Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
8. Tempat Baru


__ADS_3

Malam itu selepas makan malam Tama langsung fokus dengan laptopnya sedangkan Ratna masih bertahan di dapur membereskan piring kotor dan mengelap meja. Ratna sebenarnya masih menunggu sesuatu. Dia menunggu respon Tama. Sore tadi Ratna sengaja menggantung snellinya berharap Tama akan bertanya. Sayangnya Tama hanya diam entah karena tidak mengerti maksudnya atau karena belum melihatnya.


Selesai membersihkan area dapur dan ruang keluarga, Ratna melangkah masuk ke dalam kamar untuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh Tama. Ternyata Tama hanya diam berkutat di depan laptopnya sambil duduk menyender pada headboard tempat tidur mereka. Ratna yang merasa gagal kemudian meraih snellinya untuk dia masukkan lagi ke dalam lemari.


"Selamat ya sudah diterima kerja," kata Tama tanpa menoleh pada Ratna bertepatan ketika Ratna membuka lemari.


"Ciee yang sudah jadi bu dokter...," goda Tama kini sambil menyunggingkan senyum pada Ratna yang masih terpaku di depan lemari.


"Surprise...," kata Tama.


"Apaan sih, nggak jelas."


"Kamu mau kasih surprise kan Dek, makanya sengaja banget gantung snelli di depan lemari. Mas tahu tapi Mas nggak mau kasih respon kaya yang kamu mau. Mas pengen ngeprank kamu," kata Tama.


"Mas Tamaa~" rengek Ratna.


Tama meletakkan laptopnya lalu berjalan mendekati Ratna yang merengek di depan lemari pakaian mereka yang terbuka. Tama menarik sedikit tubuh Ratna agar dia bisa menutup lagi pintu lemarinya setelah itu tanpa aba-aba dia langsung memojokkan Ratna. Tama tersenyum melihat ekspresi kaget Ratna. Tama langsung mencuri satu kecupan tepat di bibir Ratna, "Selamat ya istrinya Mas sekarang sudah jadi dokter beneran," kata Tama sambil mengelus ujung kepala Ratna.


Ratna beralih memeluk Tama membuat Tama sedikit terdorong ke belakang. Ratna dengan erat melingkarkan kedua tangannya ke punggung Tama sedangkan Tama kini membalasnya juga. Dia ikut melingkarkan kedua tangannya ke punggung Ratna. Tidak lama kemudian Ratna melepaskan pelukannya lalu beralih memeluk leher Tama. Dia berusaha menciumnya tapi Tama tidak mau tinggal diam. Bukannya menunduk agar Ratna bisa menggapai bibirnya, dia malah berjinjit.


Ratna langsung melepaskan pelukannya begitu saja. Dia mendorong dada Tama agar dia sempurna lepas dari belenggu lalu berjalan menjauhi Tama.


"Yah gitu aja marah," kata Tama masih ingin menggoda.


"Tau ah males," kata Ratna.


"Yah~ pundung istrinya Tama pundung."


"Berisik Om," goda Ratna.


"Mikrowife sini deh," Tama berusaha menyusul langkah Ratna.


"Apa? Mikro apa?"


"Mikrowife. Istri mungil," kata Tama tanpa dosa membuat Ratna semakin kesal.


"Mas Tama samain aku sama microwave?!"


"Heh denger dulu sini toh..., jangan asal ngambek kan kamu belum tahu alasan kenapa Mas manggil kamu begitu," kata Tama.


"Apa? Kenapa?! Jelasin sini cepet," Ratna berkacak pinggang soksokan marah.

__ADS_1


"Gini ya dek Ratna, Adiratna istriku sayang. Kamu itu lucu, mungil, serba bisa, anget pula, ya wajar aku panggil kamu mikrowife. Kan emang mirip sama microwave," kata Tama sambil tertawa sedangkan Ratna kini mulai berjalan mendekati Tama untuk menghukumnya dengan cubitan di perut dan pinggang Tama. Tama tidak mau kalah, dia juga akhirnya ikut menggelitiki Ratna membuat keduanya berlarian kecil di area kamar dan ruang tengah.


@Rumah Pak Somat


"Bu, rumah sebelah lagi opo yo kok rame?" tanya Pak Somat yang baru selesai sholat isya pada Bu Odah yang sedang ngemil sambil nonton sinetron di tv.


"Jenenge manten anyar Pak, wis ben. Ibu wis pengen gendong bayi ki lho," jawab bu Odah.


"Jaluk kono lo karo anak lanang, apa anak wedok. Jaluk kok karo Aji, la Ibu ki sopone," jawab Pak Somat kini ikut duduk di sebelah Bu Odah.


"Ngawur. Anakmu ki isih SMA Pak, adoh meneh nggone. Mending karo Aji to sing wis jelas cedak."


"Apa gawe dewe wae yo Bu," goda Pak Somat pada Bu Odah, istrinya.


...***...


Pagi ini sebagai apresiasi Tama mengantar Ratna ke tempat kerjanya. Hari pertama dia kerja, wajar kalau Ratna gugup. Apalagi dia tidak kenal siapa-siapa. Dia memasuki satu lingkungan baru juga. Perjalanannya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 20 menit dari rumah dinas. Sementara motor Ratna masih dalam proses pengiriman, Tama mengantar jemput Ratna. Dia usahakan untuk meluangkan waktunya setiap pagi dan malam hanya untuk menjemput istri. Lagi pula tidak akan lama, paling-paling 3/4 hari. Pak Somat juga maklum.


"Nanti Mas jemput jam berapa?" tanya Tama.


"Belum tahu, nanti aku kabari lagi deh," kata Ratna diangguki Tama.


Ratna berjalan masuk dan segera mencari letak ruang manajer kepegawaian. Hanya beberapa waktu dia di sana, Ratna langsung dialihkan ke ruang kerja dokter umum untuk bergabung dengan dokter-dokter yang lainnya. Total ada 3 orang dokter baru termasuk Ratna yang mulai bekerja per hari ini. Ratna berkenalan dengan Bima dan Rati. Mereka bertiga akan mulai bertugas di UGD sebagai pos pertamanya.


Sesuai instruksi Ratna memasang infus dan kanula nasal pada pasien sedangkan Bima mengambil EKG. Untuk Rati dia tengah memeriksa bagian tubuh lainnya terutama kakinya yang tedapat beberapa luka.


Pasien pertama mereka diperiksa secara baik dan benar sehingga kondisi darurat segera teratasi. Sisanya tinggal menyerahkan pasien pada dokter yang lebih berwenang. Ratna dan kedua temannya memanfaatkan waktu untuk berkenalan dengan para perawat dan dokter jaga di UGD. Ketiga intern ini juga di invite ke dalam grup chat tim UGD.


Tidak ada yang istimewa dari hari pertama mereka kecuali kesalahan-kesalahan kecil yang mereka lakukan. Semuanya masih maklum walau Bima sempat kena semprot oleh dokter spesialis karena dianggap tidak becus tapi tidak masalah. Lagi pula ini adalah hari pertama mereka dikatakan sebagai dokter yang sesungguhnya.


"Dokter Ratna lebih baik makan dulu, mumpung tidak ada pasien. Itu laporannya kan bisa dikerjakan nanti," kata seorang perawat ketika melihat Ratna hanya duduk di balik meja fokus membuat catatan medis pasien.


"Sebentar lagi selesai kok, mumpung masih ingat," kata Ratna.


"Na, ayo makan dulu saja. Selesaikan itu nanti," kata Rati.


"Iya Na, sudah lapar nih," Bima ikut menambahkan.


"Jangan kalian bertiga pergi bersama, di shift ya. Nanti kalau pas kalian tidak di tempat ada pasien bisa disemprot senior nanti," kata perawat itu lagi.


"Tuh, kalian berdua duluan saja. Aku nanti setelah kalian selesai," jawab Ratna.

__ADS_1


Sekitar 15 menit Ratna menyelesaikan pekerjaannya. Dia meraih handphonenya hanya untuk memberi kabar pada Tama jam berapa dia harus menjemput Ratna. Ratna sih tidak menyebutkan harus menjemput tepat waktu, dia hanya meminta agar Tama tidak terlalu malam datang.


Malam harinya Tama datang 30 menit setelah jam yang Ratna sebutkan siang tadi tapi dia masih saja harus menunggu. Katanya Ratna masih memiliki pasien yang harus di tangani. 10 menit menunggu, Tama melihat Ratna melangkah keluar bersama seorang rekan kerjanya. Ratna segera berjalan mendekati Tama ketika melihatnya.


"Mas maaf ya Ratna telat banget selesainya," kata Ratna.


"Nggak papa, Mas juga baru sampe. Mas juga telat kok ini," kata Tama.


"Bagaimana hari pertamanya Bu Dokter?" tanya Tama.


"Alhamdulillah lancar. Nggak ada pasien neko-neko nggak ada juga yang kasusnya aneh-aneh."


"Good berarti nggak capek kan ya?"


"Nggak begitu sih, kenapa memangnya?"


"Ada deh," jawab Tama sambil memakai kembali helmnya dan mulai menstarter motor. Begitu sampai di rumah, Ratna langsung turun meninggalkan Tama yang masih harus memarkir motornya juga menutup pagar. Ratna belum sempat melirik kemana-mana dia langsung mlangkah masuk ke dalam kamar untuk meletakkan tasnya lalu mengambil pakaian bersih dan handuk di gantungan kemudian melangkah kembali masuk ke dalam kamar mandi.


Selesai mandi, dia meletakkan pakaian kotor di keranjang sebelah mesin cuci baru melangkah ke dapur hanya untuk menemukan Tama sedang menunggu air mendidih. Ratna melihat ke arah meja makan sudah ada satu set menu makan malam padahal dia merasa belum memasak.


"Hmm? Mas Tama masak?" tanya Ratna heran.


"Nggak semua sih tapi iya, Mas yang masak."


"Kapan masaknya? Kok Ratna nggak tahu?"


"Dari tadi sebelum jemput kamu, makanya Mas telat," jawab Tama.


Di meja makan dia bisa melihat 2 piring nasi ayam, sambel bawang, gorengan, dan satu toples kerupuk udang. Tama juga tengah membuat 2 gelas kopi, satu kopi hitam untuknya dan satu lagi kopi susu untuk Ratna.


"Sini kalau udah makan dulu keburu dingin," kata Tama.


"Nasi ayamnya jelas bukan Mas yang masak, Mas beli. Kalau gorengan sama sambel bawangnya Mas yang bikin," kata Tama.


"Kelihatan sih," goda Ratna.


"Mas by the way, ini nasinya kok kaya beda?" tanya Ratna.


"Beras yang dipaketin Bapak itu, sekalian juga motormu sudah sampai. Padahal Mas pikir masih besok-besok tapi ternyata cepet juga sampainya," kata Tama.


"Ibu maketin apa aja?"

__ADS_1


"Nggak tahu ada 2 kardus tuh, Mas bongkar yang isi beras aja, yang satu lagi kayanya sembako belum Mas bongkar, kamu aja ya yang bongkar," kata Tama diangguki oleh Ratna.


Satu lagi hari terlewati. Memang belum genap 1 bulan Ratna hidup di sini, jauh dari keluarganya. Hanya ada dia dan Tama suaminya. Walau Ratna masih sering mengalami culture shock tapi dia mampu beradaptasi lumayan cepat di sini. Atas bantuan ibu-ibu yang lain juga tentu saja. Coba kalau dia seorang diri berjuang, sudah tidak tahu dia akan betah atau tidak.


__ADS_2