Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
97. Pengalaman Baru Tama


__ADS_3

Selesai memandikan, menyusui, dan menidurkan Aksa, Ratna beralih ke mesin cuci. Dia langsung mengisinya dengan air dan mulai memasukkan satu per satu pakaian Aksa yang sudah dia masukkan ke dalam kantong cuci. Ratna sekalian saja mencuci pakaiannya dan Tama, tapi untuk seragam, Ratna pasrahkan pada Tama untuk memerasnya. Ratna memang tidak pernah memasukkannya ke dalam pengering karena takut pakaiannya rusak.


"Uwahh gila, kenapa berat banget sih heran," keluh Tama yang sedang memeras seragam hijaunya.


"Ya kamu meresnya begitu caranya ya berat," kata Ratna.


"Kalau Bunda yang nyuci kaya apa ini, tanganmu kecil begitu."


"Ehh kamu kurang ngakal sih, sini aku ajari triknya," kata Ratna.


Ratna meraih dua buah hanger dan dia pasang ke seragamnya. Setelah dia taruh di tali jemuran baru dia peras pelan-pelan mulai dari lengan, kemudian dari pakaian bagian atas, terus kebawah sampai airnya habis.Tama sempat tidak percaya, ternyata ada juga cara seperti itu. Beberapa saat kemudian, ketika airnya kembali menetes Ratna akan memeras lagi ujungnya, terus begitu hingga airnya benar-benar tidak menetes lagi. Atau kata Ratna jika sedang terik tidak akan dia peras.


"Gimana? Pinter kan aku," kata Ratna memuji dirinya sendiri.


"Respect komandan," jawab Tama sambil hormat.


Setelah itu keduanya kembali mencuci. Semua cuciannya sudah disabun dan sekarang tinggal bilas. Baru Ratna memasukkannya ke dalam pengering dia mendengar ada suara tangisan dari arah kamar, Aksa kembali bangun karena mengompol. Karena sepertinya Ratna tidak akan segera kembali, Tama berinisiatif melanjutkan pekerjaan. Toh yang dicuci tinggal pakaian rumah Tama dan Ratna. Kalau Ratna bilang pakaian Aksa jangan dimasukkan pengering. Biar dia dibilas di ember kemudian dijemur. Jadi sambil menunggu yang di mesin cuci selesai, Tama membilas pakaian anaknya lebih dahulu.


"Ayah, meres baju Aksa jangan terlalu kenceng ya," kata Ratna memperingatkan.


"Iya, udah sana Bunda jangan di sini ah kasihan dek Aksa," Tama mengusir Ratna karena dia berdiri di ambang pintu sambil menggendong Aksa.


Ratna meninggalkan Tama menyelesaikan pekerjaannya. Ratna duduk di atas tempat tidurnya kemudian meletakkan Aksa yang segar bugar bangun tidur di atasnya. Dengan perlahan Ratna menggulingkan Aksa dan membuatnya tengkurap. Tangan Ratna tetap mengawasi Aksa sedangkan kepalanya dia buat sejajar dengan wajah Aksa agar bisa bercengkerama dengan putranya.


Aksa tersenyum, ketika Bundanya sedang meledek. Aksa sedikit demi sedikit berusaha mengangkat kepalanya. Lucunya ketika dia berusaha memutar arah kepalanya, badannya akan ikut berputar dan terguling. Tangan Ratna masih tetap setia ada di tengkuk Aksa menjaganya agar tetap aman. Setelah beberapa saat Ratna mengembalikan posisi tubuh Aksa kemudian memainkan kedua kaki putranya. Usia Aksa sudah sampai dimana dia begitu aktif menjejak-jejakkan kaki dan tangannya. Dia sudah dalam tahap dimana ketika Bundanya memakaikan sarung tangan dan sarung kaki maka akan lepas. Sudah tidak betah sepertinya.

__ADS_1


Kalau sore menjelang maghrib begini biasanya Aksa akan bermain-main. Dia suka diletakkan di box bayinya dan memandangi mainan yang digantungkan diatas kepalanya. Aksa juga sudah mulai belajar untuk merespon ucapan Ayah Bundanya, dan yang paling membuat Ratna gemas adalah Aksa sudah bisa tersenyum. Walaupun belum banyak bersuara tapi senyumnya bisa merekah begitu lebar. Pandangannya juga sudah mulai jelas.


Selesai mencuci pakaian, Tama berjalan mendekati Aksa dan Ratna yang terlihat sedang asik berdua. Dia tersenyum melihat Ratna bermain dengan Aksara. Apalagi setelah melihat senyum diwajah jagoannya. Bahagia sekali rasanya.


"Lagi apa sih, asik bener," tanya Tama.


"Aksa lagi dipijitin Ayah, uh senengnya, ciluk. Baa~" kata Ratna sesekali bermain cilukba dengan Aksa yang wajahnya tertutup selimut kecil yang sejak tadi dia mainkan. Aksa sekali lagi tertawa.


Tama dari arah samping memancing Aksa dengan bunyi-bunyian. Membuat Aksa mencoba memiringkan tubuh dan kepalanya untuk melihat suara apa yang dia dengar. Begitu dia tahu kerincingan di tangan Ayah yang berbunyi, dia kembali tersenyum dan terus memandanginya. Sesekali dia juga akan memperlihatkan wajah yang bingung kenapa mainannya bisa berhenti bergerak.


Adzan sudah berkumandang, dan Ratna lebih dulu mengambil wudhu. Mumpung Aksara masih anteng bermain dengan Ayah jadi Ratna mengambil kesempatan untuk sholat maghrib. Setelah sholat dia menggendong Aksa untuk menyusuinya sedangkan Ayah gantian ambil wudhu dan sholat. Di atas tempat tidur Ratna menyusui Aksa sedangkan di sampingnya Tama mengaji. Setelah Aksa tidur, Ratna akan dengan sangat perlahan meletakkannya di dalam box bayinya.


Ratna hari ini tidak memasak, jadi Tama membeli dua porsi bakmi jawa sesuai permintaan Ratna. Satu pedas satu tidak. Ratna sih sebenarnya lebih suka yang pedas tapi karena dia sedang menyusui dia takut jika Aksa akan terpengaruh. Intinya Ratna jadi begitu hati-hati kalau mau makan sesuatu.


"Mas, aku mau beli motor boleh nggak?" tanya Ratna.


"Mas beliin aja gimana?" tawar Tama.


Ratna menggeleng, "Nggak mau. Aku mau beli sendiri aja. Boleh ya? Uangmu disimpen aja buat kebutuhan rumah tangga sama Aksa. Katanya mau nabung buat biaya pendidikan, kan?"


"Bener?"


"Iya beneran. Lagian gajiku numpuk buat apa? Cuma keluar untuk kebutuhan sehari-hari nggak akan habis," kata Ratna.


"Sombongnya...,"

__ADS_1


"Bukan sombong Ayah..., cuma mau bilang aja. Toh juga aku yang milih buat bantu kamu. Biar kamu nggak perlu khawatirkan hal yang nggak perlu," kata Ratna menjelaskan.


"Yaudah, besok Mas anter ke dealer. Eh tapi Aksa gimana?" tanya Tama.


"Aku minta seminggu ini Uli masuk terus biar dia adaptasi juga mumpung aku masih di rumah," kata Ratna.


"Syukur deh kalau gitu. Pokoknya urusan Uli sama kamu semua ya, aku nggak ikutan. Gaji dia juga kamu yang kasih," kata Tama.


"Iya Mas," kata Ratna.


"Bunda kalau sudah selesai makannya langsung masuk aja tidur, istirahat. Ini biar Mas yang beresin," kata Tama ketika Ratna yang sudah menghabiskan makan malamnya mulai beranjak menuju wastafel.


"Bunda udah sini biar Mas aja," kata Tama lagi karena melihat Ratna tidak berhenti. Dia masih melanjutkan pekerjaannya. Tama merebut piring dan spons cuci di tangan Ratna tapi gagal karena Ratna langsung menjauhkannya.


"Mas, kapan aku mau sehat kalau kamu kaya gini terus?" keluh Ratna.


Tama menghela nafasnya, tiba-tiba entah kenapa kepalanya terasa pening dan tubuhnya lemas memaksa dia untuk besandar pada pinggiran pantry.


"Mas boleh jujur nggak?" tanya Tama pada Ratna.


"Kenapa?"


"Belum pernah seumur hidup Mas lihat kondisi yang begitu menyakitkan. Lihat perjuanganmu ketika melahirkan Aksa, kaki rasanya kayak udah nggak napak tanah. Maaf kalau Mas jadi posesif sama kamu, tapi Mas juga nggak sanggup nahan perasaan Mas sendiri. Sebesar itu ketakutan Mas kehilangan kamu Ratna," kata Tama.


Ratna diam. Dia tetap pada pekerjaannya dan begitu selesai, Ratna mendekati suaminya, "Kamu yang butuh istirahat," kata Ratna dengan lembut.

__ADS_1


Tama dan Ratna sama-sama mengunci pintu dan mematikan lampu kemudian masuk ke dalam kamar. Aksa masih tenang tertidur di dalam box bayinya sedangkan Ratna kini menempatkan diri untuk memeluk Tama yang jelas sedang membutuhkan dekapannya. Ratna mengelus kepala Tama yang dia tenggelamkan di dada kemudian tangan satunya lagi dia pakai untuk menepuk-nepuk punggung Tama hingga suaminya itu tertidur.


Mungkin benar laki-laki adalah sosok pemimpin dan pengayom bagi keluarganya. Tapi mereka tetaplah manusia yang membutuhkan kasih sayang dari istrinya juga. Terkadang jika mereka sedang berada di bawah, mereka akan sangat membutuhkan istrinya untuk menyembunyikan kesedihannya.


__ADS_2