
Ratna dan Tama hari ini mengantar Mama ke stasiun. Awalnya Ratna masih baik-baik saja, Tama juga masih asik bercanda dan mengobrol dengan Mamanya hingga tiba-tiba suara yang tidak asing terdengar membuat Tama terdiam. Sindy. Gadis itu datang lagi. Dia bilang dia mau menjemput Mama karena tidak tega membiarkan Mama naik kereta seorang diri. Padahal Tama juga sudah menawarkan akan membelikan tiket pesawat pada Mama, tapi Mama menolak. Sekarang dia tahu alasannya apa.
"Mama keretanya berangkat jam berapa?" tanya Tama.
"Hmm..., sekitar 15 menit lagi," jawab Mama.
"Good. Aku sama Ratna pulang. Toh Mama sudah ada temennya kan. Hati-hati di jalan Ma, assalamualaikum," kata Tama. Langsung cium tangan pada Mama.
Ratna jelas kaget karena tiba-tiba Tama menarik tangannya. Untung dia masih sempat pamit dan cium tangan juga pada Mama. Sindy terus menatap punggung Tama yang semakin menjauh. Mama tahu gadis dihadapannya ini menatap putranya bahkan sampai tidak berkedip. Ketika Mama mengikuti arah pandangan Tama sudah tidak terlihat, tapi Sindy masih saja menatap pada titik terakhir dia sanggup melihat Tama. Mama meraih tangan Sindy, dan dengan lembut menepuknya.
"Maafin Mama ya," kata Mama.
"Kenapa jadi Mama yang minta maaf?"
"Nggak papa," kata Mama.
...***...
Ratna terus memberontak pada suaminya hingga lepas genggaman tangan Tama di tangannya. Tangan Ratna memerah karena Tama terlalu kuat mencengkeramnya tadi. Baru ini Ratna merasakan sakit hati. Baru ini dia merasa suaminya menyebalkan. Setelah tangannya terlepas dari Tama, Ratna berjalan sendiri mendahului. Dia juga terus diam ketika ada di dalam mobil. Tadinya Tama berniat akan langsung pulang, tapi kalau Ratna marah-marah begini kan akan jadi pertanyaan oleh pengasuhnya Aksa. Dia tidak mau membuat kedan jelek di hari-hari pertama gadis itu bekerja pada keluarganya.
Tama akhirnya menghentikan mobilnya di pinggir jalan dan ikut diam. Dia ikuti mau Ratna entah sampai kapan dia akan diam. Tidak lama kemudian, Ratna nekat akan membuka pintu. Untung Tama tidak kalah cepat. Dia tahan tangan Ratna dan lagi-lagi membuatnya memberontak.
"Lepasin."
"Bunda kamu kenapa sih?" tanya Tama berusaha sabar.
"Kamu tuh keterlaluan Mas. Ditahan kek sebentar aja. Toh kamu nggak harus ngobrol. Lihat tanganku. Kamu sampe bikin tanganku sakit bahkan dua kali. Sampe segitunya kamu membenci orang? Kamu kaya bukan Mas Tama yang aku kenal tahu nggak?"
__ADS_1
"Terus aku harus gimana Ratna? Diam di sana? Aku bukan masalah sama dianya aku masalah sama kamu. Kalau aku terus ada di sana, Sindy akan terus mencoba buat ngajak aku ngomong dan cemburumu itu bisa meledak. Kamu pikir aku nggak tahu perasaanmu apa?"
"Selalu kaya gini. Kita berantem cuma masalah dia dan dia lagi. Sudah mau habis kesabaran Mas tahu nggak?" kata Tama. Dia memang tidak membentak, tapi kalimatnya terasa menusuk. Memang benar dia bilang, Dia dan istrinya ini sering sekali bertengkar kalau urusannya sudah menyangkut Mama dan Sindy. Mau berapa kalipun Mama diberi teguran Mama tidak peduli. Sedangkan Sindy selalu saja menempel pada Mama dengan tidak tahu malunya begitu. Bahkan sampai minta diakui sebagai adiknya Tama. Dia gadis gila dan Tama tidak suka.
"Mau sampai kapan kamu diem?" tanya Tama.
"Mbuh."
"Bunda...."
Ratna diam.
"Ok. Aku minta maaf. Aku salah."
"Emang Mas salah?"
"Sini turun," kata Tama membukakan pintu untuk Ratna ketika mereka sudah sampai.
"Turun Bunda...," kata Tama lagi membuat Ratna akhirnya turun juga dari mobil.
"Mas ngapain ke sini sih? Ayo pulang aja, kasihan Aksara di rumah sendirian," kata Ratna.
"Nggak sebelum Mas berhasil ngilangin marahmu," kata Tama.
Ratna tidak begitu tahu ini di mana, lokasinya cukup terpencil dan tidak ramai. Bahkan hampir tidak ada orang di sini. Hanya saja pemandangannya begitu bagus. Walaupun terik matahari terasa membakar di kulit, tapi melihat hamparan pasir putih yang berpadu dengan warna hijau dari pepohonan dan birunya air membuat suasananya begitu menyejukkan.
"Nggak ada orang di sini. Kalau kamu mau teriak dipersilahkan," kata Tama.
__ADS_1
"Apaan sih. Nggak jelas," kata Ratna.
"Kamu tertekan kan? Lepasin semuanya di sini," kata Tama kemudian mundur beberapa langkah.
Ratna tidak berteriak. Dia hanya mencari jika saja ada batu yang bisa dia lempar ke laut. Tama melihatnya, dia hanya mengamati bagaimana Ratna begitu emosi membuang batunya. Tama kemudian berjalan pelan, kemudian berdiri tepat dihadapan Ratna, "Pukul aku," katanya.
"Mending kamu pukul aku sekarang dari pada kamu cuma nyimpen perasaanmu dan meledak suatu saat nanti," kata Tama.
Alih-alih memukul, Ratna malah memeluk Tama dengan erat. Tama sempat hampir kehilangan keseimbangannya ketika Ratna menubruk dirinya dengan cukup keras. Tama membalas pelukan Ratna, dia mendekapnya dan memberikan ruang pada Ratna agar mencurahkan apapun yang sedang dia rasakan sekarang.
...***...
"Sudah legaan?"
"Kepalaku pusing," keluh Ratna.
"Hmm? Pusing?" tanya Tama diangguki oleh Ratna.
Tama memelankan laju mobilnya, kemudian meminta Ratna untuk sedikit merebahkan kursinya dan tidur. Sesampainya di rumah, Ratna mendekati Aksa yang baru akan dimandikan oleh pengasuhnya. Ratna mengambil alih Aksa dari gendongan Uli, pengasuhnya. Ratna meminta Uli pulang karena ini memang sudah sore, toh kedua orang tua Aksa sudah berada di rumah.
Baru 3 hari Uli bekerja dengan Ratna. Ternyata yang diceritakan Lilis benar. Selain anaknya telaten, dia juga begitu lembut pada Aksa. Ratna tidak melihat ada paksaan atau apa. Selama beberapa hari ini Ratna terus mengamati bagaimana Uli bekerja dan pekerjaannya sangat rapi. Ketika dia bilang jangan masuk ke dalam kamar ketika Tama sedang berada di dalam dia menurut. Ketika Ratna minta Uli jangan mengerjakan pekerjaan rumah juga dia menurut. Pokoknya Ratna memperkerjakan Uli hanya untuk mengasuh Aksara, tidak lebih.
"Pak, Bu, kalau begitu saya pamit ya. Assalamualaikum," pamit Uli pada Tama dan Ratna.
"Waalaikumsalam. Makasih ya Li, hati-hati di jalan," kata Ratna.
Saat ini Aksara sudah kembali pada dekapan kedua orang tuanya. Selesai mandi, memakai bedak dan minyak telon Aksa digendong oleh Ayah. Sambil menidurkan Aksa Ayah juga sempat bernyanyi. Tama memberi kesempatan untuk Ratna makan lebih dulu. Setelah Aksara tidur, baru Tama menyusul Ratna untuk ikut makan. Sepulangnya Mama memang kondisi rumah jadi cukup sepi. Walaupun hanya sekitar 2 bulan tinggal bersama, tapi menurut Ratna Mama tidak semenakutkan yang dia bayangkan. Mama begitu baik padanya dan begitu sabar membantunya. Apalagi Ratna adalah ibu muda yang tidak berpengalaman, dengan adanya Mama Ratna sedikit banyak jadi terbantu.
__ADS_1