Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
44. Melayat


__ADS_3

Ratna pulang dengan tidak bertenaga. Untung tidak terjadi apa-apa dijalan karena Ratna sadar dia nyetir dengan setengah melamun. Rasanya untuk menjaganya untuk tetap fokus sangat sulit. Karena semakin Ratna diam, semakin dia ingat kalimat-kalimat yang tidak mengenakkan hari ini. Ketika malam sudah mulai larut, Tama menelpon Ratna. Dia membaca pesan dari Ratna dan khawatir dengan kondisinya di rumah.


"Dek, kamu bener mau melayat ke rumah temanmu?" tanya Tama.


"Nggak juga nggak papa Mas, aku nggak maksa," jawab Ratna.


"Tapi kamu akan kebayang-bayang terus kalau kamu nggak ke sana. Nggak papa, Mas kasih izin. Nanti Mas telpon sama Dipta atau Jay buat minta tolong jemput kamu di sana," kata Tama.


"Yakin Mas boleh?"


"Asal kamu bisa jaga diri, jangan aneh-aneh. Mas nggak papa. Radea sama Theo itu sahabatmu sejak masih kuliah kan? Kamu sering cerita soalnya. Mas tahu rasanya kehilangan sahabat Dek. Mas nggak mau sampai kamu kebawa mimpi karena Mas melarang kamu pergi padahal sebenernya bisa pergi."


"Mas...."


"Iya?"


"Makasih," kata Ratna akhirnya menangis juga.


"Iya, hati-hati di jalan ya. Kalau dapat tiket kabari Mas, begitu sampai sana kabari Mas lagi. Berkabar terus ya walaupun Mas nggak bisa langsung balas," kata Tama.


"Iya Mas, pasti kok."


"Udah sekarang kamu tidur dulu. Istirahat."


Setelah mematikan telpon, Ratna kembali menangis. Dia berusaha langsung mencoba memesan tiket untuk penerbangan paling pagi besok. Beruntung sekali, tersisa 2 tiket dan dia mendapatkannya. Berangkat besok dengan penerbangan paling awal. Ratna memberi kabar pada suaminya, Ratna juga memberi kabar pada Dipta dan Ela soal rencana kedatangannya besok. Setelah selesai memberi kabar, Ratna langsung mengemasi pakaiannya. Tidak banyak yang dia bawa hanya beberapa potong baju dan perlengkapan kecil yang mungkin dia butuhkan. Dia hanya membawanya dalam satu tas berukuran sedang.

__ADS_1


Pagi harinya Ratna pergi ke Bandara dengan menggunakan motor. Ratna langsung menuju ke Boarding Pass setelah memastikan motornya aman. Memang sepertinya semesta akan selalu membantu ketika kita memiliki niat yang baik. Selain kemudahan mencari tiket, Ratna juga diberikan izin oleh atasannya dengan mudah walaupun dia tetap harus mengajukan surat izin cuti setelahnya, tapi bisa disusulkan.


Beberapa jam perjalanan, Ratna akhirnya mendarat di Jogja. Ketika dia melangkah keluar dari bandara, dia langsung menemukan Dipta dan Ela. Begitu melihat Ratna, Ela langsung berlari memeluknya kemudian keduanya menangis. Ketika sampai di rumah duka, Ratna masih sempat bertemu dengan Radea walaupun dia sudah tidak bisa menyapanya karena Radea sahabatnya ini sudah terbujur kaku di dalam peti. Theo selalu di sebelahnya, terus memeluk Tio, putranya.


"Theo...."


"Ratna. Semua ini mimpi kan? Dia cuma tidur kan? Masa iya sih Radea ninggalin aku, itu nggak mungkin Ratna. Dia udah janji sama aku dia janji kita akan terus sama-sama sampai tua. Tapi kenapa dia pergi dengan secepat ini?" tanya Theo yang kembali menangis.


"Tio, ikut om dulu yuk," ajak Dipta pada anak berusia 3 tahunan di dalam pelukan Theo.


Ratna ikut menangis ketika melihat betapa hancurnya Theo saat ini. Jay juga sudah ada di sana membantu Ratna menenangkan Theo yang kembali kehilangan kesadarannya. tidak lama setelah kedatangan Ratna, jenazah Dea mulai di doakan kemudian dibawa ke peristirahatannya yang terakhir. Theo akhirnya bisa menguatkan dirinya untuk mengantarkan jenazah sang istri menuju ke tempat yang lebih indah. Theo dibantu oleh Dipta dan Jay juga beberapa kerabatnya membantu mengangkat peti sedangkan persis dibelakangnya ada Ela, Yunita istrinya Jay, dan Ratna bersama si kecil Tio.


Awalnya Tio tidak akan dibawa ke pemakaman, tapi dia juga harus lihat jika ibunya sudah tidak berada di sisinya lagi. Jadi dia tidak akan terus mencari-cari dimana ibunya dan agar dia bisa lebih kuat setelah ini. Ketika jenazah diturunkan, hanya cucuran air mata dan doa yang mampu menemaninya. Bukan hanya Ela, tapi juga Yunita menangis ketika melihat 5 sahabat yang terkenal selalu bersama dan kompak ini harus dipisahkan oleh maut dengan kejamnya.


...***...


"Kupikir kamu nggak akan datang," kata Jay pada Ratna.


"Aku pasti datang apapun yang terjadi," jawabnya.


"Suamimu?"


"Dia kasih izin kok. Dia juga tahu seberapa berharganya kalian buat aku. Makanya dia kasih aku izin untuk pergi ke sini," jelas Ratna.


"Aku bersyukur kamu bisa dapat seseorang yang begitu baik menjagamu," kata Jay.

__ADS_1


"Ratna...."


"Apa?"


"Dari antara kita berlima, cuma tinggal kamu srikandinya kami. Kuharap kamu akan tetap baik-baik saja dimanapun kamu berada. Jangan sampai sakit, kamu juga harus ingat untuk selalu hati-hati dalam melakukan apapun. Walaupun aku dan Dipta sudah punya keluarga masing-masing, tapi kamu tetap akan punya posisi di hati kami. Apalagi setelah kepergian Dea. Aku tidak bisa membayangkan akan jadi sehancur apa kita jika kamu sampai pergi juga," kata Jay membuat Ratna kembali meneteskan air matanya.


"Makasih ya, doakan saja aku dan suamiku selalu dalam keadaan baik. Aku juga akan mendoakan kalian yang ada di sini," kata Ratna membuat Jay mengangguk menyetujui.


"Kamu yakin nggak kasih kabar ke orang rumah kalau kamu di sini?" tanya Jay sebelum Ratna keluar dari mobilnya.


"Kalau Ibu tahu aku di sini malah bakal panik. Lagi pula besok aku akan pulang Jay, aku nggak ada waktu untuk mampir ke rumah," kata Ratna.


"Yasudah. Besok penerbanganmu jam berapa? Biar kuantar," kata Jay.


"Nggak usah, penerbanganku jam 10 pagi. kamu sama Dipta mending fokus ke pekerjaan kalian. Kalau ada waktu lebih baik kalian pakai untuk menemani Theo, dia lebih butuh kalian dibandingkan aku. Aku janji kapan-kapan kalau aku ada waktu aku akan menemui kalian lagi," tolak Ratna dengan sopan.


"Ok kalau begitu besok hati-hati di jalan ya, salam untuk suamimu. Kabari kami kalau kamu sudah sampai di sana," kata Jay sebelum melajukan kembali mobilnya meninggalkan Ratna yang mulai berjalan masuk ke dalam penginapan.


Malam itu Ratna kembali melamun. Dia hanya bisa duduk diam menatap langit malam lewat jendela kaca hotel tempatnya menginap. Beberapa kali Ratna menghembuskan nafasnya kasar hanya agar dia bisa sedikit mendapatkan kekuatan untuk bertahan dan tidak menangis. Handphone Ratna berdering, ketika Ratna sudah lupa sejak kapan dia hanya melamun.


"Assalamualaikum...," sapa Ratna.


"Waalaikumsalam. Dek Ratna, kalau mau nangis yuk nangis aja. Jangan ditahan. Mas temenin," kata Tama dari seberang.


Ratna tidak sanggup menjawab. Dia langsung melepaskan air mata yang sejak tadi sudah dia tahan. Sepertinya seluruh tenaganya hilang saat ini. Hanya tangisan yang bisa dia lontarkan untuk setidaknya mengurangi beban di hatinya walau sedikit. Tama di seberang juga hanya diam mendengarkan Ratna menangis. Dia bahkan tidak mematikan sambungan telepon walaupun dia tahu jika Ratna sudah tertidur.

__ADS_1


"Kamu kuat istriku. Aku bangga sama kamu," kata Tama yang akhirnya memilih untuk mematikan telepon agar dia bisa membangunkan Ratna besok pagi.


__ADS_2