
Hari ini akan menjadi hari paling bersejarah dalam hidup Sasa. Acara sudah mencapai puncaknya, ketika para saksi mengucap kata sah membuat status Sasa adiknya kini resmi berganti. Selesai dengan acara ijab kabul, Sasa dan Gandhi langsung masuk ke dalam rumah untuk bersiap-siap melaksanakan upacara kedua. Upacara kebanggaan yang dimiliki oleh segenap prajurit bangsa. Sejak masih remaja dulu, Sasa adalah orang yang pertama kali mengidamkan pedang pora dalam pernikahannya. Apalagi ketika menyaksikan kakaknya berjalan ke pelaminan dengan cara yang begitu keren dan hebat. Tidak semua orang bisa mendapatkan pengalaman semacam ini. Beruntungnya, Ratna, Sasa, dan Nata nanti adalah orang-orang yang beruntung karena merasakan langsung upacara sakral ini.
Di barisan dekat dengan pelaminan Tama dan Ratna serasa diajak bernostalgia mengingat pernikahan mereka 3 tahun silam. Ratna ingat sekali, ketika itu dia menangis. Dalam batinnya masih belum percaya jika dia ternyata menikah malah bukan dengan laki-laki yang selama ini dia impikan. Bahkan genre hidupnya berubah total sekarang.
"Bun...," bisik Tama di telinga Ratna.
"Kenapa?"
"Mas jadi pengen nikah lagi," kata Tama.
"Hus. Astagfirullah Mas. Aku masih kurang po?"
"Bukan gitu maksudnya sayang, Mas pengen kaya gitu lagi. Sama kamu, nagih soalnya," kata Tama.
"Ya Allah Mas Tama, marakke jantungan wae," kata Ratna.
"Mas sebelum menikah sudah 3 kali ikut dalam upacara ini. Pertama waktu nikahan Bang Rendy, terus nikahan Pak Leo, sama waktu nikahan Cece. Habis itu baru Mas pedang pora lagi sama kamu," kata Tama bercerita.
"Padahal aku nggak pernah punya cita-cita nikahanku bakal kaya gini loh. Mana pernah aku membayangkan punya suami polisi, anggota brimob pula. Dulu waktu SMA aku pernah punya pacar, dia pengusaha, Vino juga businessman. Nggak kebayang aja gitu tiba-tiba Mas Tama dateng dan sanggup menangin hatiku. Aku bersyukur bisa kenal sama Mas," kata Ratna.
"Aku juga bersyukur bisa nikah sama kamu, walau Mas nggak pernah kebayang bakal punya istri seorang dokter. Habis pacar Mas dulu model, udah jadi artis sekarang malah," kata Tama.
Tama dan Ratna sama-sama tertawa. Selain mentertawakan diri masing-masing, mereka juga tertawa karena campur tangan semesta yang mempertemukan dua orang yang tidak berhubungan sama sekali hingga menjodohkan mereka berdua dengan cara yang cukup unik, cara yang bahkan tidak pernah terbayangkan oleh siapapun. Ketika keduanya sebenarnya sudah memiliki rumah untuk hati masing-masing, tapi karena satu pertemuan rumah itu runtuh seketika.
Tama dan Ratna sama seperti yang lainnya menikmati pesta pernikahan dengan senyum dan tawa. Ratna tengah menyapa teman-teman Sasa yang datang sedangkan Tama duduk bersama dengan rekan-rekan Gandhi. Yah walaupun berbeda Polisi dan TNI tapi kan keduanya bekerja dalam bidang yang sama, jadi obrolan mereka lumayan sambung juga.
Belum lama Tama mengobrol, Ratna mengajaknya untuk menyapa seseorang. Beberapa saudara jauh yang datang hari itu menjadi kesempatan untuk Ratna mengenalkan Tama pada keluarganya. Sedang asik mengobrol, tiba-tiba ada seseorang yang datang membuat wajah Ratna memucat bahkan tangannya cenderung dingin. Tama jelas tahu perubahan ekspresi itu dan ketika dia mengikuti arah pandangan Ratna dia langsung tahu alasan mengapa Ratna bisa begitu syok. Dia melihat Mama datang bersama dengan seorang gadis yang jelas Tama kenal. Seorang gadis yang tidak seharusnya berada dekat dengan Mama.
Ratna memilih untuk bersembunyi dan tidak langsung menyapa Mama, atas paksaan Tama tentu saja karena jujur Tama enggan mendekati ibunya saat ini. Mama menyalami Ibu dan Bapak, lalu menyalami Sasa juga. Sejenak Sasa juga menghadirkan ekspresi yang tidak berbeda jauh dengan Ratna. Sasa tahu siapa gadis yang mengikuti ibu mertua kakaknya ini makanya dia juga sama kagetnya.
__ADS_1
"Bunda, kita masuk yuk," ajak Tama.
"Mas, kita harus nyapa Mama dulu. Nggak sopan malah kucing-kucingan gini," kata Ratna.
Sempurna, belum juga Tama menjawab kalimat Ratna Mama sudah berjalan ke arah mereka diikuti gadis itu terus di belakang Mama. Mungkin jika yang tidak tahu tidak akan curiga, bisa saja kan gadis yang ikut ini adiknya Tama. Paling akan seperti itu orang berpikir, tapi bagi Tama dan Ratna jelas tidak bisa berpikir begitu. Karena mereka tahu bahwa sosok gadis bernama Sindiana ini adalah mantan kekasih Tama.
"Kamu kemana aja kok Mamanya dateng bukannya disapa malah mojok di sini," kata Mama.
"Ma maaf, tadi kita berdua belum lihat Mama, makanya belum sempat menyapa. Mama juga kemarin Ratna tanya belum tahu mau datang atau nggak. Tahu gitu Ratna jemput Mama," kata Ratna.
"Nggak usah repot-repot. Mama masih kuat kemana-mana sendiri kok," kata Mama.
"Kalau kuat kemana-mana sendiri ngapain bawa ni cewek ke sini Ma? Udah tahu Tama nggak suka," kata Tama begitu ketus.
"Memangnya salah? Mama itu sudah menganggap Sindi kaya anak Mama sendiri, mau kamu masih pacaran sama Sindi atau nggak Mama kan nggak ada hubungannya. Lagian kalau bukan karena Sindi Mama pasti bakal bosen banget tinggal di Jakarta nggak ada temen. Ratna juga sibuk, jarang telepon Mama," kata Mama.
"Aku yang larang. Habis Mama nyebelin. Tiap telepon nanyain anak mulu, capek juga dengernya."
"Ma, Mama pasti capek. Mama mau makan apa? Biar Ratna yang ambilin, atau Ratna anter yuk," kata Ratna menyela Tama yang hampir mendebat Mama lagi.
Ratna kini pergi bersama Mama sedangkan Sindi malah tetap tinggal bersama Tama yang sudah risih setengah mati dengan keberadaan Sindi di hadapannya. Tama tadinya sudah akan melangkah pergi, tapi tangan Sindi dengan tidak tahu malunya menahan lengan Tama agar dia tidak pergi.
"Andai aja nggak rame, aku pengen peluk kamu Tam. Aku kangen," kata Sindi.
"Hati-hati kalau ngomong. Kalau sampai istriku denger awas kamu," kata Tama sedikit mengancam tentu saja sambil melepaskan tangan Sindi.
"Tam, kalau aku nggak bisa jadi istri kamu aku masih bisa kan jadi adikmu. Aku sayang sama kamu Tam," kata Sindi lagi.
"Gue nggak peduli."
__ADS_1
Tama memilih pergi, dia merasa dia tidak seharusnya tetap di sana dan merusak hari bahagia Sasa. Tama memilih untuk pergi ke tempat yang cukup sepi dan memilih diam di sana mengatur nafasnya yang sudah tidak beraturan karena menahan emosi. Ratna berjalan mendekatinya, dia kemudian menarik Tama masuk ke dalam kamar. Setidaknya di dalam kamar Ratna tempatnya lebih privasi.
"Mas ditahan emosinya," kata Ratna.
"Kok kamu nggak marah si dek?" tanya Tama.
"Buat apa? Kan saya yang anda pilih, saya pemenangnya," kata Ratna.
Tama menarik tubuh Ratna untuk mendekat padanya, dia hadapkan wajah Ratna persis di hadapannya, "Coba ngomong sekali lagi, yang bener ngomongnya. Aku nggak suka sama cara bicaramu barusan," kata Tama.
"Mas..., aku nggak peduli mau sebanyak apapun gadis lain dibawa Mama untuk deketin kamu. Aku juga nggak peduli mau dia itu mantan kamu, mau dia itu sahabat kamu. Karena aku tahu, Pratama Aji suamiku ini nggak akan pernah berpaling dari aku. Toh walaupun kamu berniat berpaling aku akan tetap berusaha agar kamu nggak pergi jauh dariku. Karena aku adalah istrimu, istri kesayanganmu. Kamu udah jadi punyaku dan sampai kapanpun kamu akan tetap jadi punyaku," kata Ratna penuh dengan percaya dirinya.
"Kok kamu bisa pede banget sih?"
"Pede dong, kan kalau kamu berani main di belakangku asetmu bakal kupotong habis. Biar tahu rasa," kata Ratna.
"Ngeri ah, ini sebenernya yang polisi siapa sih. Kok bu dokter malah lebih garang dari aku," kata Tama sambil mencubit kedua pipi gembul Ratna.
"Sakit Mas..., nanti pipiku merah lho," kata Ratna merengek.
"Hehe nggak papa, biar rona pipinya lebih alami. Lumayan kan hemat blush on," goda Tama.
"Balik yuk, udah ya jangan emosi lagi. Ini urusanku sama Mama dan Sindi, kalau Mas mau bantu boleh nggak juga nggak papa. Sama seperti usaha Mas buat menangin hati Bapak Ibu, aku juga akan menangin hatinya Mama biar rumah tangga kita tenang, aman," kata Ratna lagi.
"Ratna bentar deh...," kata Tama.
"Kenapa Mas?"
"Jantung Mas cenut-cenut nih apa jangan-jangan Mas lagi jatuh cinta ya, duh deg-degan parah," kata Tama sambil memegangi dada kirinya seolah-olah seperti kesakitan.
__ADS_1
"Makan tuh cinta," kata Ratna lebih dulu keluar dari kamar disusul Tama yang masih tersenyum gemas pada istrinya. Bangga dia bisa memiliki Adiratna. Dia adalah seorang yang tulus. Penuh dedikasi tapi tidak juga sampai menyiksa dirinya sendiri.