Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
13. Pertanyaan Mama


__ADS_3

Di malam yang tenang ini Ratna menyibukkan diri dengan setrikaannya. Dia tengah menyeterika ulang pakaian dinas Tama juga seragam bhayangkarinya. Besok Tama akan mendapatkan gelar baru, mulai besok dia sudah


bukan lagi bergelar IPTU, melainkan AKP. Berkat pengabdian tanpa batas dan keikhlasannya Tama akhirnya dipromosikan. Ratna sebagai pendamping akan datang juga dalam upacara pengangkatan Tama besok pagi.


"Dek, kayanya yang naik pangkat aku kok kamu yang seneng," kata Tama.


"Ya aku seneng dong, suamiku bikin prestasi kok aku nggak seneng gimana sih Mas," kata Ratna.


"Seneng kenapa dulu, seneng karena Mas naik pangkat atau karena kamu naik gaji?" kata Tama sambil mendudukkan diri di sofa tak jauh dari Ratna yang duduk di bawah.


"Dua-duanya dong. Ya kali naik gaji nggak seneng Mas," kata Ratna.


"Sudah kuduga. Nggak papa lah, asal malam ini jangan tidur cepet aja," kode Tama.


"Tidak terima kasih...,"


"Yahh kok nolak?"


"Ya kali besok aku datang ke markas leherku merah-merah. Nggak mau ah, malu...."


"Kirain kenapa, kan bisa ditutupin."


"Nggak deh, besok malem aja yah. Janji."


"Yaudah iya."


"Nih udah kelar Mas bajunya, minta tolong gantungin di depan lemari dong biar nggak kusut. Sekalian aja lencanamu ditempel Mas, biar besok nggak keburu," kata Ratna begitu menyelesaikan seragam Tama.


"Ku gantung di sebelah bajumu ya dek," kata Tama yang saat ini sudah di dalam kamar.


Ratna hanya berdeham karena dia masih sibuk membereskan alas setrikaannya dan meletakkan kembali sebuah vas kaktus di tengah meja tempat Ratna setrika ini. Selesai membereskannya, Ratna meletakkannya dalam rak paling bawah meja tv bersama dengan setrikanya juga baru menyusul ke dalam kamar menemukan Tama tengah memasang lencana dan tanda namanya.


"Mas ini pangkatnya nggak dipasang?"


"Oiya sini."


"Cie yang bentar lagi jadi Pamen...," kata Ratna.


"Kamu juga bentar lagi jadi Sp. B."


"Masih 2 tahun lagi Mas," kata Ratna.


"Nggak papa 2 tahun cuma sebentar itu. Nanti kalau sudah jadi dokter bedah kita pulang ke Jawa ya, mau nggak?" tanya Tama.

__ADS_1


"Memangnya bisa?"


"Bisa, Insyaallah. Kalau karir Mas lancar, Mas bisa ngajukan mutasi. Lagian Mas di sini sudah 5 tahun dek, ditambah nunggu masa studimu selesai total 7 tahun. Sudah bisa itu."


"Yah, bakal pisah dong sama Pak Somat sama Bu Odah," kata Tama.


"Pak Somat 5 tahun lagi pensiun," kata Tama.


"Iya?"


"Iya. Pak Somat mau selesaikan masa baktinya setelah itu pulang ke Jawa. Katanya mau nyusul si sulung ke Malang."


"Mas, boleh ngomong sesuatu nggak? Agak serius nih...," kata Ratna.


"Ngomongin apa?"


"Itu gara-gara Mas ngomongin anaknya Pak Somat Ratna jadi inget, Mama siang tadi telepon dan nanyain lagi. Mas aku udah nggak sanggup jawab pertanyaan Mama...," kata Ratna.


"Rebahan sini, biar enakan ngomongnya," kata Tama.


Tama tahu pembicaraan ini akan panjang. Selain itu juga pasti akan menguras banyak emosi dan tidak ada jaminan setelah ini Tama dan Ratna tidak akan berdebat, jadi untuk mengantisipasi Tama mengajak Ratna untuk merebahkan diri di sampingnya. Keduanya bersandar pada head board menggunakan bantal sebagai alas punggung. Tama melingkarkan tangan kirinya pada pundak Ratna sedangkan Ratna kini memeluk dirinya dan meletakkan kepalanya di bahu Tama.


"Mama bilang gimana?"


"Mama minta aku ikut tes. Mama takut kalau alasan kita masih berdua aja tuh karena aku memang nggak bisa hamil. Mama juga akan nagih hasil tesnya."


"Mas kok gitu sih, ya wajar kalau Mama sampai mikir kaya gitu. Ini kita sudah 3 tahun nikah. Jangankan Mama, Bu Odah sama Bu Rosa aja kadang nanyain kok."


"Tapi kan kita bertahan kaya gini karena kita memang memilih buat begini. Ratna..., kamu itu Mas nikahi di usia yang menurut Mas belum siap menikah. Tapi kamu sudah bertahan sejauh ini. Mas sudah makasih banget."


"Ya kalau nggak segera mau kapan lagi? Umur Mas sekarang aja udah mau 30. Kalau kita nggak segera nikah mau kapan? Nunggu aku dewasa nggak akan pernah sampe Mas, aku sadar aku masih anak-anak banget. Tapi jujur buat ngilanginnya juga susah. Kadang kelepasan, bahkan Mas juga sering kan dibuat jengkel sama tingkah manjaku," kata Ratna sambil terus memainkan ujung jari Tama.


"Nih termasuk. Ngempeng...," kata Tama sambil mengangkat tangannya yang sedari tadi dimainkan oleh Ratna, "Suka mainin kuku, kalau tidur kakinya suka mainin ujung celana Mas," kata Tama lagi.


"Yaudah maaf. Nggak lagi," jawab Ratna langsung melepaskan genggamannya.


"Nggak gitu sayang, nggak papa kok. Nih mainin aja sesuka hati, dari pada kamu minta dibeliin mainan yang macem-macem mending kamu mainan tangan Mas aja," kata Tama sambil terkekeh.


"Mas serius ahh...," rengek Ratna tapi kembali memainkan tangan Tama lagi. Tama sempat tertawa sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Gemes banget sih dek..., untung Mas waktu itu nekat nikahi kamu ya," kata Tama.


"Tapi maaf ya sayang, karena Mas kamu kehilangan masa mudamu. Karena Mas kamu kehilangan kebebasanmu, bahkan Mas hampir saja merenggut mimpimu," lanjut Tama yang kembali serius.

__ADS_1


"Mas Tama kok jadi sedih sih? Lagian kalau aku nggak mau ngapain aku jawab iya? Perasaanku ke Mas tuh bukan sekedar pelampiasan kaya yang orang-orang sering bilang. Aku beneran sayang sama Mas, aku beneran pengen jadi teman hidupnya Mas. Pokoknya cuma Pratama Aji nggak mau yang lain," kata Ratna.


"Jadi gimana? Kamu beneran akan jalani tes itu?"


"Buat nenangin Mama Mas, aku nggak papa," kata Ratna.


"Tapi kamu siap sama konsekuensinya?"


"Siap. Kalau hasilnya bagus paling Mama bakal lebih ngejar lagi. Tapi kan Ratna bisa jawab kalau memang belum dikasih sama Allah," kata Ratna.


"Kalau hasilnya nggak bagus?"


"Andai hasilnya memang nggak bagus aku juga siap sama konsekuensinya. Andai Mama minta aku buat....,"


Tama langsung menarik tengkuk Ratna begitu saja dan membungkamnya langsung dengan kedua bibirnya. Hanya membungkam, tidak ada niat lainnya. Dia hanya tidak ingin kalimat Ratna selesai terucap. Dia takut. Tama takut jika kalimat itu akan menjadi karma mereka di masa depan. "Ucapan adalah doa", jangan sampai hanya karena mengutarakan kemungkinan terburuknya kalimat itu malah terkabul. Jadi akan lebih baik jika Tama memotong kalimat itu sebelum selesai.


"Jangan dilanjut Ratna..., kamu tadi bilang kan kamu maunya cuma Pratama Aji nggak mau yang lain? Sama. Mas juga maunya cuma Adiratna nggak yang lain. Cuma kamu satu-satunya. Nggak akan ada yang lain lagi. Maaf Mas nggak bisa jadikan kamu yang pertama, tapi Mas akan menjadikan kamu yang terakhir. Sampai akhir nafas nanti hanya akan ada kamu dalam setiap doa Mas. Hanya akan ada kamu dalam hari-hari Mas, ngerti?" kata Tama dengan begitu lembut membuat Ratna mengangguk mengerti.


"Maaf hampir keceplosan."


"Dek, kalau kamu memang tersiksa sama pertanyaan Mama gimana kalau kita coba kabulkan aja?" tawar Tama.


"Mas yakin?"


"Mas yang harusnya tanya, kamu yakin? Ketika nanti kita menjadi orang tua, beban terberatnya akan ada di pundakmu. Kalau kamu yakin Mas nggak masalah, tapi kalau kamu ragu lebih baik nggak. Mas nggak mau nyiksa kamu untuk melakukan sesuatu yang nggak kamu suka."


"Mama tuh sebenernya nawarin akan ngurus anak kita. Tapi aku mikir, dia kan anakku sama kamu Mas, masa Mama yang ngurus? Harusnya aku yang ibunya, harusnya kamu yang ayahnya, bukan yang lain."


"Kesannya memang nggak bertanggung jawab banget, tapi kalau terpaksa begitu mau bagaimana? Atau gini deh, kita iyakan dulu. Nanti kita usahakan setelah kita bisa pindah ke Jawa. Kalau sudah di sana kan kamu nggak akan sendirian, kamu ada temennya. Ada Ibu, ada Mama, kalaupun sehari-harinya anak kita nanti akan diurus sama Mama atau Ibu, setidaknya kita nggak pisah juga. Kita masih bisa bareng-bareng."


Ratna kembali mengangguk.


"Besok Mas antar ke rumah sakit setelah upacara ya, sekarang tidur yuk. Katanya besok pagi mau ikut lari pagi, kan?"


"Nggak jadi besok ah, besoknya aja. Takut capek," kata Ratna.


"Yaelah kemarin bilangnya besok, sekarang besok, besok bilang besok lagi, mau sampai kapan gembul. Badanmu makin bulet nih..., nanti nggak mirip sama microwave lagi dong. Malah balik jadi hamtaro lagi nih pipi," goda Tama sambil mencubit kedua pipi bulat Ratna.


"Ahhhh~~~, Mas jangan dicubit pipiku nanti tambah gede."


"Nggak kucubit juga udah tambah gede sendiri kok."


"Mending bulet ketimbang istri kamu kotak beneran kaya microwave nanti."

__ADS_1


"Iya iya udah nggak papa yang penting sehat. Setidaknya seminggu sekali deh ikut olah raga sama Mas ya," kata Tama masih berusaha bernegosiasi.


Malam semakin larut tanpa terasa. Entah siapa yang lebih dulu tertidur, tapi kini Tama dan Ratna sudah masuk ke dalam mimpinya masing-masing. Masih dengan posisi yang sama. Tama memeluk Ratna sedangkan Ratna memeluk lengan Tama sambil tetap memainkan tangannya dan seperti yang Tama katakan tadi, jari-jari kaki Ratna juga tetap memainkan ujung celana Tama sama seperti biasanya.


__ADS_2