
Ketika sampai di rumah, Ratna tidak mau jalan. Dia merentangkan tangannya meminta Tama untuk menggendongnya sampai di kamar. Tama menurunkannya pelan-pelan di atas tempat tidur kemudian dia duduk di hadapan Ratna. Ratna terlihat ingin membicarakan sesuatu, jadi Tama meminta Ibu mertuanya untuk keluar dari kamar lebih dulu. Tentu saja setelah memberi tahu apa yang terjadi pada putrinya jadi Bapak dan Ibu tidak panik dan khawatir.
"Perutnya masih sakit?" tanya Tama.
"Mas kamu lagi ngerasain apa sih sebenernya?" tanya Ratna langsung pada intinya.
"Hatiku rasanya gelisah banget, kaya ada beban berat di pundak padahal aku nggak ada apa-apa. Kamu kenapa sih Mas? Cerita dong," kata Ratna lagi karena suaminya tidak merespon.
Tama lebih dulu meraih kedua tangan Ratna, kemudian dia menciumnya, "Maafin Mas ya, Mas bikin kamu jadi kaya gini. Iya Mas lagi terbeban karena sesuatu," kata Tama akhirnya.
"Aku ikut ngerasain Mas," kata Ratna.
"Mas kepikiran kamu. Mas takut kamu kenapa-napa. Kita sudah 2 kali gagal Dek, bohong kalau Mas nggak ngerasain takut. Mas nggak sanggup lihat kamu kesakitan kaya gitu lagi. Hampir tiap malam Mas mimpi buruk dan semuanya itu tentang kamu. Mas takut kamu pergi. Ditambah kondisi Jogja sekarang ini lagi nggak stabil. Mas khawatir sama kamu," kata Tama.
Ratna diam, dia melihat raut sedih yang begitu dalam di wajah suaminya. Ratna menarik tangan Tama memintanya untuk mendekat. Ratna kemudian menenggelamkan Tama dalam pelukannya. Berbeda dari biasanya, saat ini Ratna yang mendekap erat Tama yang sepertinya sedang merapuh. Ratna terus mengelus pelan kepala Tama yang nyaman dalam pelukannya. Dia juga menepuk-nepuk bahu Tama yang terasa tidak setegap biasanya.
"Mas, membuat Indonesia aman untuk aku dan anak-anak adalah tugasmu. Tapi menghilangkan kekhawatiranmu itu adalah tugasku. Aku janji, untuk yang kali ini aku akan jaga anak ini tanpa menyakiti diriku sendiri. Aku nggak akan ninggalin kamu Mas. Perjuangan kita sama beratnya, hanya berbeda bentuknya. Asalkan kamu masih mau berdiri di sampingku, semuanya akan aku lawan. Bahkan jika harus angkat senjata sekalipun. Demi keselamatan anak-anak dan utuhnya rumah tangga kita," kata Ratna. Dia meletakkan tangan Tama ke atas perutnya kemudian menangkupnya.
Baru ini Tama benar-benar merasakan ada kehidupan di dalam perut Ratna. Ketika tangannya mengelus perut Ratna yang mulai besar, dia merasakan ada dentingan rasa yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Seperti ada keinginan hidup yang begitu kuat dia rasakan di sana. Sentuhan itu, ditambah kecupan Ratna di ujung kepalanya akhirnya bisa meleburkan semua kekhawatirannya. Tama akhirnya sadar, jika dia hanya terlalu larut dalam ketakutannya sendiri sampai tidak memahami jika sebenarnya Ratna baik-baik saja. Yang dia butuhkan hanya cinta dan kasih sayang, bukan kekhawatiran.
"Dek...," panggil Tama.
"Kok manggil Dek lagi? Tumben?" tanya Ratna.
"Nggak tahu, masih pengen manjain kamu. Lagian Mas sebenernya lebih suka kamu manggil 'Mas' dari pada manggil 'Ayah'."
__ADS_1
"Ya udah aku panggil Mas, tapi kalau lagi berdua aja," kata Ratna.
"Dek."
"Apa?"
"Perutnya masih sakit nggak?"
"Nggak begitu sih. Makanya, kalau ada apa-apa cerita dong. Aku ikut kerasa soalnya. Ini yang di perut suka nggak terima kalau ayahnya marah-marah," kata Ratna sambil mengelus perutnya sendiri.
"Ututu..., manjanya anak Ayah, maunya disayang terus nih. Ayah sayang ya tapi lewat Bunda dulu," kata Tama.
"Modus. Mas nggak balik ngantor emangnya?"
"Sekarang udah mau maghrib sayangku. Ngapain Mas balik ke kantor? Di sana cuma ketemu Bayu doang nyirami taneman sambil nyanyi-nyanyi 'Bojo Galak' padahal nggak punya istri," kata Tama.
"Ogah ah. Urusan dia kok. Urusanku cuma gimana bahagiain kamu sekarang," kata Tama sambil mendekatkan bibirnya ke bibir Ratna, tapi Ratna malah menolak. Dia tidak mau karena siang tadi dia habis muntah-muntah dan mulutnya masih terasa pahit.
"Yowis nggak, tapi Mas pengen manjain kamu Dek," kata Tama masih berusaha membujuk.
"Beliin donat to," kata Ratna dengan randomnya.
"Donat? Di mana? Donat yang kaya apa?"
"Mas jalan-jalan yuk. Pengen nyium bau roti. Ayo ke Amplaz," kata Ratna.
__ADS_1
"Tumben minta jalan ke mall."
"Nggak mau yaudah," kata Ratna dengan nada ngambek.
"Iya iya jalan ayo siap-siap. Mau pake baju OK terus po kamu? Ganti baju sana," Tama membuat Ratna menyadari sedari tadi dia memang masih memakai pakaian berwarna hijau khas dokter itu.
Tama mengajak Ratna kemanapun dia mau malam itu. Beruntung Tama mempersiapkan diri, dia sudah menduga jika Ratna tidak hanya akan beli donut tapi belanja juga. Nyatanya dia malah menyeret Tama masuk ke carrefour dan membeli banyak hal di sana. Kebanyakan sih buah-buahan dan bahan makanan lainnya, makanya Tama tidak menahan keinginan belanja Ratna. Toh setelah ini dia akan makan enak. Sudah lama juga dia tidak merasakan masakan Ratna karena beberapa bulan terakhir selalu Ibu yang masak.
"Mas pengen makan sesuatu nggak? Biar aku masakin," kata Ratna.
"Hmm apa ya, Mas sebenernya pengen puding mangga malah. Tapi kan lagi nggak musim," kata Tama.
"Oh sama ayam pedes Dek, yang kamu pernah buat ayam digoreng tepung habis itu dibumbui pedes itu," kata Tama lagi.
Tama menyebutkan semua yang dia mau dan apa yang diinginkan suaminya dibeli semua oleh Ratna. Dia membeli 2 kg daging ayam, 3 kg mangga, susu, roti, tepung agar-agar dan lain sebagainya sesuai request sang suami. Tama juga tidak lupa membeli susu ibu hamil untuk Ratna. Selesai belanja mereka mendorong trolinya ke kasir. Selagi Tama membantu si petugas kasir memasukkan barang ke dalam tas belanjaan, Ratna mengecek lagi belanjaannya satu per satu.
Selesai memanjakan istrinya, Tama membawa Ratna pulang ke rumah. Ratna langsung menuju ke dapur, menata semua belanjaannya dalam kulkas dan rak penyimpanan. Ibu bahkan sempat kaget karena tadi mereka pamit hanya untuk beli donat malah pulangnya bawa dua kresek besar berisi belanjaan. Ratna bahkan melupakan donat yang tadi begitu dia idam-diamkan.
"Dek, kamu tadi minta udah dibeliin terus nggak mau dimakan?" tanya Tama.
Ratna hanya meraih satu, kemudian sisanya dia masukkan juga ke dalam kulkas bersama dengan belanjaannya. Dia menumpuknya sampai semua penuh sesak di dalam kulkas.
"Mas, Bapak, kalau ambil apa-apa di kulkas hati-hati ya. Kulkasnya penuh nanti pada jatuh semua," kata Ratna.
"Lagian kamu kebangetan. Belanjanya heboh udah kaya orang mau hajatan gini. Kalau nggak habis mubazir gimana?" kata Ibu.
__ADS_1
"Nggak papa Bu, Aku yang minta kok. Dek Ratna kan cuma iyain apa mauku. Besok kan dia nggak kerja, biarin dia masak ya Bu. Aku lagi pengen makan macem-macem soalnya," kata Tama.