
Tama semalam memberi kabar kepada Ratna jika dia akan segera terbang kembali ke Jawa. Setelah sekitar 6 bulan lamanya dia tidak melihat langsung wajah kedua kesayangannya, bahkan saking bahagianya Pratama Aji, kakinya sampai terantuk kursi ruang tunggu karena tingkahnya. Di sebelahnya Bang Nanda duduk sambil videocall dengan baby Qianna, putri keduanya yang sudah mulai besar. Mbak Intan bilang akan datang ke markas membawa anak-anak untuk menjemput ayahnya di markas pusat.
"Salam komandan, keluarga anggota banyak yang tanya kita langsung kembali atau ke markas dulu?"
"Kita ke mako dulu. Kalau mau jemput ke sana saja," jawab Bang Nanda pada ajudannya.
Dalam beberapa menit pesawat akan take off. Bang Nanda menyudahi acara videocallnya begitu pula dengan semua anggota. Mereka menggunakan pesawat komersil yang terbagi menjadi 2 penerbangan yang berbeda. Bang Rendy sudah bertolak kembali ke Jawa hari sebelumnya bersama rombongan A, sedangkan Tama sebagai penanggung jawab personil memilih penerbangan kedua agar dia bisa memastikan semua anggotanya sudah kembali bersamanya.
"Qianna sudah berapa bulan Bang?" tanya Tama basa basi.
"Masih 3 bulanan. Sayang banget nggak bisa nemenin istri lahiran," kata Bang Nanda menyesali sesuatu.
"Tapi kan Bang Nanda sudah adzani dia lewat telepon waktu itu. Baru juga lepas baku tembak kita ketika itu, salut aku Bang," kata Tama.
"Memang benar kita abdi negara yang harus selalu siap kapanpun negara membutuhkan, tapi secara naluri aku tetap seorang suami dan seorang ayah. Kamu beruntung bisa nemani istrimu lahiran," kata Bang Nanda.
"Alhamdulillah sih Bang, walaupun rasanya sebenarnya lebih mending aku diminta untuk baku tembak 3 hari 3 malam dibanding lihat istri kesakitan begitu," kata Tama sambil tersenyum mengingat istri dan putranya.
"Bersyukurlah Ji, banyak di luar sana yang tidak seberuntung kamu," kata Bang Nanda.
"Pasti Bang. Nggak pernah habis syukurku," jawab Tama dengan begitu yakin dan mantab.
...***...
"Adiratna...," panggil Theo.
__ADS_1
"What?"
"Mau kemana sih buru-buru amat?"
"Ayahnya Aksa pulang hari ini. Makanya gue mau langsung pulang, siap-siap," kata Ratna.
"Oh pantesan segar bugar padahal lo habis di ruang operasi semaleman. Nggak tahunya suami pulang," kata Theo.
"Udah berapa bulan dia nggak balik, kangen gue," jawab Ratna.
"Selamat ya. Hati-hati kalau gitu. Jangan ngebut," kata Theo melepaskan Ratna yang harus berjalan menuju ke tempat parkir.
Ratna mengambil motornya di tempat parkir kemudian segera kembali ke rumah. Fajar baru menyingsing dan matahari masih tampak malu-malu menampakkan dirinya. Ratna sudah bersiap, selesai mandi dia menyiapkan beberapa perbekalan yang mungkin dibutuhkan. Uli yang memandikan Aksa dan memakaikan baju kepadanya, sedangkan Ratna membuat roti bakar untuk Uli dan dirinya. Hari ini Uli minta cuti untuk hari ini dan besok sebelum dia akan ikut bersama majikannya ke rumah Mama Diana di Jakarta.
"Bu, Dek Aksa mau pake baju yang mana?" tanya Uli yang selalu bertanya putra majikannya ini mau dipakaikan pakaian yang mana kalau akan pergi.
"Jadi brimob mini dong Bu," kata Uli sambil tertawa.
"Habis lucu lihat Aksa pakai baju kaya Ayahnya," jawab Ratna.
"Bu Ratna, Ibu tahu nggak? Bu Lilis juga sering begitu. Bang Miftah sama Dek Faisal suka dipakaikan baju yang senada sama Papanya," kata Uli.
"Oh ya?"
"Bu Ratna sama Bu Lilis benar-benar...., sehati," kata Uli sambil mengacungkan dua jempol.
__ADS_1
Selesai bersiap-siap Ratna, Uli dan Aksara berangkat ke markas. Ketika Ratna sampai, di sana sudah cukup ramai anggota keluarga yang datang untuk menyambut kehadiran suami, ayah, dan putra mereka. Ratna juga bertemu dengan Mbak Intan yang datang bersama kedua putrinya. Si kecil Qianna terus ada di gendongan Mbak Intan anteng sekali, kalau kakaknya suka berlari-larian. Apa lagi setelah Aksara mau turun dari gendongan Bundanya dan ikut bermain bersama dengannya.
Aksara itu berjalannya belum lancar, jadi ketika dia ingin pergi kemana dia lebih memilih untuk merangkak. Jika dia melangkah ya harus dibantu oleh orang disekitarnya atau dia harus berpegangan pada sesuatu, kalau tidak pasti ambruk. Dia memang belum lancar berjalan, tapi mulutnya itu sudah sering sekali mengeluarkan suara. Walau hanya PaPaPa atau MaMaMa, tapi Aksara cerewet sekali melebihi bayi lainnya.
"Abang lihat tuh dek Qianna bobok anteng banget ya Bang," kata Ratna. Dia menggendong Aksa dan membawanya melihat Qianna yang masih tertidur.
"Ddahh...."
"Iya...," jawab Ratna.
"Ddahh...," tangan Aksa mulai ingin meraih empeng yang menempel di mulut Qianna.
Ratna menahannya karena takut Aksa akan merebutnya betulan, "Eh Abang itu kan punya dek Qianna, Abang kan sudah besar nggak pake empong lagi dong," kata Ratna. Sebagai gantinya dia menurunkan Aksa, kemudian memberikan satu potong biskuit marie padanya.
Rombongan sudah mulai datang. Para anggota mulai tersenyum sumringah ketika melihat anggota keluarga mereka telah kembali dari tugas dengan selamat dan sehat tidak terkecuali Ratna yang ikut tersenyum ketika Tama turun dari mobil dinas bersama Bang Nanda kemudian berdiri membariskan pasukan dihadapan komandan Hendra.
Tama dan Bang Nanda diberi karangan bunga oleh Komandan sebagai ucapan terima kasih karena sudah melaksanakan tugas dengan baik. Selain itu, seluruh anggota juga diberi reward berdasarkan kinerja masing-masing personil selama bertugas juga cuti selama 1 minggu lamanya. Selesai upacara penyambutan, Bang Nanda melangkah ke depan dan memberikan instruksi pada seluruh anggota tim untuk bersujud sebagai rasa syukur dan terima kasih pada Ibu Pertiwi.
Begitu barisan dibubarkan, mereka-mereka yang sudah berkeluarga langsung mendekati keluarganya masing-masing. Bahkan ada beberapa yang saking tidak sabarnya berlari mendekat. Kalau Ratna, dia sedang menenangkan Aksara yang kaget karena tiba-tiba suasananya jadi ramai. Mbak Intan pamit untuk menemui suaminya sedangkan Ratna sudah melihat Tama berlari menghampirinya hanya bisa tersenyum menahan air matanya.
Aksa masih ada di gendongan Ratna ketika Tama memeluk istrinya dan menciumi kening Ratna penuh rasa rindu. Tangisan Aksa semakin kencang, dia semakin panik dan takut apalagi setelah ada seorang laki-laki bertubuh tinggi besar tiba-tiba memeluk Bundanya. Aksa mengeratkan tangannya pada leher Ratna ketika Tama berusaha menggendongnya. Dia bahkan menangis.
"Abang, ini Ayah lho. Katanya tadi kangen sama Ayah kok ini malah nangis sih," kata Ratna.
"Udah Bunda jangan dipaksa, ditenangin dulu nanti Ayah coba lagi," kata Tama penuh pengertian. Dia memang sudah menduga jika anaknya ini akan merasa asing dengannya saking lamanya tidak bertemu. Namanya juga anak-anak.
__ADS_1
"Aji...!"
Tama sudah menduga, cepat atau lambat dia akan mendengar suara itu. Suara dari sahabat karibnya, teman satu lettingnya, Cakka Candra. Cece langsung menubruk Tama dan langsung menggendongnya ketika melihat Aji. Ratna sudah mundur sedikit, membiarkan Aji menyapa sahabatnya dan menceritakan apa dilaluinya selama bertugas.