Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
59. Bersiap Untuk Pergi


__ADS_3

Hanya sebentar Ratna bertahan pada posisinya, dia kembali bangkit dari tempat tidur karena teringat jika dia belum menyiapkan baju ganti untuk dirinya dan Tama besok, "Eh bentar, Mas aku lupa nyiapin baju buat besok," kata Ratna. Dia kembali membuka koper dan mengambil dua set baju dari dalam sana.


"Mas mau pakai baju yang mana?"


"Polo aja dek, lengan pendek sama jaket yang hitam itu, celananya yang kain aja," kata Tama yang tidak turun dari atas tempat tidur.


"Mas, pakai baju couple mau nggak? Hitam putih?" minta Ratna diangguki oleh Tama.


"Dek, kalau kamu memang pengen jalan-jalan, pengen honeymoon bilang lah, kemanapun kamu mau."


"Beneran Mas?"


"Beneran. Wajibnya Mas bikin kamu bahagia. Kalau kamu suntuk kerja ya ayo refreshing. Mas juga belum kasih reward apapun sama kamu yang kemarin sudah hebat banget ngelawan sakitmu," kata Tama.


"Nggak deh, bisa ngabisin waktu berdua aja sama Mas gini aku udah seneng kok," kata Ratna.


"Kalau Mas maksa gimana? Mas yang pengen jalan-jalan sama kamu."


Ratna terlihat menimbang-nimbang sebelum dia akhirnya menjawab, "Hmm..., gimana kalau kita jalan-jalan di jogja aja? Nostalgia waktu kita ketemu pertama kali, ke tempat pertama kita kencan, mau nggak? Aku nggak mau pergi jauh-jauh," kata Ratna.


"Boleh. Kemanapun kamu mau," jawab Tama.


"Udah sini dulu, beres-beresnya dilanjut besok. Mas pengen berduaan sama istri," kata Tama lagi sambil menepuk-nepuk tempat Ratna tadi merebahkan diri di sebelahnya.


Ratna kembali naik setelah menata pakaiannya dan Tama di atas koper. Ratna langsung masuk ke dalam pelukan Tama yang masih pada posisi setengah duduk. Ratna meletakkan kepalanya pada dada bidang Tama kemudian memejamkan mata hanya untuk merasakan detak jantung Tama. Tangan kiri Tama melingkari tubuh Ratna, dia juga terus mengelus kepala Ratna dan sesekali mencium ujung kepala istrinya.

__ADS_1


"Kayanya aku bakal kangen banget suasana di sini," kata Ratna.


"Lama di sini bikin aku berat ninggalin Kalimantan," lanjutnya.


Tama hanya mendengarkan ketika Ratna sedang mencurahkan isi hatinya, "Malam terakhir kita di sini, mau nggak bikin satu kenangan manis lagi sama Mas?" tanya Tama.


"Apa?"


Tama memberi kode pada Ratna untuk memperbaiki posisinya. Tama yang tadinya masih setengah duduk kini mulai merosot turun agar bisa sejajar dengan Ratna. Tama mendorong tubuh Ratna, kemudian Tama yang sudah berada di atasnya langsung menghapus jarak. Ratna mengerti, dengan sigap dia melingkarkan kedua tangannya pada leher Tama. Tama tidak sampai melepaskan pakaiannya, dia hanya ingin mencium Ratna dan membuatnya tidur dalam mimpi indah tanpa mengingat semua pahit yang pernah dia rasakan di sini.


...***...


Hari berikutnya, Ratna semakin murung. Ada satu titik di mana dia merasakan sedih dan aneh mengingat dalam beberapa jam lagi mereka akan segera berangkat menuju ke kota Balikpapan, ke arah pelabuhan yang akan menjadi titik terakhir mereka menginjakkan kaki di pulau Borneo.


Ratna sedang mengecek semua administrasi yang sekiranya akan dibutuhkan. Dia memasukkannya ke dalam satu tas menjadi satu dengan laptop, charger, powerbank, dan segala anteknya. Ratna sengaja memakai tas yang cukup besar jadi dia bisa memasukkan banyak barang bawaan ke dalam sana sedangkan tas back pack yang dibawa Tama penuh dengan pakaian dan perlengkapan yang akan mereka butuhkan selama di atas kapal.


"Baik-baik ya cantik," kata Ratna pada Tamara.


"Tante dokter hati-hati ya. Kapan-kapan main ketemu sama Deva lagi," kata kakaknya Tamara.


"Insyaallah, kalau tante ada waktu ya. Deva sekolah yang pinter, jadi kebanggaan Papa dan Mama. Tumbuh jadi laki-laki kuat biar bisa jagain adek," kata Ratna.


Ratna sempat pergi ke apotek diantar Nesya, Tama yang menyarankan untuk Ratna membawa obat-obatan agak ekstra. Dia juga membeli obat asma sedikit lebih banyak dari biasanya. Ratna juga membeli paracetamol dan obat mual untuk jaga-jaga. Ini adalah pengalaman pertamanya naik kapal laut. Belum pernah sekalipun dia naik kapal karena selama ini dia pulang pergi Jawa-Kalimantan yang hanya beberapa kali itu selalu menggunakan pesawat. Makanya Ratna sangat-sangat exited sekarang.


Jadwal kapal mereka memang baru akan berlayar besok pagi, tapi karena ada beberapa administrasi yang harus diselesaikan juga kondisi laut yang tidak menentu, biasanya akan diminta untuk standby paling tidak 6 jam sebelum keberangkatan karena tidak tentu juga akan berangkat kapan. Tama sudah booking tiketnya sejak 2 hari lalu, tapi dia juga tidak ingin berangkat mepet dan mengacaukan segalanya. Dia ingin memberikan pengalaman yang berharga untuk bisa dia kenang nanti. Kalau Ratna bilang sih lumayan honey moon kecil-kecilan. Tama dan Ratna sepakat untuk ganti-gantian nyetirnya, karena perjalanan mereka akan sangat panjang makanya Ratna tidak mau suaminya malah kelelahan dan tepar setelah perjalanan.

__ADS_1


"Mbak nggak mau bawa makanan apa gitu?" tanya Nesya yang melihat Ratna sedang mengecek ulang semua barang bawaannya sambil membantu suaminya memasukkan barang yang tersisa.


"Mbakyumu itu nggak doyan makan kalau lagi perjalanan, nanti kalau dia laper baru mood makan. Makanya dia nggak nyiapin makan, cuma bawa cemilan seabrek," kata Tama menggantikan Ratna menjawab karena sepertinya Ratna sedang sibuk.


"Nanti kalau sakit bagaimana? Tadi juga nggak banyak makannya," kata Nesya mulai khawatir.


"Itu urusanku. Nggak akan sakit kok, kujagain. Kamu tenang aja. Besok kalau aku sudah sampai kukabari pasti," kata Tama lagi.


"Wajib Bang. Harus berkabar ya, sama saya sama Pak Leo, Pak Slamet juga," jawab Yudha.


Ratna kembali masuk ke dalam rumah, mengecek setiap sudut rumahnya dan memasukkan semua barang yang tersisa. Dia juga mencabut handphonenya dan Tama lalu memasukkannya ke dalam tas kemudian dia letakkan dibawah kakinya bersama tas snack dan botol air minum.


"Sudah semua Dek?" tanya Tama.


"Sudah Mas," jawab Ratna yang sedang meletakkan selimut tipis di sandaran kursi juga Bon Bon yang bertengger manis di dashboard bersama adiknya Bun Bun. Ratna juga memasang bantalan leher yang juga berbentuk babi ke sandaran kursi pengemudi dan kursinya. Tama sedang mengecek mesin bersama dengan Yudha sedangkan Nesya ikut membantu mengecek barang bawaan Ratna sekali lagi.


"Ok Brian sehat wal afiat. Siap tempur. Gimana, Bunda siap tempur juga?" tanya Tama sambil menutup kap mesin mobil.


"Insyaallah."


"Yuk, pamitan terakhir," ajak Tama.


Tama dan Ratna melangkah masuk ke dalam kamar setelah mengambil air wudhu. Beberapa menit lalu mereka sudah mendengar adzan dhuhur jadi untuk menutup dan berpamitan dengan rumah dan tanah ini, mereka akan menunaikan sholat di rumah ini, serta mendoakan agar setelah kepergian mereka rumah ini masih akan menjadi rumah untuk orang-orang yang membutuhkan perlindungan serta mendoakan agar rumah ini akan membawa kebahagiaan pada siapapun yang akan menempatinya nanti.


Selesai sholat dhuhur, Tama dan Ratna melangkah keluar dari kamar. Dengan mengucap basmallah mereka keluar dari rumah ini. Terakhir mereka berdua berpamitan dengan Yudha dan Nesya kemudian mulai berjalan pelan keluar dari kesatrian, berpamitan dengan yang menjaga di pos yang memberikan hormat pada Tama yang akan melanjutkan perjuangannya di tempat yang baru.

__ADS_1


"Bismillahirrahmannirrahim, selamat sampai tujuan," gumam Tama ketika mobil yang dikendarainya mulai masuk ke jalanan kota.


__ADS_2