
Tama dan Ratna membeli semua keperluan yang mereka butuhkan paling tidak untuk 2 minggu kedepan. Alasannya karena Ratna tidak mau berjubel dengan ibu-ibu lainnya berburu sembako di supermarket. Tama juga kan selama puasa ini akan sibuk dengan berbagai kegiatan baik di luar maupun di dalam kesatuan.
"Buset mahal," kata Ratna mengeluh pada suaminya.
"Apa?"
"Minyak goreng."
"Yaudah beli secukupnya saja. Jangan banyak-banyak," kata Tama.
"Bunda..., besok masak yang kaya tempo hari dong," kata Tama.
"Yang mana?"
"Itu yang kamu bilang pakai rumput laut sama tahu," jawab Tama.
"Oh itu, ya beli tahunya dulu sama nori."
Ratna dan Tama berjalan kembali ke counter sayuran. Ketika Ratna sibuk memilih-milih tahu Aksara yang berdiri tidak jauh darinya menunjuk sekotak susu kesukaannya. Dari pada ribut Tama mengambilkan sekotak dan memasukkannya ke dalam keranjang. Tidak lama kemudian, Tara terbangun dan terus memandangi Ayah Bundanya yang sibuk memilih jus jambu atau jus jeruk.
"Bunda adek bangun," kata Aksa membuat Ratna dan Tama menoleh.
"Ya ampun, maaf ya sayang Bunda nggak lihat kamu sudah bangun," kata Ratna sambil mengangkat Tara dari kereta bayi.
"Sini sama Ayah aja kasihan bunda masih harus belanja dek," kata Tama.
...***...
Berhubung anak-anak terlalu asik bermain di Playground, Ratna jadi tidak sempat untuk pulang. Tama akhirnya langsung mengantar Ratna ke rumah sakit dan pulang bersama ketiga putranya.
"Dijemput jam berapa sayang?" tanya Tama.
"Aku naik ojek aja. Kemungkinan urusanku selesai kamu sudah di kantor," jawab Ratna.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu besok hati-hati ya."
"Siap komandan. Titip anak-anak ya," kata Ratna sebelum turun dari mobil.
Setelah menurunkan istrinya di lobby rumah sakit, Tama kembali ke rumahnya bersama Aksara dan si kembar. Mereka tertidur dan tertebak malam ini Tama harus berjuang keras untuk menidurkan mereka bertiga.
Tama lebih dulu membawa si kembar dan Aksara turun dari mobil. Dengan perlahan Tama tidurkan ketiganya di kasur lipat yang digelar di depan tv. Nusa terbangun ketika Tama menurunkannya, dan dari pada dia membangunkan abang dna kembarnya, Tama memilih untuk menurunkan barang belanjaan mereka sambil terus menggendong Nusa.
"Da?" kata Nusa yang mencari di mana Bundanya.
"Da? Nusa nyariin bunda?" tanya Tama.
"Da."
"Bunda lagi kerja Sa. Malam ini sama Ayah dulu ya," kata Tama.
"Amamamam," kata Nusa lagi.
"Bentar ya Ayah masukin belanjaan dulu," kata Tama.
"Aduh iya iya masuk yuk masuk kita mam ya," Tama mencoba sabar menghadapi si anak tengah.
Ketika dia masuk ke dalam kamarnya, dia menemukan Tara sudah bangun dan sedang ditepuk-tepuk Aksara. Pantas dia tidak menangis.
"Ayah, tadi adek Tara nangis jadi abang puk-puk," aku si sulung.
"Makasih ya Abang. Pinter banget sih kamu," kata Tama.
"Soalnya bunda bilang kalau abang mau jadi super hero abang harus bisa bantu ayah sama bunda jagain adek dulu," kata Aksara.
Dari tadi yang dicari dan disebut oleh ketiga anaknya ini adalah bunda, bunda, dan bunda. Tama sejenak termenung. Selama ini dia merasa sudah dekat dengan anak-anaknya tapi kenyataannya tidak seperti ekspektasi. Walaupun bunda sering mengomel dan marah-marah kalau anak-anak salah, tapi mereka masih tetap mencari Bunda kapanpun mereka tidak melihat bundanya di sekitar mereka.
"Anak-anak, malam ini sama Ayah dulu ya Bunda lagi bantu sembuhin orang yang sakit. Bunda lagi jadi super hero jadi Aksara sama Nusantara sama Ayah di rumah jangan nakal ya," kata Tama pada ketiga anaknya.
__ADS_1
"Ndah....," jawab Tara.
"Iya Ayah," jawab Aksara.
"Amamamma," kata Nusa mulai protes karena lapar.
"Oiya makan. Bentar kalian di sini dulu Ayah siapin makan malam kalian dulu," kata Tama kemudian menurunkan Nusa dari gendongannya.
Tama dengan segera memanaskan sayur sop yang siang tadi dimasak oleh Ratna. Ratna tadi berpesan untuk menghangatkannya dulu agar lemak dari kaldunya bisa larut sehingga tidak akan membuat lidah anak-anak tidak nyaman. Tama mendudukkan ketiga anaknya di atas kursi masing-masing kemudian sambil mengawasi ketiganya makan Tama juga ikut menghabiskan makan malamnya secepat kilat.
Rasanya belum ada semenit lalu mereka duduk tenang menghadap makanan masing-masing, Nusa sudah berbuat ulah. Dia memukul-mukul mangkuknya dengan sendok membuat makanannya tumpah kemana-mana. Tama hanya bisa menghea nafas, mau marah juga tidak akan bisa dia memarahi sigembul menggemaskan ini. Apalagi Nusa memasang wajah tidak bersalahnya dan mulai memakan makanannya yang berserakan dengan tangan.
"Eits, sudah kotor dek bentar Ayah ambilkan lagi. Jangan di makan Nusa," kata Tama mencegah anak tengahnya memakan wortel yang sudah dia genggam.
Tama mulai belajar dari kesalahan. Dia hanya mengambilkan sedikit kuahnya hanya agar nasinya bisa basah saja. Dia tidak mau makanan Nusa tumpah untuk kedua kalinya.
Sekitar 30 menit berlalu, prahara makan malam sudah berakhir. Nusa dan Tara sudah tenang menggenggam botol susunya sambil menonton kartun yang ada di tv sedangkan Nusa mencoba untuk membacakan buku cerita pada kedua adiknya. Walupun Aksa hanya menunjuk-nunjuk gambarnya tanpa membaca teksnya tapi Tama bisa melihat usaha Aksa membantu orang tuanya menjaga adik.
"Bang, titip adik dulu Ayah mandi ya," kata Tama yang baru selesai mengepel lantai dapur.
"Iya Ayah," jawab Aksara.
Malam itu mereka habiskan tanpa kehadiran Bunda. Karena Tama terlalu takut dia akan kerepotan kalau sampai anak-anak rewel, dia memutuskan untuk tidur bersama anak-anak di depan tv. Dia menurunkan kasur cadangan yang Ratna simpan di kamar, setelah memasang sprei, Tama menurunkan Nusantara di atas kasur. Keduanya langsung asik bermain di atas kasur yang bergoyang setiap mereka bergerak. Apalagi Bang Aksa juga ikut berjingkrak di atas kasur bagai dia sedang diatas trampolin.
"Sini bobok udah malem lho anak-anak. Mainnya besok lagi ayo," kata Tama yang baru selesai mengeluarkan bantal si kembar dan Abang dari dalam kamar.
"Ayah, kita bobok di sini? Boleh sambil nonton tv nggak?" tanya Aksa.
"Nggak boleh Bang. Nanti kamu nggak tidur-tidur keasikan nonton tv," kata Tama.
Dia hampir lupa membuatkan susu untuk ketiga anaknya jadi dia berjalan kembali ke dapur untuk membuatkan susu. Ratna selalu menuliskan catatan-catatan kecil di rak dan kulkas berisi hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengurus si kecil. Tama menbaca satu catatan yang berwarna hijau. Di sana tertulis berapa takaran susu yang harus dia pakai untuk membuatkan si kembar dan Abangnya.
Pertama dia buat dulu untuk Aksara kemudian memberikannya pada si sulung yang kini sudah lancar minum dari gelas. Sembari menunggu Aksara menghabiskan susunya, Tama membuatkan untuk si kembar. Dia menutuo rapat botolnya sebelum dia serahkan pada Nusantara yang mulai merengek di tas kasur. Sepertinya keduanya takut jatuh padahal ingin sekali mereka mengejar Ayah ke dapur makanya sekarang ini keduanya hanya bisa merengek di pinggiran kasur.
__ADS_1
"Ini nih punya Nusantara, sini sambil bobok," kata Tama. Dia menyerahkan susunya pada mereka berdua kemudian Tama menata sekalian posisi tidur mereka. Bang Aksa di ujung, tidur di sebelah Nusa sedangkan Tara ada di sebelah Ayah.
"Huh capek," keluh Tama yang mulai merebahkan diri di sebelah Tara yang mulai anteng dan lambat laun tertidur. Untung Tama tidak lupa memgunci dulu rumahnya sekalian dia memasang alarm agar tidak kesiangan bangun besok pagi karena tidak ada Ratna yang membangunkannya.