
2 minggu Bapak dirawat di rumah sakit, kini akhirnya Bapak bisa pulang. Karena kondisinya masih sulit melakukan apapun, Ratna meminta Bapak dan Ibu untuk di rumah Ratna sedikit lebih lama. Tama juga menyetujui. Walaupun Bapak sempat protes dan mengatasnamakan si Jalu, jago kesayangan Bapak, tapi Ratna tidak berkutik. Dia malah memarahi Bapak dan bilang akan menjual Jalu kalau Bapak masih ngeyel.
Kemarahan anak perempuan pertama memang tidak bisa diredam. Jangankan Bapak dan Ibu, Tama yang serem luar biasa saja akan tunduk patuh kalau Ratna sudah pasang taring. Makanya sekarang Bapak hanya bisa pasrah dan mengikuti apapun yang diperintahkan oleh putri sulungnya. Jujur Bapak bangga, tapi juga merasa tidak enak karena sudah merepotkan putrinya. Apalagi sejak kemarin Ratna terus muntah-muntah dan demam. Tapi kalau dia sudah punya keinginan tidak ada yang bisa membengkokkan.
"Dek...," tanya Tama pada Ratna yang kembali terserang demam malam harinya.
"Kenapa Mas?"
"Ke rumah sakit yuk."
"Ngapain?"
"Kali aja kamu positif, soalnya kamu sering minta ini itu juga, morning sickness juga. Mas jadi berharap nih," kata Tama.
"Bentar, iya sih ya. Aku telat juga," kata Ratna menyadari sesuatu.
"Tuh kan. Ayo ke rumah sakit. Siapa yang sekarang lagi jaga malam? Tak telpon biar periksa kamu," kata Tama sudah menggenggam handphonenya bersiap menghubungi siapapun yang dikenalnya.
"Mas. Besok pagi aja aku ke rumah sakitnya. Sekarang aku sudah nggak mampu. Pengen langsung tidur, kepalaku udah berat banget. Bapak sama Ibu juga sudah istirahat. Mending Mas cepetan nyusul sini, pengen minta peluk," kata Ratna dengan nada sedikit manja.
"Tuh kan. Beneran nih. Nyatanya kamu manja gini," kata Tama sudah senyum-senyum sendiri mengelus perut Ratna.
"Jangan geer dulu ah. Kalau ternyata aku cuma masuk angin gimana?"
"Ya nggak papa. Kalau hasilnya negatif Mas bakal ubah langsung jadi positif. With no time," kata Tama berbisik ditelinga Ratna.
...***...
Sayangnya Tama tidak sempat mengantar Ratna ke rumah sakit karena dia harus lebih dulu berangkat. Ratna sibuk sekali membuat waktunya untuk Tama sedikit berkurang. Tapi tidak apa, semoga saja pulang nanti Ratna membawa kabar baik untuk mereka dan keluarga. Tama terus berharap-harap cemas sampai tidak fokus melakukan pekerjaannya.
__ADS_1
"Ndan, ini mau sampai kapan mereka binsiknya?" tanya Bayu.
"Astagfirullah. Udah berapa lama memangnya?"
"2 jam."
"Ya sudah istirahat dulu. Habis itu masuk lapangan tembak. Tak tunggu di sana," kata Tama.
"Siap. Laksanakan."
"Woy!" bentak Cece yang ternyata berdiri di belakang Tama.
"Apa?"
"Gila ni orang. Ngalamunin apaan lo sampe nggak fokus gini?" tanya Cece.
"Istri lah. Ngalamunin siapa lagi emang?"
"Pagi ini mau check up kali aja positif tapi kok sampe siang gini belum kasih kabar."
"Mbok yo sabar Ji, lagi ada pasien kali orangnya," kata Cece.
"Hari ini dia nggak punya jadwal operasi Ce, jaga poli juga nggak. Stand by IGD jatahnya Dipta."
"Apal tenan," gumam Cece geleng-geleng.
"Suami yang nggak hapal jadwal istri cuma kamu doang Ce, lainnya nggak ada yang begitu," kata Tama.
"Nyindir ceritanya?" kata Bang Chandra yang ternyata sudah lebih dulu ada di lapangan tembak.
__ADS_1
"Eh ada Bang Chandra. Nggak Bang, ini lho si Cece yang saya katain. Kalo Bang Chandra sih lumrah wong istrinya sibuk pakai banget. Kegiatannya banyak dan pindah-pindah. Udah kaya artis aja," kata Tama sambil cengar-cengir sedangkan Cece di sebelahnya mulai bersungut-sungut tidak terima.
...***...
Ratna sebenarnya sudah mendapatkan hasil USG sejak pagi tadi, tapi dia hanya bisa menatapnya sambil duduk lemas di ruang kerjanya tanpa mampu memberi tahu siapapun. Akibat percakapannya dan suami semalam, membuat Ratna sedikit banyak mulai berharap dan ketika hasilnya tidak sesuai dengan perkiraan, rasanya sedih sekali. Hampir saja air matanya lolos jika bukan karena Ela yang menyeretnya keluar dan mengajaknya makan sambil cari angin.
"Udah nggak usah dipikirin. Terkadang kan semuanya terjadi tidak sesuai rencana kita. Percaya deh, rencana Allah akan lebih baik dari ini," kata Ela.
"Betul tuh. Kemarin juga aku dengar kak Dipta gibahin Mbak Ratna sama Mas Jaya sama Kak Theo. Katanya kalau Mbak Ratna hamil sekarang Kak Dipta yang repot, habis pasien depart bedah umum lagi banyak ya katanya," kata Nita yang ikut duduk bersama mereka berdua.
"Kalau pasien sih hampir tiap saat penuh. Iya sih bener, aku masih ada tanggungan juga di rumah. Tapi rasanya agak kecewa. Habis sudah nunggu bertahun-tahun. Mumpung akunya sehat, Mas juga kerjaannya lagi nggak banyak, gitu lho. Kalau setelah ini nggak tahu lagi aku. Beberapa bulan lagi kan masuk masa kampanye. Kita nggak akan pernah tahu apa yang akan terjadi selama Pilpres berlangsung," kata Ratna.
"Diusahakan lagi aja Rat. Kalau menurutku nggak perlu nunggu suamimu selo kerjaannya. Kerjaan brimob mana pernah selo sih. Kan kamu ada aku ada Nita, kita bisa bantuin kamu. Toh anak-anak sudah gede, Nita juga lahiran belum dalam waktu dekat ini. Asal sudah lewat trimester pertama kan sudah aman," kata Ela memberi motivasi.
"Makasih ya, kalian berdua baik banget," kata Ratna yang akhirnya bisa tersenyum.
"Inilah fungsinya teman. Ketimbang kamu temenan sama suamiku. Nggak akan ngebantu banyak. Dibully yang ada kamu," kata Ela lagi.
"Partner bullynya Kak Dipta kan Mbak Ela juga," celetuk Nita penuh kepolosan.
Ratna yang tadinya masih menggenggam tangan Ela langsung menariknya dan melayangkan tatapan datar mengintimidasi pada Elana yang sudah tertangkap basah dan hanya bisa nyengir.
Malam sudah mulai larut tapi Tama belum juga pulang. Ratna sedang mencuci piring setengah melamun. Beberapa kali dia menghela nafasnya berat. Rasanya dia masih belum berani mengatakan hasil tesnya pada sang suami. Ditambah lagi Tama sudah sangat mengharapkan hasil baik. Entah sekecewa apa Tama mendengar beritanya nanti.
Tama baru pulang sudah disambut Ratna yang senyumnya dipaksakan. Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Tama langsung menyusul Ratna masuk ke dalam kamar, dia naik ke atas tempat tidur lalu duduk di sebelah Ratna yang masih asik memainkan handphonenya padahal Tama lihat Ratna hanya membuka tutup sosial medianya tanpa tujuan. Tama merebut handphonenya kemudian memaksa Ratna menatap lekat ke arahnya. Dia menemukan Ratna menghindari tatapannya, tapi Tama tidak marah. Dia tahu alasan dibalik tingkah tidak biasa Ratna dan dia mengerti itu.
"Nggak usah kamu ngomong Mas sudah tahu kok. Mas nggak akan kecewa, marah apa lagi. Namanya belum rejeki. Nanti, kalau sudah saatnya, Aditama junior pasti hadir. Coba sini lihat Mas, kenapa kamu sedih?" tanya Tama terus meminta Ratna menatap ke arahnya.
"Maaf ya, belum bisa memenuhi harapan Mas," kata Ratna langsung memeluk suaminya.
__ADS_1
"Mas bilang apa? Kalau hasilnya negatif, Mas sendiri yang akan ubah jadi positif. Udah ya nggak usah kecewa. Next time kita coba lagi," kata Tama yang merasakan anggukan kecil dari Ratna dalam pelukannya.