
Sudah 2 minggu Tama pergi bertugas jauh dari rumah. Ratna terpaksa bertahan sendirian. Mengurus semua keperluan rumah dan Aksara seorang diri. Mau bagaimana lagi, inilah pengabdian terberat sebagai seorang pendamping abdi negara. Ketika di sini Ratna harus berjuang mengisi sosok Ibu sekaligus Ayah untuk Aksara yang terus tumbuh setiap harinya.
Dalam hari-harinya doanya terus mengarah pada sang suami yang tengah menantang bahaya demi memberikan tempat teraman bagi keluarganya juga bagi seluruh warga negara yang tinggal. Ratna tidak pernah tahu seberat apa beban dipundak suaminya. Walaupun Tama selalu menceritakan semuanya setiap kali mereka video call, tapi yang dapat merasakan beratnya ya hanya Tama sendiri. Ratna hanya bisa bergantung pada doanya, pada harapannya agar Tuhan selalu melindunginya. Selalu memberikan keselamatan padanya.
Ada satu kebiasaan Ratna yang selalu dia lakukan ketika suaminya pergi bertugas, Ratna yang hampir tidak pernah menonton tv akan terus mendengarkan berita. Ketika di rumah tv tidak pernah mati dan selalu siaran berita yang dia cari. Di handphonenya juga dia selalu mengupdate berita-berita terbaru seputar perkembangan tempat dimana suaminya bertugas karena memang hanya ini satu-satunya cara untuknya bisa menenangkan diri.
"Astaghfirullah Mas, terus kamu nggak papa? Lukanya dalam tidak?" tanya Ratna.
"Nggak sayang, kamu nggak perlu khawatir."
"Gimana nggak khawatir. Itu kamu luka dibagian perut, kalau lebih dalam sedikit saja lukanya bisa jadi serius. Kamu kenapa sih bisa santai begitu?"
"Kalau Mas panik gimana Mas mau nenangkan kamu? Aksara sudah tidur ya pasti? Sudah mau tengah malam begini," tanya Tama mengalihkan perhatian Ratna.
"Sudah. Seharian ini dia rewel, nangis terus nyariin Ayahnya. Untung jaket yang bekas kamu pakai belum jadi aku cuci. Pas aku selimuti dengan jaketmu dan menidurkannya di bantal yang biasa kamu pakai Aksara bisa langsung tidur," kata Ratna.
"Maaf ya memang begini tugas Mas. Pada tugas-tugas sebelumnya hanya kamu yang Mas tinggal, tapi kali ini kita harus jelaskan sama Aksara kalau Ayahnya adalah seorang prajurit. Ayahnya adalah seorang bhayangkara yang mengabdi pada negara," kata Tama dengan penuh perhatian.
"Dia pasti mengerti. Biar aku yang jelaskan sama dia. Biar aku yang buat dia mengerti jika Ayah bukan miliknya seutuhnya," kata Ratna.
"Udah ah jadi melow gini sih kita. Gimana hari ini? Pekerjaanmu lancar?"
__ADS_1
"Mas, kamu tahu tidak hari ini aku udah pengen nangis aja rasanya."
"Kenapa Bunda? Cerita sini, Ayah masih senggang kok," kata Tama.
"Entah Mas tahu atau nggak, hari ini di perempatan Condongcatur ada kecelakaan maut Mas. Korban banyak di bawa ke rumah sakitku," kata Ratna.
"Iya Mas dengar dari Ndan Rendi sore tadi," jawab Tama.
"Aku ada di IGD nangani pasien-pasiennya Mas dan ada satu korban yang meninggal karena benturan keras di kepala dan dada sampai akhirnya meninggal setelah operasi. Mas tahu, istrinya ternyata lagi hamil Mas, dan saking syoknya istrinya kontraksi dini dan nyusul sang suami meninggal dunia," jelas Ratna.
"Innalillahi wa innaillahi rojiun, jadi korban itu Bunda yang...,"
"Aku yang nangani. Aku juga yang ada di sana ketika detak jantungnya hilang. Bahkan lebih parahnya aku juga lihat sendiri istrinya meregang nyawa melahirkan putrinya dan akhirnya memilih pergi untuk menyusul suaminya," kata Ratna yang akhirnya menangis walau masih tetap dia tahan karena takut Aksa dan Uli yang dia minta menginap terbangun.
"Mas..., kamu janji akan pulang dengan selamat ya kan? Aku akan tunggu. Aku nggak peduli walau harus jauh dari kamu. Selama aku tahu kamu baik-baik saja aku juga akan baik-baik saja. Kamu itu pemimpin bukan hanya untuk keluargamu. Di bahumu ada banyak pemimpin keluarga lain bergantung pada perintahmu. Mas, setiap keputusan yang Mas ambil harus memikirkan itu juga. Karena aku nggak mau komandan Aji dianggap buruk oleh orang apalagi oleh anggotanya sendiri," kata Ratna.
"Mas akan selalu ingat nasehatmu sayangku. Sudah ya, jangan nangis lagi dong. Kita lagi jauh nih, Mas nggak bisa peluk cium kamu. Kalau dalam 5 menit nangismu nggak selesai Mas akan lari keliling barak 100 kali," kata Tama.
"Yasudah kalau gitu aku mau nangis terus aja deh biar Mas lari. Kalau bisa jangan pakai baju Mas. Biarin kedinginan biar tahu rasa," kata Ratna.
"Tega tenan kamu Dek," keluh Tama.
__ADS_1
"Makanya kalau ngomong tuh dipikir sik. Katanya komandan kok ngomongnya sembrono sih," kata Ratna.
"Ya habis kamunya nangis mulu. Yang penting sekarang kamu udah nggak nangis kan. Artinya Mas sukses bikin kamu berhenti," kata Tama sambil tertawa.
"Bodo amat ah. Terlanjur bad mood, ngambek sama kamu Mas, lari sana. 50x keliling barak, habis itu push up, sit up, masing-masing 100x 3 set. Nggak mau tahu Mas harus kirim bukti baru aku mau diem. Kalau nggak jatah malam jumatmu melayang 3 bulan," kata Ratna yang agak mengerjai suaminya sebenarnya.
Pagi berikutnya Tama benar-benar melakukan apa yang diperintahkan oleh istrinya semalam. Ketimbang dia harus tersiksa selama 3 bulan tanpa belaian istrinya. Soalnya Adiratna kalau sudah bilang tidak mau ya benar-benar tidak mau. Dia akan menutup rapat pakaiannya dan tidak segan memakai baju berlapis hanya agar tangan suaminya tidak cari gara-gara ketika dia tidur.
Tama meminta Bayu untuk merekam Tama yang sedang berlari mengelilingi barak dengan bertelanjang dada. Dia juga meminta Bayu merekamnya melakukan push up sit up kemudian melaporkannya pada Ratna. Pagi itu Bayu memegangi handphone Tama yang terus tersambung melalui video call walaupun sinyalnya sedikit tersendat. Dia bisa melihat istri komandannya itu sibuk mengurus sarapan, menyuapi putranya yang masih kecil. Memang layarnya hanya diarahkan ke atap, tapi dari suaranya Bayu bisa menebak apa yang dilakukan oleh Bu Aji.
"Terus lari terus jangan males Ji," kata Bang Nanda.
"Ealah Bang, ini juga udah lari. Sudah dapat 30 putaran nih," kata Tama.
"Maaf izin koreksi, komandan. Yang benar 23 putaran bukan 30 putaran," kata Bayu dengan polosnya.
"Ayah..., berani bohong ya? Diperpanjang 4 bulan nih," kata Ratna membuat Tama kembali berlari.
"Jangkrik," keluh Tama membuat Bang Nanda yang ada di sana tertawa terbahak-bahak. Bagaimana dia tidak tertawa, baru kemarin dia handstand keliling barak karena istrinya yang sedang ngidam dan sekarang adik lettingnya ini yang kena amuk istri.
Nanda berjalan meninggalkan Tama yang terus berusaha membujuk istrinya alih-alih melakukan hukumannya dengan baik. Dia berjalan menuju ke dapur umum dan mengecek apakah sarapan sudah siap atau belum. Nanda dikirim sebagai bala bantuan, menyusul kompi Tama yang berangkat lebih dulu. Pagi ini piketnya mengurus dapur umum bersama dengan beberapa perwira dari satuan lain. Baru beberapa langkah, dia melihat di dekat sumur Bang Rendi yang sedang dimarahi istrinya lewat telepon terdengar kelabakan.
__ADS_1
"Ada-ada saja. Kenapa pagi ini dipenuhi dengan amukan istri sih heran. Padahal suasana lagi anteng, langit Papua bersih sekali. Pemandangannya hijau sedap dipandang tapi kalau sambil kena amuk istri begitu mana bisa menikmatinya," gumam Nanda yang tengah menikmati hijaunya tanah Papua.