
Sepulangnya mereka dari liburan, Ratna sudah bolak-balik ke rumah sakit. Dokter memperingatkan pada Ratna karena kondisi tubuhnya yang ringkih jadi dia harus setiap minggu check up. Tama belum mengambil cutinya karena kesepakatan antara dia dan istri, Tama akhirnya mengambil cuti dekat dengan HPL Ratna. Kemanapun Ratna, dia diantar oleh ibu mertuanya yang begitu baik mengurus dia. Perlakuannya jauh berbeda dengan sebelum Ratna hamil. Saat ini Mama benar-benar memanjakan dia dan memberikan apapun yang diminta oleh Ratna.
"Kamu duduk situ aja, biar Mama yang ambilkan," kata Mama yang melihat Ratna berusaha menunduk untuk mengambil sebuah apel di dalam kulkas.
Mama mengambil satu buah apel, melepas stickernya lalu mencucinya hingga bersih di wastafel. Setelah itu Mama juga mengambil satu pisau kecil dan sebuah piring bersiap untuk mengupas apel itu untuk Ratna.
"Ma, biar aku aja," kata Ratna meminta pisau kupas dan apel yang ada di tangan Mama.
"Nak, kamu itu lagi hamil sudah besar, jangan kebanyakan gerak. Biar Mama yang ngurusin semua keperluan kamu. Kamu cukup diam dan fokus sama kesehatanmu dan bayi kamu," kata Mama.
"Tapi Ma, Dek Aksa nggak suka kalau aku diem aja. Dia jadi protes, nendang-nendang terus. Dia lebih suka Bundanya gerak, aktivitas apa aja gitu," kata Ratna.
"Kamu masih intens ngerasain gerakannya? Memangnya belum berkurang?"
"Udah mulai berkurang, tapi karena udah gede setiap gerakannya jadi kerasa banget. Kadang kalau dia protes nggak didengerin terus nendang keras banget Ma sakit," jawab Ratna.
"Dokter bilang apa tadi? Kondisi kamu bener baik-baik aja kan?" tanya Mama lagi.
"Nggak ada masalah Mama, justru aku diminta olahraga kecil-kecil biar waktu lahiran nanti nggak gampang capek terus biar selama prosesnya nggak ada kendala juga. Dokter malah menyarankan aku banyak gerak jadi biarin Ratna ikut ngerjain pekerjaan rumah kaya biasanya ya Ma, please," rengek Ratna.
"Ok, maaf ya Mama kan nggak tahu kamu harus bagaimana. Kalau ada apa-apa bilang makanya biar Mama tahu. Nih apelnya kupas sendiri. Mama mau masak. Kamu mau dimasakin apa?"
"Masak sayur bening bayam sama bacem tahu dong Ma, pengen makan yang manis-manis," kata Ratna.
"Kamu tunggu di rumah ya, Mama ke warung dulu sebentar."
Mama sudah pergi, meninggalkan Ratna yang sibuk dengan apelnya. Beberapa kali dia merasakan gerakan Aksa yang mulai merasakan sesak dalam perut Bundanya. Ratna sesekali menenangkannya dengan mengelus perut besarnya. Dia juga mengirim beberapa pesan pada Tama tentang apa yang dialaminya dan bagaimana perkembangan Aksa si jagoan kecilnya.
...***...
Malam harinya, Tama dan Ratna sedang duduk di ruang tengah bersama Mama. Ratna tengah melipat pakaian dan memasukkannya ke dalam satu tas sekaligus bersama semua keperluan yang mungkin dia butuhkan ketika nanti dia tiba-tiba harus ke rumah sakit. Dia juga memasukkan satu set pakaian untuk Tama dan 2 set untuk dirinya beserta popok dan perlengkapan bayi lainnya. Tama di sampingnya sesekali membantu sembari dia membaca-baca diari kehamilan milik Ratna.
__ADS_1
"Tam, kamu mulai kapan ambil cuti?" tanya Mama.
"Seminggu lagi. Karena aku mau lebih lama bantu Ratna jagain Aksa," kata Tama santai.
"HPL-mu tanggal berapa Ratna?" kali ini Mama bertanya pada menantunya.
"Tanggal 8. 3 hari setelah Mas cuti," jawab Ratna yang kini sudah duduk di sebelah Tama.
"Yakin bener ambil cuti minggu depan? Nggak kemepetan Tam?"
"Nggak papa Mama. Kan ada Mama jagain Ratna, kalau ada apa-apa aku standby di kantor. Komandan sudah kasih keringanan dan kerjaanku diback up sama Bayu sementara waktu," kata Tama.
"Ma, besok aku masih ikut acara di bhayangkari boleh kan?" tanya Ratna.
"Minta izinnya ke suami lah, kok ke Mama?"
"Ya kan Mama lebih protektif dari pada aku. Ya wajar Ratna minta izin ke Mama duluan," jawab Tama.
"Maklum sih, cucu pertama. Mama kaya gini juga demi kalian berdua kok nggak demi Mama. Kalau kalian punya anak kan yang seneng kalian bukan Mama, Mama paling lama sebulan di sini sudah harus balik ke Jakarta," curhat Mama.
"Kalau Mama kelamaan di sini langganan Mama lari semua nanti. Salon kalau nggak ada Mama berantakan Ratna. Lagian Mama percaya kamu pasti bisa jaga anakmu dengan baik," jawab Mama dengan tersenyum.
Ketakutan Tama memudar melihat Mama begitu baik pada istrinya. Dia jadi tenang, karena Sindy sudah tidak pernah lagi terlihat bersama Mama. Walaupun sebenarnya dia juga tidak bisa setenang itu karena istri Vino suka tiba-tiba mengamuk jika bertemu dengan Ratna. Saking perhatiannya, Tama bahkan meminta Dipta untuk mengecek kapan istri Vino akan melahirkan. Untung harinya tidak bersamaan dengan Ratna karena Tama menerima kabar jika Vino sudah berada di rumah sakit sekarang.
"Bunda, kalau sudah selesai istirahat," kata Tama.
"Belum ngantuk."
"Sudah jam 10 Bunda."
"Temenin sana. Jangan kamu nyuruh-nyuruh doang. Anakmu kangen itu, berapa minggu kemarin kamu tinggal coba."
__ADS_1
"Ya Allah iya Ma, ini juga mau ditemenin. Mau gimana lagi, kalau sudah panggilan nggak bisa nolak. Alhamdulillah nggak sampai berbulan-bulan kaya biasanya," kata Tama.
Tama kemudian membantu Ratna untuk bangun dari duduknya. Ratna lebih dulu masuk ke dalam kamar sedangkan Tama mengecek pintu dan jendela juga mematikan semua lampu. Mama juga sudah masuk ke dalam kamar. Tama memandangi tas yang tadi diberesi oleh Ratna, dia menurunkannya dari atas meja dan meletakkannya di sudut sofa.
"Ya Allah deg-degan aku. Bismillah lancar semua, aamiin," kata Tama sambil mengusap-usap dadanya untuk menenangkan diri.
...***...
"Bunda, besok Ayah ada upacara kenaikan pangkat. Bunda masih kuat nggak?" tanya Tama pada Ratna yang masih asik ngobrol dengan si kecil sambil rebahan.
"Di mana? Bunda kalau ikut upacaranya nggak kuat," kata Ratna.
"Datang aja. Besok acaranya di Mapolda. Katanya besok istri yang akan menyematkan pangkat," kata Tama.
"Mas ikut naik pangkat? Kok nggak bilang sih. Nyebelin banget," protes Ratna sambil memukul suaminya dengan BonBon.
"Ya Allah bojoku ngene banget. Kayanya kamu tadi udah minta izin sama Mama mau ikut acara bhayangkari ki kamu lihat agendanya nggak to jane Dek? Besok agendanya mengikuti upacara kenaikan pangkat di Mapolda DIY lanjut syukuran di markas brimob. Iya nggak? Baca lagi coba pengumumannya," kata Tama.
"Astagfirullah iya ding maaf Mas lupa. Aku bacanya cuma yang di markas aja nggak yang di Mapolda. Mbok jangan marah-marah to, manusiawi tau lupa tuh," kata Ratna setelah mengecek reminder dalam handphonenya.
"Banyak Mas yang akan naik pangkat kok acaranya sampai di Mapolda? Biasanya hanya di Markas Brimob," tanya Ratna lagi.
"Banyak Dek, kan upacara korps raport. Besok tanggal 1 Juli sayang. Gimana bisa nggak?"
"Insyaallah. Diusahakan bisa. Eh iya Mas, yang naik pangkat siapa saja dari brimob?" tanya Ratna.
"Lumayan banyak. Cece jelas naik pangkat, Bang Rendi, Bang Chandra juga, Mas juga. Mbak Aya istrinya Bang Rendi juga naik pangkat katanya," jawab Tama.
"Yaudah aku besok ikut. Ada Lilis kan? Aku besok sama Lilis nunggunya nggak papa kan Mas?" tanya Ratna dengan wajah berbinar karena tahu dia di sana besok tidak akan sendirian.
"Ok siap. Makasih ya Bunda," kata Tama. Tama kemudian mencium kening Ratna. Dia juga tidak lupa mencium si kecil yang sepertinya sudah tidur karena sedari tadi dia sudah tenang tidak bergerak.
__ADS_1
"Aksa udah tidur, Bunda juga yuk," ajak Tama.
Tama membantu Ratna membetulkan posisi tidurnya kemudian menyusul untuk tidur juga. Sejak perut Ratna mulai besar, dia selalu meletakkan satu bantal di antara Tama dan dirinya. Mereka juga sengaja memojokkan tempat tidur membuat Ratna tidur dekat dengan dinding. Kondisi perut yang sudah besar membuat Ratna sulit bergerak makanya dia akan meletakkan bantal di kanan kiri tubuhnya juga satu diantara kakinya sedangkan tangannya selalu memeluk boneka lumba-lumba barunya.