
Sesampainya Ratna di Bandara, dia dijemput oleh Nata seorang diri. Begitu sampai rumah, kondisinya langsung heboh. Halaman rumah sudah disulap menjadi tempat untuk resepsi, dipasang tarub manten. Nata membantu Ratna membawakan kopor dan ranselnya ke dalam rumah sedangkan Ratna tengah menyapa seluruh sanak saudara dan para tetangga yang sedang rewang (membantu) di dapur.
"Ealah ini Mbak Ratna? Cantiknya Mbak Ratna, sudah beda jauh ya sekarang."
"Beda pripun, bulik ini bisa aja."
"Kok sendirian Mbak suaminya mana?" kali ini seorang ibu-ibu paruh baya menyapanya dari depan tungku.
"Nggih budhe, Mas Tama nanti nyusul dari Semarang."
"Sekarang kerjanya di Semarang to?" tanyanya lagi.
"Mboten, kebetulan saja Mas lagi ada tugas di sana."
"Yasudah sana Mbak Ratna monggo kalau mau istirahat. Pasti capek to habis perjalanan jauh."
Ratna kemudian melangkah masuk ke dalam kamar langsung membuka lemarinya. Dia meraih satu stel baju yang lumayan santai lalu melangkah ke kamar mandi untuk mandi. Baru selesai mandi, Ratna dipanggil oleh Ibu untuk makan siang. 6 jam di dalam pesawat dia pasti lelah dan lapar. Seharian Ratna tidak diizinkan membantu padahal dia ingin. Hari ini sih belum banyak yang dikerjakan. Paling hanya memasak makan siang untuk seluruh anggota keluarga dan tetangga yang memasang tarub juga membuat lemper untuk acara besok dan lusa.
Gandhi sempat mampir ke rumah, dia sedang duduk mengobrol dengan Bapak dan Pakdhe di teras rumah. Kalau Nata dia ikut membantu menata meja dan kursi. Sore itu Ratna yang bosan akhirnya memaksa untuk ikut bantu-bantu di dapur. Membantu Ibu juga mengatur semuanya. Mereka tidak menggunakan WO, hanya meminta bantuan para tetangga dan para pemuda desa untuk membantu menyukseskan acara.
Ratna sedang asik mengobrol dengan para ibu-ibu di dapur ketika di luar heboh karena sebuah mobil polisi memasuki pelataran rumah. Jelas, di antara banyaknya orang yang dipanggil adalah Ratna karena yang istrinya seorang polisi kan Ratna. Ratna langsung berlari keluar karena sudah mengira siapa yang datang. Yang membuatnya kaget adalah kehadiran dua orang lainnya yang turun dari dalam mobil.
"Ya Allah Pak Somat, Bu Odah, duh maaf nggak tahu kalau Bapak sama Ibu sampai ikut ke sini," kata Ratna sambil menyalami Pak Somat dan Bu Odah.
Ratna langsung mempersilahkan Pak Somat dan Bu Odah untuk duduk lebih dahulu baru Ratna masuk ke dapur mencari Ibu yang tadi tengah memblender bumbu.
"Bu, ada Pak Somat sama Bu Odah. Bapak, Sasa, sama Nata mana?" tanya Ratna.
Ibu juga sama kagetnya dengan Ratna tadi. Ibu langsung meletakkan pekerjaannya dan berjalan cepat menuju ke halaman rumah tempat Pak Somat dan Bu Odah duduk dengan Tama.
"Siapa Mbak?" tanya Uti.
"Atasannya Mas Tama, Ti," kata Ratna membuat yang mendengar ikut kaget juga.
"Bentar bulik yang buatin minum biar aku aja," kata Ratna kemudian mengambil alih pekerjaan. Dia yang membuatkan teh untuk tamu spesial itu. Namanya atasan, jelas tidak main main ya. Agak berbeda dengan ketika menjamu tamu yang lainnya. Ratna agak mengistimewakan Pak Somat apalagi ini Pak Somat kan baru dilantik jadi Kapolda pagi tadi.
Bersama dengan segelas teh hangat, Ratna juga ikut menyajikan beberapa kue untuk menjadi pendamping. Ratna membawanya ke meja yang ditempati untuk mengobrol itu, baru setelah mempersilahkan dia ikut bergabung dengan semuanya.
__ADS_1
"Nah ini Bu mantennya," kata Ratna ketika melihat Sasa berjalan mendekat bersama Gandhi.
"Nduk Sasa, apa kabar?" Bu Odah langsung menyapa sambil cipika-cipiki.
"Alhamdulillah baik Bu, makasih ya sudah datang."
"Selamat ya Mbak Sasa, sama ini siapa nama calonnya?"
"Saya Gandhi, Pak," jawab Gandhi dengan begitu sopan.
"Oh iya iya..., Mas Gandhi TNI-AD di Jambi ya katanya?" Pak Somat lanjut bertanya.
"Nggih Pak," jawab Gandhi lagi.
Mereka semua mengobrol begitu akrab dan santai tanpa ada bayang-bayang atasan dan bawahan. Tidak dipungkiri memang Ratna ini pernah menjadi putri kesayangan Bu Odah. Tama juga katanya salah satu perwira kebanggaan Pak Somat. Sudah begitu beberapa kali Bapak dan Ibu yang datang ke kesatrian membuat Bu Odah dan Pak Somat ikut akrab juga dengan anggota keluarga Tama dan Ratna ini.
Pak Somat dan Bu Odah tidak sampai maghrib sudah undur diri. Ternyata tadi ada satu orang lagi yang ikut bersama. Entah siapa Ratna tidak paham, tapi yang jelas ya salah satu anggota kepolisian di tempat tugas Pak Somat yang baru. Katanya Pak Somat dan Bu Odah mau langsung balik ke Semarang makanya bawa sopir. Ratna buru-buru mengemas beberapa bingkisan untuk Pak Somat dan Bu Odah. Isinya ada roti, beberapa jajanan dan souvenir sebagai rasa terima kasih pihak keluarga sudah didatangi.
Setelah melepas kepulangan Pak Somat dan Bu Odah, Ratna membersihkan gelas-gelasnya. Tapi belum sampai dia meraih nampan, Ibu sudah mendorong Ratna menjauh, "Suaminya sik. Ini biar Ibu," bisik Ibu.
"Mas, mau mandi nggak?" tanya Ratna.
"Kamar mandinya kosong po?" tanya Tama.
"Antrinya panjang Mas, ke kamar mandi di rumah Uti aja ayo tak temenin," ajak Ratna.
Tama yang tadinya sedang duduk kemudian melangkah masuk ke dalam rumah untuk, mengikuti langkah Ratna yang mulai membuka lemarinya. Ratna mengambilkan satu stel baju ganti lalu meraih handuk bersih kemudian bersama Tama berjalan ke arah rumah Uti yang letaknya persis di sebelah rumah Bapak. Hanya terpisah garasi.
Tama tengah mandi, sedangkan Ratna menemani tidak jauh di sana sambil mengobrol dengan tante Dian, tante Tari, dan Om Ian. Mereka adalah sepupu-sepupunya Ibu dan terbilang cukup dekat dengan Ratna. Dulu ketika Ratna masih kecil, dia sering dibelikan ini itu, sering diajak jalan-jalan, dan curhat-curhat juga makanya bisa begitu akrab.
"Ya Allah Adiratna pelite pol," kata Om Ian.
"Ye jangan lah om ini mah punya Ratna," kata Ratna.
Keduanya sedang berebut bakwan di piring yang hanya tersisa satu. Tadi keduanya suit untuk menentukan siapa yang akan memakannya, Ratnalah yang menang tapi bukan Om Ian namanya kalau tidak mengganggu keponakannya. Dia berusaha meminta separuh tapi gagal sedangkan Tama yang baru melangkah dari dalam kamar mandi malah memenangkan potongan terakhirnya.
"Katanya jangan. Katanya punyamu. Hoalah Adiratna bucin," kata Om Ian.
__ADS_1
"Biarin Om, mumpung masih mau bucin," kata Tama yang sudah memakan bakwan itu tanpa wajah berdosa.
"Awet tenan kalian le bucin," kata tante Dian.
"Hooh, biasanya kalau sudah nikah setahun dua tahun bucinnya ilang. Kalo kalian kok makin hari malah makin parah. Story-nya Ratna lho isinya Tama semua," tambah Tante Tari.
"Kalau nggak suka tinggal di skip sih," kata Ratna.
Ratna kemudian memilih untuk kembali ke dapur meninggalkan om dan tantenya yang masih asik mengobrol di rumah Uti. Ratna kini berganti pekerjaan. Dia harus membuat bawang goreng jadi kini Ratna akan berperang melawan beberapa kilo bawang yang harus dia kupas satu per satu lalu dia potong tipis-tipis.
"Bun...," panggil Tama.
"Hmm?" Ratna menoleh kemudian berjalan mendekati Tama yang berdiri kikuk di depan tenda dapur.
"Ada apa?" tanya Ratna terdengar seperti seseorang yang menangis.
"Mas mau pergi dulu sama Gandhi ya," kata Tama sambil menghapus air mata Ratna. Jangan salah paham, Ratna menangis karena bawang bukan karena Tama.
"Jangan pulang kemaleman lho Mas belum istirahat dari kemarin. Nek sakit aku emoh mijitin," kata Ratna.
"Iya iya, kamu nggak usah nunggu Mas pulang kalo kerjaanmu sudah selesai langsung tidur istirahat ya," kata Tama sambil membalas cium tangannya Ratna dengan kecupan di kening. Setelah itu Tama mundur 3 langkah lalu hormat, dia baru pergi setelah hormatnya dibalas oleh Ratna.
"Hati-hati," kata Ratna.
Ratna kembali melanjutkan pekerjaannya dan meneruskan obrolannya dengan ibu-ibu yang bekerja. Terkadang mereka membicarakan tentang Sasa dan Gandhi, kadang juga ada yang kepo tentang Ratna dan Tama yang terlihat begitu manis berdua.
"Mbak, nek polisi harus kaya gitu po le pamit? Kaya Mase tadi?" tanya Budhe Iyah tetangga sebelah.
"Mboten Budhe, malah selain Mas belum pernah saya lihat yang hormat kaya gitu sama istrinya. Kebiasaan Mas aja itu, mau saya bilang nggak usah malah diprotes balik. Ya sudah," jawab Ratna.
"Eh Mbak Ratna, maaf dengar-dengar kemarin sempat sakit parah ya? Sakit apa?" tanya Bulik Santi dari arah tungku.
"Anu Bulik itu gimana ya bilangnya, kecelakaan lah gitu. Mas kan lagi ngejar pelaku kok apesnya saya ada di lokasi. Saya nggak papa tapi adeknya nggak kuat," kata Ratna.
"Ya Allah, tapi Mbak Ratna nggak papa kan bener sudah sehat?"
"Sudah Bu, alhamdulillah. Kejadiannya juga sudah berapa bulan yang lalu," jawab Ratna dengan begitu tegar.
__ADS_1