
Malam itu ketika Ratna sedang asik dengan handphonenya melepas lelah setelah menyelesaikan pekerjaannya, satu pesan masuk dari adik perempuannya. Sasa mengirimkan sebuah undangan pernikahan beserta caption “Om kasih tahu juga ya Mbak.”
Ratna sebenarnya agak gemas mendengar panggilan Sasa untuk kakak iparnya. Ketika dia memanggil Ratna dengan panggilan “Mbak” dia malah memanggil suami Ratna dengan panggilan “Om” jelas tidak tepat, tapi mau dibetulkan pun nanti kembali lagi. Lagi pula Tama tidak protes jadi Ratna akhirnya menyerah dan membiarkan adiknya itu memanggil Tama dengan sebutan begitu.
Ratna beralih ke room chat yang lainnya dan langsung mengirimkan undangan dari Sasa ke Tama. Ratna kemudian menelepon Tama setelah selesai mengirimkannya.
“Mas…, jadi bisa dateng kan?” tanya Ratna.
“Belum tahu Dek, itu tanggal 23 ya? Mungkin Mas nyusul aja langsung dari Semarang. Kamu berangkat duluan aja nggak papa kan?” tanya Tama.
“Mas mau ke Semarang acara apa Mas?” tanya Tama.
“Dampingi Pak Somat nih lho, ada acara di sana. Sebenarnya cuma 1 hari tapi kalau dihitung sama hari pulang pergi kan jadi 3 hari. Mas paling nanti ambil cuti tambahan 3 hari.”
“Oiya maaf aku lupa. Berarti aku berangkat duluan Mas? Tapi Mas masih bisa nganter ke Bandara kan ya?” tanya Ratna.
“Kamu jadinya mau berangkat kapan?” tanya Tama balik.
“Masih bingung. Kalau aku ambil dari tanggal 21 sampai pas hari cutinya Mas habis ya ngabisin jatah cuti setahun. Berarti nanti kita lebaran nggak bisa pulang,” kata Ratna.
“Mas berangkat tanggal 20 malem. Kalau kamu mau kita bisa berangkat bareng sampai bandara. Nanti Mas usahain buat cari jadwal flight paling deket sama jadwalnya Mas, gimana?”
“Boleh Mas? Mas kan bakal berangkat dari kantor.”
“Boleh Dek, kenapa nggak sih. Lagian tujuannya sama, waktunya juga sama.”
“Yaudah deh, berarti aku jadiin berangkat tanggal 20 aja kalau gitu. Aku ajuin cutinya tanggal 21 sampai tanggal 25 ya Berarti Mas?”
“Iya. Berarti kamu nanti nggak usah belanja kebanyakan. Kan rumah mau ditinggal,” kata Tama mengingatkan.
“Aku malah berencana buat nggak belanja. Mas kan kalau siang makan di kantin, aku siang juga lebih sering di rumah sakit. Paling roti sama susu aja ya buat pagi, terus nanti malam beli sayur apalah gitu yang sekali makan habis.”
“Yaudah gitu aja sip.”
“Eh Mas aku hampir lupa. Buat kadonya Sasa gimana?”
“Sasa jadi langsung pindah Jambi nggak? Kalau iya hadiahnya langsung kirim ke Jambi aja.”
“Dia pengen dibeliin mesin cuci katanya.”
“Ah urusan gampang kalau cuma mesin cuci sih. Asal dia nggak minta dibeliin motor aja,” kata Tama sambil tertawa.
__ADS_1
“Ya kalau motor sih ngapain minta orang Gandhi udah beli motor buat mas kawin.”
“Wohoo keren Gandhi…,” puji Tama.
“Nggak ah lebih keren Mas Tama.”
“Ya soalnya kamu sukanya sama aku bukan sama Gandhi,” kata Tama dengan nada datar.
“Yaudah Mas, Ratna mau bimbingan sebentar habis itu pulang. Mas mau titip beli makan nggak?”
“Iya Dek, Mas laper. Beli Bakso enak kayanya,” kata Tama.
“Ok nanti aku beliin bakso di tempat biasanya.”
“Yoit, makasih sayang.”
“Sama-sama Mas.”
Ratna kembali menyimpan handphonenya dan berjalan ke ruang kerja profesor pembimbing tesis Ratna. Beberapa waktu dia di sana kemudian langsung pulang ke rumah setelah membeli 2 bungkus bakso di pengkolan dekat dengan kesatrian.
...***...
Pada hari yang sudah ditentukan, Tama terpaksa lebih dulu berangkat karena Tama tidak berhasil memesan tiket penerbangan untuk Ratna di hari yang sama dengan keberangkatannya. Alhasil, Ratna berangkat seorang diri ke Bandara pagi hari berikutnya. Tama bilang jangan bawa lebih dari 1 kopor dan 1 tas ransel. Dia tidak mau Ratna kerepotan. Tapi mau bagaimanapun juga tetap saja Ratna repot. Dia membawa 1 kopor besar berisi 2 stel pakaian formal Tama termasuk 1 buah jas hitam, dan sepasang sepatu PDH. Kalau untuk Ratna, dia mengemasi satu buah wedges, 3 pakaian pesta, dan beberapa barang-barang lain yang dia butuhkan.
“Dek Ratna mau ke mana kok tumben pakaiannya begitu?” tanya Bu Rosa menyapa Ratna ketika dia tengah mengunci pintunya.
“Saya mau mudik ke Jawa Bu, ada acara keluarga di sana.”
“Berangkat sendiri?”
“Iya Bu, lha Mas Aji sudah berangkat duluan soalnya dampingi Pak Somat dulu ke Semarang baru nanti nyusul.”
“Dek Ratna, saya baru pertama kali ini lihat dek Ratna penampilannya begini. Cantik banget lho,” kata Bu Rosa.
“Makasih Bu…. Maaf saya harus segera berangkat Bu, mari…,” pamit Ratna.
“Ya silakan. Hati-hati di jalan ya, salam buat keluarga di sana.”
Ratna diantar oleh seorang anak buah Tama. Yudha namanya. Dia adalah seorang perwira baru dan langsung ditempatkan di divisinya Tama sekaligus langsung lengket sama Tama. Yudha memakai mobil Pak Somat untuk mengantar Ratna karena selama kepergian Pak Somat, beliau meminta Yudha yang mengurusnya. Tadi juga dia yang akhirnya mengantar Pak Somat dan Tama ke bandara.
"Maaf ya Mas Yudha jadi bolak balik," kata Ratna.
__ADS_1
"Nggak papa Bu Ratna, nggak perlu sungkan," jawab Yudha dengan sopan.
"Itu bensinnya masih nggak? Mampir pom bensin dulu boleh," kata Ratna mencoba menawarkan sesuatu.
"Oh sudah Bu aman. Pak Aji kemarin sudah kasih uang bensin ke saya. Cukup Bu terima kasih, nggak usah repot-repot. Pak Aji bilang saya nggak boleh nerima apa-apa dari Bu Ratna, nanti saya bisa dilaporin ke atasan katanya," kata Yudha.
Ratna tertawa, mendengar cara Tama mencegah Ratna keluar uang sangat lucu. Kan kasihan Yudha sampai diancam begitu. Yang jadi Yudha sih jelas iya iya saja, dia kan masih anak baru belum tahu apa-apa. Pokoknya nanti kalau Ratna sudah ketemu dengan Tama dia akan marahi Tama, enak saja mentang-mentang sudah punya jabatan sekarang seenaknya ngancam anak buah.
Setengah jalan sudah dilalui, Ratna merasakan ngantuk. Baru akan dia memejamkan mata, handphonenya berdering dan langsung Ratna mendapatkan energinya kembali. Dia mendengar suara berat Pratama Aji yang begitu tenang dan lembut mengucapkan selamat pagi.
"Dek sudah jalan kan?"
"Sudah Mas, ini sudah setengah jalan."
"Yudha mana?"
Ratna kemudian mengaktifkan loudspeaker panggilan kemudian mendekatkan handphonenya ke telinga Yudha yang sedang fokus menyetir.
"Yudh...," panggil Tama.
"Siap. Pak."
"Antar Ibu ke Bandara dengan selamat ya, jangan ngebut. Terus nanti tolong bantu bawakan kopernya sampai boarding pass, ya?" minta Tama.
"Siap Pak. Laksanakan," jawab Yudha lalu kembali fokus pada jalanan.
"Ish padahal aku bawa sendiri bisa lho, repot amat kasihan Yudha Mas kamu suruh-suruh," protes Ratna.
"Nggak papa Bunda, yang penting kamu nggak dianter pake mobil patroli kan itu? Yudha juga nggak pakai seragam kan? Ini aku minta tolong bukan atas nama AKP Aji kok. Atas namaku sendiri Pratama, suamimu. Dari pada kamu naik taksi, Mas nggak tenang di sini."
"Iya deh iya, makasih ya Mas."
"Kissnya dulu dong," kata Tama.
"Nggak ah malu...," kata Ratna.
"Ayolah Bun, ayah kangen lho ini."
"Kissnya nanti aja ya kalau sudah ketemu. Jangan sekarang."
"Ah nanti kalau sudah di rumah ramai orang banyak saudara juga kamu nggak bakal mau skinship sama Mas. Sekarang aja ayo cepet, bentar lagi Mas mau kerja nih butuh charging."
__ADS_1
Ratna menyerah. Dia akhirnya menutup telepon lalu ngebom emoticon "kiss" dan "love" ke room chatnya dan Tama lalu Tama juga membalas dengan hal yang sama. Sticker "Hug" dia kirimkan pada Ratna. Mood Ratna membaik, dia kini meraih earphone nya lalu mulai menyalakan musik. Dia menyetel lagu-lagu yang pernah Tama cover dengan gitarnya juga beberapa lagu yang suka mereka nyanyikan berdua. Salah satunya ya lagu "Terlalu Sayang" miliknya Denda. Lagu yang kata Tama adalah original soundtrack kisah cinta mereka.