
Malam sudah semakin larut, hawanya juga sudah mulai dingin. Tama mengajak Ratna untuk kembali ke dalam kamar mereka agar bisa istirahat atau setidaknya mereka bisa melanjutkan obrolan sambil rebahan. Setidaknya tidak terkena angin malam terlalu lama. Sudah hampir tengah malam ketika Tama dan Ratna kembali masuk, melewati cafetaria Ratna mencium bau mie yang baru diseduh, langsunglah dia merengek minta juga.
"Ayolah Mas, sekali ini aja. Anggep cheating day deh, pengen banget aku makan tengah malem. Habis perjalanan ini aku janji lanjutin dietku," kata Ratna.
"Yaudah iya. Salah siapa juga tadi mie cupnya malah kamu balikin. Sekarang pengen juga kan akhirnya," jawab Tama yang kemudian mengarah ke kasir untuk memesan 2 cup mie instan.
Mereka membawa mie instan yang sudah diseduh itu ke dalam kamar lalu di sana mereka party dengan membuka snack yang tadi sudah mereka beli sambil nonton tv. Biasanya Ratna akan begitu cerewet meminta Tama membantunya mengalihkan pandangan dari makanan ketika malam tiba. Karena Ratna mendapatkan warning dari dokter soal kesehatannya pasca keguguran kemarin, jadi Ratna harus benar-benar menjaga postur tubuhnya agar tidak kegemukan. Tama membantunya, dia yang akan menemani Ratna berolahraga setiap hari. Tama juga yang mengatur dan membantu Ratna menyelesaikan semua target hariannya dengan cara yang tidak membuat Ratna suntuk.
Untuk kali ini berbeda, Tama tidak ingin menahan Ratna untuk makan. Dia sadar jika kondisi tubuh Ratna sudah berbeda sekarang dan dia harus membutuhkan asupan lebih untuk menghadapi situasi yang tidak seharusnya. Seperti saat ini, ketika mereka akan terombang-ambing di atas lautan selama 2 hari 1 malam, maka Ratna harus kenyang agar tidak masuk angin.
"Dek, kamu pusing nggak?" tanya Tama sambil mengelap sisa kuah mie yang mengotori sudut bibir Ratna.
"Nggak sih, belum lebih tepatnya."
"Semoga tidak. Kalau sudah selesai makan lanjut tidur aja yuk. Mas temani," kata Tama.
"Mas, besok aku yang nyetir ya," minta Ratna.
"Boleh, tapi keluarnya dari pelabuhan Mas dulu. Kalau sudah masuk jalanan kota kamu yang nyetir, Mas navigasi," kata Tama.
Tama dan Ratna kemudian membereskan kekacauan yang sudah mereka buat lalu melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri baru melangkah naik ke atas tempat tidur. Tadinya Tama akan ikut naik ke atas tempat tidur Ratna, tapi langsung dihalau. Ratna sedang tidak ingin tidur bersempit-sempitan karena jujur badannya sudah sangat lelah. Dia juga tidak mau tangan suaminya kebas karena harus tertindih badan Ratna semalaman.
"Dek, kalau pusing bilang ya," kata Tama sebelum dia ikut memejamkan mata.
"Iya," jawab Ratna.
...***...
Keesokan harinya, Ratna membangunkan Tama untuk sholat subuh sekalian melihat matahari terbit dari atas kapal juga melihat bagaimana kapalnya akan mulai berjalan menjauh dari pelabuhan. Ratna sudah tidak sabar hingga dia menarik-narik Tama untuk mempercepat jalannya. Sampai di dek, Ratna mulai banyak bicara. Dia tanya ini itu pada Tama yang sebenarnya tidak begitu tahu juga. Dia hanya pernah sekali naik kapal, dan ketika itupun dia tidak sekepo Ratna yang ingin tahu semuanya. Akhirnya Tama hanya bisa menjawab sebisa yang dia mampu.
__ADS_1
"Bye bye Kalimantan, I'll miss you," kata Ratna sambil menatap daratan yang mulai menjauh dan terlihat mengecil.
"Kalau ada waktu, kita agendakan liburan ke sini ajak anak-anak. Mau ya?" ajak Tama yang berdiri di belakang Ratna dan memeluknya.
"Mau banget."
Tama terus melingkarkan tangan kanannya pada sang istri, sengaja memperlihatkan cincin yang dia pakai di jari manis kanannya karena Tama memergoki seseorang memandangi istrinya dengan pandangan yang tidak seharusnya padahal saat ini Ratna tidak sedang memakai pakaian yang terbuka atau memperlihatkan lekuk tubuhnya secara berlebihan. Tama terus tersenyum pada Ratna ketika istrinya ini sedang begitu cerewet menceritakan banyak hal.
"Mas...," panggil Ratna sambil mendongak.
"Hmm?" tanya Tama dengan sedikit menunduk.
"Kepalaku pusing," kata Ratna kali ini dia sudah menumpukkan kepalanya pada dada suaminya.
"Masuk yuk. Kamu belum makan juga kan," ajak Tama.
"Dek, jangan keluar kamar sendirian ya," kata Tama pada Ratna yang sedang membenahi posisi tidurnya.
"Emang kenapa? Takut aku ilang? Aku bukan anak-anak Mas," kata Ratna.
"Bukan begitu. Tadi ada yang liatin kamu terus. Kaya punya niat buruk gitu, makanya Mas minta kamu hati-hati."
"Nggak mau kemana-mana ah kepalaku aja muter-muter gini," keluh Ratna yang langsung memeluk Bon Bon.
"Mual nggak?"
"Nggak sampe," kata Ratna.
Beberapa waktu kemudian ada seseorang mengetuk pintu membawakan sarapan untuk Tama dan Ratna. Baru Ratna akan memejamkan mata, dia sudah dibangunkan oleh suaminya dan dipaksa untuk makan. Ratna menghabiskan makanannya sedikit demi sedikit kemudian meminum satu butir obat yang dia bawa. Setelah menghabiskan teh hangatnya dia langsung naik lagi ke tempat tidur. Tama menyusulnya, dia menyeret kursi yang dipakainya duduk tadi ke dekat tempat tidur Ratna. Tama memijat kedua kaki Ratna, walaupun Ratna terus menolak tapi Tama terus melanjutkan niatnya.
__ADS_1
"Udah nggak papa sekali-kali. Kamu tidur aja biar nggak tambah pusing. Di luar hujan jadi kapalnya nggak begitu stabil jalannya. Kalau kamu nggak tidur, spaneng, kepalamu tambah pusing. Nek kamu sampai sakit Mas juga yang repot," kata Tama terus memijat telapak kaki Ratna dengan jari-jarinya.
Ratna sudah mulai terlelap tidur, tapi Tama tidak juga menghentikan kegiatannya. Tidak berhenti hanya pada kaki, kini Tama menggeser kursinya ke samping dan mulai memijat tangan Ratna. Ketika dia tengah memijatnya, pikirannya tiba-tiba melayang membayangkan tangan mungil ini selalu melakukan pekerjaan berat yang terkadang tidak seharusnya dilakukan. Padahal Ratna adalah seorang dokter bedah yang harus selalu menjaga tangannya agar tidak terluka, tapi dia masih melakukan semua pekerjaan berat dirumah tanpa bantuan orang lain. Lagi-lagi Tama berpikir, apa yang sudah dia berikan pada Ratna dan apa yang bisa dia lakukan untuk berterima kasih padanya.
"Padahal waktu kamu belum nikah kamu nggak pernah ngerjain pekerjaan rumah. Tapi kamu kupaksa ngerjain semuanya sendirian setelah nikah," gumam Tama.
...***...
Hujan di luar mulai mereda dan beruntungnya tidak sampai terjadi badai. Menjelang sore Ratna terbangun dari tidurnya. Kondisinya sudah lebih baik dan mulai ceria kembali. Ratna saat ini sedang duduk-duduk di dek bersama Tama. Keduanya duduk di salah satu bangku kemudian asik mengobrol berdua ditemani cemilan dan sebotol air lemon.
"Mas, aku tiba-tiba kepikiran sesuatu," kata Ratna.
"Apa?"
"Kita pulang ke Jawa itu sama aja kita deketin mantanmu lho," katanya.
"Nggak peduli. Mas nggak akan balik ke dia apapun yang terjadi. Seperti kita menyelesaikan masalah dengan Bagas dan Zahra, Mas juga mau kita selesaikan masalah Sindy segera," kata Tama.
"Kalau gitu kita coba lagi yuk. Yang Mama permasalahkan selama ini keberadaan cucu, kan? Kalau kita udah punya anak, Mama nggak akan punya alasan lagi untuk dekat-dekat dengan Sindy. Kita juga bisa bawa Mama untuk tinggal sama kita di Jogja," kata Ratna.
"Nggak Ratna. Aku nggak akan pernah izinkan kamu tinggal satu rumah sama Mamaku. Cukup satu ratu di istanaku dan itu cuma kamu. Baktiku ke Mama itu urusanku. Kamu cukup dukung saja aku dari belakang," kata Tama.
"Tapi Mama di sana sendirian Mas," kata Ratna.
"Mama di sana nggak sendirian. Mama tinggal sama saudaranya. Mama tinggal sama keluarga dari Teh Rizka di rumah orang tua Mama. Mama juga masih sehat wal afiat. Nggak kekurangan baik secara batin ataupun lahirnya. Kamu sendiri yang merelakan sebagian dari hakmu untuk Mama. Itu sudah lebih dari yang aku harapkan. Kalau kamu memaksa untuk tetap tinggal sama Mama atau sama Ibu, aku yang nggak akan kuat lihat kamu terus ditekan setiap hari," kata Tama.
"Tapi maksud Mama sama Ibu baik Mas. Aku belum pernah punya pengalaman jadi seorang istri, sedangkan Mama dan Ibu punya," kata Ratna lagi.
"Kalau untuk sekedar minta saran ok. Tapi kalau sampai kamu disetir sama Mama dan Ibu kaya gitu Mas nggak setuju sayang. Kamu punya standarmu sendiri dan Mas sudah menyetujui itu. Mas maunya kamu cuma fokus ke Mas dan anak-anak aja. Nggak ke yang lain," kata Tama lagi. Ratna akhirnya setuju dan tidak lagi menyarankan untuk Mama bisa tinggal bersama dengan mereka.
__ADS_1