bilang dia menikahi Zahra hanya diatas kertas demi memberikan perlindungan ke Zahra. Tapi Zahra nggak pernah menganggap Bagas sebagai suaminya. Dia hanya dimanfaatkan."


"Dan gilanya lagi Mas Bagas tuh tahu dia dimanfaatkan dan dengan senang hati melakukannya. Mas Bagas bahkan dengan entengnya bisa minta aku buat lepasin kamu gimana aku nggak emosi coba?!" kata Ratna sudah dengan suara yang keras berusaha melampiaskan emosi yang terus membakar dirinya.


"Sudah, sudah ya. Urusan ini biar Mas yang selesaikan. Kamu mundur, jangan lakukan apapun fokus saja sama tujuan kita. Dek, Mas nggak mau kamu tambah stres dan kondisimu menurun lagi. Sekarang kamu tenang atur nafasnya nanti kamu sesak nafas lagi Dek," kata Tama begitu khawatir.


Ratna mencoba mengatur nafasnya kemudian memeluk Tama yang masih berada dihadapannya. Tama langsung membalas pelukan Ratna dan terus mengusap-usap punggung sempit Ratna agar dia bisa segera tenang. Sejujurnya Tama sendiri juga tidak menyangka jika ternyata sahabatnya itu hanya diperalat oleh wanita yang sangat dicintainya sejak lama. Yang membuat Tama semakin tidak menyangka adalah tingkah Zahra sendiri. Zahra yang dikenalnya dulu begitu santun, pekerja keras, dan tekun. Tidak pernah terbersit dalam benak Tama jika gadis itu akan berubah begitu jauh hanya demi dirinya.


Tama mulai merasakan jika tubuh Ratna berangsur-angsur?melemas. Dari yang tadinya tegang dan menggenggam erat pakaiannya saat ini genggaman itu sudah lepas dan terjatuh, "Mas, boleh Ratna tanya sesuatu?" tanya Ratna.


"Bertanyalah sebanyak yang kamu mau," kata Tama.

__ADS_1


"Kenapa Mas tidak menyukai Zahra? Dia baik, cantik, dia juga setia," kata Ratna.


Tama melepaskan pelukannya kemudian menatap lekat kedu manik mata istrinya sambil menggeleng, "Cinta itu datangnya dari hati. Menurutmu kenapa Mas bisa jatuh cinta padamu bahkan sejak pertama kali kita bertemu? Karena hari Mas memilihnya kamu. Karena semesta kasih kamu ke Mas," kata Tama.


"Tapi ketika itu Mas belum kenal sama aku," kata Ratna berdalih.


"Ya, ketika itu Mas memilih Sindy. Mas sayang sama dia dan tidak ada niat untuk Mas menduakannya. Sama seperti yang kamu bilang, gadis lain blur dimata Mas," kata Tama.


"Itu dulu Ratna, sekarang Mas milikmu, dan kamu adalah milikku. Kita sudah menikah, dan hubungan pernikahan agaknya tidak sesepele itu untuk bisa retak. Ikatan cinta kita berdua kuat, kan? Mas berani jamin, mau berapa ribu wanita sekalipun mencoba menggoda Mas, Mas nggak akan pernah berpaling dari kamu," kata Tama.


"Dengan segala kekuranganku?"


"Dengan semua kekuranganmu."


Ratna kembali memeluk suaminya kemudian berbisik mengucapkan terima kasih. Kali ini Tama tidak hanya memeluknya. Dia membetulkan posisi Ratna duduk. Tama memangkunya. Dia letakkan kedua kaki Ratna diatas pangkuannya kemudian dia dorong istrinya hingga sempurna menempel pada pinggiran sofa. Dengan sangat hati-hati dia mulia memegang tengkuk Ratna, menghapuskan jarak yang ada. Tangan kanannya juga meminta agar Ratna mau mengalungkan kedua tangannya di leher Tama.


"Bunda, Ayah temani periksa mau ya?" tawar Tama setelah membetulkan posisi Ratna.


"Aku sudah periksa, sudah dirontgen juga. Paru-paruku memang melemah tapi tidak parah. Dokter bilang selama aku tidak sampai stres, menghindari polusi berlebih dan suhu ekstrem aku akan baik-baik saja," kata Ratna.


"Alhamdulillah kalau begitu. Mas jadi tenang dengernya. Sekarang tinggal Mas obati stresmu itu. Percayakan sama Mas," kata Tama.


"Tapi kesempatanku untuk bisa hamil menurun. Ditambah riwayatku yang pernah keguguran," kata Ratna.

__ADS_1


"Bukan masalah. Kita usahakan semua yang terbaik. Kalau memang tidak dikasih itu artinya memang bukan rejeki, tidak ada yang perlu disesali. Toh kita berdua pernah bersepakat untuk tidak mengusahakannya. Anggap saja kita kembali kepada kesepakatan awal," kata Tama menguatkan Ratna.


"Tapi Mas Mama...."


"Mama bukan masalah. Andai garis keturunannya harus berakhir di Mas, Mas ikhlas. Mas sayang sama kamu Ratna dan Mas nggak mau menyiksa kamu untuk melakukan apa yang nggak kamu mau," kata Tama.


"Mama dulu ngidamnya apa sih, Mas bisa baik banget gini," kata Ratna kembali memeluk suaminya untuk menyembunyikan air matanya yang kembali mengalir.


"Nggak tahu. Ngidam ban kali," kata Tama.


"Apaan sih. Ya kali ngidam ban anaknya yang lahir kaya titan gini. Harusnya kalau Mama ngidam ban kamu gemuk bulet Mas kaya ban. Bukannya malah tinggi kaya tiang listrik gini," kata Ratna.


"Tiang listrik katanya. Dek, Mas itu normal tinggi segini. Kamunya aja yang mini makanya Mas kelihatan kaya tiang listrik," kata Tama.


"Aku tuh normal ya."


"Normal gimana, adikmu dua tinggi-tinggi lho sayang. Kamu doang yang pendek gemuk gini," kata Tama mencubit hidung Ratna saking gemasnya.


"Ya kan dulu Ibu sama Bapak belum pinter bikinnya makanya aku jadi kaya gini," kata Ratna.


"Kalau Mas gimana, pinter kan bikinnya?" tanya Tama dengan nada menggoda.


"Banget," kata Ratna membuat Tama sekali lagi mencium Ratna.

__ADS_1


Kali ini Tama mengurangi durasi setiap permainannya, jadi Ratna bisa menghela nafas lebih banyak sebelum memulainya lagi. Sungguh Pratama Aji ini memang paling peka dengan keadaan istrinya. Dia bisa mengerti bagaimana kondisi Ratna lalu Tama akan mengikutinya. Tidak pernah dia memaksakan kehendaknya bahkan ketika Tama tengah tenggelam dalam napsunya menjarah tubuh Ratna. Tidak pernah dia melepaskan kendalinya hingga membuat Ratna terluka. Dia bisa begitu gentle memperlakukan istrinya dengan hati-hati. Tama bahkan tidak segan-segan meminta izin pada Ratna sebelum melakukan sesuatu yang lebih jauh.


Sejenak mereka lupakan masalah yang tengah membayangi keduanya. Benar yang Tama katakan, mereka berdua memiliki tujuan. Mereka berdua sedang mengusahakan kehadiran baby Ji kembali dalam perut Ratna itulah kenapa Tama tidak akan pernah tinggal diam jika ada yang mengusik atau berani mengganggu apa yang menjadi kesayangannya. Jangankan Bagas sahabatnya, Mamanya saja mungkin berani dia lawan jika sudah berani menyakiti istrinya. Karena memang Ratna ada dalam tanggung jawabnya. Dia yang dengan kurang ajar meminta Ratna dari dekapan kedua orang tuanya, itulah kenapa Tama harus bertanggung jawab dengan memberikan surga dunia kepada Adiratna Widiyatna istrinya.


__ADS_2