Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
30. Marah


__ADS_3

Sore itu juga, Tama mengantar Mama dan Sindi ke bandara. Tentu saja Ratna ikut serta, dia bahkan tidak pernah menjauh dari Ratna barang semenit. Kemanapun Ratna pergi pasti Tama mengekor, sejak datangnya Mama dia selalu begitu bahkan tidak segan memperlihatkan kemesraan dihadapan Mama dan Sindi. Tadinya Mama meminta Tama mengantar mereka untuk jalan-jalan ke Jogja, Mama bilang kangen sama suasana Jogja tapi Tama tidak percaya. Dia tetap bersikeras mengantar Mama dan Sindi ke YIA.


"Kamu kenapa sih Tam sama Mamanya kok gitu?"


"Mama tuh sadar nggak sih Mama bawa orang lain yang bukan siapa-siapanya Mama ke rumah anak Mama? Mama sadar nggak Mama nyakitin hati menantu Mama sendiri?" tanya Tama.


"Mas...."


"Ratna diem dulu."


Mendengar kalimat itu terlontar dari mulut Tama membuat Ratna diam. Bukan, dia bukan takut. Dia malah rasanya ikut emosi melihat Tama terus mendebat Mamanya apalagi mengatasnamakan Ratna sebagai alasan perdebatan itu. Ratna memilih untuk berjalan menjauh, dia memilih untuk pergi meninggalkan pasangan ibu dan anak itu. Ke mana pun asal dia tidak mendengar pertengkaran itu.


"Lihat? Dia aja nggak suka lihat kamu debat sama Mama kamu kok, kamu malah begitu sih?"


"Ma, sekarang aku tanya sama Mama. Apa Mama pernah kasih sesuatu ke Ratna kaya Mama kasih ke Sindi? Pernahkah Mama memikirkan Ratna kaya Mama mikirin Sindi? Yang menantu Mama siapa sih sebenernya?"


"Tam, udah jangan debat Mama terus. Maaf kalau aku salah...," kata Sindi.


"Oh jelas salah. Lo tuh segabut apa sih sampe nempelin Mamanya mantan lo? Lo inget nggak waktu gue ngelamar lo dulu sikap lo ke gue kaya apa? Terus sekarang ketika gue udah nemuin bahagianya gue sama cewek lain lo pengen balik lagi ke gue? Sorry. Gue nggak bisa. Sebesar apapun gue pernah sayang sama lo, itu masa lalu. Sekarang gue udah punya Ratna yang jelas lebih segalanya dari pada lo." jawab Tama panjang lebar pada Sindi.


"Terus Mama juga, fine Ma. Mama bilang karena ada Sindi Mama jadi nggak kesepian. Nggak papa, ok aku terima, maaf juga karena nggak bisa selalu ada buat Mama. Tapi ingat satu hal Ma, aku cuma minta satu ini aja, tolong hargai hatinya Ratna. Dia itu istriku Ma, istri dari anak semata wayangmu. Mama sendiri juga udah kasih restu ke Ratna, kan? Kuharap Mama nggak bawa Sindi ke hadapan Ratna lagi," kata Tama pada Mama.


Tama masih bertahan di sana, memastikan Mama dan Sindi masuk ke dalam boarding pass baru dia berlari mencari Ratna. Kemanapun. Dia terus mengelilingi bandara, naik, turun hanya untuk mencari keberadaan Ratna yang entah sudah seberantakan apa hatinya hari ini. Tama merasa lega, ketika melihat Ratna dari kejauhan, dia sedang membantu seorang nenek mengangkat kopornya dengan tersenyum. Tidak ada tangisan walau dia sendiri sebenarnya tahu jika dalam hati Ratna sedang menangis.


"Ratna..., ayo kita pulang," kata Tama.

__ADS_1


"Nduk, terima kasih ya sudah bantu nenek," kata nenek itu.


"Iya nek, sama-sama. Mari nek," pamit Ratna.


Tama terus berusaha menggandeng Ratna, tapi dia menolak. Alhasil Tama hanya berjalan tepat di belakangnya. Jika dari bandara untuk menuju ke rumah Ratna harus berbelok ke kiri, Tama justru berbelok ke kanan. Dia membawa Ratna ke alun-alun. Dia ingin bicara berdua dengan Ratna, dan untuk sekarang jelas tidak mungkin dilakukan di rumah. Tama memarkir mobilnya di samping alun-alun mencari tempat yang cukup sepi.


"Kalau mau marah sekarang, aku dengerin," kata Tama.


"Ogah," kata Ratna.


"Ratna."


"Suruh siapa Mas debat sama Mama kaya tadi sih?! Di tahan dong Mas. Mas selalu bilang jaga perasaan Ratna, tapi Mas juga nggak mikir tuh perasaan Mama ketika Mas ngomong begitu. Mama tuh nggak salah Mas, Ratna kan udah bilang Mama kaya gitu kenapa sih? Karena kamu, karena kita yang anak-anaknya nggak pernah ada waktu buat Mama. Aku bahkan pengen bilang makasih sama Sindi karena udah bantu ngurusin Mama. Tapi lihat sikapmu kaya gini bikin pikiranku negatif tahu nggak. Kenapa Mas nolak banget keberadaan Sindi? Mas masih punya rasa sama dia?!" Ratna langsung memuntahkan semua isi hatinya begitu saja.


"Ratna...," Tama berusaha meraih tangan Ratna untuk menenangkannya tapi ditepis begitu saja.


"Nggak ada Ratna, sumpah nggak ada. Mas cuma nggak mau kamu mikir aneh-aneh kaya gini. Tahu nggak Mas mikir apa sejak lihat Sindi siang tadi? Mas mikir Mama bakal minta Mas pisah dari kamu karena kejadian kemarin. Mas cuma takut kamu semakin dijelekin sama Mama karena kamu keguguran kemarin," kata Tama dengan raut sedih yang tidak dibuat-buat. Bahkan kini Tama dengan lemas tidak bertenaga menjatuhkan tubuhnya ke sandaran mobil menengadahkan kepalanya berusaha menahan air matanya agar tidak mengalir.


Tidak berbeda jauh dengan Ratna di sampingnya. Dia juga sudah menangis. Bahkan tangisannya terdengar begitu memilukan saat ini.


"Maaf ya, Mamaku kolot banget orangnya," kata Tama masih tidak berani menatap Ratna.


"Tapi Mas bisa kan nggak mendebat Mama kaya gitu, kasihan Mama Mas...."


"Coba Mas bayangin sekarang kalau aku yang ada di posisi Mama. Aku masih punya Mas yang selalu dukung aku dan selalu sayang sama aku, tapi Mama punya siapa lagi kalau bukan Mas? Papa sudah lama nggak ada, Mama itu cuma butuh kasih sayang Mas. Mama butuh perhatian terutama dari satu-satunya keluarga yang masih ada di genggamannya saat ini. Dari kamu Mas," kata Ratna lagi.

__ADS_1


"Tapi kamu...,"


"Aku akan lebih terluka kalau lihat Mas marah sama Mama. Mas, habis ini minta maaf sama Mama," kata Ratna.


"Iya habis ini aku minta maaf, tapi udah jangan nangis. Mas nggak kuat lihat air mata kamu," kata Tama.


"Mas janji dulu sama aku, apapun yang Mama lakukan nanti Mas nggak akan pernah mendebat Mama. Mas nggak akan pernah marahin Mama apalagi ngebentak," kata Ratna.


"Iya, Mas janji," kata Tama sambil menghapus jejak air mata di kedua pelupuk mata Ratna.


"Bunda..., bablas Jogja yuk," ajak Tama setelah keduanya lebih tenang.


"Nggak ah, nanti Mas kecapekan. Mas sudah janji ke Mama mau ke Jakarta lho besok. Kita berangkat pagi juga.”


“Ya kan salah kamu yang ngajak naik kereta kamu.”


“Pengen Mas, kangen suasana naik kereta. Dulu waktu kuliah hampir tiap minggu aku naik kereta buat pulang pergi. Kalo sekarang kan nggak pernah,” protes Ratna.


“Iya Bunda iya, kita ke Jakarta naik kereta. Kan sudah beli tiket juga itu, tinggal berangkat. Pokoknya apa maumu aku turutin semua,” kata Tama.


“Kalau gitu Mas janji ya di Jakarta nanti nggak akan mendebat apapun kata-kata Mama,” kata Ratna memohon.


“Buat satu itu aku nggak janji Ratna, kalau kata-kata Mama sampai menyakiti kamu Mas nggak akan bisa cuma diem,” kata Tama.


“Kalau gitu kita ubah metodenya. Dalam sehari itu Mas nggak boleh mendebat Mama apapun alasannya, tapi malemnya Mas akan ajak aku pergi keluar biar aku bisa nangis kalau memang sakit hati. Mas juga wajib peluk aku waktu tidur,” kata Ratna.

__ADS_1


“Oho kalau itu sih nggak perlu kamu minta sudah otomatis Mas lakuin. Mau lebih dari pelukan juga boleh. Boleh banget,” kata Tama membuat Ratna tertawa sambil mengangguk.


__ADS_2