Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
118. Penculikan


__ADS_3

Pagi harinya Ratna berangkat diantar oleh Tri sedangkan Bayu tetap berada di rumah menjaga Aksa dan Mama. Beberapa personil tambahan juga dikerahkan untuk membantu mengamankan karena Tama sudah curiga jika rumahnya akan menjadi target pelaku.


Pagi itu markas geger dengan kardus yang dibuang oleh orang tidak dikenal dengan sengaja. Salah satu personil berhasil membekuk pelaku sedangkan yang lainnya membuka dengan perlahan karena takut jika isinya adalah bom. Alih-alih menemukan bahan peledak, isi kardus itu malah lebih menakutkan. Kardus itu terdiri dari beberapa lapis dan di kardus yang paling dalam mereka menemukan foto komandan Aji dan Ibu yang ditusukkan ke atas bangkai sebuah kucing yang dibunuh dengan brutal. Tama yang mengetahuinya langsung geram, apalagi begitu dia mendengar kabar dari personil jika pelaku berhasil menerobos penjagaan di rumahnya.


Di sisi lain, Ratna juga mendapatkan paket yang serupa. Diletakkan di atas meja kerjanya diikuti oleh sebuah surat ancaman yang memintanya datang seorang diri ke titik koordinat maps yang ditulis dengan tinta merah di kertas itu. Setelahnya Ratna mendapatkan satu pesan yang berisi video yang diikuti oleh pesan ancaman. Putranya disekap di sebuah ruangan dengan kondisi terikat dan ditodong senjata. Ratna bisa mendengar tangisan Aksara yang meraung ketakutan dalam video itu.


Beruntungnya ketika menerima paket itu dia tidak sendiri. Ada Theo dan Hengki yang kebetulan ada bersamanya. Theo langsung menghubungi Tama dan memintanya untuk datang ke rumah sakit diam-diam. Ratna jatuh pingsan saking syoknya. Dia bahkan sampai tidak mampu bernafas dan hanya bisa terduduk lemas tidak berdaya.


"Mas tunggu. Kalau yang diinginkan aku maka aku akan ikut," kata Ratna ketika suaminya akan pamit berangkat.


"Jangan gila kamu. Kamu di sini saja dan jangan kemana-mana. Mama sudah nggak ada Ratna. Mama meninggal karena tembakan dari pelaku. Jangan tambah beban Mas dengan mendengar kamu dan Aksara terluka. Mas nggak akan kuat," kata Tama.


"Nggak Mas. Walaupun ini perintah dari kamu aku akan tetap memaksa ikut. Kalau Sindy sampai tahu Mas yang datang apalagi bawa pasukan dia bisa saja nyelakai Aksara. Di sini aku bertindak sebagai ibunya Mas. Bukan sebagai istrimu," kata Ratna dengan sorot mata yang belum pernah Tama lihat sebelumnya. Karena perdebatan itu mungkin tidak akan membuahkan hasil, Tama memilih mengalah. Dia biarkan istrinya ikut dan menjadi umpan untuk mereka bisa menangkap pelakunya.


...***...


"Ndan, ini benar di sini alamatnya," kata Bayu.


"Kamu yakin? Ini bahkan nggak ada 1 km dari rumahku Bay. Jangan ngasal kamu!"


"Ya Allah berani sumpah Ndan ini bener di sini," kata Bayu.


Tanpa pikir panjang Ratna langsung keluar dari dalam mobil dan langsung masuk ke dalam gor yang dimaksud. Tama dan beberapa personil diam-diam mengikutinya. Sebagai back up, tim Cece sudah bersiap. Bang Rendy juga sudah mengintai dari kejauhan dengan menggunakan senjata jarak jauhnya.


"Ah welcome my darling," kata Sindy dengan santainya.


"Sesuai janji, aku sudah datang Sindy. Jadi kumohon lepaskan putraku," kata Ratna.

__ADS_1


"Tidak semudah itu Ratna. Kau harus lakukan sesuatu untukku dulu, baru anak ini aku lepaskan," katanya.


"Walaupun aku harus menjadi iblis sekalipun aku tidak peduli. Asal anakku selamat, apapun akan aku lakukan.”


“Good," Sindy kemudian memberikan perintah pada salah satu anak buahnya untuk memberi Ratna satu buah pistol, “lubangi kepalamu dengan pistol itu maka akan kulepaskan anak ini,” kata Sindy berusaha membuat negosiasi.


“Astagfirullah Ratna, stop!” teriak Tama spontan begitu melihat Ratna akan meraih pistol itu.


“Jangan gila Bunda istighfar!” sekali lagi Tama berteriak sambil menahan tubuh Ratna yang akan memungut pistolnya.


“Lepasin aku,” berontak Ratna.


“Bunda jangan, hiks…, Bunda jangan…!!” Aksara ikut berteriak memanggil Bundanya. Dia sudah sangat ketakutan melihat Bundanya seperti kesetanan begitu.


“Shtt hey lihat aku, Adiratna lihat aku!” Paksa Tama sukses membuat Ratna berhenti memberontak walau sejenak.


“Kamu memang suka sekali cari masalah ya,” kata Sindy pada Tama yang kembali pada posisi siaga. Dia menodongkan pistol tepat dipelipis Aksara yang dia cekik dihadapannya.


“Sindyana kau sudah gila! Lepaskan anakku!” teriak Tama.


“Gila? Karena siapa aku gila? Kamu kan? Apakah aku salah? No, kamu yang salah. Dari awal kamu yang salah,” katanya.


“Anda yang bersalah di sini nona Sindy. Anda terbukti telah melakukan banyak perdagangan ilegal bahkan jual beli kokain. Anda juga merupakan pemimpin kelompok ******* yang melakukan pengeboman di beberapa wilayah di dalam kota. Anda sudah tidak bisa mengelak karena kami sudah pegang semua buktinya,” kata Komandan Novan.


“Tentu saja aku tidak mengelak. Itu bisnis keluarga dan aku sebagai anak yang berbakti hanya melanjutkannya bersama adikku. Aku tidak salah. Beginilah caraku mencari uang,” kata Sindy.


“Gadis gila,” celetuk Cece.

__ADS_1


“Lo juga Ce. Dasar pembohong. Lo bilang akan bantu gue buat dekat dan bisa sama Tama. It’s a bullshit. Liar.”


“Sadar Sindy sebelum gue beneran jadi gila dan membunuhmu sekarang juga!” ancam Cece.


“Do that and this boy will die too. Tidak masalah, jika aku tidak bisa bersamamu Tama, setidaknya aku bisa membawa anak ini pergi denganku. Karena di tubuh anak ini juga ada darahmu yang mengalir, kan?” kata Sindy.


“Aksara!” Teriak Ratna yang berusaha masuk walau ditahan oleh Bayu sekuat tenaga.


“Bundaaa….”


“Adiratna, dasar kau seorang wanita penggoda yang sok polos tapi di dalam hatinya busuk. Wanita murahan, ular,” kata Sindy masih terus mengutuk.


"Berhenti berpura-pura menginginkanku Sindyana! Kau tidak lebih dari seorang wanita iblis. Aku sudah tahu tujuanmu mendekatiku hanya untuk membalaskan dendam orang tuamu. Jadi berhenti berdusta. Lepaskan Aksara sekarang juga, atau aku akan benar-benar menembakmu," kata Tama yang sudah menodongkan pistolnya ke arah Sindy.


“Sudah kubilang kan, kalau Adiratna mau melubangi kepalanya anak ini akan ku kembalikan padamu. Jika aku tidak mampu memilikimu, maka setidaknya dia juga tidak boleh memilikimu juga. Tapi karena aku kasihan padamu jadi akan aku lepaskan anak ini, win win solution Tama,” kata Sindy lagi.


“Kau sudah gila,” kata Tama semakin tidak habis pikir.


“Sudah kubilang aku tidak gila. Mau sampai kapan kamu menyebutku gila, huh?! Kamu yang gila. Kamu yang tidak punya otak. Kamu dan Papamu itu sama saja tahu. Kalian berdua sama-sama brengsek. Jika bukan karenamu yang membawa bukti itu pada polisi Papaku tidak akan dihukum mati Pratama! Kamu sudah membunuh Papaku!” teriak Sindy.


“Papamu kriminal Sindy sadarlah. Kalau Papaku berhasil memenjarakan orang tuamu, maka aku juga akan memenjarakanmu,” kata Tama langsung bersiap melepaskan tembakan.


“Ok fine,” kata Sindy kemudian membuka jaketnya setelah itu kembali mendekap Aksara.


Tama terbelalak, begitu juga seluruh tim yang sama kagetnya. Sindy sudah mengenakan rompi bom dan dari pengamatan Cece dia tahu jika bom itu adalah bom waktu yang akan aktif jika detak jantung Sindy berhenti. Ketika itu Aksara tiba-tiba mendapatkan keberanian, dia menggigit keras lengan Sindy membuatnya mampu meloloskan diri, tapi dengan gilanya Sindy langsung menghujani anak itu dengan peluru begitu dia terlepas darinya.


"Aksara!!!"

__ADS_1


__ADS_2