Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
Short Story 3. Karena Tugas


__ADS_3

"Huft, alhamdulillah akhirnya pasien sadar juga. Sudah jam berapa ini," kata Ratna sambil melihat jam di pergelangan tangan kirinya.


"Yang bener aja ini masih jam 1?" kata Ratna yang ragu.


"Jam satu gundulmu, udah mau maghrib ini Rat," kata Dipta.


"Yahh jamku mati berarti. Ahh nambah kerjaan aja heran," keluh Ratna.


"Capek banget kayaknya Bu?" tanya Ela.


"Ya capek, sudah semaleman di ruang operasi bablas sampai mau maghrib lagi. Kabar gembiranya, Ratna shift malam hari ini," kata Theo.


"Hohoho lo koas berkedok calon profesor ya," kata Dipta.


"Ini nggak ada yang berbaik hati gantiin shiftku ya?" tanya Ratna.


"Nggak bisa mbul gue habis memecahkan rekor pasien terbanyak dalam semalam gara-gara 3 orang koas bau shift malam di hari yang sama," kata Dipta.


"Ya bantuin kek Ta, lo kan dokter kepala," kata Ratna.


"Nggak bisa Ratna, sorry ya...," jawab Dipta.


"Mendingan lo balik dulu Rat sekarang mumpung ada waktu, lo bisa mandi dulu sama siapin makan sahur buat suami lo. Dengan senang hati kuizinkan suamiku pulang telat hari ini sampai lo balik ke sini," kata Ela.


"Beneran nggak papa?"


"Nggak papa. Tapi jangan kelamaan," kata Dipta.


"Makasih banget ya, diusahakan nggak lebih dari jam 8," kata Ratna.


Ratna bergegas pulang begitu diiyakan oleh Dipta. Dia langsung memesan ojek begitu keluar dari ruang dokter agar bisa segera pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, dia melihat Tama sudah hampir habis dijadikan mainan oleh si kembar. Tara ada di atas sofa asik memainkan rambut Tama yang mulai memanjang, Nusa berjingkat di atas paha ayahnya sedangkan Aksara asik bernyanyi tidak jauh dari mereka.


Begitu melihat bunda pulang, Aksara langsung berlari mendekati Bundanya. Bunda sempatkan untuk memeluk dan mengacak rambut Aksara baru beralih pada si kembar yang mulai heboh karena mengetahui Bundanya sudah ada di rumah. Nusa langsung beralih ke Bunda begitupun dengan Tara yang hampir terjatuh.


"Anak-anak Bunda sudah makan belum?" tanya Ratna.


"Siang udah sama tante Uli, kalau makan malam belum. Baru banget pesen makan nih," jawab Tama sambil memperlihatkan chat dengan pemilik sebuah warung nasi padang langganan mereka.


"Ayah maaf ya, pasien Bunda agak gawat makanya telat pulang," kata Ratna.


"Nggak papa, yang penting habis ini nggak perlu balik ke rumah sakit kan?"


"Sayangnya harus..., Bunda shift malam," kata Ratna.


"Terus sahur besok pagi?" tanya Tama yang mulai tidak bertenaga.

__ADS_1


"Bunda masakin ya. Ayah mau apa? Biar besok tinggal diangetin," kata Ratna mulai kelabakan berjalan ke dapur sambil menggendong Nusa.


Tama menyadari dia salah bicara langsung menampar bibirnya sendiri dengan tangan. Tama menggendong Tara kemudian menyusul Ratna yang mulai bingung karena Nusa rewel sedangkan dia harus segera memasak sebelum kembali ke rumah sakit.


"Nda..., bentar dulu. Kalau Bunda memang capek dan keburu nggak usah masak nggak papa. Ayah pesen aja ya, ini pesanan masih bisa ayah tambahin orang belum diantar juga," kata Tama mencegah istrinya memasak.


"Tapi kan...," Tama membungkam Ratna dengan kecupan. Tidak peduli selama apa mereka menikah hanya kecupan di bibir yang terbukti efektif menghentikan cerewetnya Ratna.


"Nggak papa," kata Tama sambil tersenyum.


"Mas pesan apa tadi?"


"Ayam goreng, perkedel, sayurnya Mas minta 2 macem, kuah pedes satu yang nggak pedes satu buat anak-anak sama Mas beli babat," kata Tama.


Ratna tersenyum ketika tahu pesanan suaminya, "mas memang tahu aku lagi pengen makan babat atau mas juga lagi pengen?"


"Nggak juga, asal aja mas pesen. Lagi nggak pengen makan daging," kata Tama.


"Yaudah deh, aku mandi dulu sebentar ya Mas."


Selesai mandi, Ratna membantu menata makanan di atas meja sedangkan Tama mulai mendudukkan anak-anak di kursinya masing-masing. Tama duduk bersama Tara, Ratna bersama Nusa dan di samping mereka ada Aksara yang mulai fokus pada makanannya.


"Ayah itu apa?" tanya Aksa melihat sepotong babat di piring sang ayah.


"Coba," katanya sambil membuka mulut.


"Alot lho Bang, kalau nggak kuat ngunyah dilepeh ya jangan dipaksa ditelan," kata Ratna.


...***...


Selepas makan malam Ratna bersiap dan langsung berangkat. Kasihan juga kan Dipta yang seharusnya sudah bisa pulang harus tetap di rumah sakit demi dirinya. Tama mengantar Ratna sampai di pintu depan sekalian dia akan menutup gerbangnya juga.


"Mas aku berangkat ya," kata Ratna sambil cium tangan.


"Hati-hati ya Bunda," kata Tama sebelum mencium kening Ratna.


Sebenarnya sedih juga, sahur pertamanya tahun ini harus habis di rumah sakit. Itupun dia terancam tidak bisa puasa karena Ratna ragu apakah dia akan memiliki waktu untuk sahur atau tidak. Suaminya yang melarang Ratna berpuasa kalau dia tidak sahur karena Ratna kan masih harus menyusui si kembar walaupun asinya sudah tidak banyak. Dia sudah berkomitmen untuk memberikan asi penuh pada anak-anaknya makanya Tama tidak memaksakan Ratna untuk terus berpuasa kalau memang tidak kuat.


"Dokter Jaya ada di sini kan?" tanya Ratna setelah memeriksa seorang pasien yang baru datang.


"Ya, beliau ada di ruangannya," jawab seorang perawat.


"Minta dia ke sini, aku curiga ada keretakan di bagian kaki," kata Ratna.


"Baik dok."

__ADS_1


Setelah selesai memeriksa pasien berusan Ratna melangkah mendekati vending machine dan membeli satu kaleng kopi. Dia mengantuk, dan badannya lelah sekali. Ratna bahkan hampir tertidur ketika duduk sambil melepaskan lelah di ruang santai.


"Gue kira lo tidur," kata Jay yang akan menyelimuti Ratna dengan snelinya.


"Nggak, cuma merem aja. Capek gue double shift," jawab Ratna.


"Terus anak-anak?"


"Sama ayahnya. Untung Mas lagi nggak tugas jaga jadi bisa jagain. Kalau pas nggak ada yang bisa di rumah ya ngungsi bertiga ke rumah pengasuhnya," kata Ratna.


"Lo betah gitu menjalani dua peran bersamaan? Lo juga kalau nggak salah sekarang jadi pengurus bhayangkari kan?"


"Yes. Sebenarnya capek Jay, tapi kalau aku berhenti sayang banget nggak sih selama bertahun-tahun aku berdarah-darah. Suamiku juga selalu membantu aku biar bisa sampai di posisi seperti sekarang. Lagian aku cari kerja bukan untuk mengungguli suamiku, pekerjaan ini kujalani murni karena aku ingin mengabdi. Perkara gajinya besar ya itu bonus," kata Ratna.


"Ya udah dilanjut istirahatnya. Kalau butuh gue calling aja. Gue di ruangan," kata Jay.


"Sip."


...***...


Pagi selepas subuh Ratna baru bisa kembali ke rumah. Rumahnya masih sepi ketika dia sampai. Aksa masih lelap, Nusantara juga anteng dalam box bayinya. Hanya Tama yang sudah bangun dan saat ini sedang bermain dengan handphonenya.


"Hai istriku yang paling cantik sudah pulang, sini sayang istirahat sini. Mumpung aku masih di rumah, aku peluk sampai kamu tidur," kata Tama.


"Aku belum sempat sholat subuh," kata Ratna.


"Sholat dulu," jawab Tama.


Ratna bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Dia mandi membersihkan seluruh tubuhnya dan langsung meraih mukena untuk sholat. Selesai sholat Ratna langsung merebahkan diri di samping suaminya bahkan tanpa melepaskan mukenanya. Ratna langsung memejamkan mata selagi dia bisa. Takutnya kalau anak-anak sudah terbangun dia tidak akan sanggup istirahat.


"Bunda puasa?" tanya Tama.


"Insyaallah," kata Ratna.


"Jangan dipaksakan tapi ya. Kalau nggak kuat batalin aja nggak papa dari pada Bunda sakit. Sebagai reward untuk kerja keras Bunda malam nanti kita buka puasanya di amplaz. Bunda boleh makan apapun yang Bunda mau dan beli apapun yang Bunda pengen," kata Tama.


"Belanjanya besok-besok ajalah Mas kalau sudah dekat waktu lebaran. Sekalian beliin baju buat anak-anak sama beli baju koko buat Ayah," kata Ratna.


"Na, kayaknya malam takbir Mas nggak bisa di rumah. Paling sholat Ied juga di masjid kantor," kata Tama.


"Nggak papa, nanti Bunda susulin Ayah sekalian Bunda bawakan baju ganti. Biar Ayah sholatnya nggak pakai seragam," kata Ratna.


Baru Ratna akan memejamkan matanya kembali, mereka mendengar Nusa merengek. Tama dengan sigap bangun sebelum Ratna yang memaksa dirinya untuk kembali bangkit, "biar Mas aja. Kamu istirahat dulu," kata Tama.


"Makasih," jawab Ratna tidak sempat Tama angguki karena dia sudah keluar dari dalam kamar.

__ADS_1


__ADS_2