Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
86. Memohon Maaf


__ADS_3

Ratna sudah kembali ke bangsalnya bersama-sama dengan Aksara sejak sore kemarin. Pagi sudah mulai menyingsing di ufuk timur dengan senyum indah mencerahkan dunia. Tangisan Aksara yang membangunkan ayah bundanya pagi ini. Sudah tidak lagi karena rengekan Ratna yang tidak sengaja tertindih suaminya atau karena Tama yang tiba-tiba mendengkur dengan keras. Tama mendekati bed putranya yang diletakkan tepat disebelah Ratna yang masih belum sanggup melakukan apapun.


Pemulihan fisik Ratna sedikit lambat dibandingkan ibu-ibu lainnya. Dia belum bisa lepas dari oksigennya dan belum memiliki tenaga bahkan untuk mengangkat sendok. Ketika dia harus menyusui Aksa juga tidak dia lakukan seorang diri. Mama atau Ibu akan membantu memegangi Aksa agar tidak terjatuh akibat tangan Ratna yang tidak bertenaga.


"Ayah, pengen gendong Aksa," kata Ratna.


"Bentar," jawab Tama.


Tama menaikkan sandaran bed Ratna membuat istrinya pada posisi setengah duduk. Tama meraih bantal dari bed sebelah lalu meletakkannya di pangkuan sang istri baru dia meraih Aksara. Dengan perlahan dia naik ke atas bed Ratna dan duduk di hadapan Ratna. Aksa menangis, membuat Ratna membuka kancing pakaiannya dan mulai menyusui Aksa dibantu oleh suaminya.


"Kuat banget Dek minumnya, haus banget ya?" kata Tama melihat Aksa begitu bersemangat.


"Ketahuan kan dia anak siapa." goda Ratna.


"Jangan dibahas di sini Bun. Kamu pasti nggak mau kan rahasia kita kebongkar semua di hadapan Bapak Ibu sama Mama?" bisik Tama.


"Nggak mau," jawab Ratna sambil tersenyum.


Berita kelahiran Aksara dengan cepat menyebar. Pagi ini saja sudah banyak dokter rekan kerja Ratna yang menjenguk. Semakin siang semakin ramai, apalagi saat jam besuk datang. Satu rombongan ibu-ibu bhayangkari dan para suaminya datang menjenguk Tama dan Ratna. Untung saja Tama menempatkan Ratna di ruang VIP jadi setidaknya kalau mendapatkan pengunjung sebanyak ini kamar rawat Ratna masih muat.


"Wah lucu banget Yah, lihat deh," kata Mbak Puput pada suaminya.


"Muka Bapaknya banget, Ibunya nggak kebagian ini," kata Bang Novan ketika melihat Aksara yang tenang tertidur di tempatnya.


"Ya kan hasil kerjaku Bang, kalau muka mirip Cece tak babat langsung orangnya," jawab Tama dengan nada bercanda.


"Dih, kok gue dibawa-bawa. Udah punya istri sendiri gue, cantik pula. Kuker amat deketin si bantet," kata Cece begitu santai menggoda Ratna.


"Nggak usah pake ngatain. Mungil begini kesayangan kita semua tahu," jawab Mbak Vero.


Ketika Tama, Ratna, dan rekan-rekan tengah mengobrol, Gandhi dan Sasa datang bersama dengan Nata dan Adrian. Gandhi hanya mampir sebentar sebelum membawa Sasa dan Adrian kembali ke Jambi sedangkan Nata mengajukan cuti ke akademi agar bisa bertemu dengan keponakan barunya.


"Mbak, pengen gendong," kata Nata dengan begitu girang.

__ADS_1


"Njuk habis itu 'mbak fotoin dong' buat ngepap ke ayang," goda Gandhi.


"Ya mbok ben sih, nggak oleh po? Biyen jaman Abang sama Mbak Sasa pacaran juga ngono," kata Nata.


"Nanti aja gendongnya, baru bisa tidur ndak rewel," jawab Ratna.


Beberapa sudah undur diri, tapi Lilis dan suaminya masih bertahan di sana. Lilis bilang kalau dia baru saja pindah rumah. Dari daerah Wirobrajan ke daerah Godean. Miftah juga cerita, dia mau sekolah di SD sedangkan Faisal hanya bergumam mengikuti kakaknya meminta diperhatikan juga.


"Sal, kamu mau punya adek bayi nggak?" goda Tama.


"Mau om," jawab Faisal dengan berbinar.


"Nggak mau om," tambah Miftah.


"Kenapa bang? Padahal Papa sudah niat mau kasih," kata Bang Chandra.


"Punya adek satu aja udah capek Pa, dek Ical doang aja udah rusuh apalagi kalo aku punya adek dua," kata Miftah yang akhirnya berebut dengan adiknya.


"Udah hey jangan berantem. Ni kan Faisal sudah punya adek bayi. Faisal boleh kok sering-sering main ke rumah tante main sama dek Aksa," kata Ratna melerai kedua jagoan kecilnya Lilis.


Bapak, Ibu, Mama dan Nata sedang pergi makan siang ketika seseorang mengetuk pintu sembari menenteng sebuah parcel buah berukuran kecil. Ratna melihat laki-laki itu langsung syok dan dampaknya, Aksa yang tadinya tengah tertidur kembali menangis. Sedangkan Tama sudah berdiri menghalau pandangan Ratna dari laki-laki itu. Lilis juga demikian. Dia meminta kedua anaknya mendekati dirinya yang sudah berdiri di dekat sang suami.


"Lo mau apa ke sini?" tanya Tama dengan nada dingin.


"Kalau lo mau cari gara-gara nggak di sini tempatnya," tambah Chandra.


Dia jadi ikut-ikutan garang ketika Vino mendekat karena Chandra mendapatkan cerita dari istrinya kalau istri Vino itu berani menampar Lilis dan memaki-maki istrinya hanya karena status Lilis sebagai mantan kekasih Vino.


"Nggak Bang, sumpah demi Allah aku nggak mau cari gara-gara," kata Vino.


"Terus mau apa lo ke sini?" tanya Tama.


"Saya hanya ingin meminta maaf. Karena tadi saya lihat Lilis datang, jadi saya ingin meminta maaf pada Mbak Lilis dan Mbak Ratna. Maaf atas semua kesalahan saya di masa lalu, maaf juga atas tingkah tidak mengenakkan istri saya," kata laki-laki itu berlutut dihadapan Tama dan Chandra.

__ADS_1


"Maafmu nggak kuterima Bang," kata Sasa yang hampir menangis.


"Abang inget nggak sih sebenernya seberapa teganya abang dulu ngancurin hati Mbak Ratna? Abang juga udah bikin kecewa Bapak sama Ibu. Kita semua udah percaya sama Abang. Aku udah percaya Abang akan jaga Mbak Ratna dengan baik. Tapi apa? Abang malah bikin hidup Mbak Ratna hancur. Sekarang setelah Mbak Ratna menemukan bahagianya Abang dateng lagi bikin perkara. Istri Abang bahkan hampir bunuh keponakanku tau nggak?! Kaya gitu Abang masih ada muka dateng ke sini?!" kata Sasa yang histeris memukuli Vino.


Tidak dipungkiri, Sasa pernah begitu percaya pada laki-laki ini. Begitupun Gandhi yang sebenarnya sudah dekat dan sudah menerima Vino seperti kakaknya sendiri. Bukan hanya Sasa memang, andai saja Nata ada di sini atau mungkin Bapak dan Ibu juga lihat Vino datang, sudah dipastikan dia babak belur sekarang.


"Abang nggak inget Mbak Ratna dulu sampai menerima semua cacian dari Mbak Lilis. Terima dikatain pelakor, murahan hanya demi bisa sama Abang. Dari awal Abang sudah salah. Abang udah nggak diterima tapi lagi-lagi Mbak Ratna yang meyakinkan Sasa, meyakinkan Bapak sama Ibu kalau Abang nggak akan menggores kepercayaan kami."


Sasa masih terus menyalahkan. Dia tahu semuanya, walaupun ketika Ratna dan Vino dekat dulu dia masih belia tapi dia tahu semuanya. Dia lebih dari tahu bagaimana kakak yang sangat dicintainya itu harus terjatuh hanya karena membela laki-laki yang sudah dia percayai.


"Sa, udah. Salah Mbak Ratna percaya sama bajingan modelan dia. Udah Sa jangan nangis lagi, Adrian takut lihat Mamanya nangis," kata Ratna.


"Ndhi, bawa Sasa sama Adrian keluar," perintah Tama.


"Bukan hanya Ratna dan Lilis. Kamu juga harus mendapatkan maaf dari Sasa, dari Bapak, dan Ibu," kata Tama.


"Kamu juga hutang maaf pada saya dan Aji. Kau lancang sudah menyakiti hati wanita yang bukan menjadi milikmu. Seumur hidup tidak pernah aku menyakiti hati istriku. Bahkan sejak aku belum mengenalnyapun sudah kujaga baik hatiku untuknya tapi kamu yang bukan siapa-siapa berani mempermainkan hatinya bahkan pernah berusaha menyentuhnya, kurang ajar itu namanya," tambah Chandra.


"Bang, setidaknya mohon maafkan istriku. Aku nggak sanggup lihat dia terbaring antara hidup dan mati terus menerus," kata Vino lagi membuat Ratna dan Lilis kaget.


"Maksud lo apa?"


"Istriku koma Lis, anak kami meninggal dalam kandungan dan selama proses kelahiran istriku pendarahan parah. Aku sudah mengikhlaskan dia untuk pergi, tapi setidaknya mohon maafkan kesalahan dia pada kalian berdua. Aku tidak mau dia meninggal dengan menyimpan rasa bersalah pada kalian berdua," kata Vino sambil menangis.


"Mas...," panggil Ratna sambil berusaha turun dari bednya.


"Kamu mau ke mana?" tanya Tama mencegah Ratna turun.


"Bawa aku menemui istrinya Vino," perintah Ratna.


Ratna dan Lilis menemui istri Vino yang berada di ICU. Dokter memberikan izin pada keduanya untuk masuk menemui pasien. Ratna yang hanya mampu duduk di kursi roda meraih tangan istri Vino dan menggenggamnya penuh kasih sayang.


"Kau tidak ada salah pada kami, lalu kenapa kau masih memohon maaf? Kau melakukan itu karena kau menyayangi Vino kan? Aku menerimanya, aku ikhlas memaafkanmu," kata Ratna.

__ADS_1


"Aku jamin aku tidak pernah mendendam apapun yang sudah kau lakukan padaku. Lagi pula aku jujur soal ucapanku. Aku sudah bahagia dengan suami dan anak-anakku. Tidak sedikitpun ada rasa menginginkan Vino. Dia milikmu Sinta. Dia begitu menyayangimu hingga berani berlutut dihadapan kami berdua," tambah Lilis.


"Kau pasti bangga kan memiliki suami yang begitu hebat menjagamu. Bahagialah dengannya. Karena kau berhak mendapatkan apa yang menjadi milikmu. Dia adalah milikmu dan akan terus seperti itu sampai kapanpun," kata Ratna lagi.


__ADS_2